Kamis, 31 Juli 2008

Mahalnya sebuah karir untuk wanita


Saya seorang ibu dengan 2 orang anak, mantan direktur sebuah Perusahaan multinasional. Mungkin anda termasuk orang yang menganggap saya orang yang berhasil dalam karir namun sungguh jika seandainya saya boleh memilih maka saya akan berkata kalau lebih baik saya tidak seperti sekarang dan menganggap apa yang saya raih sungguh sia-sia.

Semuanya berawal ketika putri saya satu-satunya yang berusia 19 tahun baru saja meninggal karena over dosis narkotika. Sungguh hidup saya hancur berantakan karenanya, suami saya saat ini masih terbaring di rumah sakit karena terkena stroke dan mengalami kelumpuhan karena memikirkan musibah ini. Putera saya satu-satunya juga sempat mengalami depresi berat dan sekarang masih dalam perawatan intensif sebuah klinik kejiwaan, dia juga merasa sangat terpukul dengan kepergian adiknya.

Sungguh apa lagi yang bisa saya harapkan. span class="fullpost"> Kepergian Maya dikarenakan dia begitu guncang dengan kepergian Bik Inah, pembantu kami. Hingga dia terjerumus dalam pemakaian Narkoba. Mungkin terdengar aneh kepergian seorang pembantu bisa membawa dampak Begitu hebat pada putri kami. Harus saya akui bahwa bik Inah sudah seperti keluarga bagi kami, dia telah ikut bersama kami sejak 20 tahun yang lalu dan ketika Doni berumur 2 tahun.
Bahkan bagi Maya dan Doni, bik Inah sudah seperti ibu kandungnya sendiri. Ini semua saya ketahui dari buku harian Maya yang saya baca setelah dia meninggal. Maya begitu cemas dengan sakitnya bik Inah, berlembar-lembar buku hariannya berisi hal ini. Dan ketika saya sakit (saya pernah sakit karena kelelahan dan diopname di rumah sakit selama 3 minggu). Maya hanya menulis singkat sebuah kalimat di buku hariannya "Hari ini Mama sakit di Rumah sakit" , hanya itu saja.

Sungguh hal ini menjadikan saya semakin terpukul. Tapi saya akui ini semua karena kesalahan saya. Begitu sedikitnya waktu saya untuk Doni, Maya dan Suami saya. Waktu saya habis di kantor, otak saya lebih banyak berpikir tentang keadaan perusahaan dari pada keadaan mereka.

Berangkat jam 07:00 dan pulang di rumah 12 jam kemudian, bahkan mungkin lebih. Ketika sudah sampai rumah rasanya sudah begitu capai untuk memikirkan urusan mereka. Memang setiap hari libur kami gunakan untuk acara keluarga, namun sepertinya itu hanya seremonial dan rutinitas saja, ketika hari Senin tiba saya dan suami sudah seperti "robot" yang terprogram untuk urusan kantor.

Sebenarnya ibu saya sudah berkali-kali mengingatkan saya untuk berhenti bekerja sejak Doni masuk SMA namun selalu saya tolak, saya anggap ibu terlalu kuno cara berpikirnya. Memang Ibu saya memutuskan berhenti bekerja dan memilih membesarkan kami 6 orang anaknya. Padahal sebagai seorang sarjana ekonomi karir ibu waktu itu katanya sangat baik. Dan ayahpun ketika itu juga biasa-biasa saja dari segi karir dan penghasilan.

Meski jujur saya pernah berpikir untuk memutuskan berhenti bekerja dan mau mengurus Doni dan Maya, namun selalu saja perasaan bagaimana kebutuhan hidup bisa terpenuhi kalau berhenti bekerja, dan lalu apa gunanya saya sekolah tinggi-tinggi?. Meski sebenarnya suami saya juga seorang yang cukup mapan dalam karirnya dan penghasilan.

Dan biasanya setelah ada nasehat ibu saya menjadi lebih perhatian pada Doni dan Maya namun tidak lebih dari dua minggu semuanya kembali seperti asal urusan kantor dan karir fokus saya. Dan kembali saya menganggap saya masih bisa membagi waktu untuk mereka, toh teman yang lain di kantor juga bisa dan ungkapan "kualitas pertemuan dengan anak lebih penting dari kuantitas" selalu menjadi patokan saya.

