Rabu, 28 April 2010

Curhat Yuuuuu!..

Kurang apa sosok Anang suami dari KD?. Itulah yg menjadi perbincangan serius saya dengna beberapa pihak. Bila hartanya, ketampanannya, inti kata sudah cukup segalanya bagi keduanya. Tampilan fisik yang diatas rata rata dari keduanya. Profesi dari keduanya, dan segalanya bisa dikatakan sudah dimiliki. Tapi itulah dunia.

Tergelitik dengan kisah tadi Saya berusaha mencari data tentang carut-marut kasus seperti ini (perselingkuhan).

Ternyata berkaitan dgn perselingkuhan, Inilah info yg sangat penting utk jadi bahan perenungan kita:

Dilakukan penelitian oleh Shirley Glass psikolog dari Amerika dalam bukunya "Not Just Friends". Dari buku tersebut inilah beberapa kesimpulan Saya:
1. 85% perselingkuhan selalu DIMULAI DENGAN CURHAT.

2. PELAKU PERSELINGKUHAN yang dimulai dengan Curhat itu tidak pernah merasa bersalah ataupun merasa Berkhianat. Bahkan merasa berada di jalan yang benar. Sebagian merasa sedanag didzolimi, tentunya hal ini pengakuan subyektif.

3. Mitra CURHAT bukanlah mitra pemberi advice yang Baik (penasihat), akan tetapi "legitimator sikap" dari pelaku curhat. Maka pada jiwa yang berhati bengkok ini kita tidak akan dijumpai curhat kepada ustad atau ulama, Karena ustad/ulama akan meluruskan. Adapun kebutuhan curhat adalah siapa yang kira-kira akan mendukung sikap Saya. Adapun kelak Ustad/Ulama tetap akan menjadi tempat berkeluh kesah dikemudian hari karena dipastikan sikap Khianat tadi mulai menunjukan buahnya, yaitu kerusakan dan kebusukan. Jadi Ustadz/Ulama hanya dijadikan tempat sampah saja.

4. Mitra Curhat bisa lawan jenis, bisa pula berkelamin sejenis, karena kebutuhan utamanya adalah legitimator, dan bersikap khianat bukan hanya didefinisikan kepada pasangan hidup saja.

5. Curhat juga berfungsi sebagai ajang pacaran tidak resmi. Pacaran “No way!..” tapi kholwat dan kenikmatan apa yang dicari dari media pacaran tetap didapat. Adapun hukum agama (Islam)nya sama saja. Bahkan lebih ekstrim pelaku kholwat by curhat mau melakukan curhatnya, Tapi menolak untuk diajak nikah yang bernilai ibadah dengan seribu alasan indah. “mendekati Zinah oke,. Ibadah no way!” itulah bahasa kerennya. Na’udzubillah.. sering kita jumpai orang yang mudah sekaligus banyak dalam mencari mitra untuk berkholwat, tapi susah mendapatkan jodoh dari Allah (mungkin ini hukuman/teguran dr Allah).

6. Peningkatan grafik Perselingkuhan sangat mengkhawatirkan beriringan dgn kemajuan media elektronik (YM, Face Book, twitter, MirC,. dll)

7. Perselingkuhan didasari oleh Perilaku KHIANAT (pelanggar amanah). Adapun perilaku KHIANAT itu sendiri bukan saja dalam konteks pasangan hidup, bisa juga Khianat/Unloyal terhadap Organisasi keagamaan, Organisasi Politik, perusahaan, Mitra Kerja/bisnis, anggota keluarga, Dll.

Semoga menjadi bahan perenungan bagi Kita dan semakin membuat kita hati hati dalam melangkah. Karenae “Khianat” itu pelanggaran hak manusia (bukan hak Allah) sekuat apapun taubat kepada Allah, sebelum “clear” urusan dengan orang yang dikhianati maka tak berfungsi taubat itu.

Sekian Semoga Allah semakin memberikan kebaikan urusan dunia dan akherat kita dihari-hari yang akan datang,.. amieen

by Deddy Armyadi Al-kinclongi

RESEP KUE PERNIKAHAN

(BAGI YANG AKAN MENIKAH, YANG SEGERA MENIKAH DAN BAGI YANG SUDAH MENIKAH) :

Bahan...-bahan :

Satu Pria sehat,
Satu Wanita sehat,
100%Komitmen
Dua Pasang restu orang tua
Satu botol kasih sayang murni


Bumbu-bumbu:

Satu balok besar humor,
25gr rekreasi,
Dua sendok teh telpon-telponan,
Satu bungkus doa,
5 kali ibadah perhari
Semuanya diaduk hingga merata dan mengembang

Tips :

1. Pilih pria/wanita yang benar-benar matang dan seimbang
2. Jangan yang satu terlalu tua dan yang lainnya terlalu muda karena dapat mempengaruhi kelezatan (sebaiknya dibeli di toserba bernama Tempat Ibadah, walaupun agak jual mahal tapi mutunya terjamin).
3. Jangan beli dipasar yang bernama Diskotik atau Party karena walaupun modelnya bagus dan harum baunya, tapi kadang menipu konsumen atau kadang menggunakan zat pewarna yang bisa merusak kesehatan.
4. Gunakan kasih sayang cap dakwah yang telah mendapatkan penghargaan ISO dari departemen Kesehatan dan Kerohanian .


Cara Memasak :

1. Pria dan wanita dicuci bersih, buang semua masa lalunya sehingga tersisa niat yang murni.
2. siapkan loyang yang telah diolesi dengan komitmen dan restu orang tua secara merata.
3. Masukkan niat yang murni kedalam loyang dan panggang dengan api cinta merata sekitar 30 menit di depan penghulu.
4. Biarkan di dalam loyang tadi dan sirami dengan bumbunya.
5. Kue siap dinikmati.


