Kamis, 24 April 2008

Sudut Hatiku


Maafkan
Jika senyumku tersembunyi
dibalik air mata

Dan kata-kata mesra
Menjadi tanpa daya,
karena terperangkap dalam prasangka
Tapi Tuhan tahu
Cinta yang kupunya,
lebih berwarna Dari yang kau kira
Aku mencoba mengerti
Jika kau terkadang tak memahami
Kenapa aku menangis, hanya karena hal-hal sepele
yang menurutmu tak layak mencairkan mataku
Suamiku,
Bagaimana menjelaskan padamu?
Aku perempuan, yang memiliki siklus tertentu
Di mana emosiku terpacu lebih cepat
hingga mudah terbakar cemburu

Jika kau ingin membantuku
melewati waktu-waktu sulit itu,
agar aku tak menjelma istri menyebalkan
Ini caranya:
Jadilah cermin ajaib
yang hanya punya satu jawaban untuk Sang Ratu



Cuplikan buku: Karenamu Aku Cemburu, Asma Nadia

Senin, 21 April 2008

Sawang Sinawang


Seorang gadis cantik berkerudung, rekan sekerja saya, duduk di hadapan saya. Kala itu, hampir setahun lalu, kami sedang makan siang bersama di ruang makan kantor. Umurnya yang hampir sepadan dengan kakak saya. Wajah geulis dengan kulit putih. Tak hanya cantik dilihat tetapi juga bagus akhlak dan ibadahnya. Sepanjang pengetahuan saya, sholat lima waktu selalu ditegakkannya tepat waktu

Namun, di balik keistimewaan yang ia miliki, teman saya itu seringkali mengungkapkan, bahwa saya adalah perempuan paling bahagia! Alhamdulillah, aamiiin, demikian jawab saya selalu.
“Iya lah Nur! Nur teh sudah menikah, punya suami yang bertanggung jawab!”
jawabnya dengan suara lembut. Saya tersenyum. Kini saya mengerti, bahwa ukuran bahagia menurutnya adalah seperti yang diutarakannya barusan.

Kamu juga perempuan paling bahagia, Kamu teh cantik, sholehah, sudah bekerja, masih gadis pasti tabungan sudah berpuluh juta. Coba, kurang apalagi atuh?” saya berbalik tanya.
Ia tersenyum. “Ah, itu mah hanya ukuran duniawi. Aku belum menikah. Aku belum punya jodoh. Seandainya pun nanti aku menikah, aku ngga tahu, apakah suamiku juga baik dan bertanggung jawab. Apakah anak-anakku juga akan lucu dan pintar?” matanya menerawang jauh.

Semua itu hanya sawang sinawang, Begitu istilah dalam bahasa Jawanya. Artinya, kita seringkali melihat kebahagiaan itu milik orang lain, dan tak jarang merasa diri kita sebagai orang yang menderita. Semua itu akan berkurang jika kita bersyukur.
Ya, intinya adalah syukur. Bukankah Allah telah berfirman dalam QS. Ibrahim: 7, “Jika kalian bersyukur, pasti Aku (Allah) akan tambah (kenikmatan) untuk kalian, dan jika kalian ingkar, sesunggahnya adzab-Ku sangatlah pedih”. Perempuan itu pun beristighfar. Saya mengikutinya.

Penggalan kisah kami adalah sebuah contoh kecil, di mana kita lebih sering menghitung nikmat orang lain, dan jarang mensyukuri yang kita terima. Padahal, sesungguhnya nikmat Allah untuk kita tidaklah terhitung. Kita seringkali mengukur kebahagiaan dari apa yang diterima oleh orang lain.
Saat kawan, tetangga atau saudara kita memiliki sesuatu yang kita impikan misalnya, sementara kita belum dapat memilikinya, serta merta kita sibuk menghitung nikmat apa saja yang sudah mereka dapatkan. Berlanjut dengan khayalan kita, betapa bahagianya kita jika seperti mereka.

Padahal, semua manusia tak luput dari masalah. Apa yang membuat kita iri, belum tentu membuat orang tersebut senantiasa bahagia. Maka, terus bersyukur adalah kunci dari semuanya. Dan qonaah, atau trimo ing pandum dalam bahasa Jawa, alias menerima dengan penuh ikhlas apa yang Allah tetapkan untuk kita, adalah hal penting berikutnya.