Sampai akhirnya semua terjadi dan diluar kendali saya dan berjalan begitu cepat sebelum saya sempat tersadar. Maya berubah dari anak yang begitu manis menjadi pemakai Narkoba. Dan saya tidak mengetahuinya!!! Sebuah sindiran dan protes Maya saat ini selalu terngiang di telinga.
Waktu itu bik Inah pernah memohon untuk berhenti bekerja dan memutuskan kembali ke desa untuk membesarkan Bagas, putera satu-satunya, setelah dia ditinggal mati suaminya .. Namun karena Maya dan Doni keberatan maka akhirnya kami putuskan agar Bagas dibawa tinggal bersama kami. Pengorbanan bik Inah buat Bagas ini sangat dibanggakan Maya. Namun sindiran Maya tidak begitu saya perhatikan.

Akhirnya semua terjadi, setelah tiba-tiba jatuh sakit kurang lebih dua minggu, bik Inah meninggal dunia di Rumah Sakit. Dari buku harian Maya saya juga baru tahu kenapa Doni malah pergi dari rumah ketika bik Inah di Rumah Sakit. Memang Doni pernah memohon pada ayahnya agar bik Inah dibawa ke Singapore untuk berobat setelah dokter di sini mengatakan bahwa bik Inah sudah masuk stadium 4 kankernya.


Dan usul Doni kami tolak hingga dia begitu marah pada kami. Dari sini saya kini tahu betapa berartinya bik Inah buat mereka, sudah seperti ibu kandungnya! menggantikan tempat saya yang seolah hanya bertugas melahirkan mereka saja ke dunia. Tragis! Dan sebuah foto "keluarga" di dinding kamar Maya sering saya amati Kalau lagi kangen dengannya.

Beberapa bulan yang lalu kami sekeluarga ke desa bik Inah. Atas desakan Maya kami sekeluarga menghadiri acara pengangkatan Bagas sebagai kepala sekolah madrasah setelah dia selesai kuliah dan belajar di pesantren. Dan Doni pun begitu bersemangat untuk hadir di acara itu padahal dia paling susah untuk diajak ke acara serupa di kantor saya atau ayahnya.

Dan difoto "keluarga" itu tampak bik Inah, Bagas, Doni dan Maya tersenyum bersama.T ak pernah kami lihat Maya begitu senang seperti saat itu dan seingat saya itulah foto terakhirnya. Setelah bik Inah meninggal Maya begitu terguncang dan shock, kami sempat merisaukannya dan membawanya ke psikolog ternama di Jakarta.

Namun sebatas itu yang kami lakukan setelah itu saya kembali berkutat dengan urusan kantor. Dan di halaman buku harian Maya penyesalan dan air mata tercurah. Maya menulis :"Ya Tuhan kenapa bik Inah meninggalkan Maya, terus siapa yang bangunin Maya, siapa yang nyiapin sarapan Maya, siapa yang nyambut Maya kalau pulang sekolah, Siapa yang ngingetin Maya buat berdoa, siapa yang Maya cerita kalau lagi kesel di sekolah, siapa yang nemenin Maya kalo nggak bisa tidur....... ...Ya Tuhan, Maya kangen banget sama bik Inah" bukankah itu seharusnya tugas saya sebagai ibunya, bukan bik Inah?

Sungguh hancur hati saya membaca itu semua, namun semuanya sudah terlambat tidak mungkin bisa kembali, seandainya semua bisa berputar kebelakang saya rela berkorban apa saja untuk itu. Kadang saya merenung sepertinya ini hanya cerita sinetron di TV dan saya pemeran utamanya. Namun saya tersadar ini real dan kenyataan yang terjadi. Sungguh saya menulis ini bukan berniat untuk menggurui siapapun tapi sekedar pengurang sesal saya semoga ada yang bisa mengambil pelajaran darinya.

Biarkan saya yang merasakan musibah ini karena sungguh tiada terbayang beratnya. Semoga siapapun yang membaca tulisan ini bisa menentukan "prioritas hidup dan tidak salah dalam memilihnya". Biarkan saya seorang yang mengalaminya.


Saat ini saya sedang mengikuti program konseling/therapy untuk menentramkan hati saya. Berkat dorongan seorang teman saya beranikan tulis ini semua. Saya tidak ingin tulisan ini sebagai tempat penebus kesalahan saya, karena itu tidak mungkin! Dan bukan pula untuk memaksa anda mempercayainya, tapi inilah faktanya.

