Senin, 18 Oktober 2010

Pelajaran Dari Semut

Tentu sudah tak asing lagi membaca dan mendengar sebuah peribahasa yang menyebutkan ‘ada gula ada semut’. Nah, kali ini aku bukan hendak mengartikan peribahasa ini secara tersirat tetapi lebih kepada artinya yang tersurat. Memang sudah lazim kalo semut suka yang manis-manis. Jadi sudah tak heran lagi jika ada makanan manis yang langsung dirubung oleh semut.

Tapi semut jaman dulu rasanya berbeda dengan semut jaman sekarang. Apalagi semut-semut di daerah perkotaan seperti Jakarta. Kelihatannya semut-semut ini sangat kelaparan. Mereka selain suka yang manis-manis juga menyukai hampir semua jenis makanan yang kita makan. Terkadang kita dibuatnya kesal. Padahal hal yang dilakukan semut–semut itu adalah akibat dari terdesaknya lahan mereka yang banyak diserobot oleh manusia di kota. Salah siapa?



Aku jadi teringat sebuah kejadian di bulan Ramadhan yang baru saja kita lewati bersama. Selepas menunaikan sholat tarawih aku sering membawa makanan kecil yang belum sempat aku makan saat berbuka puasa ke dalam kamarku.

Kuletakkan makanan itu di atas meja karena aku berniat memakannya beberapa menit kemudian. “Rebahan dulu deh,” pikirku sejenak. Namun rasa kantuk yang merajalela membuat aku langsung terlelap dan melupakan makanan yang kutaruh di atas meja.

Saat waktu sahur tiba, kulirik piring makananku. Wah, semut-semut hitam sedang asyik berpesta pora melahap makanan yang belum sempat aku sentuh tadi malam. Yah, beginilah jadinya kalau ketiduran.

Rupanya kebiasaan membawa makanan ke kamar terus berlanjut keesokan harinya. Tapi kali ini tekadku lebih kuat untuk langsung menyantap kue-kue sebelum diserobot oleh para semut. Tapi apa daya, lagi-lagi kantukku mengalahkan nafsu makanku. Alhasil, pasrah sudah jika sahur tiba menemukan piring makananku penuh dirubung segerombolan semut yang sedang lapar. Yah, alamat dimakan semut lagi deh! Pikirku kemudian.

Ternyata prasangkaku keliru. Makananku tetap bersih, tak ada seekorpun semut yang datang menghampiri piringku. Lho, kenapa bisa begitu ya? Aku terheran-heran bercampur rasa gembira melihat makananku utuh dan bersih.

Aku berusaha mencari jawaban mengapa kali ini semut-semut tak bernafsu melahap makananku. Astagfirullohal’adziim!! Apa yang telah aku lakukan? Keherananku terjawab sudah. Rupanya, karena mengantuk aku telah lalai meletakkan piring makananku di atas sebuah kitab suci Al-Qur’anul Karim!

Aku jadi teringat dua buah kisah nyata di belahan bumi yang lain tentang kesucian Al-Qur’an yang memang telah dijamin oleh Yang Maha Kuasa.

Begini kisahnya, beberapa tahun silam di Pakistan ditemukan sebuah Al-Qur’an berusia sangat tua yang tidak dimakan oleh rayap. Bagian pinggir/tepi Al-Qur’an memang sudah terkikis habis oleh rayap, namun bagian kertas yang bertuliskan kalam Illahi tetap utuh tak tersentuh gigitan rayap. Sehingga jika dibuka lembar per lembarnya terlihat unik seperti sebuah karya seni bordir yang meliuk-liuk bertuliskan hurup arab. Rayap tak berani menyentuh ayat-ayat yang suci dari Sang Pencipta.

Lain lagi dengan sebuah peristiwa yang menakjubkan tentang terbakarnya sebuah mobil di tepi jalan raya di daerah Timur Tengah. Mobil yang telah berubah menjadi rongsokan itu tidak menyisakan apa-apa. Seluruh bagian mobil hangus terbakar berikut rangka besinya. Namun tak disangka tak diduga di dalamnya ditemukan sebuah Al-Qur’an yang masih tetap utuh tak tersentuh api padahal sekelilingnya sudah berubah menjadi abu. Subhanalloh! ALLOH Hafidz.

“Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan Al-Qur’an, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya.” (QS 15 : 9)
“Qaaf. Demi Al-Qur’an yang sangat mulia.” (QS 50 : 1)

Ah, malunya hati ini jika mengingat kejadian malam itu. Seharusnya aku lebih berhati-hati dalam bertindak. Semut-semut saja tidak berani menaiki Al-Qur’an yang mulia dan suci, sedangkan aku telah sembarangan meletakkan makanan di atas Al-Qur'an. Ampuni aku, yaa Rabb atas kelalaianku. Aku akan berusaha untuk tidak gegabah lagi dalam berindak. Dan satu hal yang ingin aku ucapkan untuk para semut di kamarku. “Terima kasih semut-semut hitam, hari itu kau telah memberiku pelajaran berharga”.

Wallohua’lam bishshowaab

Mira Kania Dewi

Jangan Jadi "Miss Komplain"

Pernahkah Anda menghitung berapa kali Anda mengeluh dalam satu hari, mulai dari bangun tidur sampai tidur lagi. Jika dibuat daftarnya, bisa jadi sepanjang hari itu kita lebih banyak mengeluh dari hal-hal yang sepele di rumah sampai hal-hal yang berat di tempat kerja atau di lingkungan tempat kita tinggal.

Suatu hal yang wajar jika sesekali kita mengeluh, karena sudah menjadi kodrat manusia suka berkelu kesah seperti disebutkan dalam Surat Al-Ma'arij ayat 19-21, "Sesungguhnya manusia itu diciptakan dengan sifat suka mengeluh. Apabila ditimpa musibah dia mengeluh dan apabila ditimpa kesenangan berupa harta ia jadi kikir." Tapi yang sering terjadi adalah, tidak ditimpa musibah pun kita kadang sering mengeluh. Jalanan macet kita mengeluh, padahal kita tahu bahwa kemacetan adalah pemandangan sehari-hari di kota Jakarta. Pekerjaan rumah tangga menumpuk karena tidak ada pembantu, kita mengeluh. Anak rewel, kita mengeluh. Tugas di kantor bertambah, kita mengeluh. Seolah semua hal jadi bahan keluhan.


Padahal kalau ditelaah, banyak hal-hal yang kita keluhkan hanyalah urusan dunia, karena ketidakpuasan kita terhadap hal-hal yang bersifat duniawi. Tapi manusia memang sudah terbiasa banyak mengeluh, hingga kadang lupa mensyukuri hal-hal yang kita anggap tidak penting padahal sangat penting. Sebut saja nikmat sehat. Pernahkah kita bersujud dan mengucap syukur dengan tulus karena Allah telah memberi nikmat sehat setiap hari sehingga kita bisa melakukan aktivitas dengan lancar. Jika pun ada hambatan, seharusnya tidak membuat kita jadi mengeluh tapi melihatnya sebagai ujian dan tantangan.

Sebagai makhluk yang lemah, setiap manusia tentu saja suatu waktu pernah mengeluh, sadar atau tidak sadar. Asalkan tidak menjadi kebiasaan dan akhirnya menjadi karakter yang bakal sulit dihapus dari kepribadian seseorang. Orang yang memiliki karakter suka mengeluh akan berdampak pada munculnya suasana yang tidak nyaman bagi lingkungan dan orang di sekitarnya. Pernahkah Anda berjumpa dengan orang yang tabiatnya suka mengeluh dan Anda merasakan sangat tidak nyaman bahkan jengkel berada di dekatnya.

Kita memang harus waspada dengan sifat suka mengeluh ini, jika tidak ingin sifat buruk ini menjelma menjadi bagian dari karakter. Untuk itu perlu latihan pengendalian diri agar tidak selalu melontarkan keluhan Bagaimana caranya?

1. Biasakan menyampaikan keluh kesah pada Allah semata
Ketika kita ditimpa kemalangan atau musibah, lebih baik kita menyampaikan keluh kesah dan kegundahan hati kita pada Allah Swt. Karena Dia-lah Yang Mahatahu segala persoalan dan kegundahan dalam jiwa kita. "Sesungguhnya hanyalah kepada Allah aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku, dan aku mengetahui dari Allah apa yang kamu tiada mengetahuinya," (QS Yusuf;86).