Karena, sungguh, Allah telah mengukur apa yang terbaik bagi kita. Allah Maha Mengetahui yang terbaik bagi kita. Dengan berhusnudzan terhadap pemberian dan keputusan Allah, insyaAllah, hati kita akan menjadi lapang. Bukankah kita akan bahagia jika hati kita tenang? Dan, bukankah kita hidup untuk bahagia

Thanks Ary N.A

Jumat, 18 April 2008

Cuplikan Email


Jenk Nury dan suami :
Hi jenk! makasih buat hadiah blog nya…. kreatifnya itu loh! Jangan lupa do’ain aku yah! Thanks berat atas semua dukungannya yang selama ini dengan sengaja ataupun tidak sudah turut memotivasi diri saya untuk mau belajar, belajar dan belajar
Ekasari

http://www.bursaaisyah.blogspot.com/
http://www.binapeduli-dhuafa.org/
www.dbc-network.com/index.php?id=bebeautygirl
Ok, deh jenk E.K... semoga sukses yach dengan bisnisnya. Do'ain saya juga yach, bisa menjadi work at home mom.
(mmmm ..... kapan yach! ^_^).

Senin, 14 April 2008

Jodoh oh Jodoh....


Jum’at kemarin saya mendapat kabar bahagia dari teman saya, akhirnya ada pria 'sebrang' yang mau melamarnya (Aq dilamar..). Subhanalloh kabar yang mengembirakan. Sebuah penantian panjang yang menghasilkan kebahagiaan.

Teringat kembali pertemuan saya dengan sang suami tercinta. Tak terasa sudah delapan tahun lamanya kami disatukan dalam keindahan ibadah yang bernama pernikahan ini. Kami dipertemukan Allah dalam waktu yang sangat singkat, hanya tiga bulan (Januari - Maret), akhirnya sepakat melangsungkan pernikahan (April). Padahal sebelumnya sama sekali tidak saling kenal.

Ada teman saya malah sebaliknya. Bertahun-tahun mereka saling kenal. Tak ada berita sedikitpun keduanya menjalin kasih sebelum itu. Tiba-tiba datang undangan yang cukup mengejutkan hampir semua orang yang mengenalnya. Judulnya 'hubungan rahasia' yang alhamdulillahnya diakhiri (atau diawali?) dengan pernikahan.

Jodoh oh jodoh... benar-benar rahasia Allah yang tidak terduga. Ada orang yang sudah bertahun-tahun pacaran, tapi tak kunjung menikah, akhirnya malah menikah dengan orang yang baru beberapa hari ditemui.
Ada juga kakak kelas saya yang aktifis dakwah kampus. Suaminya aktifis di tempat yang sama. Sering beradu argumen dalam rapat-rapat kepengurusan. Sampai panas-panasan kalau sudah berdebat. Tahu-tahu dijodohkan Allah setelah beberapa tahun lepas dari kepengurusan. Saya tidak tahu, apakah aksi adu debatnya terus berlanjut setelah mereka menikah atau tidak

Ada juga seorang teman yang jatuh cinta dengan sesama aktifis di kampus. Tahu-tahu pas lulus orang yang disukainya itu dilamar orang. Dan berjodoh dengan orang yang baru dikenalnya. Patah hati? mungkin sedikit, tapi life must go on... ada cita-cita yang lebih besar, yang perlu perhatian besar, dari pada berlama-lama menata hati yang hancur. Bagi saya, inilah bingkai keimanan yang selalu positif dalam merespon takdir Allah, seberapa pun menyakitkannya takdir itu.
Ada juga orang-orang yang sampai di usia mapan belum juga mendapatkan seorang pendamping. Mungkin alasannya bermacam-macam. Belum ketemu yang cocok, fisik calon yang disodorkan kurang sempurna, sampai masalah pendapatan yang belum cukup untuk menghidupi keluarga.