Semoga ada yang memetik manfaatnya. Dan saya berjanji untuk mengabdikan sisa umur saya untuk suami dan Doni. Dan semoga Tuhan mengampuni saya yang telah menyia-nyiakan amanahNya pada saya. Dan disetiap berdoa saya selalu memohon "YA Tuhan seandainya Engkau akan menghukum Maya karena kesalahannya, sungguh tangguhkanlah Ya Tuhan, biar saya yang menggantikan tempatnya kelak, biarkan buah hatiku tentram di sisiMu".
Semoga Tuhan mengabulkan doa saya.
Thanks Eliana.

Selasa, 29 Juli 2008

Semuanya Tentang Wanita


BENTUK FISIK
1. Permukaan biasa ditutupi oleh semacam cat.
2. Mendidih tiba-tiba, membeku tanpa alasan.
3. Meleleh apabila diperlakukan dengan benar.
4. Pahit bila digunakan dengan salah.
5.Ditemukan dalam bentuk bermacam macam dimulai dari metal murni sampai bentuk kasar lainnya.
6. Menimbulkan bahaya ledakan bila disinggung bagian yang benar.
BENTUK KIMIA
1. Memiliki hubungan dekat dengan emas, perak, dan batu batu mulia lainnya.
2. Menyedot habis barang barang mahal.
3. Dapat meledak secara spontan tanpa tanda tanda terlebih dahulu dan tanpa alasan yang diketahui.
4. Mudah terkena rangsang oleh cairan akan tetapi aktivitasnya akan melonjak jauh apabila disatukan dengan alkohol.
5. Pemakan uang paling handal yang pernah dikenal manusia

KEGUNAAN
1. Mudah digunakan, khususnya jika di hadapan mobil sport.
2. Dapat mengurangi stress dan menambah rasa relaks.
HASIL TEST
1. Spesimen murninya berwarna pink jika pada keadaan stabil.
2. Spesimen murninya berwarna hijau bila didekatkan pada spesimen lawan.

SIFAT
1. Sangat berbahaya kecuali di tangan yang sudah ahli.
2. Ilegal untuk memiliki lebih dari dua.
Oh Tuhan!
Kau ciptakan diriku sebagai mahluk bernama "WANITA"
Sangat simple, tapi sangat kompleks...
Sangat lemah, tapi sangat kuat pengaruhnya.
Sangat membingungkan, tapi sangat indah
untuk di pandang...

Jumat, 25 Juli 2008

Permata yang Terbenam


Di mana tetesan air mata
Yang mengalir membasahi pipi
Ketika mengenang segala dosa
Yang singgah menodai hati

Ke mana getaran rasa pergi

Tinggalkan seorang hamba
Ketika memandang kuasa Ilahi
Hingga tak berbekas di jiwa

Permata yang hilang
Terpuruk di relung jiwa nan kelam
Rasa kesombongan
Sembunyikan kehambaan

Berjalan tanpa salah dan dosa
Seakan tak pernah ada
Rasa penyesalan
Hilang dalam kegersangan

Bersama tandusnya taman iman
Yang menyerap embun kesejukan
Permata yang hilang
Terbenam dalam lumpur noda
Permata yang berharga

Terkikis masa

Bersama nafsu menggoda

Dan kekuasaannya berjaya

Thanks Sylvia Indah

Rabu, 23 Juli 2008

Sebuah Perjalanan


Dulu, ada seorang Kaisar yang mengatakan pada salah seorang penunggang kudanya, jika dia bisa naik kuda dan menjelajahi daerah seluas apapun, Kaisar akan memberikan kepadanya daerah seluas yang bisa dijelajahinya. Kontan si penunggang kuda itu melompat ke punggung kudanya dan melesat secepat mungkin untuk menjelajahi dataran seluas mungkin.
Dia melaju dan terus melaju, melecuti kudanya untuk lari secepat mungkin. Ketika lapar dan letih, dia tidak berhenti karena dia ingin menguasai dataran seluas mungkin. Akhirnya, sampailah dia pada suatu tempat di mana cukup luas daerah telah berhasil dijelajahinya, dan dia menjadi begitu kelelahan dan hampir mati.

Lalu dia berkata terhadap dirinya sendiri, "Mengapa aku memaksa diri begitu keras untuk menguasai daerah yang begitu luas? Sekarang aku sudah sekarat, dan aku hanya butuh tempat yang begitu kecil untuk menguburkan diriku sendiri."