Catatan :

Kue ini dinikmati oleh pembuatnya seumur hidup dan paling enak dinikmati dalam keadaan hangat. Tapi kalau sudah agak dingin, tambahkan lagi humor segar secukupnya, rekreasi sesuai selera, serta beberapa potong doa kemudian dihangatkan lagi di oven bermerk ”tempat ibadah”.

Setelah mulai hangat, jangan lupa telepon-teleponan bila berjauhan.

Selamat mencoba, dijamin semuanya halal.
Oleh : 'Yuni' Hikaru Sholeha

Rabu, 21 April 2010

INILAH CITA-CITA KARTINI SEBENARNYA

Setiap tanggal 21 April 2010, saya selalu teringat buku "Tragedi Kartini". Di sana tertulis, nama pengarangnya: Asma Karimah. Buku ini sangat menakjubkan. Saya yang kala itu masih duduk di bangku kuliah, baru menyadari ternyata, saya mempunyai penilaian yang salah tentang Sejarah Kartini.
Padahal tinta sejarah belum lagi kering menulis namanya, namun wanita-wanita negerinya sudah terbata-bata membaca cita-citanya.

Kian hari, emansipasi kian mirip dengan liberalisasi dan feminisasi. Sementara Kartini sesungguhnya semakin meninggalkan semuanya dan ingin kembali kepada fitrahnya. Perjalanan Kartini adalah perjalanan panjang. Dan dia belum sampai pada tujuannya. Kartini masih dalam proses.

Kita sering mendengar kumpulan suratnya yang berjudul "Habis Gelap Terbitlah Terang" yang oleh Armijn Pane terlanjur diartikan demikian dari bahasa Belanda "Door Duisternis Tot Licht". Padahal, kata-kata itu berasal dari Al-Qur'an: Minazh-Zulumaati Ilan-Nuur yangg oleh cucu Kartini, Prof Dr Haryati Soebadio diartikan 'dari gelap menuju cahaya' dan terjemahan inilah yang lebih pas.
Minazhulumaati Ilan-Nuur ini merupakan inti dari Panggilan Islam, yang maksudnya: membawa manusia dari kegelapan (kejahiliyahan atau kebodohan hidayah) ke tempat yang terang benderang (petunjuk atau kebenaran Al-Haq).
"Allah pemimpin orang-orang yang beriman. Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan kepada cahaya. Dan orang-orang yang kafir pemimpin mereka adalah Thoghut, yang mengeluarkan mereka dari cahaya kepada kegelapan. Mereka itu adalah penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya." (Q.S. Al-Baqarah:257).



Mengapa disebut Tragedi Kartini? Karena sebenarnya Kartini berada dalam proses dari kegelapan menuju cahaya. Tapi cahaya itu belum purna menyinarinya secara terang benderang karena terhalang oleh atmosfer tradisi dan usaha westernisasi. Kartini kembali kepada Pencipta, Pemilik, Pemelihara, dan Penguasanya, sebelum ia meyelesaikan usahanya untuk mempelajari Al-Islam dan mengamalkannya sebagaimana yang dicita-citakan. "Moga-moga kami mendapat rahmat, dapat bekerja membuat umat agama lain memandang Islam patut disukai." (Surat Kartini kepada Ny. Van Kol, 21 Juli 1902).

Tulisan ini tidak dimaksudkan semata-mata untuk mengungkapkan fakta sejarah, tapi berusaha menggugah wanita muslimah yang masih cinta kepada Islam, agar dapat menarik pelajaran dari padanya.

Kartini merupakan salah satu figur sejarah yang kalah menghadapi Pertarungan Ideologi (al-Ghozwul Fikri). Islam di satu sisi dan Yahudi serta Nasrani di sisi lain. Jangan kecam Kartini, karena walau bagaimana pun beliau sudah berusaha: mendobrak adat, mengelak dari Barat, untuk mengubah keadaan.

"Manusia itu berusaha, Allahlah yang menentukan." (surat Kartini kepada Ny. Ovink-Soer, Oktober, 1900). Sungguh, kata-kata Kartini mencerminkan sikap tawakkal. Agar kita tidak mengukur keberhasilan suatu perjuangan dengan batasan umur kita. Pula, agar kita tidak mudah mengecam kesalahan yang dibuat oleh orang-orang sebelum kita. Bukan mustahil jika kita dihadapkan dalam kondisi yang sama, kita juga akan berbuat hal yang sama."Itu adalah umat yang telah lalu. Baginya apa yang diusahakannya dan bagimu apa yang kamu usahakan, dan kamu tidak akan diminta pertanggungjawaban tentang apa yang telah mereka kerjakan. " (Al-Baqarah:134).

KARTINI INGIN MENJADI MUSLIMAH SEJATI

Pada masa kecilnya, Kartini mempunyai pengalaman yang tidak menyenangkan ketika belajar mengaji (membaca Al-Qur'an). Ibu guru mengajinya memarahi dan menyuruh Kartini keluar ruangan ketika Kartini menanyakan makna dari kata-kata Al-Qur'an yang diajarkan kepadanya untuk membacanya. Sejak saat itu timbullah penolakan pada diri Kartini seperti tergambar dalam suratnya kepada Stella, 6 November 1890.

"Mengenai agamaku Islam, Stella, aku harus menceritkan apa? Agama Islam melarang umatnya mendiskusikannya dengan umat agama lain. Lagi pula sebenarnya agamaku Islam karena nenek moyangku Islam. Bagaimana aku dapat mencintai agamaku, kalau aku tidak mengerti, tidak boleh memahaminya? Al-Qur'an terlalu suci, tidak boleh diterjemahkan ke dalam bahasa apa pun. Di sini tidak ada orang yang mengerti bahasa Arab. Di sini orang diajar membaca Al-Qur'an tetapi tidak mengerti apa yang dibacanya. Kupikir pekerjaan orang gilakah, orang diajar membaca tetapi tidak diajar makna yang dibacanya itu. Sama halnya seperti engkau mengajar aku membaca buku bahasa Inggris, aku harus hafal kata demi kata, tetapi tidak satu patah kata pun yang kaujelaskan padaku apa artinya. Tidak jadi orang sholeh pun tidak apa-apa, asalkan jadi orang yang baik hati, bukankah begitu, Stella?"

