Rabu, 02 Desember 2009

Apakah Hidup Anda Diliputi Oleh Keberuntungan?


Sudah sejak lama orang tua kita percaya bahwa kehidupan kita diliputi oleh keberuntungan. Itulah sebabnya, kita selalu mengatakan ’untung...,’ sekalipun kita baru saja mengalami sebuah musibah. Selama ini, kedalam diri kita sudah ditanamkan sebuah sikap untuk selalu melihat segala situasi dari sisi positifnya. Sehingga, dalam situasi apapun kita masih merasakan betapa beruntungnya diri kita. Jika demikian, apakah sumpah serapah atau rasa syukur yang lebih layak untuk diungkapkan?



Ketika saya masih kecil, rumah kediaman kami dilalap api, hingga seluruhnya berubah menjadi abu. Ayah dan Ibu saya bilang; ”Untung kita semua selamat,”. Sampai sekarang saya masih teringat dengan kobaran api itu. Dan setiap kali mengenangnya; saya juga teringat kata-kata Ayah-Ibu saya tentang keberuntungan itu.



Ketika sudah bisa berenang di sungai, saya tenggelam. Air deras menyeret tubuh saya hingga tersangkut disela-sela pintu penahan air di bendungan. Sampai sekarang saya masih ingat betapa beruntungnya saya karena ada rongga udara yang terbentuk antara lempengan pintu irigasi dengan titik jatuh air sehingga melalui rongga itu saya bisa bernafas sampai orang-orang berhasil menemukan saya.



Ketika beranjak remaja, gejolak muda mendorong saya untuk pergi ke Gunung Tangkuban Perahu dan membiarkan diri saya menginap disana. Bermalam di gunung sama sekali bukanlah masalah. Tetapi, melakukannya sendirian dialam liar tanpa perlengkapan apapun; kedengarannya bukan gagasan yang cerdas. Sampai saat ini saya masih mengenang betapa beruntungnya saya karena bisa selamat melalui malam yang mengerikan itu.



Kemarin malam, saya melakukan beberapa permainan kecil dengan anak-anak. Setelah melalui tahap tertawa dan melompat-lompat yang seru, saya berencana untuk melakukan sesuatu yang lain. Kali ini saya membutuhkan sebuah media yang harus dipotong-potong. Maka saya mengambil cutter kecil. Ketika memotong media itu, entah kenapa ujung cutter tergelincir dan patah hingga melukai pangkal jari tangan saya, persis dibagian yang banyak urat-urat kecilnya. Darah segar segera mengalir. Dan secara spontan saya berkata dalam hati;’Untung tidak sampai memutuskan urat-uratnya.” Saya kira masalah akan terhenti sampai disana. Ternyata saya keliru.



Sebelum sempat memberi tahu orang lain bahwa tangan saya terluka, anak lelaki kecil saya yang tengah berada dipuncak rasa senang berlari kearah saya. Lalu tanpa disadari dia merebut cutter itu dari genggaman saya. Maka secara spontan saya berteriak; ”Abang, ayah pegang pisau tajam, jangan merebutnya. BAHAYA!” tapi terlambat. Dia sudah terlanjur melakukannya. Ketika itu, saya merasakan segalanya seolah berjalan dalam gerak lambat. Semua kengerian itu seolah menancap dalam pikiran saya. Mulai dari ujung cutter yang tergelincir. Lalu dia patah merobek pangkal jari tangan saya. Urat-urat yang terlihat. Darah segar yang mengalir. Rasa perih yang menyayat. Dan..., tangan-tangan kecil polos yang merebut gagang cutter mengira mainan terbuat dari plastik.



Pikiran saya secepat kilat membayangkan luka macam apa yang bisa dialami oleh anak saya. Namun, ajaib sekali; tangannya tidak apa-apa. Lalu saya melihat gagang pisau cutter kecil itu. Ternyata, memang semua bagian pisaunya sudah patah tadi ketika saya memotong media permainan itu. Sekarang, saya merasa sangat beruntung karena pisau tajamnya sudah patah. Jika tadi pisau itu tidak patah, dan tanpa bisa dihindari anak lelaki kecil saya yang antusias itu merebutnya dari tangan saya; maka boleh jadi tangannya akan terluka parah. Sekarang saya tahu, betapa beruntungnya kami.....



Jika anda merasa saya sedang memamerkan keberuntungan- keberuntungan yang pernah saya alami dalam hidup, semoga anda berkenan mengubah prasangka itu. Sebab, kalaupun saya berniat untuk pamer, maka tidaklah mungkin saya bisa menceritakan satu demi satu keberuntungan itu. Sebab, kita semua tanpa henti-hentinya mendapatkan keberuntungan hidup yang sedemikian banyaknya sehingga kita tidak mungkin mampu bahkan untuk sekedar menyebutkannya satu persatu. Seperti firman Tuhan yang pernah diajarkan oleh guru ngaji saya, bahwa;”Jika engkau menghitung nikmat yang Tuhan berikan kepadamu, niscaya kamu tidak akan bisa menghitungnya. ...”



Tapi, jika benar nikmat Tuhan itu sedemikian banyaknya; mengapa kehidupan kita sering tidak beranjak ke tingkat yang kita impikan? Mungkin karena kita selalu mengimpikan kehidupan materialis. Kita terlampau sering mengukur kenikmatan dari jumlah uang yang kita dapatkan. Dari kekayaan yang kita kumpulkan. Dari kedudukan yang bisa kita banggakan. Dan dari jubah nama besar yang kita kenakan. Padahal, ternyata keberuntungan kita bisa menjelma dalam bentuk lain yang sering kita abaikan. Kesehatan kita. Kesempurnaan penciptaan tubuh kita. Terbebasnya kita dari perasaan tertekan. Rasa tenang kita. Tidur nyenyak kita. Pekerjaan dan gaji rutin yang kita terima. Dan semua hal lain yang jumlahnya tiada terhingga. Namun, karena kita kurang mensyukurinya; maka kita sering lupa bahwa semua itu adalah wujud keberuntungan hidup yang Tuhan anugerahkan kepada kita.



Memang benar bahwa ’sudut pandang’ kita menentukan apakah kita bisa menemukan hikmah dibalik setiap kejadian atau tidak. Namun, saya meyakini bahwa keberuntungan sama sekali bukan soal sudut pandang; melainkan soal kesadaran. Kita perlu lebih sadar bahwa Tuhan menginginkan kehidupan kita baik. Bahkan Tuhan tetap ingin agar hidup kita baik sekalipun kita sering mengambil langkah dan keputusan-keputusan yang bodoh. Hanya saja, kita sering tidak menyadari semua kebaikan Tuhan selama ini. Sehingga, kita sering berburuk sangka kepada-Nya. Kita mengira bahwa Dia memberi orang lain lebih banyak nikmat, daripada yang diberikan-Nya kepada kita. Padahal, boleh jadi kenikmatan yang sesungguhnya terletak pada hati nurani kita. Bukan pada benda atau atribut-atribut yang kita lekatkan pada tubuh kita. Jika kita berhasil menemukan tak berhingga kenikmatan didalam hati kita; mungkin kita bisa lebih sadar akan betapa beruntungnya diri kita. Karena ternyata. Kehidupan kita. Diliputi. Oleh keberuntungan.


Dadang Kadarusman

Rabu, 25 November 2009

Menikah

Menikah:

Wiwit Prasetyarini

dengan


Agung Nugroho


Jakarta, 24 November 2009


Selamat Menempuh Hidup Baru

Semoga Allah mencurahkan keberkahan kepadamu dan mempersatukan
kalian berdua dalam kebaikan. Amin.

Minggu, 15 November 2009

Tingkah Tetangga

Selasa, 17/11/2009 07:39 WIB Cetak |  Kirim |  RSS

Dinamika hidup bertetangga kadang mirip lomba mencampur warna dalam air kolam. Ukuran dan sifat warna sangat menentukan apa yang akan dominan. Jika yang dominan putih, kolam terkesan bersih dan sejuk. Repotnya ketika campuran membentuk warna keruh. Suasana tampak kotor dan jorok.