Cerita ini mirip dengan perjalanan hidup kita. Kita memaksa diri begitu keras tiap hari untuk mencari uang, kuasa, dan keyakinan diri. Kita mengabaikan kesehatan kita, waktu kita bersama keluarga, dan kesempatan mengagumi keindahan sekitar, hal-hal yang ingin kita lakukan, dan juga kehidupan kerohaniankita.

Suatu hari ketika kita menoleh ke belakang, kita akan melihat betapa kita tidak membutuhkan sebanyak itu, tapi kita tak mampu memutar mundur waktu, atas semua yang tidak sempat kita lakukan. Maka, sempatkanlah untuk memikirkan barang sejenak apa yang akan kita lakukan apabila kita meninggal besok.
Atau apa yang akan kita lakukan jika kita meninggal dalam waktu seminggu? Sebulan? Setahun? Sepuluh tahun? 40 tahun lagi? Bukankah suatu hal yang menyenangkan sekaligus menyeramkan mengetahui kapan kita akan meninggal? Cuma yaitu--kita tidak tahu, kita semua tidak ada yang tahu...
Jalanilah hidup yang seimbang - Belajarlah untuk menghormati dan menikmati kehidupan, dan yang terutama: Mengetahui apa yang TERPENTING dalam hidup ini.

Jumat, 18 Juli 2008

Buat yang suka ngeluh soal gaji


Suatu pagi Andi memutuskan untuk menghadap ke Pak Joko, direktur personalia dan setelah saling mengucap salam maka Andi segera dengan bersemangat menyampaikan maksud hati dan segala uneg-unegnya kepada Pak Joko untuk meminta kenaikan gaji.
Pak Joko setelah menatapnya beberapa saat kemudian tertawa, mempersilahkannya untuk duduk dan berkata, "Ha ha ha, dengar kawan, anda itu bahkan belum bekerja untuk perusahaan ini meskipun satu hari..! masa sekarang mau minta naik gaji?"

Tentu saja Andi sangat terkejut mendengar hal itu namun pak Joko segera meneruskan,
Joko: "Coba katakan ada berapa hari dalam setahun?"
Andi: "365 hari dan kadang-kadang 366 hari."
Joko: "Betul, sekarang ada berapa jam dalam sehari?"
Andi: "24 jam."
Joko: "Berapa jam kamu bekerja dalam sehari?"
Andi: "Dari jam 08:00 s/d 16:00 jadi 8 jam sehari."
Joko: "Jadi, berapa bagian dari harimu yang kamu pakai bekerja?"
Andi: "(mulai ngitung dalam hati.....8/24 jam = 1/3)....sepertiga! "
Joko: "Wah pinter kamu!, Sekarang berapakah 1/3 dari 366 hari?"
Andi: "122 (1/3x366 = 122 hari)"
Joko: "Apakah kamu bekerja pada hari Sabtu dan Minggu?"
Andi: "Tidak Pak!"
Joko: "Berapa jumlah hari Sabtu dan Minggu dalam setahun?"
Andi: "52 Sabtu ditambah 52 Minggu = 104 hari."
Joko: "Nah, kalau kamu kurangkan 104 hari dari 122 hari, berapa yang tinggal?"
Andi: "18 hari."

Joko: "Nah, saya sudah kasih kamu 12 hari cuti tiap tahun. Sekarang kurangkan 12 hari dari 18 hari yang tersisa itu berapa hari yang tinggal?"
Andi: "6 hari."
Joko: "Di hari Natal dan Tahun Baru apakah kamu bekerja?"
Andi: "Tidak pak!"
Joko: "Jadi sekarang berapa hari yang tersisa?"
Andi: "4 hari."
Joko: "Di hari Idul Fitri dan Idul Adha apakah kamu bekerja?"
Andi: "Tidak pak!"
Joko: "Jadi sekarang berapa hari yang tersisa?"
Andi: "2 hari." Joko: "Sekarang sisa tersebut kurangi dengan Libur Waisak, Imlek, Nyepi, 1 Muharram, Maulid Nabi, Isra' Mikraj, Wafat Yesus, Kenaikan Isa al masih, Proklamasi.. ........., berapa hari yang tersisa?"
Andi: "...???..... ....gak ada sisa pak."
Joko: "Jadi sekarang anda mau menuntut apa?"
Andi: "Saya mengerti pak, sekarang saya sadar bahwa selama ini saya sudah makan gaji buta dan telah mencuri uang perusahaan dengan tidak bekerja sedikitpun. Saya minta maaf"
Joko: "ya udah, keluar sana!"