Sampai suatu ketika, Kartini berkunjung ke rumah pamannya, seorang bupati di Demak (pangeran Ario Hadiningrat). Di Demak waktu itu sedang berlangsung pengajian bulanan khusus untuk anggota keluarga. Kartini ikut mendengarkan pengajian tersebut bersama Raden Ayu yang lain, dari balik hijab (tabir). Kartini tertarik dengan materi yang disampaikan Kyai Haji Muhammad Sholeh bin Umar, seorang ulama besar dari Darat, Semarang. Materi yang disampaikan adalah tafsir surat al-Fatihah. Kyaii Sholeh Darat (demikian dia dikenal) srg memberikan pengajian di berbagai kabupaten di sepanjang pesisir utara. "Kyai Sholeh Darat" pernah menjadi nama sebuah jalan di Semarang.

Setelah selesai acara pengajian, Kartini mendesak pamannya agar bersedia menemani dia untuk menemui Kyai Sholeh Darat: "Kyai perkenankanlah saya menanyakan, bagaimana hukumnya apabila seorang yang berilmu namun dia menyembunyikan ilmunya?" Tertegun Kyai Sholeh Darat mendengar pertanyaan Kartini yang diplomatis itu. "Mengapa Raden Ajeng bertanya seperti itu?" Kyai Sholeh balik bertanya.

"Kyai, selama hidupku, baru kali inilah aku sempat mengerti makna dan arti surat pertama, dan induk Al-Qur'an yang isinya begitu indah menggetarkan sanubariku. Maka bukan buatan rasa syukur hati aku kepada Allah. Namun, aku heran tak habus-habisnya, mengapa selama ini para ulama kita melarang keras penerjemahan dan penafsiran Al-Qur'an dalam bahasa Jawa Bukankah Al-Qur'an itu justru kitab pimpinan hidup bahagia dan sejahtera bagi manusia?"

Dialog Kartini-Kyai Sholeh ini ditulis oleh Ny. Fadlila Bc Hk, cucu Kyai Sholeh Darat dalam majalah "Ittihadul Mubalighot".

Singkat cerita, Kyai Darat tergugah menterjemahkan Al-Qur'an ke dalam bahasa Jawa. Pada hari pernikahan Kartini, Kyai Sholeh menghadiahkan terjemahan Al-Qur'an (Faizhur rahman fit Tafsiril Qur'an), jilid I yang terdiri dari 13 juz, mulai dari surat al-Fatihah sampai dengan surat Ibrahim. KIta tafsir ini sekarang (thn 1994 awal) dicetak dan diperjualbelikan di Singapura.

Mulailah Kartini mempelajari Islam dalam arti sesungguhnya. Namun sayang, tidak lama setelah itu, Kyai Sholeh meninggal dunia. sehingga al-Qur'an belum selesai diterjemahkan seluruhnya ke dalam bahasa Jawa.

Kalau saja Kartini sempat mempelajari keseluruhan ajaran Islam (al-Qur'an), maka tidak mustahil ia akan menerapkan semaksimal mungkin semua hal yang dituntut Islam terhadap kemuslimahannya (termasuk jilbab?). Terbukti Kartini sangat berbeda dengan tradisi adatnya yang sudah terlanjur mapan. Kartini juga memiliki modal kehanifan yang tinggi terhadap ajaran Islam. Bukankahh pada mulanya ia paling keras menentang poligami, tapi kemudian setelah mengenal Islam, ia menerima dengan sukarela.

Inilah mengapa Kartini sangat terkesan dengan kata Minazhulumaati Ilannuur karena ia sendiri merasakan proses perubahan dalam dirinya, dari pemikiran jahiliyah kepada pemikiran hidayah.

Dalam banyak suratnya, Kartini banyak sekali mengulang-ulang kata-kata Dari Gelap Kepada Cahaya ini. Karena Kartini selalu menulis suratnya dalam bahasa Belanda, maka kata-kata ini dia terjemahkan dengan Door Duisternis Tot Licht. Karena seringnya kata-kata itu muncul dalam surat-surat Kartini, maka Mr. Abendanon yang mengumpulkan surat-surat Kartini, menjadikan kata-kata itu sebagai judul dari kumpulan surat Kartini. Tentu saja ia tak menyadari bahwa kata-kata tersebut sebenarnya dipetik dari Al-Qur'an.

Kemudian untuk masa-masa selanjutnya Kartini meninggal, kata-kata Door Duisternis Tot Lich telah kehilangan maknanya, karena diterjemahkan oleg Armijn Pane (Kristen) deng istilah Habis Gelap Terbitlah Terang (mungkin lebih puitis, tapi justru tidak persis). Jika demikian, siapa yang mengira bahwa di balik istilah di atas sebenarnya terkandung makna yang dalam.

Setelah Kartini mengenal Islam, sikapnya terhadap Barat mulai berubah:
1. Kartini Mencela Barat
"Sudah lewat masanya, tadinya kami mengira bahwa masyarakat Eropa itu benar-benar satu-satunya yang paling baik, tiada taranya. Maafkan kami, tetapi apakah ibu sendiri menganggap masyarakat Eropa itu sempurna? Dapatkah ibu menyangkal bahwa di balik hal yang indah dalam masyarakat ibu terdapat banyak hal yang sama sekali tidak patut disebut sebagai peradaban?" Surat Kartini kepada Ny. E.E.Abendanon, 27 Oktober 1902.