Bagi saya sebenarnya cuma satu saja alasannya, Allah belum mentakdirkannya menemukan belahan jiwa. Yang saya maksud dengan takdir itu adalah seluruh usaha untuk memenuhi takdir itu, mau pun ketetapan Allah dalam perjodohan itu sendiri. Dalam hal ini sulit untuk dipaksakan. Masalah selera, kecenderungan jiwa akan keindahan dan kesholehan adalah hak prerogatif setiap orang. Meskipun masalah keimanan kepada takdir Allah tercakup di dalamnya. Dan seharusnya, bagi setiap muslim, masalah keimanan inilah yang utama.
Ya... itulah. Sulit kalau membicarakan topik yang satu ini. Karena ini merupakan satu dari rahasia Allah yang sangat banyak jumlahnya di dunia ini.
Robbanaa hablanaa min azwaajina wa zurriyyatinaa qurrota a'yun, waj'alnaa lil muttaqiina imaamaa..
(Ya Allah, berikanlah pasangan dan anak-anak yang menjadi penyejuk mata kami, dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertaqwa).


Thanks Hafizah N, 'met happy buat Een.!

Jumat, 11 April 2008

Mengapa Ingin Mempunyai Anak???



"Sudah berapa buntutnya?"
"Cepetan punya... jangan ditunda-tunda"
"Masih juga belum berhasil... KB yah?" ..".......dan lain-lain"