Thanks Azfina Nasution

Kamis, 10 Juli 2008

Masih Hidup Serakah????


Saya pagi ini terhenyak dengan beberapa pemberitaan dari berita bahkan masuk ke dalam beberapa infotainment mengenai ditangkapnya lagi satu anggota DPR yang di tangkap dengan kasus uang suap. Membuktikan sekali lagi betapa bangsa kita yang ibarat lumbung padi membuat kita yang berada di dalamnya seolah - olah kelaparan karena oknum demi oknum yang mengatas namakan dirinya sebagai Wakil Rakyat dan Abdi Negara mengutamakan kepentingan pribadinya demi kekayaan yang memang bukan menjadi haknya.
Sikap serakah sebagai sikap yang memang tidak terpuji di mata kita sekali lagi menjerumuskan manusia kepada pola pikir memiliki harta merupakan suatu kebanggaan dan kepatutan dalam mendapatkan nilai hidup yang lebih tinggi. Dengan me"lacur"kan harga diri dan kehormatan sejati, hasrat menjadi orang kaya sering membuat orang lupa akan prinsip apa yang ditabur itu yang akan di tunai ...'

Mungkin kasus ini hanyalah sebuah fenomena gunung es di atas lautan dimana pada bagian dasarnya masih banyak kasus - kasus yang serupa bahkan cenderung lebih parah. Keadaan krisis bangsa Indonesia tidak dipungkiri disebabkan oleh sikap - sikap oknum Abdi Negara yang secara tidak bertanggungjawab memperkaya diri sendiri dan mengakibatkan makin senjangnya garis penghubung antara si kaya dan si miskin.

Saya secara pribadi sering mengingatkan diri saya untuk menerima beberapa project. Tergiur dan gemetar rasanya hati ini kala mana ada tawaran melakukan sesuatu yang memang memiliki nilai yang rendah secara moral namun dengan kompensasi yang mungkin membuat saya dapat menjalani sebuah perjalanan wisata keliling dunia yang memang menjadi impian saya.

Tapi bilamana mengingat prinsip bahwa setelah saya meninggalkan dunia ini, bagaimana saya dapat mempertanggungjawab kan kehidupan saya di akhirat nanti, sungguh alangkah bodohnya saya menukar harga diri, martabat dan prinsip hidup yang benar dengan harta yang fana dan sewaktu - waktu dapat hilang dan hanya membawa saya pada kebinasaan.

Kalau boleh saya jujur, saya kadang - kadang ingin rasanya memiliki segalanya ... Namun dengan menumbuhkan faktor kontrol di mana tidak segalanya bisa menjadi milik saya kalau memang itu memang bukan peruntukan untuk saya, seyogyanya saya harus sadar bahwa hidup saya itu tidak sendiri dimana mungkin ada hak - hak orang lain yang memang tidak boleh saya ambil ...

Belajar untuk hidup dengan prinsip asal ada makanan dan pakaian cukuplah mungkin sulit bagi keberadaan kita di dunia yang sangat kuat dengan prinsip materialistik dan konsumeristik ... Namun jangan mengharapkan pada dunia kalau hal itu tidak di mulai dari diri kita sendiri ....