Berkeluarga dan bertetangga memang sulit dipisahkan. Keduanya seperti dua anak tangga yang mesti dilalui seseorang menuju cita-cita hidup. Berkeluarga sebagai anak tangga pertama, dan bertetangga anak tangga berikutnya. Keharmonisan rumah tangga berpengaruh pada suasana bertetangga. Begitu pun sebaliknya.
Dalam Islam, bertetangga bukan sekadar dinamika alami kehidupan setelah berkeluarga. Lebih dari itu. Bertetangga menjadi tahapan pendidikan umat. Di situlah pintu masuk seorang mukmin mengenalkan keindahan Islam kepada orang lain. Dalam media ucapan, juga perbuatan. Di sisi Allah, nilai aktivitas itu menjadi ibadah.

Rasulullah saw. bukan hanya mengatakan adanya kedekatan antara mutu keimanan dengan berbuat baik dengan tetangga. Bahkan, beliau saw. telah membuktikan dalam kehidupan nyata. Walau ketika di Mekah sebagian tetangga berbuat buruk, tapi beliau saw. tetap memberikan yang terbaik buat tetangganya: mengunjungi, memberi hadiah, menolong yang susah, dan lain-lain. Justru dari situlah, dakwah Islam menyebar dan terus menyebar.
Namun, kenyataan kadang tidak seperti yang diinginkan. Karena sesuatu hal, bertetangga menjadi tidak mengenakkan. Bikin hati kesal. Tekanan batin yang tak kunjung reda. Konflik yang berketerusan. Dan, sebagainya. Setidaknya, hal itulah yang kini dialami Bu Juju.
Ibu dua anak ini belum lama pindah. Semula ia membayangkan indahnya tinggal di perumahan. Tata letak lingkungan rumah yang teratur, kemampuan ekonomi yang setara, tingkat budaya yang lebih beradab. Dan tentu saja, hubungan sosial yang lebih harmonis dan produktif. “Ah, indahnya!” begitulah bayang-bayang pikiran Bu Juju. Walau masih nyicil, suasana di perumahan lebih terjamin.

Demi itu, Bu Juju dan suami rela berkorban. Biar tinggal jauh dari orang tua, yang penting suasana beda. Biar jarak kantor suami yang kian sulit terjangkau, anak-anak bisa hidup tenang dan damai.

Beberapa hari berlalu, kenyataan memang membenarkan cita-cita Bu Juju. Tapi, ketika waktu bergulir menjadi minggu dan bulan, suasana mulai beda. Para penghuni perumahan bertipe maksimal tiga-enam ini mulai memperlihatkan aslinya. Sayangnya, sebagian besar penghuni di blok tempat tinggal Bu Juju punya karakter asli kurang baik. Mereka senang hura-hura dan mudah prasangka. Mulailah hari-hari sumpek dilalui Bu Juju sekeluarga.
Ada satu kegiatan ibu-ibu di blok Bu Juju yang lumayan meresahkan. Setidaknya, buat Bu Juju. Tiap minggu pagi, mereka bersepakat bersenam ala poco-poco. Jenis senam yang gerakannya diiringi musik yang lagi ngetop. Bisa disko, pop, semi dangdut, atau dangdut tulen. Yang penting cocok buat bergoyang.

Karena olahraga, pakaiannya pun berjenis kaos. Ada yang tangan panjang, pendek dan tanpa kerah. Begitu pun dengan bawahannya. Ada celana training, pendek, bahkan sangat pendek. Mereka ngumpul di lapangan komplek. Setelah musik berdendang, mereka pun mulai bergoyang menurut irama. Karena menarik perhatian, banyak penghuni yang menonton. Laki dan perempuan.

"Lho, kok Bu Juju nggak ikut?” tanya seorang ibu ke Bu Juju. Yang ditanya cuma bisa senyum. Bu Juju bingung mau jawab apa. Bilang repot, khawatir dianggap egois. Bilang malu, bisa dicap sombong. Mau terus terang, takut orang salah paham. Bu Juju khawatir ada kesan kalau ajaran Islam kaku, ekstrim, dan lain-lain. Setidaknya, butuh waktu dan kesempatan panjang buat bicara Islam. Agar tidak dipahami sepenggal-sepenggal.
Sayangnya, kesempatan yang diupayakan Bu Juju kalah cepat dengan isu yang berkembang. “Bu Juju memang fanatik. Fundamentalis.” Begitulah akhirnya cap bergulir. Langkah Bu Juju mulai memperlihatkan benang kusut.

Cobaan tidak cuma di situ. Tetangga kiri dan kanan Bu Juju, ternyata hobi musik. Yang kiri fanatik dangdut, yang kanan senang musik barat. Buat pencinta musik, irama dengan suara pelan bukan pilihan asyik. Mereka senang kalau orang lain bisa ikut mendengarkan. Mereka berharap, tetangga bisa ikut terhibur. Termasuk keluarga Bu Juju. “Kasihan tetangga sebelah nggak punya tape. Mudah-mudahan bisa ikut senang,” begitulah kira-kira persepsi mereka.

Tinggallah Bu Juju, suami, dan anak-anak blingsatan. Pernah beberapa kali, Bu Juju menegur supaya suara tape dikecilkan. Dan memang dikecilkan. Tapi ukuran suara kecil buat tetangga tetap saja besar buat Bu Juju. Duh, cara apa lagi. Mau marah, terkesan agak aneh. Toh, tetangga-tetangga lain enjoy aja kok. Dengan terpaksa, Bu Juju dan suami membeli tape. Bukan untuk dinikmati. Hanya untuk menyaingi suara yang bisa didengar. Padahal, masih banyak kebutuhan lain yang lebih penting buat Bu Juju dan keluarga dari sekadar tape.
Belum lagi urusan poco-poco dan tape selesai, seorang tetangga Bu Juju bawa kartu undangan. “Bu Juju dateng, ya. Pesta besar, nih!” suara seorang ibu yang tinggal persis di seberang jalan rumah Bu Juju. “Duh, ada yang ulang tahun,” batin Bu Juju bersuara lirih. Jelas saja, yang kebayang cuma satu: hura-hura!

Nyaris, Bu Juju dan suami minggat secepat-cepatnya. Ada niatan mau jual lagi rumah yang baru beberapa bulan ditempati. Biarlah rugi, yang penting bisa lepas dari masalah. Begitukah?

Bu Juju ragu. Seperti itukah mental seorang mukmin. Aktivis pengajian lagi! Memang, teori perubahan mengatakan kalau tak mampu mengubah keadaan, ubahlah persepsi diri tentang masalah. Artinya, anggap masalah dengan takaran ringan. Atau, ambil jarak dengan masalah dengan cari jalan lain.

Tapi, apa memang ia sudah tak mampu melawan. Bu Juju diam sebentar. “Aha!” Ia seperti dapat sesuatu. “Kalau kemungkaran bisa jor-joran. Kenapa kebaikan tidak?” Sejak itu, segala jenis kegiatan positif berupa pengajian, dongeng anak, belajar bersama, bahkan les anak-anak sekali pun dilakukan dengan besar-besaran. Ada pengeras suara, ada senandung Islami sebagai pengiring, dan tentu saja ceramah. Semuanya selalu melibatkan tetangga. “Perang-perang, deh!” tekad Bu Juju bulat.

Muhammad Nuh


Senin, 19 Oktober 2009

Palestina

Senin, 7 September 2009 pukul 02.30 rombongan menuju bandara King Abdul Aziz, Jeddah guna melanjutkan perjalan ke Masjid Al Aqsha di Palestina melalui Negara Jordan. Pada saat menuju bandara kami bersinggah sejenak ke Laut Merah, melihat masjid terapung. Karena kami sampai di sana menjelang sholat subuh, maka kami melakukan saur di di tepi Laut Merah. Karena keterbatasan waktu, maka rombongan tidak bisa berlama-lama ditempat tersebut.


Pukul 06.30 rombongan sudah siap di bandara King Abdul Aziz menuju Amman, dengan lamanya perjalanan 1 (satu) jam. Kemudian kami melanjutkan perjalanan ke perbatasan Jordan dan Israel menggunakan bis. Perlu waktu 40 menit untuk sampai di pintu perbatasan.dengan menuju Israel melalui tepi barat Jordan. Di sepanjang perjalanan menuju perbatasan Jordan-Israel, tampak pepohonan Zaitun yang berjejer teratur. Buah Zaitun dan minyak Zaitun ini memang merupakan trade mark hasil pertanian utama Jordan yang diekspor ke manca negara.

Untuk faktor keamaan, maka kami masuk ke Israel tidak membawa bawaan terlalu banyak, hanya baju beberapa stel saja. Barang-barang kami lainnya di simpan di Abu Ala Shop. Sebuha tok0oyang menjual souvernir-souvernir khan Negara Jordan.