2. Kartini Menentang Praktek Kristenisasi
"Bagaimana pendapatmu tentang Zending (Diakonia), jika bermaksud berbuat baik kepada rakyat Jawa semata-mata atas dasar cinta-kasih, bukan dalam KRISTENISASI? Bagi orang Islam, melepaskan keyakinan sendiri memeluk agama lain, merupakan dosa yang sebesar-besarnya. Pendek kata, boleh melakukan Zending (Diakonia), tetapi jangan mengkristenkan orang! Mungkinkah itu dilakukan?"
Surat Kartini kepada EE Abendanon, 31 Januari 1903.

3. Kartini Ingin Memperbaiki Citra Islam
"Moga-moga kami mendapat rahmat, dapat bekerja membuat umat agama lain memandang agama Islam patut disukai." Surat Kartini kepada Ny. Van Kol, 21 Juli 1902.
Kartini menyadari bahwa selama ini, Islam disalah mengerti karena selalu dijadikan bulan-bulanan dan sasaran fitnah oleh musuh-musuh Islam dan terkadang oleh umat Islam sendiri yang tidak memahami Islam.

CITA-CITA KARTINI

Inilah cita-cita Kartini yang banyak salah dimengerti:
"Kami di sini memohonn diusahakan pengajaran dan pendidikan anak-anak perempuan, BUKAN SEKALI-SEKALI KARENA KAMI MENGINGINKAN ANAK-ANAK PEREMPUAN ITU MENJADI SAINGAN LAKI-LAKI DALAM PERJUANGAN HIDUPNYA. Tapi karena kami yakin akan pengaruhnya yang besar sekali bagi kaum wanita, agar wanita lebih cakap melakukan kewajibannya, kewajiban yang diserahkan alam (sunatullah) sendiri ke dalam tangannya: menjadi ibu, pendidik manusia yang pertama-tama."
Surat Kartini kepada Prof Anton dan Nyonya, 4 Oktober 1902.

Inilah gagasan Kartini yang sebenarnya Islami, tapi oleh mereka yang salah paham terhadap Islam disebut sebagai Emansipasi. Sehingga setiap orang bebas mengartikan semaunya sendiri. Sebagian orang mengartikan emansipasi sebagai kesempatan berprestasi bagi wanita di segala bidang sebagaimana halnya lelaki, bahkan jika mungkin melebihinya. Tidak peduli apakah itu prestasi sebagai insinyur, kondektur, lifter (pengangkat besi), bina raga atau jaipongan (lihat majalah Warnasari no 124, April, 1989/XI).

Masih banyak kisah-kisah yang tercecer dalam sejarah Kartini. Termasuk upaya Snouck Hurgronye yang menjalankan politik Asosiasi, yaitu suatu usaha agar generasi muda Islam tercabut dari akar sejarahnya dan mengidentifikasikan dirinya dengan Barat. Menurut Snouck, golongan yang paling militan menentang penjajah Belanda adalah golongan Islam. Jika ingin lengkap, bacalah buku "Tragedi Kartini" Sebuah Pertarungan Ideologi karya Asma Karimah. Penerbit Hanifah. Mudah-mudahan masih ada cetakan terbarunya. Karena yang saya punya saja, sudah cetakan kelima Th.1994, cetakan pertamanya Th. 1986. Insya Allah, buku ini menjadi media pembuka cakrawala kita tentang peran muslimah sesungguhnya.



*Tulisan ini dirangkum dari buku "Tragedi Kartini". Semoga bermanfaat ya temans:)

By Nurmah

CERMIN DIRI

Ketika 2 cermin yang saling berhadapan, muncul pantulan yang tak terhingga, begitulah bila ANDA mau bercermin pada diri sendiri, akan anda temukan bayangn yang tak terhingga. Bayangan itu adalah kemampuan yang luar biasa, ketakterbatasan yang memberi kekuatan untuk menembus batas rintangan diri,

Berkacalah pada diri sendiri dan temukan kekuatan itu...
Singkirkan Cermin diri orang lain, disana hanya terlihat kelemahan dan kekurangn anda yang akan memupuk ketidakpuasan anda dan ini akan menjerumuskan anda kedalam jurang kekecewaan.

Anda bukan orang lain, Andalah yang memiliki Jalan keberhasilan Sendiri, mulailah hari ini dengan menatap wajah anda, carilah bayangan yang tak terhingga itu, disana ada kekuatan yang akan membawa anda kepuncak keberhasilan.
 
Didunia ini kita bisa menjadi siapa saja dan menjadi apa saja. Kita bisa menjadi orang yang (terlihat) kaya, cakep, tampan, cerdas atau sebaliknya.
 
Semua tergantung bagaimana kita menunjukkan diri kita kepada orang lain, tapi sebaik-baik kita adalah menjadi diri kita sendiri, bangga( bukan sombong) terhadap apa yang kita punya.

From May

Rabu, 14 April 2010

Renungan

Aku minta pada Allah setangkai bunga segar, Allah beri aku kaktus berduri. Aku minta pada Allah binatang mungil nan cantik, Allah beri aku ulat berbulu.

Aku sempat sedih, protes dan kecewa.....betapa tidal adilnya ini....

Namun kemudian, kaktus itu berbunga sangat indah sekali. Dan ulat itu pun tumbuh dan berubah menjadi kupu-kupu yang cantik.

Itulah jalan Allah indah pada waktunya. Allah tidak memberi apa yang kita perlukan. Terkadang kita sedih, kecewa, terluka. Tapi jauh di atas segalanya, Allah sedang merajut yang terbaik untuk kehidupan kita.


Catatan Kecil

Dalam pewayangan, Resi Durna adalah tokoh sakti dari Kurawa yang sulit dikalahkan. Lalu diketahui, sumber kesaktiannya adalah rasa sayangnya yang amat sangat kepada anaknya, Aswatama. Atas ide dari Kresna, dihembuskanlah gosip bahwa Aswatama telah mati. Kebetulan di hari itu ada seekor gajah tunggangan yang mati dalam perang dan gajah itu bernama Aswatama.