Melewati tahun pernikahan ke delapan, sudah tak terhitung berapa banyak pertanyaan sejenis di atas yang rajin dilemparkan pada saya ataupun suami. Suatu kalimat atau tepatnya pernyataan yang sepertinya telah menempel erat pada saya, seorang istri yang belum juga dianugrahi keturunan. Biasanya saya hanya bisa tersenyum kemudian berlalu berusaha tidak menanggapi percakapan semacam itu.
"Siapa yang tak ingin memiliki anak?"
batin saya selalu mengatakan demikian. Sayang memang, mereka tidak pernah tahu, betapa telinga ini rasanya selalu rindu oleh tangisan atau teriakan-teriakan kecil, "Ummi...!" yang akan memanggil saya. Tangan ini rasanya selalu rindu akan dekap tubuh mungil dalam kehangatan balutan selimut kecil. Betapa saya ingin.ingin sekali memiliki buah hati. Suatu harapan yang selalu saya bawa dalam setiap doa.
Sampai suatu ketika, dokter saya di akhir pemeriksaan bertanya seperti ini, "Mengapa anda ingin memiliki anak?" ucapnya dengan wajah serius. "Ada beberapa pasangan yang berobat ke sini, setelah berhasil memiliki anak malah bercerai karena tidak tahu alasan kenapa ingin memiliki anak," ucapnya melanjutkan. Saya yang tiba-tiba disuguhi pertanyaan seperti ini tentu saja tersentak berusaha mencari jawab. Sungguh, saat itu saya tak bisa menjawab secara spontan kenapa saya ingin memiliki anak.
Dalam perjalanan pulang pun pertanyaan tersebut masih terngiang-ngiang dan bermain dalam benak pikiran. Saya berusaha mencari jawaban atas alasan keinginan dan harapan saya memiliki buah hati.
Saya mulai bertanya pada diri sendiri, "Kenapa saya ingin memiliki anak?" Apakah keinginan ini keluar semata karena rasa egois seorang manusia yang ingin memiliki? Apakah keinginan ini hanya dikarenakan saya sudah mulai jenuh mendengar pertanyaan "Kapan punya anak?" atau pertanyaan sejenis lainnya yang kerap dilemparkan? Apakah keinginan ini karena saya merasa cemburu jika melihat teman-teman yang sudah mulai memiliki satu, dua, tiga.... momongan? Apa sebenarnya tujuan saya memiliki keturunan? Ternyata, saya sukses dengan jawaban buntu disertai kepala pening.
Hingga suatu hari, saya membeli sebuah buku berjudul "Cara Nabi Mendidik Anak" yang disusun oleh Ir. Muhammad Ibnu Abdul Hafidh Suwaid. Buku yang memberikan perhatian khusus mengenai Tarbiyah Nabawi lith-Thif (pendidikan Nabi untuk anak), banyak mengungkapkan dunia anak yang belum pernah saya temui. Membaca buku ini, saya hanyut dalam suasana seperti seorang ibu. Ada banyak hal yang semula tidak saya ketahui tertulis di sini, seperti cara efektif membangun jiwa anak, mengembangakan pemikiran anak, meluruskan kesalahan perilaku anak, serta banyak hal lainnya yang membuat saya kadang termangut-mangut sendiri sambil meresapi.
Selesai membaca buku tersebut, saya seolah tersadar bahwa bagi beberapa orang memiliki anak itu mungkin mudah tapi mendidiknya agar selalu terjaga dalam fitrahnya (Islam) tidaklah mudah. Imam Al-Ghazali sendiri dalam risalah Ayuhal Walad pernah mengumpamakan proses tarbiyah anak sebagai ibarat "Usaha petani yang mencabuti duri-duri dan membuang tumbuhan asing dari tanamannya agar tumbuh dengan baik dan sempurna." Ia tidak hanya untuk dilahirkan ke dunia saja, tapi lebih dari itu, ia memiliki hak dan kewajiban yang harus bisa dipenuhi serta didukung oleh orang tua dengan sebaik-baiknya.
Saya mencoba mengubah pola pemikiran. Yang tadinya hanya berorientasi ingin memiliki anak, sedikit demi sedikit mulai membuka pandangan dengan tidak hanya sekedar `ingin` tapi juga harus memilki kesadaran untuk mempersiapkan diri agar dapat menjadi Ibu yang baik. Seorang ibu yang kelak dapat menjadi penenang jiwa sesunguhnya bagi keluarga, yang dapat mengemban amanah berharga dari Allah swt berupa anak-anak serta dapat bertanggung jawab agar anak-anak menjadi abrar (orang-orang yang berbakti). Insya Allah.
Dengan mengubah pola pikir seperti ini, akhirnya saya mendapatkan jawaban untuk sebuah pertanyaan yang diajukan sang dokter di atas. "Mengapa anda ingin memiliki anak?" Jawabannya adalah sebagai istri, saya ingin dapat merasakan satu fase kehidupan yang disebut ibu. Selain itu juga ingin membahagiakan suami dengan menghadirkan cahaya mata, penyejuk hati, meski suami tidak pernah menuntut tentang hal ini. Sebagai umat Rasulullah saw, saya ingin menggembirakan beliau dengan memperbanyak jumlah umatnya. Seperti yang tertulis dalam hadits riwayat Abu Dawud dan Nasa`i, Rasulullah saw bersabda "Nikahilah wanita yang bisa melahirkan banyak anak karena aku akan berbangga dengan kalian kepada umat-umat lain." Sedangkan sebagai hamba Allah swt, saya ingin menjaga kelangsungan keturunan dengan melahirkan generasi-generasi muslim, yang akan bersama-sama berjuang mengagungkan nama Allah swt di muka bumi ini. Insya Allah.
Saya percaya, ini adalah salah satu skenario yang Allah swt berikan untuk menguji kesabaran. Baik saya dan suami, tidak akan pernah berputus asa berdoa meminta diberi kepercayaan untuk memiliki keturunan disertai ikhtiar. Bukankah Rasulullah saw sendiri pernah mengatakan
"Janganlah salah seorang dari kamu menyerah dari memohon agar dikarunia anak..."
Akhir-akhir ini, saya mulai terbiasa dengan pertanyaan ataupun percakapan seputar belum adanya buah hati yang dilemparkan pada saya atupun suami. Saya tahu, mereka yang bertanya tidak lebih karena ingin bersimpati ataupun ingin turut membantu memberikan jalan bagi kami yang tengah berikhtiar, meski selama ini mungkin tidak saya sadari. Saya harus bersyukur atas semua keadaan, karena di balik ini tentu akan ada hikmah, sebuah balasan terindah yang telah disiapkan Allah swt.
"Rabbihabliimilladunka dzurriyatan thayyibah, innaka samii `udduaa." Ya Tuhanku berilah aku keturunan yang baik dari sisi-Mu, sesungguhnya Engkau Maha Mendengarkan do`a. (Doa nabi Zakariya memohon keturunan, QS Al-Imran:38).
*** Buat teman-teman yang sama-sama sedang berikhtiar untuk memiliki cahaya mata, semoga Allah mengabulkan doa-doanya dengan diberikan keturunan yang shaleh. Insya Allah.
Sepenggal catatan, thanks! Lizsa Anggraeny- FLP Jepang -

Rabu, 09 April 2008

Sahabat


Sahabat...
Biarkan kakimu berpijak pada bumi
Karena disanalah ayunan langkahmu bertumpu

Tapi ingatlah...

