Rabu, 02 Desember 2009

Apakah Hidup Anda Diliputi Oleh Keberuntungan?


Sudah sejak lama orang tua kita percaya bahwa kehidupan kita diliputi oleh keberuntungan. Itulah sebabnya, kita selalu mengatakan ’untung...,’ sekalipun kita baru saja mengalami sebuah musibah. Selama ini, kedalam diri kita sudah ditanamkan sebuah sikap untuk selalu melihat segala situasi dari sisi positifnya. Sehingga, dalam situasi apapun kita masih merasakan betapa beruntungnya diri kita. Jika demikian, apakah sumpah serapah atau rasa syukur yang lebih layak untuk diungkapkan?



Ketika saya masih kecil, rumah kediaman kami dilalap api, hingga seluruhnya berubah menjadi abu. Ayah dan Ibu saya bilang; ”Untung kita semua selamat,”. Sampai sekarang saya masih teringat dengan kobaran api itu. Dan setiap kali mengenangnya; saya juga teringat kata-kata Ayah-Ibu saya tentang keberuntungan itu.



Ketika sudah bisa berenang di sungai, saya tenggelam. Air deras menyeret tubuh saya hingga tersangkut disela-sela pintu penahan air di bendungan. Sampai sekarang saya masih ingat betapa beruntungnya saya karena ada rongga udara yang terbentuk antara lempengan pintu irigasi dengan titik jatuh air sehingga melalui rongga itu saya bisa bernafas sampai orang-orang berhasil menemukan saya.



Ketika beranjak remaja, gejolak muda mendorong saya untuk pergi ke Gunung Tangkuban Perahu dan membiarkan diri saya menginap disana. Bermalam di gunung sama sekali bukanlah masalah. Tetapi, melakukannya sendirian dialam liar tanpa perlengkapan apapun; kedengarannya bukan gagasan yang cerdas. Sampai saat ini saya masih mengenang betapa beruntungnya saya karena bisa selamat melalui malam yang mengerikan itu.



Kemarin malam, saya melakukan beberapa permainan kecil dengan anak-anak. Setelah melalui tahap tertawa dan melompat-lompat yang seru, saya berencana untuk melakukan sesuatu yang lain. Kali ini saya membutuhkan sebuah media yang harus dipotong-potong. Maka saya mengambil cutter kecil. Ketika memotong media itu, entah kenapa ujung cutter tergelincir dan patah hingga melukai pangkal jari tangan saya, persis dibagian yang banyak urat-urat kecilnya. Darah segar segera mengalir. Dan secara spontan saya berkata dalam hati;’Untung tidak sampai memutuskan urat-uratnya.” Saya kira masalah akan terhenti sampai disana. Ternyata saya keliru.



Sebelum sempat memberi tahu orang lain bahwa tangan saya terluka, anak lelaki kecil saya yang tengah berada dipuncak rasa senang berlari kearah saya. Lalu tanpa disadari dia merebut cutter itu dari genggaman saya. Maka secara spontan saya berteriak; ”Abang, ayah pegang pisau tajam, jangan merebutnya. BAHAYA!” tapi terlambat. Dia sudah terlanjur melakukannya. Ketika itu, saya merasakan segalanya seolah berjalan dalam gerak lambat. Semua kengerian itu seolah menancap dalam pikiran saya. Mulai dari ujung cutter yang tergelincir. Lalu dia patah merobek pangkal jari tangan saya. Urat-urat yang terlihat. Darah segar yang mengalir. Rasa perih yang menyayat. Dan..., tangan-tangan kecil polos yang merebut gagang cutter mengira mainan terbuat dari plastik.