2. Kita bisa berkeluh kesah pada orang lain, hanya jika keluh kesah itu merupakan hal yang penting.
Ini mungkin berkaitan dengan upaya Anda untuk mendapatkan hak Anda, atau hak orang lain yang Anda kenal. Kadang memiliki keluhan dan menyampaikan keluhan pada orang lain itu penting, asalkan disampaikan dengan baik-baik dan tidak berlebihan.

3. Bicarakan solusi yang praktis
Daripada mengeluh tiada akhir, lebih baik memikirkan atau membicarakan solusi praktis atas permasalahan yang kita hadapi. Tidak ada masalah yang tidak bisa dicari solusinya. Jika menemui jalan buntu, mohonlah bantuan pada Allah Swt.

4. Jangan membesar-besarkan hal yang kecil
Anas bin Malik berkata, "Saya melayani Rasululullah Saw. selama dua puluh tahun dan beliau tidak pernah mengatakan 'ahh' pada saya. Dan beliau tidak pernah mengatakan apapun yang tidak saya lakukan, 'mengapa kamu tidak melakukannya?' atau apapun yang telah saya lakukan, 'mengapa engkau melakukan itu?'" (HR Muslim). Jadi biarkan saja hal-hal sepele yang tidak penting itu lenyap dan tidak lagi mengganggu pikiran kita.

5. Bicaralah tentang nikmat Allah
Daripada memilih membicarakan segala sesuatu yang salah dalam hidup Anda, pilihlah topik pembicaraan tentang hal-hal yang menyenangkan dalam hidup Anda. Dengan bersikap seperti ini, bukan hanya membantu Anda menghindar dari keluhan, tapi juga mematuhi perintah Allah untuk selalu mensyukuri nikmat Allah, "Lalu nikmat Allah manakah yang engkau dustakan?".

6. Ingatlah mereka yang kurang beruntung
Salah satu cara untuk menyentak kita kembali untuk melihat realitas dan menghargai berkah yang Allah berikan pada kita adalah mengingat mereka yang kurang beruntung dari kita.. Bacalah berita-berita tentang orang lain yang menderita di Asia, Afrika, dan seluruh dunia. Bacalah tentang kehidupan anak yatim piatu di Palestina, tentang kehidupan para tunawisma di lingkungan kita sendiri. Sesekali berinteraksilah dengan mereka dan jangan menenggelamkan diri dalam rasa putus asa, tetapi menggunakan cerita mereka sebagai alat untuk bersyukur dan bersyukur kepada Allah atas apa yang kita miliki.

7. Kurangi stres dalam hidup Anda
Kita mungkin mengeluh karena kita mengalami stres yang cukup berat dalam kehidupan ini. Anda perlu tempat untuk menyendiri. Berhentilah sejenak, carilah tempat yang tenang untuk bersantai, duduk di ruang yang gelap, tarik napas dalam-dalam selama beberapa menit, berjalan-jalan di luar rumah, mendengarkan lagu-lagu nasheed dan membaca beberapa Al Qur'an akan memberikan ketenangan bagi hati dan pikiran yang sedang tertekan.

8. Bacalah kisah-kisah dalam Sirah, catatlah bagian-bagian yang penting dan pengalaman para nabi, sahabat nabi dan generasi-generasi muslim di masa lalu, belajarlah dari pengalaman, sikap dan cara mereka menghadapi masalah.

9. Bicarakan masalah-masalah lain yang lebih penting
Misalnya hal-hal baru yang mengundang minat Anda untuk belajar, proyek-proyek untuk pekerjaan Anda atau pengalaman jalan-jalan melihat keindahan alam yang membuat Anda merenungkan keindahan ciptaan Yang Mahakuasa.

10. Ceritakan pengalaman-pengalaman lucu yang pernah Anda alami, asal bukan cerita bohong.
Ketika berkumpul bersama teman atau keluarga, akan lebih ceria jika kita mendengar cerita-cerita lucu daripada mendengar keluhan, yang mereka sendiri tidak bisa membantu memberikan jalan keluar. Ceritakanlah hal-hal ringan yang lucu dan berkesan yang pernah Anda alami, ini akan membuat suasana dan orang di sekeliling Anda lebih menyenangkan.