thanks Jimmy . S

Senin, 07 Juli 2008

Detik-Detik Terakhir


Tiba-tiba dari luar pintu terdengar seorang yang berseru mengucapkan salam. "Bolehkah saya masuk?" tanyanya. Tapi Fatimah tidak mengizinkannya masuk, "Maafkanlah, ayahku sedang demam", kata Fatimah yang membalikkan badan dan menutup pintu.
Kemudian ia kembali menemani ayahnya yang ternyata sudah membuka mata dan bertanya pada Fatimah, "Siapakah itu wahai anakku?" "Tak tahulah ayahku, orang sepertinya baru sekali ini aku melihatnya," tutur Fatimah lembut.
Lalu, Rasulullah menatap puterinya itu dengan pandangan yang menggetarkan. Seolah-olah bahagian demi! bahagian wajah anaknya itu hendak dikenang. "Ketahuilah, dialah yang menghapuskan kenikmatan sementara, dialah yang memisahkan pertemuan di dunia. Dialah malaikatul maut," kata Rasulullah, Fatimah pun menahan ledakkan tangisnya. Malaikat maut datang menghampiri, tapi Rasulullah menanyakan kenapa Jibril tidak ikut sama menyertainya.
Kemudian dipanggilah Jibril yang sebelumnya sudah bersiap di atas langit dunia menyambut ruh kekasih Allah dan penghulu dunia ini. "Jibril, jelaskan apa hakku nanti di hadapan Allah?", tanya Rasululllah dengan suara yang amat lemah. "Pintu-pintu langit telah terbuka, para malaikat telah menanti ruhmu. "Semua syurga terbuka lebar menanti kedatanganmu," kata Jibril
Tapi itu ternyata tidak membuatkan Rasulullah lega, matanya masih penuh kecemasan. "Engkau tidak senang mendengar khabar ini?", tanya Jibril lagi. "Khabarkan kepadaku bagaimana nasib umatku kelak?" "Jangan khawatir, wahai Rasul ! Allah, aku pernah mendengar Allah berfirman kepadaku: "Kuharamkan syurga bagi siapa saja, kecuali umat Muhammad telah berada di dalamnya," kata Jibril.
Detik-detik semakin dekat, saatnya Izrail melakukan tugas. Perlahan ruh Rasulullah ditarik. Nampak seluruh tubuh Rasulullah bersimbah peluh, urat-urat lehernya menegang. "Jibril, betapa sakit sakaratul maut ini."
Perlahan Rasulullah mengaduh. Fatimah terpejam, Ali yang disampingnya menunduk semakin dalam dan Jibril memalingkan muka. "Jijikkah kau melihatku, hingga kau palingkan wajahmu Jibril?" Tanya Rasulullah pada Malaikat pengantar wahyu itu. "Siapakah yang sanggup, melihat kekasih Allah direnggut ajal," kata Jibril. Sebentar kemudian terdengar Rasulullah mengaduh, karena sakit yang tidak tertahankan lagi.
"Ya Allah, dahsyat nian maut ini, timpakan saja semua siksa maut ini kepadaku, jangan pada umatku."
Badan Rasulullah mulai dingin, kaki dan dadanya sudah tidak bergerak lagi. Bibirnya bergetar seakan hendak membisikkan sesuatu, ! Ali segera mendekatkan telinganya. "
Uushiikum bis shalati, wa maa malakat aimanuku" "peliharalah shalat dan peliharalah orang-orang lemah di antaramu."
Diluar pintu tangis mulai terdengar bersahutan, sahabat saling berpelukan. Fatimah menutupkan tangan di wajahnya, dan Ali kembali mendekatkan telinganya ke bibir Rasulullah yang mulai kebiruan. "Ummatii,ummatii,ummatiii?" - "Umatku, umatku, umatku" Dan, berakhirlah hidup manusia mulia yang memberi sinaran itu. Kini, mampukah kita mencintai sepertinya? Allahumma sholli 'ala Muhammad wa baarik wa salim 'alaihi

Mitsaqan Ghalizha


Menikah :

Een Andriani, SP dengan
Ajis Priawan, ST

Untuk Saudariku Een dan suami

Saudariku…
Pernikahan adalah suatu hal yang sakral bagi kehidupan manusia, dimana pernikahan telah mengikat dua insan manusia menjadi satu kesatuan yang utuh, yang tidak dapat dipisahkan dunia dan akherat.

Tatkala hijab qobul telah berkumandang, maka dipundakmu telah ada tanggung jawab dirimu sebagai seorang istri. Predikat seorang istri sangat mulia. Apalagi diiringi dengan kesadaran akan kewajibannya mengabdi kepada suami.

Untuk menciptakan baiti jannatii (rumahku adalah syurgaku) tidaklah mudah, ditanganmulah sebagai penentu. Karena itulah, jadilah istri yang sholehah, yang senantiasa membantu suami suka dan duka.

Semua cita-cita mulia untuk menjadikan keluarga sakinah mawwaddah wa rahmah dapat terealisasi di dalam hidup dan kehidupanmu yang senantiasa mendapat Ridho Allah.

Saudariku …
Selamat Menempuh Hidup Baru
Semoga Allah mencurahkan keberkahan kepadamu dan
mempersatukan kalian berdua dalam kebaikan. Amin.


Jakarta, 5 Juli 2008
Noer & Aries


Minggu, 06 Juli 2008

Tentang Tiga Perjalanan


Dua kali acara TV itu terlihat, dua kali saya mendapat nasihat. Ia tentang seorang pesohor muda yang melengkapi rumahnya dengan fasilitas untuk berkumpul banyak orang. Ketika tamu di rumahnya itu sebagian besar adalah anak-anak inilah kurang-lebih pernyataannya: ''Perjalanan yang paling mulia adalah perjalanan ke tempat ibadah. Perjalanan paling baik adalah perjalanan ke tempat kerja. Dan… perjalanan paling menentramkan adalah perjalanan menuju rumah.''