Saat mendengar gosip Aswatama mati, Durna langsung gamang. Dalam kegalauan hatinya, ia mencari info ke sana-sini, sampai akhirnya ia mendatangi Yudistira, tokoh Pandawa yang dikenal sangat jujur dan lurus.


Durna bertanya, benarkah Aswatama mati. Yudistira menjawab, "Benar. Hari ini memang ada yang mati dalam perang. Dan yang mati itu bernama Aswatama ... seekor gajah tunggangan." Namun, saat mengucapkan "...seekor gajah tunggangan" ia agak memelankan suaranya (dalam versi lain, ia memalingkan wajah, red) sehingga Durna tak mendengarnya. Yang didengar Durna hanyalah "...yang mati itu bernama Aswatama".
Durna sangat terpukul mendengar jawaban Yudistira. Dalam kesedihan yang amat sangat, kesaktian Durna berkurang dan akhirnya ia tewas dalam perang.
 
Apakah Yudistira telah membohongi Durna? Ia toh tetap mengatakan fakta yang terjadi. Namun ia agak menyembunyikan sebagian fakta yaitu tentang siapa Aswatama yang dimaksud. Bukankah menyembunyikan sebagian fakta sangat tipis bedanya dengan berdusta? Dan menurut kisah Mahabharata, itulah satu-satunya kebohongan yang dibuat Yudistira selama hidupnya. Satu-satunya kebohongan, namun berdampak fatal buat Durna sang tokoh Kurawa.
 
Semoga apa yang dicontohkan Yudistira itu tidak pernah dilakukan wartawan dalam pemberitaan di media massa. Karena sangat tipis beda antara menyembunyikan sebagian fakta dengan berdusta...

by Yogi W Utomo

3 Tahun Ngeblog

Alhamdulillah... sudah 3 (tiga) tahun, 3 (tiga) bulan and  kurang 2 (dua) hari saya ber'layar' di dunia maya dengan 'ngeblog, tepatnya 16 april 2007 posting perdana di buat.

Awal pertama kali suka 'ngeblog karena suami (butuh waktu lama my honey menjelaskan dan meyakinkan tentang blog sampai beliin beberapa buku tentang blog, thank's honey, I Love You), akhirnya saya bilang OK, mau buat blog.

Ternyata setelah ngeblog, saya merasa 'kecanduan' banyak hal positif yang saya dapat :

1. Menambah banyak saudara/temen.
2. Bisa menyimpan banyak arsip, coretan dll dengan gratis... yang akan berguna buat kita sendiri dan juga mungkin pembaca lainnya.
3. Banyak info lain di dapat dari sesama blogger.
4. Bisa berdiskusi berbagai hal.
5. Refreshing.... mengurangi kejenuhan.....

Seorang teman pernah bilang : `Blog juga bukan sekedar trend, tetapi merupakan suatu kebutuhan manusia, yaitu untuk mencapai kebutuhan yang paling tinggi dalam hirarki kebutuhan Abraham Maslow yaitu Kebutuhan untuk Aktualisasi Diri.

Jadi jangan heran jika dalam diri setiap orang terdapat upaya untuk menunjukkan eksistensinya sebagai manusia, dan salah satu caranya adalah dengan ngeBLOG.

Special for My Husband, thanks very much for your study and sharing.
I Love You, honey....



Kamis, 08 April 2010

Kisah Hati Yang Mulia

Ini adalah sebuah kisah tentang dua orang suami istri yang sedang berjalan melintasi gurun pasir. Ditengah perjalanan, mereka bertengkar dan suaminya menghardik istrinya dengan sangat keras.....

Istri yang kena hardik, merasa sakit hati, tapi tanpa berkata-kata, dia menulis diatas pasir :

HARI INI SUAMIKU MENYAKITI HATIKU

Mereka terus berjalan, sampai menemukan sebuah oasis dimana mereka memutuskan untuk mandi.

Si Istri, mencoba berenang namun nyaris tenggelam dan berhasil diselamatkan suaminya. Ketika dia mulai siuman dan rasa takutnya hilang dia menulis disebuah batu :

HARI INI SUAMIKU YG BAIK MENYELAMATKAN NYAWAKU

Suami bertanya : “kenapa setelah saya melukai hatimu, kamu menulisnya diatas pasir dan sekarang kamu menulis diatas batu ?”


Istrinya sambil tersenyum menjawab :

“ketika , kita harus menulisnya diatas pasir agar angin maaf datang berhembus dan menghapus tulisan itu..

Dan bila sesuatu yang luar biasa diperbuat suamiku, aku harus memahatnya diatas batu hatiku, agar tidak bisa hilang tertiup angin.

Dalam hidup ini sering timbul beda pendapat dan konflik karena sudut pandang yang berbeda. Terkadang malah sangaatt menyakitkan, Oleh karenanya cobalah untuk saling memaafkan dan lupakan masalah lalu. Yang terpenting dr pelajaran diatas, adalah : Belajarlah untuk selalu BISA MENULIS DI ATAS PASIR .... Smga kalian smua mengerti betapa berharganya sebuah kesabaran dan saling memberi serta menerima maaf.

By Maykuke Zhigo

MAKNA CINTA

Suami saya adalah seorang yang sederhana, saya mencintai sifatnya yang alami dan saya menyukai perasaan hangat yang muncul di perasaan saya, ketika saya bersandar di bahunya yang bidang.

Di awal pernikahan, saya harus akui, bahwa saya mulai merasa lelah, alasan-alasan saya mencintainya dulu telah berubah menjadi sesuatu yang menjemukan.

Saya seorang wanita yang sentimentil dan benar-benar sensitif serta berperasaan halus. Saya merindukan saat-saat romantis seperti seorang anak yang menginginkan permen. Tetapi semua itu tidak pernah saya dapatkan.