11. Kenali sikap suka mengeluh yang jadi kebiasaan
Perhatikanlah selalu perkataan kita dari waktu ke waktu, apakah kita merasakan bahwa mengeluh lebih merupakan kebiasaan dari suatu usaha yang berguna? Mengakui hal itu sebagai kebiasaan adalah langkah pertama yang penting untuk mulai melawan sikap suka mengeluh.

12. Cari lingkungan yang lebih baik
Apakah kita merasakan lebih banyak mengeluh jika kita berada di sekitar orang-orang tertentu? Mungkin itu karena kita tidak memiliki banyak kesamaan minat dengan orang-orang tersebut, atau karena mereka tidak tertarik untuk bersikap positif dan berterima kasih. Jika itu terjadi, maka sudah saatnya kita mencari lingkungan teman yang lebih baik.

13. Sedikit Bicara
Umumnya, jika kita sudah mencoba segala sesuatu yang kita pikirkan dan masih menemukan diri kita terlalu banyak mengeluh, mungkin itu karena kita sudah terlalu banyak bicara. Jangan biarkan setan yang mengarahkan kita untuk bicara hal-hal yang tidak berguna atau berbahaya. Pertahankanlah kelembaban lidah dengan selalu mengingat Allah. Bertobatlah kepada-Nya dan bershalawatlah atas nama Rasulullah Saw. sesering mungkin.

Senin, 04 Oktober 2010

Tutup Mata, Telinga dan Mulutmu!

Di manapun kita berada sering kita bertemu dengan orang yang punya sipat temperamental, mudah tersinggung atau egois, maunya menang sendiri. Manusia yang satu ini kalau dalam kaca agama memang harus dikasihani, karena dia sendiri tak tahu apa kesalahannya. Nah, repotkan kalau orang hanya pandai menyalahkan orang, tanpa mengetahui kesalahan diri sendiri.

Terkadang dalam pergaulan sehari-hari, ada saja kita menemukan orang yang tak sependapat dengan kita dan dianya nyerocos seprti air dari slang mobil pemadam kebakaran yang begitu menyembur sukar dihentikan dan perlu dua tiga orang untuk menangainya. Dalam kaca mata orang seprti ini, kita atau orang lain di sekitarnya tak ada yang benar, salah melulu, karena memang yang dicari adalah kesalahan orang lain; orang seperti ini selalau merasa benar sendiri, semua orang salah, kecuali dirinya.



Untuk menghadapi orang yang seperti ini ada tiga cara. Karena orang yang seperti ini bukan hanya berada pada level tingkat bawah, menengah, tapi juga ada pada level atas, yaitu para pejabat negara atau para eksekutif di berbagai perusahaan, baik kecil maupun besar. Siapapun orangnya kalau punya tipe semacam ini, biasanya dalam pekerjaan ada rasa tidak nyaman, karena tiada hari tanpa omelan orang ini, tiada hari tanpa menyalahi orang lain, tiada hari tanpa keributan, loh kok bisa ? Loh iya, habis yang dicari kesalahan orang melulu, perkara kecilpun menjadi besar di mulut ceriwis seperti ini, ya boleh kita sebut "mulut nenek lampir."

Ibarat pepatah:" semut di seberang lautan nampak, gajah di pelupuk mata tidak kelihatan. " Itulah orang yang selalu memakai " kaca mata negatif " salah, salah dan salah untuk orang lain, benar hanya untuk dirinya sendiri. Orang seperti ini juga dalam diskusi selalu mencari kesalahan orang, tapi tak mau menyadari bahwa dirinya juga punya kesalahan, tidak selamanya benar. Bahkan sering kali orang seperti ini, tanpa tedeng aling-aling akan "menghantam" orang dengan kata-kata yang kasar di hadapan orang banyak, di depan umum, sehingga orang yang "dihantamnya"pun merasa malu! Dan anehnya orang seperti ini biasanya puas, kalau sudah sumpah serapahnya keluar, caci makinya berhamburan, tanpa merasa bersalah sedikitpun!