Pikiran saya secepat kilat membayangkan luka macam apa yang bisa dialami oleh anak saya. Namun, ajaib sekali; tangannya tidak apa-apa. Lalu saya melihat gagang pisau cutter kecil itu. Ternyata, memang semua bagian pisaunya sudah patah tadi ketika saya memotong media permainan itu. Sekarang, saya merasa sangat beruntung karena pisau tajamnya sudah patah. Jika tadi pisau itu tidak patah, dan tanpa bisa dihindari anak lelaki kecil saya yang antusias itu merebutnya dari tangan saya; maka boleh jadi tangannya akan terluka parah. Sekarang saya tahu, betapa beruntungnya kami.....



Jika anda merasa saya sedang memamerkan keberuntungan- keberuntungan yang pernah saya alami dalam hidup, semoga anda berkenan mengubah prasangka itu. Sebab, kalaupun saya berniat untuk pamer, maka tidaklah mungkin saya bisa menceritakan satu demi satu keberuntungan itu. Sebab, kita semua tanpa henti-hentinya mendapatkan keberuntungan hidup yang sedemikian banyaknya sehingga kita tidak mungkin mampu bahkan untuk sekedar menyebutkannya satu persatu. Seperti firman Tuhan yang pernah diajarkan oleh guru ngaji saya, bahwa;”Jika engkau menghitung nikmat yang Tuhan berikan kepadamu, niscaya kamu tidak akan bisa menghitungnya. ...”



Tapi, jika benar nikmat Tuhan itu sedemikian banyaknya; mengapa kehidupan kita sering tidak beranjak ke tingkat yang kita impikan? Mungkin karena kita selalu mengimpikan kehidupan materialis. Kita terlampau sering mengukur kenikmatan dari jumlah uang yang kita dapatkan. Dari kekayaan yang kita kumpulkan. Dari kedudukan yang bisa kita banggakan. Dan dari jubah nama besar yang kita kenakan. Padahal, ternyata keberuntungan kita bisa menjelma dalam bentuk lain yang sering kita abaikan. Kesehatan kita. Kesempurnaan penciptaan tubuh kita. Terbebasnya kita dari perasaan tertekan. Rasa tenang kita. Tidur nyenyak kita. Pekerjaan dan gaji rutin yang kita terima. Dan semua hal lain yang jumlahnya tiada terhingga. Namun, karena kita kurang mensyukurinya; maka kita sering lupa bahwa semua itu adalah wujud keberuntungan hidup yang Tuhan anugerahkan kepada kita.



Memang benar bahwa ’sudut pandang’ kita menentukan apakah kita bisa menemukan hikmah dibalik setiap kejadian atau tidak. Namun, saya meyakini bahwa keberuntungan sama sekali bukan soal sudut pandang; melainkan soal kesadaran. Kita perlu lebih sadar bahwa Tuhan menginginkan kehidupan kita baik. Bahkan Tuhan tetap ingin agar hidup kita baik sekalipun kita sering mengambil langkah dan keputusan-keputusan yang bodoh. Hanya saja, kita sering tidak menyadari semua kebaikan Tuhan selama ini. Sehingga, kita sering berburuk sangka kepada-Nya. Kita mengira bahwa Dia memberi orang lain lebih banyak nikmat, daripada yang diberikan-Nya kepada kita. Padahal, boleh jadi kenikmatan yang sesungguhnya terletak pada hati nurani kita. Bukan pada benda atau atribut-atribut yang kita lekatkan pada tubuh kita. Jika kita berhasil menemukan tak berhingga kenikmatan didalam hati kita; mungkin kita bisa lebih sadar akan betapa beruntungnya diri kita. Karena ternyata. Kehidupan kita. Diliputi. Oleh keberuntungan.


Dadang Kadarusman

Lanjut......

Rabu, 25 November 2009

Menikah

Menikah:

Wiwit Prasetyarini

dengan


Agung Nugroho


Jakarta, 24 November 2009


Selamat Menempuh Hidup Baru

Semoga Allah mencurahkan keberkahan kepadamu dan mempersatukan
kalian berdua dalam kebaikan. Amin.

Lanjut......