Eratkan pula pelukanmu pada insan-insan yang kepadanya engkau sayang
Karena kepada merekalah gundah-gulananya hati engkau curahkan

Sahabat...
Arahkan tatapan matamu kedepan
Karena disanalah cita-citamu akan kau genggam

Tapi...
Sesekali arahkan pula lirikannya kebelakang
Karena dari sanalah pelajaran dapat kau ambil

Sahabat...
Bukankah ketika dunia ini mulai berputar
Ketika itu pula hitungan waktu bermula
Dan pasti, pada saatnya nanti, akan terhenti.

Sahabat... jaga dirimu

Maulaibra

Senin, 07 April 2008

Cinta


Kau lembut menyentuh malamku
Kau halus menyapa pagiku
Jangan pergi biar sesaat
Jangan hilang meski sekejap
Duhai Rindu yang terdalam

Wahai Cinta yang terdahsyat

Hasrat hati menggapai – Mu
Aku tahu Engkau mau
Niat kalbu meraih – Mu
Ku juga tahu Kau pasti mau

Jangan biarkan khilaf menelanku
Jangan biarkan silap melumatku
Mantapkan nurani selalu milik – Mu
Walau raga terampas waktu...

I Love You – My Rabb

Vany Qolbi

Rabu, 02 April 2008

2 April 2000 - 2008


Pernikahan adalah suatu pertemuan dua insan yang memiliki karakter dan kebiasaan sehari-hari yang berbeda satu sama lain. Namun perbedaan itulah yang telah memberi warna pada pernikahan.
Banyak kejadian lucu, menyedihkan, menggembirakan, mengharukan atau bahkan menjengkelkan yang membuat pernikahan kami terasa hidup, segar dan tidak menjemukan.
Sayankoe….
Tidak terasa, biduk rumah tangga kita telah berlayar demikian panjang suka dan duka telah kita arungi bersama.... n
amun harapan indah ke depan masih terus kita kibarkan agar perjalanan menjadi lebih indah dan menyenangkan

Sayankoe….
Sepertinya perkembangan waktu menjadikan kita lebih dewasa.... memahami dua insan yang berbeda. Memang terkadang sulit tapi menyenangkan m
embawa hati menjadi lebih sabar dan tenang, meski masih harus banyak belajar... namun... itu laksana tanaman yang tumbuh, perlu buaian dari yang menaruh harapan yang memerlukan sentuhan lembut, kasih sayang dan perlindungan...

Sayankoe….
Dalam perjalanan ini tentu saja banyak khilaf karena keterbatasan kita. Oleh karenanya....mari kita bersihkan dengan ikhlas segala noda yang mengotori lubuk hati kita yang paling dalam. Kita pupuk kembali bahtera rumah tangga kita, agar tumbuh subur dan bermanfaat bagi orang banyak...

Sehingga biduk itu berlayar dalam sakinnah, mawaddah, wa rahmah.... Yang di dalamnya di perkaya dengan anak-anak yang sholeh dan sholehah yang senantiasa mendoakan kedua orang tuanya......

Sayankoe….
Rasanya sudah sulit merangkai kata-kata yang lebih indah lagi.... Terima Kasihkoe ucapkan atas kesetiaan mendampingi hingga saat ini... Selama 8 tahun melewati usia pernikahan kita..
Semoga abadi. Amiin.

Yang selalu mencintaimoe

Untuk Suamikoe


Suamikoe sayang…
Aku, istri yang kaunikahi ini, tidaklah semulia Khadijah tidaklah setakwa Aisyah, pun tidak setabah Fatimah justru aku hanyalah wanita akhir zaman, yang punya cita-cita, menjadi sholehah….
Pernikahan ataupun perkawinan, mengajar kita berkewajiban bersama saling memahami, dan berkasih sayang atas nama cinta kita pada-Nya.

Pernikahan ataupun perkawinan, pastinya menyadarkan kita perlunya iman dan takwa untuk belajar meniti sabar dan ridha, karena engkau memiliki aku seorang istri yang tak sehebat mereka.

Engkau juga bukanlah Rasulullah, pun bukanlah para Sahabatnya tapi aku yakin, di balik kesahajaanmu, tersimpan gelora keinginan untuk menjadi suami akhir zaman yang senantiasa berusaha menjadi lelaki sholeh...