Sepanjang perjalanan rombongan harus menjalani pemeriksaan di sejumlah check point yang tersebar di perbatasan Yordan, perbatasan Allenby Bridge, dan Jembatan King Husein. Tiba di keimigrasian Israel, kami melewati beberapa kali pemeriksaan tentara Israel ada pula yang wanita memegang pistol maupun senapan.
Selanjutnya kami periksan dengan mengunakan X-Ray, Semua badan saya diperiksa, isi pakaian, dompet, HP, dan semacamnya dikeluarkan. Setelah melewat X-Ray, passport saya bersama empat jama’ah Umroh Farfaza ditahan seorang tentara wanita. Menurut ustdz. Yahsayallah Mansur Satori, pimpinan rombongan kami, ini hal biasa. Kemudian pimpinan rombongan ditanya maksud dan tujuannya datang ke Israel.

Akhirnya kami semua diperbolehkan pindah ke pemeriksaan berikutnya. Kali ini, untuk pemeriksaan pasport. Saat antri enam orang di antara kami, termasuk saya mesti ditahan kembali dan disuruh mengisi formulir pendaftaran. “Biasa, yang muda-muda sering ditahan,” kata Ustadz. Yakhsayallah. Formulir yang sudah diisi tak bisa langsung diserahkan, karena harus menunggu panggilan dari petugas yang lain. Tulisan dan gambar yang berada di dinding yang berarti: “Israel Terbuka untuk Semua”, tampaknya cuma sekadar slogan.


Alhamdulillah pada saat itu sedang Ramadhan, sehingga ini merupakan ladang ibadah kami, akan diujinya kesabaran kami. Selama menunggu kami dapat melakukan dzikir dan tadarus Al Qur’an. Selain itu kami juga melihat gaya mereka bolak-balik ke ruang kantor, dan bercakap sesamanya dengan menggunakan bahasa bahasa Hebreo (Ibrani) dengan suara mereka yang lantang, seperti orang yang berteriak-teriak serta raut wajah yang garang,

Setelah menunggu selama tiga jam, dua orang tentara Israel wanita dan pria sambil memegang senjata meminta formulir yang diberikan untuk telah diisi diserahkan kepada mereka. Akhirnya kami menerima passport, dan pimpinan rombongan kami, mengingatkan kepada kami untuk mengecek passport, karena paspor tidak boleh di stempel oleh Imigrasi Israel, yang akan mengakibatkan kami tidak dapat kembali lagi ke Indonesia, karena antara Indonesia dan Israel tidak ada hubungan diplomatik.

Rombongan yang lolos pemeriksaan ternyata juga dilakukan pengecekan, yaitu di foto ulang diruang tunggu mereka dipanggil satu persatu untuk rekam dua sidik jari telunjuk dan di foto. Sungguh ujian kesabaran siapa yang sabar akan menang. Allahu Akbar.

Selanjutnya rombongan sudah ditunggu oleh gaet dan sebuah mobil. Kami menuju kota Ramallah, yaitu sebuah kota di Palestina yang terletak di tengah Tepi Barat, 10 Km sisi Utara dari kota Yerusalem. Kota ini adalah kota modern dan dianggap sebagai kota tidak resmi dari Otoritas Nasional Palestina.

Kami di Ramallah menginap satu malam. Melakukan aktivitas buka puasa, sholat dan Saur di hotel. Baru pada saat sholat subuh kami berkesempatan melakukan sholat di masjid dekat hotel. Sepanjang jalan menuju masjid terasa sepi sekali, tidak ada seramai suasana seperti di Indonesia pada setiap bulan Ramadhan.

Setelah di halaman Masjid banyak kendaraaan karena mereka berangkat sholat kebanyakan menggunakan kendaraan pribadi di bandingkan jalan kaki. Sehingga di jalan-jalan terasa sepi sekali menjelang subuh suasana Ramadhan tidak nampak seperti di Indonesia. Jama’ah pria dan wanita berbeda pintu masuk masjidnya. Setelah sampai di dalam masjid, sudah ada jama'ah ibu-ibu yang hadir. Saya tidak melihat usia muda yang hadir. Mungkin karena faktor keamanan .

Kami memperkenalkan diri, bahwa kami dari Indonesia sebagai saudara seiman. Kehadiran kami disambut gembira oleh mereka. Banyak hal yang kami bicarakan, mereka bingung dengan kami bisamembaca Al Qur’an tetapi tidak bisa bahasa Arab. Kami menjelaskan bahwa Al Qur’an yang kami miliki ada terjemahan Bahasa Indonesianya, jadi kami dapat memahami maksut dari isi Al Qur’an tersebut.

Mereka ramah-ramah, sangat respon dengan pembicaraan kami. Namun sangat di sayangkan kami tidak bisa lama berada di kota tsb karena harus melanjutkan perjalanan. Pada akhir pertemuan kami saling berpelukan, sebagai saudara seiman senang sekali dapat bertemu walaupun berbeda suku bangsa. Mereka senang sekali mendengar kami akan ke Al Aqsha.

Selasa, 8 September pukul 09.00 rombongan cek out dari hotel. Kami melakukan ziarah pula ke beberapa tempat, diantaranya:

Makam Yasser Arafat
Masih di kota Ramallah Kami menggunjungi pula makam Yasser Arafat. Israel tidak mengizinkan Yasser Arafat dikebumikan di Jerusalem padahal harapan Yasser Arafat ingin dikebumikan di Jerusalem dan menjadikan Jerusalem sebagai Ibukota Palestina. Monumen dari batu dan kaca terletak disamping makam Yasser Arafat diresmikan oleh Presiden Palestina Mahmoud Abbas, disana berdiri juga pemerintahan Palestina.

Makam Salma Al Farisi
Jarak parkiran bis ke Masjid cukup jauh, sehingga kami harus berjalan kaki menuju Masjid tersebut. seorang sahabat yang banyak memberikan andil dalam sejarah Islam. Makam tersebut memang terletak tak begitu jauh dari kawasan Haram As-Syarif. Namun tampaknya, ada suatu hikmah yang ingin disampaikan sang guide. Salam Al-Farisi adalah orang Parsi (sekarang Irak, Iran dan sekitarnya). Sebagaimana penduduk daerah tersebut, mulanya Salman adalah seorang penganut Majusi, penyembah api. Melalui perjalanan panjang mencari sebuah kebenaran, akhirnya ia memeluk Islam. Darinya Rasulullah menerima usulan dibangunnya parit pertahanan Madinah ketika orang-orang Quraisy yang bersekongkol dengan Yahudi Madinah serta beberapa suku lainnya berniat menyerang Madinah. (Itu sebabnya selain disebut Perang Ahzab (perang gabungan) perang ini dinamakan juga Perang Parit). Ketika itu banyak sahabat yang mempertanyakan kebijakan Rasulullah dalam menerima usulan yang dianggap datang dari orang asing (Parsi). Namun dengan bijaksana, Rasulullah menerangkan bahwa sesama Muslim adalah bersaudara.


Masjid Al Aqsha
Alhamdulillah, dengan rasa haru apa yang kami inginkan dapat terwujud, akhirnya kami dapat masuk ke Masjid Al Aqsha di Yesrussalem (Al Quds). Dipintu gerbang masjid dijaga oleh tentara-tentara Israel. Belum pernah kami merasakan masuk ke sebuah masjid penjagaan ketat dari pihak keamanan, seperti yang kami rasakan tatkala masuk ke gerbang masjid Al Aqsha sudah berdiri para tentara Israel dengan membawa senapan laras panjang, dengan menanyakan, apakah kamu muslim. Sebuah pertanyaan yang aneh, sudah jelas kami masuk ke masjid akan beribadah kepada Allah. Ironis sekali.

Walaupun demikian, kami senang sekali dapat masuk ke Masjid Al-Aqsa, Masjid yang menjadi kiblat pertama kaum Muslimin dan merupakan tempat ketiga tersuci bagi umat Islam setelah Makkah dan Madinah. Alhamdulillah kami dapat memenuhi tiga masjid tersebut. Rasa haru yang mendapat kami dapat memenuhinya dibulan Ramadhan ini.
“Shalat di Masjid Al-Haram sama dengan 100.000 shalat di masjid lainya, dan shalat di masjidku (Masjid Nabawi) sama dengan 1.000 shalat di masjid lainya, dan shalat di Masjid Al Aqsha sama dengan 500 shalat di masjid lainya”. (HR Ath-Thabrani).
Masjid Al-Aqsha luasnya 142 hektar, areal yang dikelilingi pagar yang terletak di dalam pagar Al-Quds di sebelah timur dan selatannya. Halaman masjid Al Aqsha di tanamin pohon Zaitun.
Selayaknya semua orang yang memasuki masjid ini melakukan tahiyatul masjid di sebelah mana saja sepanjang berada di sekeliling tembok. Baik di samping pohon, di dalam Kubbah emas (Qubbah Sakhra) untuk jama’ah wanita atau di dalam bangunan masjid al-Aqsha untuk jama’ah pria.