Minggu, 15 November 2009

Tingkah Tetangga

Selasa, 17/11/2009 07:39 WIB Cetak |  Kirim |  RSS


Dinamika hidup bertetangga kadang mirip lomba mencampur warna dalam air kolam. Ukuran dan sifat warna sangat menentukan apa yang akan dominan. Jika yang dominan putih, kolam terkesan bersih dan sejuk. Repotnya ketika campuran membentuk warna keruh. Suasana tampak kotor dan jorok.

Berkeluarga dan bertetangga memang sulit dipisahkan. Keduanya seperti dua anak tangga yang mesti dilalui seseorang menuju cita-cita hidup. Berkeluarga sebagai anak tangga pertama, dan bertetangga anak tangga berikutnya. Keharmonisan rumah tangga berpengaruh pada suasana bertetangga. Begitu pun sebaliknya.
Dalam Islam, bertetangga bukan sekadar dinamika alami kehidupan setelah berkeluarga. Lebih dari itu. Bertetangga menjadi tahapan pendidikan umat. Di situlah pintu masuk seorang mukmin mengenalkan keindahan Islam kepada orang lain. Dalam media ucapan, juga perbuatan. Di sisi Allah, nilai aktivitas itu menjadi ibadah.

Rasulullah saw. bukan hanya mengatakan adanya kedekatan antara mutu keimanan dengan berbuat baik dengan tetangga. Bahkan, beliau saw. telah membuktikan dalam kehidupan nyata. Walau ketika di Mekah sebagian tetangga berbuat buruk, tapi beliau saw. tetap memberikan yang terbaik buat tetangganya: mengunjungi, memberi hadiah, menolong yang susah, dan lain-lain. Justru dari situlah, dakwah Islam menyebar dan terus menyebar.
Namun, kenyataan kadang tidak seperti yang diinginkan. Karena sesuatu hal, bertetangga menjadi tidak mengenakkan. Bikin hati kesal. Tekanan batin yang tak kunjung reda. Konflik yang berketerusan. Dan, sebagainya. Setidaknya, hal itulah yang kini dialami Bu Juju.
Ibu dua anak ini belum lama pindah. Semula ia membayangkan indahnya tinggal di perumahan. Tata letak lingkungan rumah yang teratur, kemampuan ekonomi yang setara, tingkat budaya yang lebih beradab. Dan tentu saja, hubungan sosial yang lebih harmonis dan produktif. “Ah, indahnya!” begitulah bayang-bayang pikiran Bu Juju. Walau masih nyicil, suasana di perumahan lebih terjamin.

Demi itu, Bu Juju dan suami rela berkorban. Biar tinggal jauh dari orang tua, yang penting suasana beda. Biar jarak kantor suami yang kian sulit terjangkau, anak-anak bisa hidup tenang dan damai.

Beberapa hari berlalu, kenyataan memang membenarkan cita-cita Bu Juju. Tapi, ketika waktu bergulir menjadi minggu dan bulan, suasana mulai beda. Para penghuni perumahan bertipe maksimal tiga-enam ini mulai memperlihatkan aslinya. Sayangnya, sebagian besar penghuni di blok tempat tinggal Bu Juju punya karakter asli kurang baik. Mereka senang hura-hura dan mudah prasangka. Mulailah hari-hari sumpek dilalui Bu Juju sekeluarga.
Ada satu kegiatan ibu-ibu di blok Bu Juju yang lumayan meresahkan. Setidaknya, buat Bu Juju. Tiap minggu pagi, mereka bersepakat bersenam ala poco-poco. Jenis senam yang gerakannya diiringi musik yang lagi ngetop. Bisa disko, pop, semi dangdut, atau dangdut tulen. Yang penting cocok buat bergoyang.

Karena olahraga, pakaiannya pun berjenis kaos. Ada yang tangan panjang, pendek dan tanpa kerah. Begitu pun dengan bawahannya. Ada celana training, pendek, bahkan sangat pendek. Mereka ngumpul di lapangan komplek. Setelah musik berdendang, mereka pun mulai bergoyang menurut irama. Karena menarik perhatian, banyak penghuni yang menonton. Laki dan perempuan.