Suami saya jauh berbeda dari yang saya harapkan. Rasa sensitif-nya kurang. Dan ketidakmampuannya dalam menciptakan suasana yang romantis dalam pernikahan kami telah mementahkan semua harapan saya akan cinta yang ideal.


Suatu hari, saya beranikan diri untuk mengatakan keputusan saya kepadanya, bahwa saya menginginkan perceraian.

"Mengapa?", tanya suami saya dengan terkejut.

"Saya lelah, kamu tidak pernah bisa memberikan cinta yang saya inginkan," jawab saya.

Suami saya terdiam dan termenung sepanjang malam di depan komputernya, tampak seolah-olah sedang mengerjakan sesuatu, padahal tidak.

Kekecewaan saya semakin bertambah, seorang pria yang bahkan tidak dapat mengekspresikan perasaannya, apalagi yang bisa saya harapkan darinya?

Dan akhirnya suami saya bertanya, "Apa yang dapat saya lakukan untuk merubah pikiran kamu?"

Saya menatap matanya dalam-dalam dan menjawab dengan pelan,

"Saya punya pertanyaan, jika kau dapat menemukan jawabannya di dalam perasaan saya, saya akan merubah pikiran saya :

"Seandainya, saya menyukai setangkai bunga indah yg ada di tebing gunung. Kita berdua tahu jika kamu memanjat gunung itu, kamu akan mati. Apakah kamu akan memetik bunga itu untuk saya?"

Dia termenung dan akhirnya berkata,

"Saya akan memberikan jawabannya besok." Perasaan saya langsung gundah mendengar responnya.

Keesokan paginya, dia tidak ada di rumah, dan saya menemukan selembar kertas dengan oret-oretan tangannya dibawah sebuah gelas yang berisi susu hangat yang bertuliskan ......

"Sayang, saya tidak akan mengambil bunga itu untukmu, tetapi ijinkan saya untuk menjelaskan alasannya."

Kalimat pertama ini menghancurkan perasaan saya.Saya melanjutkan untuk membacanya.

"Kamu selalu pegal-pegal pada waktu 'teman baik kamu' datang setiap bulannya, dan saya harus memberikan tangan saya untuk memijat kaki kamu yang pegal."

"Kamu senang diam di rumah, dan saya selalu kuatir kamu akan menjadi 'aneh'. Saya harus membelikan sesuatu yang dapat menghibur kamu di rumah atau meminjamkan lidah saya untuk menceritakan hal-hal lucu yang saya alami."

"Kamu selalu terlalu dekat menonton televisi, terlalu dekat membaca buku, dan itu tidak baik untuk kesehatan mata kamu. Saya harus menjaga mata saya agar ketika kita tua nanti, saya masih dapat menolong mengguntingkan kuku kamu dan mencabuti uban kamu."

"Tangan saya akan memegang tangan kamu, membimbing kamu menelusuri pantai, menikmati matahari pagi dan pasir yang indah. Menceritakan warna-warna bunga yang bersinar dan indah seperti cantiknya wajah kamu."

"Tetapi Sayang, saya tidak akan mengambil bunga indah yang ada di tebing gunung itu hanya untuk mati. Karena, saya tidak sanggup melihat air mata kamu mengalir.

"Sayang, saya tahu, ada banyak orang yang bisa mencintai kamu lebih dari saya mencintai kamu.

Untuk itu Sayang, jika semua yang telah diberikan tangan saya, kaki saya, mata saya tidak cukup buat kamu, saya tidak bisa menahan kamu untuk mencari tangan, kaki, dan mata lain yang dapat membahagiakan kamu."

Air mata saya jatuh ke atas tulisannya dan membuat tintanya menjadi kabur, tetapi saya tetap berusaha untuk terus membacanya.

"Dan sekarang, Sayang, kamu telah selesai membaca jawaban saya.

Jika kamu puas dengan semua jawaban ini, dan tetap menginginkan saya untuk tinggal di rumah ini, tolong bukakan pintu rumah kita, saya sekarang sedang berdiri di sana menunggu jawaban kamu."

"Jika kamu tidak puas dengan jawaban saya ini, Sayang, biarkan saya masuk untuk membereskan barang-barang saya, dan saya tidak akan mempersulit hidup kamu. Percayalah, bahagia saya adalah bila kamu bahagia."

Saya segera berlari membuka pintu dan melihatnya berdiri di depan pintu dengan wajah penasaran sambil tangannya memegang susu dan roti kesukaan saya.

Oh, kini saya tahu, tidak ada orang yang pernah mencintai saya lebih dari dia mencintai saya.Itulah cinta, di saat kita merasa cinta itu telah berangsur-angsur hilang dari perasaan kita, karena kita merasa dia tidak dapat memberikan cinta dalam wujud yang kita inginkan, maka cinta itu sesungguhnya telah hadir dalam wujud lain yang tidak pernah kita bayangkan sebelumnya.

Seringkali yang kita butuhkan adalah memahami wujud cinta dari pasangan kita, dan bukan mengharapkan wujud tertentu. Karena cinta tidak selalu harus berwujud "bunga".


by Wahyu Geghans

Jumat, 02 April 2010

Belahan Jiwa

Ummi...
Ibu...
Bunda...
Mama...