Al-Quds juga merupakan wilayah bagi beberapa tempat ibadah suci Kristen, termasuk Gereja Yerusalem dan Gereja Ortodoks Yunani. Sehingga berbarengan dengan kami, banyak pula wisatawan yang datang ke masjid Al Aqsha.
Banyak diantara kita yang tidak tahu bagaimana bentuknya masjid Al-Aqsha. Masjid Al-Aqsha bukanlah masjid Qubah Al-Shakhra yang dibangun oleh Sayyidina Umar ra yang sering kita lihat. Dan Hal ini kembali kepada maksud busuk Yahudi untuk menghapus masjid Al-Aqsha dari ingatan muslimin. Mereka sengaja atau tidak sengaja selalu menampilkan foto masjid Qubbah al-Shakhra dan mengenyampingkan masjid Al-Aqsha sehingga ia lebih tenar dan dikenal dikalangan masyarakat muslim atau non muslim ketimbang masjid Al-Aqsha.


Sholat Tarawih di Masjid Al Aqsha
Lokasi hotel kami sangat jauh sekali dengan lokasi masjid Al Aqsha, kami harus berjalan melalui lorong-lorong perumahan penduduk Palestina sekitar 10 menit lamanya. Walaupun jarak yang ditempuh jauh tidak menyurutkan semangat kami untuk melaksanakan sholat tarawih berjama’ah di masjid Al Aqsha. Kami berangkat ke Al Aqsha untuk shalat tarawih setelah buka puasa dari hotel.

Lorong-lorong menuju masjid Al Aqsha dipenuhi dengan lampu yang kelap-kelip. Kami menjumpai beberapa anak Palestina sedang berlari-larian, pada pemuda yang duduk nongkrong. Kami cukup heran, mengapa mereka tidak bergegas untuk berangkat ke masjid guna menunaikan sholat Tarawih di bulan Ramadhan.

Ternyata memang mereka sudah masuk ke dalam srategi Israel, yaitu kaum muda di cekokin dengan hiburan-hiburan, yang membuat mereka makin gandrung "dicekoki" hiburan-hiburan mengasyikkan. Sehingga Al-Aqsa hanya menjerit dalam kesendirian karena telinga, mata, dan hati kaum Muslimin telah demikian tertutup oleh gebyar-gebyar dunia. Termasuk di bulan Ramadhan yang agung ini, saya melihat adanya Gebyar Ramadhan tidak jauh dari lokasi masjid Al Aqsha. Hiburan yang yang jauh dari tradisi Salaf, yang membuat kaum Muslimin terlena.

Aqidah dan moral generasi muda Palestina dirusak. Berbagai cara mereka lalukan agar generasi muda Palestina berpaling dari agamanya sehingga tidak menghiraukan lagi keberadaan Masjidil Aqsha maupun jihad melawan Yahudi Israel. Padahal Jama’ah Al-Aqsa telah berulang kali menyeru kaum Muslim di seluruh dunia, termasuk tentara-tentara Muslim yang tersebar di saentero negeri-negeri Muslim untuk segera membebaskan Al-Aqsa dari cengkraman penjajah teroris Israel

Tapi kebalikan, apabila kaum muslimin untuk melakukan sholat di masjid Al Aqsha akan dipesulit masuk ke dalam masjid Al Aqsha. Mereka nengawasi secara ketat hingga penangkapan terhadap muslimin yang dianggap aktifis masjid ataupun aktif di kegiatan keagamaan. Banyak mahasiswa Islam yang kuliah di perguruan tinggi di bidang syariah dan ushuluddin di Yerusalem yang kesulitan biaya dan dipecat dari pekerjaan akibat berbagai tekanan dan intimidasi Israel.

Penduduk muslim di wilayah ini selalu diawasi tentara dan bila mencurigakan akan ditangkap sehingga penduduk umumnya ketakutan untuk mendatangi masjid untuk shalat berjamaah. Shalat berjamaah di masjid hanya dihadiri segelintir orang tua yang rumahnya berdekatan dengan masjid.

Pemandangan suasana masjid Al Aqsha di malam hari dengan banyaknya orang berbondong-bondongnya untuk sholat tarawih membuat hati menjadi tergetar dan terharu. Aktivitas ibadah berjamaah itu tetap dilaksanakan di Al Aqsha, ditengah semakin brutalnya penindasan penguasa pendudukan Zionis terhadap hak-hak warga Palestina, yang dilakukan dengan tujuan menghalangi para warga tersebut untuk dapat pergi ke Masjid Al Aqsha.

Kami hadir, halaman masjid Al Asha sudah dipenuhi banyak jama’ah yang akan melakukan sholat Tarawih berjama’ah. Hembusan angin cukup kencang tapi tidak menyurutkan mereka untuk melakukan sholat tersebut. Kami memilih untuk sholat di dalam masjid, kebetulan untuk jama’ah wanita ada di dalam masjid Qubah emas (Qubbah Sakhra).

Suasa didalam masjid cukup ramai pula, sudah bayak yang mengambil barisan kemudian bertadarus, menunggu sholat di mulai. Sebelum kami duduk, mengambil posisi untuk sholat, kami berjabat tangan dengan jama’ah yang sudah hadir. Salah satu dari mereka, menyatakan kami dari mana, mungkin melihat cara berpakaian kami. Karena kebayakan kaum wanita di sana menggunakan abaya hitam, dan melakukan sholat tidak mengunakan mukena sebagaimana asal Indonesia.

Setelah mereka mengetahui asal kami, dan niat kami berkunjung ke Al Aqsha, mereka senang sekali, menyambut kami dengan suka cita. Malahan ada yang merangkut kami merasakan saudara seiman. Sungguh kebahagiaan yang tak ternilai, dipersatukan dengan aqidah yang sama.
Iqomat berbunyi, sholat akan dimulai. Sebelum sholat Tarawih dilaksanakan sholat Isya berjama’ah. Bacaan Imam sholat sangat indah, meningkatkan spiritual dan kekhusukan dalam melakukan Sholat. Air mata berderai, merasakan keimanan yang mendalam apalagi tatkala witir, sebelum ruku, Imam melakukan qunut dan berdoa dengan doa yang Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam ajarkan kepada cucunya Hasan bin Ali, yaitu:
“Ya Allah berilah aku hidayah, termasuk pada orang yang Engkau beri hidayah, dan berilah aku keselamatan, dan orang yang Engkau anugrahi keselamatan dan perbaikilah urusanku, termasuk dalam orang yang Engkau perbaiki urusannya, dan berkahilah aku pada apa yang Engkau anugerahkan kepadaku, dan hindarkan aku dari kejahatan apa yang Engkau putuskan, sungguh Engkaulah yang memutuskan dan bukan diputuskan, dan sungguh tidak akan hina orang yang Engkau tolong serta tidak akan mulia orang yang memusuhi-Mu, Maha Berkah Engkau dan Maha Tinggi, tiada tempat berlindung dari-Mu kecuali kepada diri-Mu”

“Ya Allah! Perangilah orang-orang kafir yang menghalangi dari jalan-Mu dan mendustakan para Rasul-Mu dan tidak beriman dengan janji-Mu. Cerai beraikan persatuan mereka, lemparkan rasa takut pada hati mereka, dan lemparkan adzab-Mu atas mereka wahai Illah yang haq.”
Kemudia bersholawat kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan berdoa untuk kaum muslimin semampunya dari kebaikan, lalu mintakan ampun untuk mereka.
Selesai melaknati orang-orang kafir dan bersholawat kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka diteruskan dengan membaca :

“Ya Allah! Hanya kepada-Mu kami menyembah dan hanya untuk-Mu kami shalat dan sujud. Hanya kepada-Mu kami menuju dan menyegerakan langkah kami Kami mengharap rahmat-Mu wahai Tuhan kami dan kami takut adzab-Mu yang sangat. Sesungguhnya adzab-Mu akan mengenai orang yang memusuhi-Mu.”