Nah menghadapi orang seperti ini kita pakai tiga cara:

Pertama, tutup mata. Anggap saja kita tak melihat apa yang dilakukan oleh orang yang berjiwa kerdil seperti ini; misalnya saja sudah menjadi pejabat negara dan sudah duduk di kursi terhormat, tapi kata-katanya kotor, kasar, keras dan galak! Sepertinya hanya dia yang bisa marah dan orang lain pantas dimarahi, kecuali dia sendiri. Kita tutup mata terhadap orang yang mempunyai sipat seperti ini, karena kalau kita melihatnya, kita menjadi jengkel, bahkan mungkin juga" tersulut " untuk ikut marah-marah dan mencaci maki orang!

Kedua, tutup telinga. Anggap saja kita tak mendengar apa yang dikatakan, kita "tulikan" telinga kita dari suara-suara keras, kotor, jorok dan lain sebagainya dari orang ini. Karena kalau kita menndengarkannya, orang ini akan semakin nyerocos mulutnya, mulutnya tak dapat disumbat oleh apapun. Nah biasanya kalau kita" tulikan " pendengaran kita, maka orang seperti ini, biasanya akan menjauh, karena suara yang keluar mulutnya, dicueki, dianggap angin lalu.

Ketiga, tutup mulut. Nah sekarang kita melakukan aksi tutup mulut, kita diamkan orang yang menyerocos bagai " nenek lampir " ini. Kita tak membalas, mulut kita diam, tak berkomentar apapun dan tak membalas kata-kata kasar, kotor dan jorok dari orang ini. Kita jadikan tontonan yang menarik, kita liatin aja ketika orang ini marah-marah, yang kadang-kadang tanpa sebab yang kita ketahui, tahu-tahu di depan kita dia marah-marah. Sebentar-sebentar marah dan marahnya tidak sebentar!

Jadi gerakan tutup mata, tutup telinga dan tutup mulut untuk menghadapi siapapun orang yang punya watak temperamental, insya Allah akan berhasil. Karena sekali lagi orang yang suka mencari kesalahan orang hidup tak mungkin bahagia, karena dihatinya penuh kotoran dan biasanya akan keluar melalui lisannya atau bahkan tulisannya. Orang yang" hobyinya " suka mencari kesalahan orang ibarat melihat seorang bapak dan anak dengan keledainya.

Bapak yang naik keledai, salah, " orang tua tak tahu diri, anaknya di suruh nuntun keledai, sedangkan dia enak-enakan duduk di atas keledainya! "

Anak yang naik keladai, salah, " ini anak kurang ajar, masa bapaknya yang sudah tua di suruh jalan kaki, sedangkan dia, enak-enakan duduk di atas keledai! "

Bapak dan anak, keduanya naik keledai, inipun salah, " anak beranak ini memang tak punya rasa kasihan, keledai kecil seperti itu dainaiki berdua, terlalu! "

Bapak dan anak kemudian menuntun keledai mereka, inipun masih salah, " ya, bapak dan anak sama bodohnya, punya keledai kok di tuntun saja, bukan dinaiki, kan lumayan, tidak jalan kaki!

Karena sangat kesalnya, begini salah, begitu salah, akhirnya bapak dan anak ini mencari kayu, kemudian keledainya mereka ikat dan mereka pikul, " bapak dan anak sudah gila!, punya keledai kok tidak naiki, eh malah dipikul! "

Mungkin anda pernah mendengar cerita itu, siapapun tokohnya, tak penting, yang penting adalah hikmah dari cerita tersebut, dimana kalau kita mendengarkan, memperhatikan dan mencoba berdialog dengan orang yang "kacamata" negatif, apapun yang kita lakukan adalah salah, karena yang dicari memang kesalahannya, bukan kebenarnnya! Maka menghadapi orang semacam itu kita pakai kiat: tutup mata, tutup telinga dan tutup mulut kita!

Tapi kalau bertemu dengan yang punya" kaca mata " atau berpandangan positif, maka yang kita lakukan adalah membuka mata, membuka telinga dan membuka mulut untuk berdialog dan berbagi kebenaran, bukan kesalahan!

Dengan kaca mata positif atau kaca mata hikmah ( pernah saya tulis diruang ini juga ) kita tak mudah emosi, tak marah, tak mudah tersinggung dalam bergaul di masyarakat banyak, karena apapun berita yang kita terima akan disaring lebih dahulu dan bila berhadapan orang yang emosin tadipun, ita akan tetap tenang dan berpedoman pada tiga hal diatas, tutup mata, telinga dan mulutmu!

Syaripudin Zuhri