Kapankah saatnya sebutan itu terucapkan
Dari lisan mungil menggemaskan
Sejak ijab qobul terucapkan
Bulan demi bulan terlewatkan
Bahkan tahunan masih dalam penantian

Jemari-jemari lembut kecil
Tangis mecah kesunyian malam
Canda tawa bahagia dari bibir mungil
Meramaikan hari-hari hamba yang kelam

Doa dan pinta selalu hamba ucapkan
Dalam kidung doa dan sujud penuh pengharapan
Kapankah Kau berikan qurata‘ain
Penghibur jiwa dalam kesunyian

Yaa Khaaliq
Adakah yang harus hamba lakukan
Dalam hari-hari penantian
Agar doa terkabulkan

Yaa Baari'
Adakah yang harus hamba berikan
Sesuatu bahagian dari kehidupan
Agar impian jadi kenyataan

Yaa Mushawwir
Adakah yang harus hamba tunjukkan
Dari ikhtiar dan ketulusan
Agar qurata’ain bukan hayalan

Yaa Rahman
Hamba hanyalah manusia
Hanya bisa berharap dan tiada kuasa
Memohon kepada-Mu dalam asa
Berharap penyejuk hati belahan jiwa
Menemani hari-hari hamba penuh bahagia

Ungkapan Hatikoe

Suamikoe,
dalam helaan nafas dan doa aku telah jatuh cinta padamu.
seorang laki-laki terbaik yang Allah pilihkan untukku. namun aku cuma seorang wanita biasa.

ada kalanya aku bisa membuatmu marah,ada kalanya aku tak sempat berdandan rapi di depanmu,dan ada kalanya aku tiba-tiba menjadi sosok yang mungkin membosankan bagimu.



namun, ijinkanlah aku selalu berbakti padamu.membersihkan debu yang menempel di bajumu,menghapus keringat yang melekat di dahimu,
atau mengambikan sepiring nasi dengan lauk seadanya untukmu.
aku hanya ingin terus belajar menjadi isteri yang berkualitas bagi mu dan bagi rumah kita.. rumah yang kita beri nama rumah cahaya, tempat anak-anak bermain dan mengenalNya..semoga rumah itu selalu menjadi cahaya bagi kita semua..amiin Allah..

Suamikoe,
aku tahu, engkau bukanlah seorang Rasulullah karena ku juga menyadari aku juga bukan seorang khadijah atau aisyah..
engkau juga bukan ali bin abu thalib karena aku juga sangat menyadari aku bukanlah seorang fatimah..

kamu dan aku hanyalah sepasang pelakon episode hidup di akhir zaman..
yang perlu ekstra keras untuk bisa mengenalNya…
namun, kadang mungkin kita terlalu lalai, hingga lupa akan makna sebuah penghambaan..

dan dari hati yang paling dalam ini, sungguh aku sangat berterimakasih atas dukungan dan motivasi mu untukku bisa terus belajar dan belajar..
moga aku juga bisa menjadi madrasah seperti yang digambarkan rasulullah bagi anak2 kita..

sungguh semakin belajar, semakin aku tahu aku begitu kerdil dan lemah…
wakaffa billahi wakiila, Ya Allah kami mohonkan keridhoanMu..amiin


10 TAHUN PERNIKAHAN KAMI

Pernikahan adalah suatu pertemuan dua insan yang memiliki karakter dan kebiasaan sehari-hari yang berbeda satu sama lain. Namun perbedaan itulah yang telah memberi warna pada pernikahan. Banyak kejadian lucu, menyedihkan, menggembirakan, mengharukan atau bahkan menjengkelkan yang kami alami yang membuat pernikahan kami terasa hidup, segar dan tidak menjemukan.

Sayankoe….
Tidak terasa, biduk rumah tangga kita telah berlayar demikian panjang
Suka dan duka telah kita arungi bersama....
Namun harapan indah ke depan masih terus kita kibarkan
Agar perjalanan menjadi lebih indah dan menyenangkan






Sayankoe….
Sepertinya perkembangan waktu menjadikan kita lebih dewasa....
Memahami dua insan yang berbeda,
Memang terkadang sulit tapi menyenangkan
Membawa hati menjadi lebih sabar dan tenang,
Meski masih harus banyak belajar...
Namun...itu laksana tanaman yang tumbuh,
Perlu buaian dari yang menaruh harapan
Yang memerlukan sentuhan lembut, kasih sayang dan perlindungan...

Sayankoe….
Dalam perjalanan ini tentu saja banyak khilaf karena keterbatasan kita
Oleh karenanya....mari kita bersihkan dengan ikhlas
Segala noda yang mengotori
Lubuk hati kita yang paling dalam
Kita pupuk kembali bahtera rumah tangga kita,
 

Agar tumbuh subur dan bermanfaat bagi orang banyak...
Sehingga biduk itu berlayar dalam sakinnah, mawaddah, wa rahmah....
Yang di dalamnya di perkaya dengan anak-anak yang sholeh dan sholehah yang
senantiasa mendoakan kedua orang tuanya......

Sayankoe….
Rasanya sudah sulit merangkai kata-kata yang lebih indah lagi....
Hanya ucapan terima kasih atas kesetiaan mendampingi hingga saat ini...
Selamat melewati 10 tahun usia pernikahan kita..
Semoga abadi. Amiin.

Yang selalu mencintaimoe
Dinda Maniez


Renungan Sepuluh Tahun

Tanpa terasa sang waktu terus berjalan menyusuri relung-relung kehidupan, banyak yang sudah berubah dalam waktu sepuluh tahun. Ibarat umur manusia usia sepuluh tahun adalah masa kanak-kanak yang berhiaskan canda dan tawa dalam kehidupannya sekaligus masih memerlukan perlindungan orang tuanya.

Begitu pun usia perkawinan Kami sudah atau baru genap sepuluh tahun, masih anak bawang yang perlu banyak belajar terus untuk tetap tegar mengarungi bahtera rumah tangga, banyak cerita yang sudah Kami lalui berdua, banyak kebahagian, ada juga hiasan kesedihan dan nestapa.


Di usia sepuluh tahun ini banyak pelajaran yang bisa kami petik, baik dari pengalaman pribadi Kami sendiri maupun orang-orang di sekitar Kami. Menjadi pasangan suami istri sampai sekarang tidak ada mata kuliahnya sehingga Kita dituntut untuk belajar sendiri dari lingkungan dan tentunya dari risalah para nabi.