Para jama’ah hampir semuanya mengeluarkan air mata. Apalagi mereka merasakan sekali sebagai kaum yang tertindas selama ini.
Masjid Hebron
Untuk masuk ke dalam masjid tidak mudah. Terkadang boleh masuk, terkadang tidak, tergantung dengan situasi yang ada. Banyak tentara Israel yang berjaga-jaga di sana. Kami masuk melewati alat sensor. Akhirnya kami dapat masuk ke dalam masjid ada makam Sayyidina Ibrahim AS. Selain itu ada juga Makam Nabi Ishaq & Makam Ibu Saroh. Dibawah masjid itu, sebenarnya banyak makam para Nabi -karena banyak Nabi yang berasal dari Bani Israel. Tapi oleh Israel ditutup,
Masjid ini di bagi menjadi dua. sebagian milik orang Islam, sebagian milik orang Yahudi. Karena Yahudi juga mempunyai keyakinan kalo Abraham itu Bapak mereka. Beberapa tahun silam, dimana waktu itu orang-orang Yahudi menembaki orang-orang Islam yang sedang sholat di dalam masjid tsb. orang-orang Yahudi tidak menerima kalo Bapak mereka diakui Bapak juga oleh orang-orang Islam

Sungguh perjalanan yang yang mengharukan, sekaligus meningkatkan keimanan. Semoga Allah senantiasa mengikat hati kaum Muslimin di mana saja, untuk selalu saling bertautan. Amin.

Mekkah

Jum'at, 4 September 2009 ba'da Jum'at rombongan kami berkemas-kemas untuk melanjutkan perjalanan ke Mekkah guna melaksanakan umroh. Miqat, atau batas pelaksanaan umrah, adalah Masjid Bir Ali. Ini masjid yang letaknya sekitar 30 Kilometer di luar Madinah, Saat itu kami semua sudah berpakaian Ihram, dan Berniat Umrah serta Bertalbia selama dalam perjalanan Madinah-Makkah, perjalanan Madinah-Makah di tempuh dengan waktu sekitar 7 Jam, dengan jarak tempuh 80s-d 100 km/jam, perjalanan ini sama dengan perjalanan Jeddah-Madinah, tidak banyak aktivitas yang dilakukaan saat itu kecuali Bertalbiah, Berzikir, Bertadarus, mungkin Beristirahat bagi yang sudah lelah.

Ketika sampai Masjidil Haram, kami langsung mennuju Hotel untuk menyimpan barang sesuai dengan pembagian kamar. Kemudian kami kumpul kembali unutk pembagian kelompok kecil sekitar 4-5 orang. Sepanjang jalan hotel menuju Masjidil Harram kami terus bertalbiah.


Tawaf
Ketika sampai ke Masjidil Haram kami masuk melalui pintu Babusalam, saya ta`jub sampai menitikan airmata ketika saya menyaksikan Ka`bah (Baitullah) dari dekat, antara percaya dan tidak percaya, saya bisa melihat langsung Benda yang selama ini hanya ada di benak saya benda yang menjadi Qiblat Kaum Muslim seluruh Dunia.

Maqam Ibrahim
Setelah selesai Tawaf, kami melaksanakan sholat untuk shalat dua rakaat dan berdo’adi Maqam Ibrahim, yaitu tempat Nabi Ibrahim berada saat membangun Ka’bah dibantu oleh Nabi Ismail. Ini bukan maqam Nabi Ibrahim, karena Nabi Ibrahin itu dikuburkan di Hebron Palestina

Sa’i
Dua puncak bukit batu berjarak sekitar 700 meter berada disamping Ka’bah. Antara kedua bukit itulah Siti hajar, istri Nabi Ibrahim, diyakini berlari bolak balik untuk mencari air bagi Ismail yang sedang kehausan. Kini bukit shafa dan Marwa telah menjadi bagian dari Masjidil Haram. Berjalan antara kedua tersebut (sa’i) merupakan salah satu kewajiban yang harus ditunaikan jamaah haji atau umrah.

Rukun Umroh, yaitul tawaf dan sa’i berjalan dengan khusuk dan selamat, walaupun tengah malam ka’bah tetap ramai, apalagi dibulan Ramadhan banyak yang memilih pada malam hari. Pukul 02.00 kami selesai melaksanakan ibadah umroh, kemudian kembali ke hotel untuk saur, istirahat sejenak. Karena pukul 03.30 akan kembali ke masjid guna melakukan sholat subuh. Usai sholat subuh, kami kembali ke hotel untuk istirahat sampai menjelang sholat dhuhur. Pukul 11.00 kami bersiap-siap ke Masjidil Haram untuk melaksanakan sholat Dhuhur berjama’ah dilanjutkan beri’tikaf sampai waktu berbuka puasa.

Buka Puasa
Berbuka puasa di Masjidil Haram tidak jauh berbeda dengan berbuka di Masjid Nabawi. Menu yang diberikan satu paket kurma dan air zamzam serta teh Arab, Alhamdulillah, menjadikan perut kenyang. Namun kedua-duanya cukup nikmat bagi seluruh jamaah dan jarang sekali jamaah umrah yang tidak bebuka. Ada semacam dorongan spiritual tentang kebesaran Allah di mana kita bisa berbuka puasa di antara umat Islam dari seluruh dunia yang amat tidak mungkin dilakukan umat beragama lainnya. Di sana berbagai manusia dengan berbagai latar belakang, berbagai ras saling tolong menolong karena memiliki kesatuan iman.

Sholat Tarawih
Bagi jamaah umrah, selain melaksanakan sunat umrah (tawaf dan sai) yang dicari jamaah setiap Ramadhan adalah keinginan melaksanakan shalat Tarawih berjamaah di Masjidil Haram. Dari informasi; memberikan dorongan berumrah karena nilai ibadah di Masjidil Haram 100 ribu kali apalagi dilaksanakan di bulan suci Ramadhan. Shalat tarawih dilaksanakan 20.45 setelah shalat Isya, sebanyak 23 rakaat termasuk witir.

Imam Masjidil Haram selalu memberi aba-aba di mana pada saat selesai 8 rakaat akan diselingi shalat mayit dan biasanya imam akan berganti pada rakaat ke-10. Satu malam biasanya dibaca 1 juz ayat Al-Qur'an. Sebagian jamaah pada rakaat 8 selesai ada yang pulang, atau ada yang duduk menunggu shalat witir. Yang paling banyak meneruskan sampai 23 rakaat.

Karena ada qunut, suasana syahdu akan semakin terasa terutama bila Imam membaca qunut maka hampir seluruh jamaah menetekan air mata karena begitu meresap ke kalbu. Bacaan-bacaan dengan suara yang lebih—bahkan sang imam ikut meneteskan airmata.
"Bismillahirrahmaanirrahiim,

Ya ALLAH, TUHAN kami, Segala Kepujian dan Kebesaran Hanya milikMU,
Ya ALLAH, Yang Maha BERKUASA atas segalanya,
Yang Maha BESAR dan Maha TINGGI,

Kami memohon dari KEBESARANMU dan KEKUATANMU, Ya ALLAH,
Berilah Kemenangan kepada Para Pejuang Islam yang ikhlas di jalanMU, Amiin,
Ya ALLAH, Semoga ENGKAU Senantiasa di sisi mereka, Amiin,
Ya ALLAH, Semoga ENGKAU Senantiasa bersama mereka, Amiin,

Ya ALLAH, ENGKAU Berilah Kemenangan kepada mereka, Amiin,
Ya ALLAH, ENGKAU Berilah Kekuatan kepada mereka, Amiin,

Ya ALLAH, Semoga ENGKAU Senantiasa Membela, Memelihara dan Melindungi mereka, Amiin,
Ya ALLAH, TUHAN kami, Satukan hati, pemikiran dan pandangan mereka, Amiin,
Ya ALLAH, ENGKAU Fokuskan Matlamat Perjuangan mereka, Amiin,
Ya ALLAH, ENGKAU Gabungkan Kekuatan dan Hujah-Hujah mereka, Amiin,

Ya ALLAH, ENGKAU Tetapkan Hati dan Pendirian mereka, Amiin,
Ya ALLAH, ENGKAU Kuasai musuh-musuh mereka, Amiin,
Ya ALLAH, ENGKAU Kuasai musuh-musuh mereka, Amiin,

Ya ALLAH, TUHAN kami, ENGKAU Kuasai musuh-musuh Islam, Amiin,
Ya ALLAH, ENGKAU Lemahkan dan ENGKAU Kalahkan musuh-musuh Islam, Amiin,
Ya ALLAH, ENGKAU Pecah-Belahkan kesatuan musuh-musuh Islam, Amiin,

Ya ALLAH, ENGKAU Lunturkan semangat dan moral musuh-musuh Islam, Amiin,
Ya ALLAH, ENGKAU Lemahkan kekuasaan dan cengkaman musuh-musuh Islam, Amiin,
Ya ALLAH, ENGKAU Lemahkan kekuatan tentara musuh-musuh Islam, Amiin,
Ya ALLAH, ENGKAU Lemahkan ekonomi musuh-musuh Islam, Amiin,
Ya ALLAH, ENGKAU Campakkan Ketakutan yang amat sangat dalam hati musuh-musuh Islam, Amiin,
.......