Di hari yang lain, di acara dan televisi yang sama, juga terlihat secara tak sengaja saya dengar pernyataannya. Saat itu, ia sedang kedatangan tamu-tamu tuna netra; ''Kita semua memiliki tiga mata. Mata beneran untuk melihat, mata hati untuk merasa, dan mata kaki untuk melangkah menuju perbuatan.'' Saya mengagumi anak muda ini, tapi soal dia akan saya tulis lain kali. Kita langsung menuju nasihatnya saja.

Kita mulai dari nasihat pertama, tentang tiga jenis perjalanan itu, perjalanan termulia, yakni berjalan ke tempat ibadah. Jadi barang siapa rampung beribadah tidak juga menjadi mulia, berarti yang mulia cuma perjalanannya. Manusianya bisa tetap seperti sedia kala.

Perjalanan kedua adalah perjalanan terbaik, yakni ketika seseorang berangkat kerja. Jadi kerja adalah pusat kebaikan. Maka jika ada orang bekerja hasilnya malah masuk penjara, ia pasti sedang mengingkari hakikat pekerjaannya. Jika ada sopir bus masih tega mengencingi pintu busnya sendiri, dan jika ada pegawai enggan merawat kendaran dinasnya, ia tak layak mendapat kebaikan dari pekerjaannya.

Perjalanan ketiga, ini menurut saya perjalanan yang tidak cuma menenteramkan tetapi juga menyenangkan yakni berjalan menuju rumah, pulang, kepada keluarga. Maka barang siapa punya rumah dan keluarga tetapi tidak memiliki ketenteraman, sesungguhnya ia sedang tidak memiliki apa-apa. Maka siapa saja yang bermain api dengan keluarganya, ia sedang berjudi dengan hidup dan matinya.

Padahal sejauh pengamatan saya, untuk mengakses kebahagaian keluarga ini cuma butuh tindakan-tindakan sederhana. Saya, misalnya, langsung mendapatkan kebahagiaan yang nyaris penuh dari istri saya, ketika ia saya biarkan mengerti seluruh duit yang saya peroleh dan kepadanya sering saya perintahkan mengobrak-abrik dompet saya. Hasilnya luar biasa. Ia segera mengggap saya sebagai lelaki setia dan terpercaya karena tak butuh ''uang laki-laki''. Di masa lalu, uang laki-laki ini biasa ditaruh di lipatan kaos kaki, di saku-saku rahasia dan di tempat-tempat tersembunyi lainnya. Tujuannya jelas, agar ia digunakan sesuka hati tanpa diketahui istri.

Dampak uang laki-laki ini ternyata dahsyat sekali, terutama jika ia dipergoki. Istri bisa berimajinasi macam-macam dari imajinasi ringan, berat atau sedang. Imajinasi ini sungguh biang bahaya karena sudah dibimbing oleh bibit ketidak percayaan. Di mata istri, kenapa suami menyimpan uangnya secara sembunyi hanya punya satu alasan: semua ini cuma demi kepentingannya sendiri. Dan ego semacam ini hanya mungkin dijalankan dengan dua cara: secara diam-diam atau dengan menyiapkan kebohongan. Dan inilah bahaya bohong, ia tidak mengenal berat dan ringat karena jika ketahuan selalu meninggalkan bekas yang dalam. Batu pertama untuk saling tidak percaya telah diletakkan.

Hidup bersama yang sudah tidak saling mempercayai adalah sumber dari seluruh tragedi. Jika serumah sudah tidak saling percaya, maka di dalam satu selimut pun tidak akan saling meraba. Ketika inilah rumah akan berubah fungsi dari pusat ketentraman menjadi pusat kegaduhan. Seseorang yang gagal menentramkan rumahnya sendiri, sulit untuk diharap membuat kebaikan di dalam pekerjaan dan membuat kemuliaan di dalam peribadatan.


Prie GS - Budayawan dan penulis SKETSA INDONESIA

Antara Prinsip dengan Integritas Diri


Beberapa waktu yang lalu, saya dibuat terkagum - kagum dengan sikap seorang supir taksi Gamya yang dengan gigih menolak uang tip dari saya. Memang saya sering melebihkan sedikit pembayaran taksi saya dengan pola pikir kalau saya makan di cafe saya bayar uang service, tidak ada salahnya saya juga membayar uang tip kepada supir taksi karena dia telah mengantarkan saya sampai tujuan dengan selamat.