"Lho, kok Bu Juju nggak ikut?” tanya seorang ibu ke Bu Juju. Yang ditanya cuma bisa senyum. Bu Juju bingung mau jawab apa. Bilang repot, khawatir dianggap egois. Bilang malu, bisa dicap sombong. Mau terus terang, takut orang salah paham. Bu Juju khawatir ada kesan kalau ajaran Islam kaku, ekstrim, dan lain-lain. Setidaknya, butuh waktu dan kesempatan panjang buat bicara Islam. Agar tidak dipahami sepenggal-sepenggal.
Sayangnya, kesempatan yang diupayakan Bu Juju kalah cepat dengan isu yang berkembang. “Bu Juju memang fanatik. Fundamentalis.” Begitulah akhirnya cap bergulir. Langkah Bu Juju mulai memperlihatkan benang kusut.

Cobaan tidak cuma di situ. Tetangga kiri dan kanan Bu Juju, ternyata hobi musik. Yang kiri fanatik dangdut, yang kanan senang musik barat. Buat pencinta musik, irama dengan suara pelan bukan pilihan asyik. Mereka senang kalau orang lain bisa ikut mendengarkan. Mereka berharap, tetangga bisa ikut terhibur. Termasuk keluarga Bu Juju. “Kasihan tetangga sebelah nggak punya tape. Mudah-mudahan bisa ikut senang,” begitulah kira-kira persepsi mereka.

Tinggallah Bu Juju, suami, dan anak-anak blingsatan. Pernah beberapa kali, Bu Juju menegur supaya suara tape dikecilkan. Dan memang dikecilkan. Tapi ukuran suara kecil buat tetangga tetap saja besar buat Bu Juju. Duh, cara apa lagi. Mau marah, terkesan agak aneh. Toh, tetangga-tetangga lain enjoy aja kok. Dengan terpaksa, Bu Juju dan suami membeli tape. Bukan untuk dinikmati. Hanya untuk menyaingi suara yang bisa didengar. Padahal, masih banyak kebutuhan lain yang lebih penting buat Bu Juju dan keluarga dari sekadar tape.
Belum lagi urusan poco-poco dan tape selesai, seorang tetangga Bu Juju bawa kartu undangan. “Bu Juju dateng, ya. Pesta besar, nih!” suara seorang ibu yang tinggal persis di seberang jalan rumah Bu Juju. “Duh, ada yang ulang tahun,” batin Bu Juju bersuara lirih. Jelas saja, yang kebayang cuma satu: hura-hura!

Nyaris, Bu Juju dan suami minggat secepat-cepatnya. Ada niatan mau jual lagi rumah yang baru beberapa bulan ditempati. Biarlah rugi, yang penting bisa lepas dari masalah. Begitukah?

Bu Juju ragu. Seperti itukah mental seorang mukmin. Aktivis pengajian lagi! Memang, teori perubahan mengatakan kalau tak mampu mengubah keadaan, ubahlah persepsi diri tentang masalah. Artinya, anggap masalah dengan takaran ringan. Atau, ambil jarak dengan masalah dengan cari jalan lain.

Tapi, apa memang ia sudah tak mampu melawan. Bu Juju diam sebentar. “Aha!” Ia seperti dapat sesuatu. “Kalau kemungkaran bisa jor-joran. Kenapa kebaikan tidak?” Sejak itu, segala jenis kegiatan positif berupa pengajian, dongeng anak, belajar bersama, bahkan les anak-anak sekali pun dilakukan dengan besar-besaran. Ada pengeras suara, ada senandung Islami sebagai pengiring, dan tentu saja ceramah. Semuanya selalu melibatkan tetangga. “Perang-perang, deh!” tekad Bu Juju bulat.

Muhammad Nuh


Lanjut......