Semoga Allah mempercayai kepada kita untuk mendapatkan jundi yang sholeh dan sholehan sebagai pelanjut kehidupan kita berdua. Amin

Selasa, 01 April 2008

Buah Hati


Tahun ini pernikahan kami menginjak umur delapan tahun. Delapan tahun yang indah, masa-masa yang ‘seru’, masa-masa pengenalan pribadi masing-masing sebagai suami-isteri, dan masa-masa yang tak akan saya tukar dengan apapun, walau kadang ada saatnya saya dikecewakan dan tak jarang pula saya yang mengecewakan.

Banyak teman yang dalam delapan tahun pernikahan sudah dikaruniai satu, dua, atau bahkan tiga anak, namun ada juga yang belum dikaruniai titipan oleh Allah sang pencipta, kami salah satunya. Buah hati adalah dambaan hati penyejuk jiwa, setidaknya itulah yang saya dengar meskipun saya belum merasakannya.
Ada teman yang sangat gundah karena belum dikaruniai keturunan, bahkan ada yang sampai sedih dan tertekan. Bagaimana dengan saya? Ah… Alhamdulillah saya mempunyai suami yang sangat baik, santai, dan tidak banyak menuntut. Rumah tangga kami yang belum dianugerahi anak oleh Allah SWT insya Allah tak menjadikan keharmonisan kami sebagai suami isteri berkurang. Saya dan suami menikah tanpa didahului pacaran, mungkin Allah ingin kami ‘berpacaran’ dulu, dan selama delapan tahun ini saya sangat menikmati kebersamaan kami sebagai suami isteri sehingga kami bisa lebih intens mengenali sifat dan kebiasaan masing-masing.
Ada teman yang bilang anak adalah hak prerogatif Allah, kita hanya bisa berusaha sekuat tenaga, tapi keputusan tetap ditangan Allah. Rasanya kemuliaan seseorang dihadapan Allah pun tidak ditentukan oleh ada atau tidaknya anak. Satu hal yang pasti, saya selalu yakin akan rencana Allah terhadap hamba-Nya. Allah is the best planner, itu yang selalu saya percayai. Dan Allah adalah seperti sangkaan hamba-Nya, jadi dalam hal ini saya mencoba untuk selalu berprasangka baik terhadap Allah, bahwa keadaan kami sekarang adalah yang terbaik bagi kami.
Banyak pula yang bilang, “Nanti kan kalau tidak ada anak, tidak akan ada yang mendoakan kita”. Tapi bukankah pahala yang mengalir tidak hanya doa anak yang shaleh? Masih ada amal jariyah dan ilmu yang bermanfaat. Bagaimana kalau ternyata kita punya anak, tapi ternyata anak kita tidak shaleh? (Naudzubillah min dzaalik…), sementara kita sudah di alam kubur, apakah masih bisa mengalir do’a-do’a yang kita harapkan menjadi penerang kubur kita? Dan seperti halnya harta, anakpun bisa menjadi fitnah atau cobaan kita didunia. Mudah-mudahan Allah menjauhkan kita dari hal-hal tersebut…

Mungkin salah satu hal yang penting bagi pasangan yang belum dikaruniai momongan adalah komunikasi, terutama antar suami isteri. Masing-masing harus mengetahui bagaimana perasaan pasangannya dengan belum adanya buah hati di tengah-tengah mereka. Masing-masing harus saling menguatkan bahwa bagaimanapun keadaannya insyaAllah itu adalah yang terbaik dari Allah, dan jangan lupa untuk selalu menikmati kehidupan ini dengan berproses untuk menjadi individu muslim yang lebih baik, apapun hasil dari proses itu.

Anak


Anak adalah fajar baru kemanusiaan
Hatinya memantulkan kejernihan harapan
Pikirannya melukiskan ketajaman gagasan
Ditangannya, dunia mempercayakan masa depan.

Anak, sebagai amanat dari Allah kepada para pendidik
Masa kini-bukanlah produk masa lalu
Justru mereka adalah para penjuang pembaru
Tugas kita-kemudian-mendukung kesiapan mereka untuk berjibaku

Membekali mereka dengan cinta, cita dan citra
Hingga mereka tumbuh mandiri dan penuh percaya diri
dalam menjalani tugas penghambaan kepada Ilahi Rabbi
Sebab, kita ingin anak kita punya lebih banyak cinta, lebih jernih cita, dan lebih kukuh citra. Insya Allah.