Ya ALLAH, TUHAN kami, nasib kami ditanganMU,
Semua urusan kami diserahkan kepadaMU,
Ya ALLAH, ENGKAU Maha MENGETAHUI keadaan kami dan apa yang telah berlaku, tiada satu pun terlindung dari PengetahuanMU,

Ya ALLAH, Hanya KepadaMU kami Mengadu kesengsaraan kami,
Ya ALLAH, Hanya KepadaMU kami Mengadu kesedihan kami,
Ya ALLAH, Hanya KepadaMU kami Mengadu masalah kami,

Hanya Kepada MU, Ya ALLAH,
Hanya Kepada MU, Ya ALLAH, kami mengadu ketidakadilan dan kezaliman kaum yang menindas, karena ENGKAU sebaik-baik tempat mengadu, Amiin,

Hanya Kepada MU, Ya ALLAH, kami mengadu kekejaman orang-orang yang jahil dan melakukan kejahatan, karena ENGKAU sebaik-baik tempat mengadu, Amiin,
Hanya Kepada MU, Ya ALLAH, kami mengadu akan penindasan dan penipuan dari agen penjajah, Amiin,

Hanya Kepada MU, Ya ALLAH, kami mengadu ketidakadilan dan kekejaman orang-orang pendendam Nasrani, pendukong dan sekutu mereka, Amiin,
.......
Ya ALLAH, zaman gelap penjajahan dan kezaliman telah berpanjangan,
Ya ALLAH, zaman gelap penjajahan dan kezaliman telah berpanjangan,
Ya ALLAH, zaman gelap penjajahan dan kezaliman telah berpanjangan,

Ya ALLAH, kebencian dan dendam kesumat, golongan yang tidak beriman kepadaMU, sangat mendalam, begitu juga dengan pembelot Agama dan agen penjajah.

Ya ALLAH, TUHAN kami,
Ya ALLAH, Kirimkan Bantuan Pertolongan Dari MU, Amiin,
Ya ALLAH, Kirimkan Bantuan Dari MU untuk Menegakkan Kebenaran, Amiin,

Agar dapat kami Bangkit dari penghinaan ini, Amiin,
Agar dapat kami Bangkit dari fitnah ini, Amiin,
Agar kembali Kehormatan kami, Amiin,

Ya ALLAH, Kembalikanlah kemuliaan Islam Sedunia, Amiin,
Ya ALLAH, Kembalikanlah Kekuatan Islam Sedunia, Amiin,
Semoga dengan Bantuan Dari MU… Ya ALLAH, dapat kami musnahkan musuh-musuh Islam dan hancurkan cengkaman penceroboh, Amiin,
.......
Ya ALLAH, TUHAN kami,...
Ya ALLAH, ENGKAU Tumpaskanlah segala unsur ketidakadilan dan sumber penindasan, Amiin,
Ya ALLAH, ENGKAU Tumpaskanlah segala unsur ketidakadilan dan sumber penindasan, Amiin,

Ya ALLAH, ENGKAU arahkan KekuatanMU untuk memusnahkan kekuatan Amerika, Amiin,
Ya ALLAH, ENGKAU arahkan KekuatanMU memusnahkan Kekuatan Amerika, negara pusat kekufuran, pusat fasad, pusat kerusakan, Amiin,

Ya ALLAH, TUHAN kami,...
Ya ALLAH, ENGKAU arahkan KekuatanMU memusnahkan Amerika, pusat kekufuran, pusat fasad, pusat kejahatan, Amiin,

Ya ALLAH, ENGKAU Maha MENGETAHUI keadaan mereka, yang menyebarkan (penipuan, fitnah, kerusakan, kejahatan, kekejaman, kriminal, korup, kekacauan, tindakan unilateral, gangster, keributan dan) segala fasaad di atas muka bumiMU,


Ya ALLAH, mereka membunuh makhlukMU dan para hambaMU,
Ya ALLAH, mereka menghina AgamaMU,
Ya ALLAH, ENGKAU Maha MENGETAHUI kejahatan mereka,

Ya ALLAH, ENGKAU Maha BERKUASA ke atas mereka,
Ya ALLAH, TUHAN kami, Arahkan KekuatanMU memusnahkan mereka, Amiin,
Ya ALLAH, Arahkan KekuatanMU memusnahkan mereka, Amiin,

Ya ALLAH, Kirimkan ke atas mereka angin ribut kaum 'Aad, Amiin,
Ya ALLAH, Kirimkan ke atas mereka jeritan kaum Thamud, Amiin,
Ya ALLAH, Kirimkan ke atas mereka badai kaum Nuh, Amiin,
(13 saat diam...)

Ya ALLAH, Kirimkan ke atas mereka BalasanMU yang datang dari Langit, Amiin,
Ya ALLAH, Kirimkan ke atas mereka BalasanMU yang keluar dari Bumi, Amiin,
Ya ALLAH, Hancurkan negara-negara penjajah, Amiin,

Ya ALLAH, Jadikan perpecahan dalam negara mereka, Amiin,
Ya ALLAH, Jadikan mereka berpecah-belah, Amiin,
Ya ALLAH, Lemahkan kekuatan para penjajah, Amiin,

Ya ALLAH, Ya HAYYU, Ya QAYYUM,
Ya ALLAH, Yang Maha HIDUP, Yang Maha BERDIRI SENDIRI,
Ya ALLAH, Jadikan mereka berada di dalam genggaman Para HambaMU, Amiin,
Ya ALLAH, Jadikan mereka berada di dalam genggaman Para HambaMU, Amiin,
Ya ALLAH, Jadikan mereka berada di dalam kawalan Para HambaMU, Amiin,

Ya ALLAH, Jadikan badai topan berterusan untuk mereka, Amiin,
Ya ALLAH, Jadikan badai topan berterusan untuk mereka, Amiin,

(27 saat diam...)

Ya ALLAH, ENGKAU Bebaskan saudara Islam kami yang ditawan, Amiin,
Ya ALLAH, ENGKAU Bebaskan saudara Islam kami dan ENGKAU Kuatkan mereka, Amiin,
Ya ALLAH, TUHAN kami, ENGKAU Tetapkan Iman mereka, Amiin,

Ya ALLAH, TUHAN kami, ENGKAU Jadikan Pelbagai Cara membantu mereka, Amiin,
Ya ALLAH, ENGKAU Tangankan orang yang menyeksa mereka, Amiin,
Ya ALLAH, ENGKAU Tangankan orang yang menyeksa mereka, Amiin,
Ya ALLAH, ENGKAU Tangankan orang yang menyeksa mereka, Amiin,
Ya ALLAH, ENGKAU Hapuskan cengkaman orang yang menyeksa mereka dengan KEAGUNGAN dan KEKUASAANMU, Amiin,

Ya ALLAH, TUHAN kami, Jadikan rancangan jahat musuh-musuh Islam sebagai penyebab Kehancuran mereka, Amiin,
Ya ALLAH, Jadikan tipu muslihat musuh-musuh Islam dan rencana busuk/konspirasi mereka, berbalik kepada mereka, Amiin,

Amiin, Ya ALLAH, Ya RABBAL 'AALAMIIN,
Amiin, Ya ALLAH, TUHAN Seru Sekalian Alam,
Ya HAYYU, Ya QAYYUM,
Yang Maha HIDUP, Yang Maha BERDIRI SENDIRI,
Ya ZAL JALAALI WAL IKRAAM,
TUHAN Yang Memiliki KEBESARAN dan KEMULIAAN,

Yang Maha MENDENGAR doa,
Yang Maha DEKAT, Yang Maha MENGABULKAN doa, Amiin,
Kepada MU kami memohon, Amiin,

kami yakin akan janji-janjiMU,
dan penerimaanMU akan doa-doa kami,
Sesungguhnya ENGKAU telah berfirman, dan Kata-KataMU adalah Benar semata;
"Berdoalah kepadaKU dan AKU perkenankan Doa kamu",

Ya ALLAH, Perkenankan semua doa kami ini, Amiin,
Ya ALLAH, Perkenankan semua doa kami ini, Amiin,

(7 saat diam...)