Di usia sepuluh tahun ini Saya merenungi beberapa hikmah yang bisa diambil dari perjalanan rumah tangga Kami yang Alhamdulillah sampai sejauh ini bisa berjalan dengan baik walaupun ada terpaan ujian, semua bisa dilalui walau terkadang dengan uraian air mata.

Pelajaran pertama yang Saya dapat bahwa ketika kita memutuskan untuk menikah, maka yang utama adalah luruskan niat kita untuk semata-mata mencari keridhoan Allah. Hal ini akan membingkai proses pernikahan Kita dari mulai memilih pasangan, menetapkan cara mendapatkan pasangan sampai dengan mengisi pernikahan tersebut. Banyak yang salah kaprah dan melanggar syariat karena dari awal niatnya tidak suci.

Alhamdulillah Kami bisa mengawali langkah menuju gerbang pernikahan dengan niat baik dan ternyata Kami diberikan kemudahan untuk menempuh jalan yang terbaik. Ketika Saya memutuskan tidak mau mengawali pernikahan dengan pacaran banyak yang mencibir dan menganggap Saya sebagai makhluk orthodox yang sangat ketinggalan zaman, bahkan ada juga yang menganggap Saya frustasi karena belum dapat pacar juga.

Tidak mudah memang untuk tetap istiqomah tapi dengan memohon pertolongan Allah semua menjadi ringan dan Saya bisa menghadapi semua ujian dengan enteng. Ketika pernikahan digelar ada tetangga yang menangis dan minta maaf karena sempat mengolok-olok Saya, ada juga yang menangis karena ikut bahagia ternyata ibu ini diam-diam suka mendo’akan Saya agar segera mendapat jodoh lelaki yang baik.

Niat ikhlas ini juga menjadi modal utama dalam menghadapi ujian pernikahan, ketika ada kesulitan dan permasalahan Kita serahkan saja kepada Allah, toh yang Kita jalani semua untuk-Nya, insya Allah akan terasa mudah. Begitu juga ketika kita kecewa dengan pasangan Kita, kembalikan saja kepada Allah. Misalnya ketika suami sepertinya tidak menghargai pengorbanan kita, tidak perlu kecewa toh kita mengharapkan pahala dari Allah dan suami tidak bisa memberikan pahala apa-apa.

Banyak rumah tangga yang goncang berawal dari niat yang kurang ikhlas sehingga senantiasa merasa dikecewakan oleh pasangan, kalau begini terus sepertinya capek deh.

Pelajaran kedua yang bisa Saya salami adalah ketika Kita menikah maka bersiaplah menerima segala kekurangan dan kelebihan pasangan Kita. Jangan menuntut untuk dipahami karena Kita akan sering dikecewakan, yang lebih enak adalah memahami pasangan Kita sehingga menjadi legowo. Saya dan suami merupakan dua pribadi yang berbeda, Saya ekstrofet sedangkan suami introfet, Saya biasa kerja serba cepat dan tepat waktu sedangkan suami cenderung lelet dan suka tidak tepat waktu.

Diawal-awal pernikahan Saya sering menangis karena perbedaan ini, Saya merasa suami tidak peduli dengan Saya karena susah diajak bicara dan pelit memberikan perhatian. Dia jarang sekali berbagi cerita bahkan Saya sering dapat info kegiatannya dari temannya atau dari istri temannya. Duh sedih banget merasa tidak dijadikan tempat berbagi, padahal Saya orangnya terbuka senang berbagi cerita.

Tapi kemudian Saya merenung dan mencari penyebabnya. Saya coba mencari tahu latar belakang pendidikan keluarganya dan bidang studynya karena kedua hal tersebut akan mempengaruhi karakter seseorang. Betul saja keluarganya menerapkan pendidikan semi militer yang serba kaku dan bidang ilmunya menuntut kesabaran dan kehati-hatian. Lambat laun saya bisa memahami dan tidak lagi terlalu menuntut lebih darinya.

Pelajaran ketiga adalah komunikasi, hal ini sangat penting karena ternyata penyebab utama perceraian adalah miskom alias tidak lancarnya komunikasi antara pasangan suami istri. Banyak praduga yang tidak benar dan menyebabkan keretakan rumah tangga karena tidak terjalin komunikasi yang baik. Dalam hal ini salah satu harus berani memulai memecahkan kebekuan. Tidak mudah memang apalagi berhadapan dengan orang yang irit bicara. Dari bincang-bincang dengan teman dan pantauan ternyata para suami lebih nyaman ngobrol dengan temanya daripada dengan istrinya. Wah kenapa ya?

Nah ini harus dicari penyebabnya, mungkin tema perbincangan Kita tidak menarik hanya seputar masalah dan masalah, kalo tidak masalah kehabisan uang belanja yang diomongin masalah kenakalan anak-anak. Mungkin harus dicari tema yang pas dan menyenangkan suami, kalaupun ada masalah yang harus dibicarakan cari waktu dan momen yang tepat.

Pelajaran ke empat, Saya pernah mendengar seorang ustad memberikan tausyiah yang pacaran dan tentunya dilaknat Allah sangat menikmati hubungannya tapi sebaliknya yang sudah menikah serba kaku dan tidak menikmati keberadaannya sebagai suami istri. Betul juga nasehat itu terkadang yang menikah dikungkung dengan berbagai permasalahan sehingga kurang menikmati hidup. Mungkin sekali-kali perlu ya Kita jalan berdua dengan suami berpegangan tangan, makan es krim berdua, jajan baso dan lain sebagainya. Toh yang Kita lakukan halal dan berbuah pahala, jadi jangan sungkan.

Masih banyak lagi pelajaran yang bisa Saya ambil dan tidak mungkin dituliskan disini semua, satu hal yang perlu Kita ingat syukuri apa saja pemberian Allah pada Kita termasuk pasangan Kita, jadikanlah dia lading untuk meraih tiket syurga.

Meti Herawati