Saya jadi teringat betapa sering saya rasanya ingin marah kalau supir taksi mengembalikan uang saya dengan jumlah yang tidak sesuai dengan jumlah argo sebenarnya. Katakanlah kalau argo harga Rp.12.000 biasanya kalau saya kasih uang Rp.50.000 dia dengan tidak sopannya mengembalikan langsung Rp.35.000 dengan alasan tidak ada uang kembalian dalam bentuk pecahan Rp.1.000.

Saya memang bukan orang yang begitu mempermasalahkan hal - hal yang demikian tapi inikah memang sikap mental orang - orang kita yang cenderung gampang sekali melakukan hal - hal yang sebenarnya kecil namun kalau dia melakukannya sebenarnya menunjukan jati diri dari integritas seseorang.

Memahami arti integritas sebenarnya dimulai dari sejauh mana seseorang itu menjaga prinsip - prinsip hidupnya. Namun mungkin apakah orang sekarang lebih cenderung tidak konsisten dalam menjaga filosofi hidupnya sehingga nilai - nilai yang ada sama seseorang itu lebih tergantikan dengan nilai berapa harta yang dia miliki...

Prinsip hidup semestinya dibangun atas pengertian bagaimana membangun hidup dalam kerangka-kerangka kebaikan sehingga seseorang memiliki nilai yang lebih tinggi dan lebih baik namun kembali ... Kita harus sadar pada realita yang ada ... Pola hidup materialistik dan konsumerisme telah menjadi acuan orang dalam membangun dirinya.

Bagaimana kita bisa menegakkan hukum dan keadilan kalau aparat hukumnya sendiri bermain - main di atas hukum itu sendiri. Bagaimana pelaku bisnis dapat menjalankan bisnis dengan jujur kalau aparat pemerintah sendiri mengizinkan praktek - praktek yang menguntungkan diri sendiri dan melupakan kepentingan dan hak - hak orang lain.

Namun satu hal yang bisa kita lakukan saat ini tidak lain dan tidak bukan bangun kerangka integritas hidup kita dalam kerangka hidup yang mengingat kepada prinsip bahwa hidup kita bukan untuk kita saja namun kita juga hidup didampingi oleh orang lain dimana kita membutuhkan mereka dan mereka membutuhkan kita. Membangun prinsip moral sejati dalam hal - hal kejujuran, kebenaran, sikap menghargai akan kompetisi kehidupan dan selalu bekerja keras demi mencapai hasil terbaik. Jangan salahkan dunia kalau hal ini tidak dimulai dari diri kita sendiri.

Thanks Jimmy S.

Sabtu, 05 Juli 2008

Arti Sebuah Kejujuran


" Permisi ibu ... " anak kecil itu pun bernyanyi dan duduk di bawah karena salah satu kakinya (maaf) tidak ada.
Dan anak kecil itu pun mulai bernyanyi. Semua orang memperhatikannya, kebetulan metro mini saat itu tidak penuh sesak, sehingga si anak masih bisa leluasa.
Namun ketika si anak tersebut telah selesai bernyanyi tiba-tiba datang salah seorang kawannya dan langsung berbicara " Boong mba... boong kakinya tidak cacat. Tuh lihat kakinya di ikat di belakang. Saya yang aslinya mba... dia boong... " mereka pun tertawa khasnya canda tawa anak-anak di usia mereka.
Aku tercengang, sungguh di luar dugaan. Padahal mereka sama-sama mencari nafkah, seorang kawan justru mengingatkan akan arti kejujuran dalam mencari rizki yang halal.
Ketika mereka pergi, ku pandangi langit malam itu dari dalam kaca bus.
Robb ku yang baik, Yang Maha Kaya, Yang Maha Cinta, Yang Penuh Rahmah, lindungi mereka agar senantiasa selalu berada dalam jalan Mu. Lindungi mereka para penghuni Surga Mu.
Robbi..., maafkan diri ini yang senantiasa belum bisa berbuat jujur kepada siapapun dan terhadap hal apapun.
Robb..., Aku tidak sanggup tanpa hidayah dari Mu. Maafkan diri ini yang selalu lalai dalam mengingat Mu. Mengingat akan ke agungan Mu. Dan ke Maha-an Mu.

Thanks Lina Farida