Ya ALLAH, TUHAN kami Ya HAYYU, Ya QAYYUM,
Ya ALLAH, TUHAN kami Yang Maha HIDUP, Yang Maha BERDIRI SENDIRI,
Yang Maha PERKASA, Yang Maha MENGUASAI Segala yang berada di langit dan di bumi,

Ya ALLAH, ENGKAU selamatkan Al Aqsa dari kekejaman yahudi, Amiin,
Ya ALLAH, ENGKAU selamatkan Al Aqsa dari kekejaman yahudi, Amiin,
Ya ALLAH, ENGKAU Bebaskan Al Aqsa dari cengkaman setiap kafir yang dengki, Amiin,

Ya ALLAH, dapatlah kami melihat kebebasan Al Aqsa, dan musnahkanlah yahudi yang dengki itu, Amiin,
Ya DZAL JALAALI WAL IKRAAM,
TUHAN Yang Memiliki KEBESARAN dan KEMULIAAN,

Ya ALLAH, semua makhlukMU adalah hina dan lemah disisiMU, karena ENGKAU Maha MULIA dan Maha GAGAH,
Ya ALLAH, TUHAN Pencipta kami yang menjadikan manusia dari satu jiwa, Adam as,
Ya ALLAH, TUHAN Yang Maha TINGGI Kedudukannya,
Ya ALLAH, TUHAN Yang Maha GAGAH PERKASA,

kami memohon kehadratMU agar ENGKAU Berikan Kemenangan kepada ISLAM dan Umat Islam sedunia, Amiin,

Ya ALLAH, Ya HAYYU, Ya QAYYUM,
Ya ALLAH, TUHAN Yang Maha HIDUP, Yang Maha BERDIRI SENDIRI,
Ya ALLAH, ENGKAU Lindungi dan Peliharakan Semua Para Ulama' dan Para Pejuang Islam yang sentiasa bekerja keras menegakkan AgamaMU, Amiin,

Ya ALLAH, ENGKAU Lindungi dan Peliharakan Semua Para Ulama' dan Para Pejuang Islam yang sentiasa bekerja keras menegakkan AgamaMU, Amiin,
Ya ALLAH, ENGKAU Tetapkan Pendirian dan Iman mereka yang tetap ikhlas mengajak manusia ke jalanMU, Amiin,

Ya ALLAH, ENGKAU Tingkatkan derajat mereka yang senantiasa mengajak manusia mengerjakan perkara makruf dan mencegah manusia melakukan mungkar, Amiin,
Dan cucuri RahmatMU dan Keberkatan ke atas semua orang Muslim yang menyertai dan mendokong usaha baik mereka, Amiin,

Ya ALLAH, Ya HAYYU, Ya QAYYUM,
Ya ALLAH, TUHAN Yang Maha HIDUP, Yang Maha BERDIRI SENDIRI,
Ya ZAL JALAALI WAL IKRAAM,
TUHAN Yang Memiliki KEBESARAN dan KEMULIAAN,
Ya ALLAH, ENGKAU sediakan Balasan terhadap kejahatan mereka (golongan fasaad itu), Amiin,

Ya ALLAH, ENGKAU hinakan kehormatan mereka, Amiin,
Ya ALLAH, ENGKAU jejaki pusat mereka (golongan kufar lagi fasaad itu) dan penyokong mereka, Amiin,
Ya ALLAH, bagi mereka (yang fasaad itu) yang ENGKAU tidak mahu memberi HidayahMU,
Maka, Ya ALLAH, ENGKAU Jadikan Kesengsaraan sebagai kesudahan nasib mereka, Amiin,
ENGKAU Jadikan Kesengsaraan sebagai kesudahan nasib mereka, Amiin,

Ya ALLAH, ENGKAU Jadikan Bala bencana dan Mala petaka dihadapan hidup mereka, Amiin,
ENGKAU Tukarkan kesehatan mereka menjadi kesakitan, Amiin,
ENGKAU Gantikan kekuatan mereka menjadi kelemahan, Amiin,
ENGKAU Tukarkan kekayaan mereka menjadi kemiskinan lagi papa, Amiin,
ENGKAU Hilangkan kekuasaan mereka hingga lemah tidak berdaya, Amiin, Amiin, Amiin Ya ALLAH."
Suasana ini membawa ketenangan bathin para jamaah. Suasana plong ketika airmata membasahi pipi, Terasa betapa bacaan Alquran seperti magnit yang bisa menggugah sanubari orang yang mendengarnya dan meresapinya. Tarawih selesai bisanya pukul 22.30. Namun tidak berarti Masjidil Haram sepi karena selesai tarawih, ribuan jamaah silih berganti tawaf dan sai dengan pakaian ihram atau pakaian biasa—sehingga Ka’bah dan Masjidil Haram terbuka 24 jam dan tidak pernah tutup.

Kami di Mekkah selama 3 (tiga) hari, selain melaksanakan ibadah Umroh kami melakukan ziarah, diantaranya:

Jabbal Tsur
Rasulullah dan Abubakar memilih gua diselatan Mekkah ini untuk bersembunyi selama tiga hari, sebelum kemudian berputar menuju Madinah yang berada diutara Mekkah. Kisah persembunyian ini merupakan satu bagian yang paling dramatis dalam peristiwa Hijrah.

Padang Arafah
Pada tanggal 9 Dzulhijjah, dengan berpakaian Ihram seluruh jamaah haji berkumpul dalam tenda-tenda dipadang sekitar 12 km diluar Mekkah. Peristiwa yang disebut “Wukuf” ini merupakan tiang ibadah haji. DiArafah terdapat Jabal Rahmah sebuah bukit yang konon merupakan tempat pertemuan Nabi Adam dan Siti Hawa. diArafah pula Rasulullah menyampaikan pesan terakhirnya sebelum wafat dalam khutbah ringkas yang sangat menggugah.

Selanjutnya kami melakukan kembali ibadah Umroh yang kedua dengan mengambil Miqot di Ji'ranah yaitu sebuah kampung terletak sekitar 16 km dari Mekah. Kali ini kami melakukan tawaf dan sa’iI menjelang sholat dhuhur. Kalau dilihat memang akan sulit karena kondisi puasa siang hari di cuaca sedang terik matahari. Tapi alhamdulillah kami dapat menyelesaikan dengan baik, tanpa adanya rintangan yang berarti. Yang cukup mengembirakan, alhamdulillah saya dapat memegang hajar aswad, dengan penuh perjuangan, karena disekitar hajar aswad penuh sekali dengan orang-orang yang berkeinganan yang sama dapat memegang atau mencium hajar aswad.

Pada saat sa’i tinggal 1 (satu) putaran adzan dhuhur berbunyi, saya dan teman saya berusaha agar selesai sa’i sebelum qomat berbunyi. Karena di sini waktu antara cukup lama, karena Rasululllah saw bersabda :'' Ya Bilal, adakan jarak antara adzan dan iqomatmu. Yaitu kira2 selama orang makan dengan tenang hingga dia menyelesaikan makannya, dan orang yang berwudlu menyelesaikan wudlunya dengan tenang.'' (HR. Abdullah bin Achmad). Dengan demikian kami dapat menyelesaikan sa’i, tahalul (memotong rambut) dan berwudhu.

Saya dan teman saya mengambil barisan shaf sholat di tempat Sa’I karena masjid sudah penuh oleh para jama’ah yang juga akan melaksanakan sholat dhuhur berjama’ah. Selesai sholat ada kejadian yang menguji kesabaran saya, tas mukena saya hilang entah kemana. Saya dan teman saya berusaha mencarinya tapi tidak ketemua juga. Akhirnya saya pasrah dan mengikhlaskan tas tersebut hilang.

Kemudian saya masuk ke dalam masjid untuk beri’tikaf sampai menjelang waktu berbuka puasa. Aktifitas di dalam masjid selain bertadarus banyak pula yang beristirahat terkadang ada yang samapi tertidur. Pada saat saya sedang istirahat menjelang sholat ashar saya kan berwudhu, tiba-tiba di sebelah kanan saya, ada tas mukena yang saya cari selesai sholat dhuhur. Subhanah….. histeris saya melihatnya.Karena saya dan teman saya sudah mencoba mencari tapi tidak ketemu. Ternyata Allah masih saya dengan saya.

Kali ini buka puasa terakhir saya di Masjidil Haram. Membuat saya terharu dan gembira. Terharunya saya ajan meninggalkan Masjidil Haram dan gembiranya karena buka puasa kali ini, menu saya cukup berlimpah. Karena ada jama’ah sebelah kiri saya memberikan saya makanan yang banyak, diantaranya jeruk, anggur, susu, kue kering. Subhanallah…

Setelai sholat Tarawih, saya melakukan thawaf wada’, yaitu thawaf perpisahan karena saya beserta rombongan akan melanjutkan perjalanan ke Palestina. Pada kesempatan tersebut saya memohon kepada Allah SWT agar suatu saat kelak saya dapat beribadah lagi di Baitullah. Pandangan saya tidak lepas dari Ka’bah. Dengan berlinang air mata kami ber-istilam (melambaikan tangan) ke Hajar Aswad untuk terakhir kali.


Madinah

Tiba hari pemberangkatan. Hari ini saya lebih memantapkan lagi untuk melaksanakan ibadah Umroh. Kakak saya menjemput saya untuk mengantarnya ke bandara tapi sebelumnya saya bersinggah ke rumah orang tua, sekalian beliau ingi pula mengantar saya.

Pukul 12.00 WIB, saya sampai di Bandara Cengkareng, ternyata rombongan yang berangkat bersama-sama dari KBIH Al Fatah belum datang. Saya menunggu bersama keluarga. Akhirnya setelah semua administrasi selesai pukul 13.45 rombongan melakukan cek in.

Rombongan berangkat dengan transit di Bangkok, menggunakan pesawat Air Asia, pukul 16.20 pesawat lepas landas. Kali ini adalah pertama kalinya saya menggunkan pesawat terbang. Hati ini campur aduk rasanya sedih, haru dan gembira. Setiap pihak pesawat mengumumkan bahwa situasi cuasa tidak memungkinkan, rasanya deg-degan.

Alhamdulillah pukul 20.00 waktu setempat (Waktu antara Bangkok dan Jakarta tidak ada perbedaan) pesawat tiba di Bangkok. Sebelum melanjutkan penerbangan kami melalukan proses imigrasi terlebih dahulu walaupun hanya transit.

Kembali saya mengalami ujian, pada saat pengecekan passport, passport saya tidak dapat terbaca oleh sistem komputer. Karena ada kesalahan dari pihak travel, yaitu melakukan stemples tiket pesawat pada halaman foto. Pada sat itu saya tetap tenang sambil berdzikir. Beberapa kali petugas mencobanya tapi gagal, lemas rasanya, mana semua rombongan sudah pada masuk. Akhirnya saya dilakukan pengecekan data secara manusia, kemudian dilakukan pemotretan ulang. Kemudian saya masuk bergabung dengan rombongan.

Bandara international di Bangkok ini megah sekali dengan berbagai fasilitas yang ada. Kesan pertama, begitu besarnya luasan bandara jika dibandingkan dengan bandara Soekarno-Hatta. Langit-langit bangunannya tinggi berbentuk kubah. Sejauh mata memandang lempengan besi dan alumunium yang menjadi rangka-rangka bangunan, jelas terlihat.


Selasa, 1 September pukul 00.30 waktu Bangkok kami melakukan perjalanan ke Amman. Kali ini jenis pesawat yang dipergunakan lebih besar dari pesawat sebelumnya. Sehingga saya tidak begitu merasakan goncangannya. KamI makan saur di pesawat dengan waktu sudah berbeda dengan Jakarta. Sholat subuh berjama'ah dilakukan di pesawat. Pesawat mendarat pukul 05.00 waktu Jordan, atau pukul 09.00 waktu Indonesia.

Selanjutnya kami akan melanjutkan perjalanan ke Jeddah. Menunggu waktu tsb. Kami istirahat di hotel dekat Bandara s/d pukul 04.00 sore karena akan melanjutkan penerbangan ke Jeddah pukul 19.20 waktu Jordan.

Pukul 19.30 pesawat lepas landas menuju Jeddah. Hari ini kali pertama saya merasakan puasa selama 16 jam beda dengan di Indonesia hanya 13 jam. Kami berbuka puasa di pesawat. Sampai Jeddah pukul 23.00, selanjutnya dengan menggunakan bis kami menuju Madinah. Jarak tempuh antara Jeddah dan Madinah adalah sekitar 6 Jam perjalanan, dengan kecepatan rata-rata 80 s-d 100 km/jam,

Rabu, 2 September pukul 02.30 alhamdulillah rombongan sampai di Madinah, subhanallah kota yang indah sekali, air mata tak terasa mengalir mengingat keagungan Allah. Allahu Akbar. Walaupun masih pagi sekali, Madinah tetap bergeliat ramai dengan orang-orang yang lalu lalang seperti siang hari.

Rombongan sampai di hotel, yang letaknya agak jauh dari masjid. Kemudian kami melakukan saur di hotel dan pembagian kamar. Dalam 1 (satu) kamar sebanyak 2-3 orang. Kalau saya bersama dengan 2 (dua) orang ibu. Mereka semua sudah pernah melaksanakan ibadah haji, hanya saya saja yang belum. Saya senang sekali dipertemukan oleh mereka, karena mereka bersedia untuk bersama-sama menjalankan ibadah Umroh ini, khususnya saya akan mendapatkan bimbingan oleh mereka. Terima kasih ya Allah saya diberikan kemudahan.

Pukul 03.30 kami berkumpul kembali guna melakukan shalat subuh berjama’ah di masjid Madinah. Terteguh saya melihat masjid yang begitu indah dan modern. Kagum dengan struktur bangunannya, halaman-halaman masjid banyak payung-payung raksaksa yang tinggi ini dikendalikan secara elektronik, bila siang hari sangat terik maka payung ini akan terbuka dengan indahnya dan di badan dari tiang payung ini mengeluarkan hawa dingin karena di tiang ini di pasang AC yang akan nyala secara otomatis bila payung dibuka.

Setiap Jama’ah yang akan memasuki masjid Nabawi tas bawaannya diperiksa oleh para Askar (keamanan masjid), hal tersebut sudah menjadi peraturan. Di khawatirkan ada yang bawa Kamera maupun Senjata Tajam dan Api karena barang-barang tersebut di larang untuk di bawa kedalam Masjid. Masuk ke dalam masjid tiang-tiang raksasa yang tersusun rapi, lampu-lampu besar, ornamen indah dimana-mana, ukiran di sana-sini, Al Qur'an di setiap tiang dan Air zam-zam berada di mana-mana memudahkan para jam'ah untuk meminum sepuasnya air zam-zam tsb dan tempat penyimpanan sandal pun ada di setiap.









Kubah dapat terbuka dan tertutup secara manual maupun secara elektronik, ini di gunakan untuk pengaturan udara. Biasanya kubah akan terbuka pada saat subuh (kecuali udara sangat dingin) dan bilamana siang akan di buka bila suasanya hari tidak terlalu terik. Keindahan dan kemegahan masjid ini sungguh mengagumkan. Betah rasanya berlama-lama di dalamnya

Saya datang belum masuk waktu subuh sehingga masih ada kesempatan untuk melakukan sholat lail. Jama'ah sudah berdatangan dari berbagai penjuru dunia, dengan berbagai ragam,tapi tujuannya sama mencapai redho illahi. Subuh berkumandang, jama'ah semakin memadati masjidil Haram, para jama'ah terasa khusyuk sekali mendengarkan imam masjid memimpin sholat Subuh.Walaupun Ayat yang di baca panjang tidak terasa lama. Setiap habis sholat wajib, selalu ada sholat jenazah. Selesai sholat subuh saya bersama dengan teman satu kamar pulang ke hotel untuk istirahat, setelah lelah melakukan perjalanan jauh.

Raudhoh
Kami istirahat hanya sebentar pukul 10.00 WIB kami sudah siap untuk ke masjid kembali, karena ada keinginkan untuk ke Raudhoh disebut juga taman Syurga, seperti dari Abdullah bin Zaid bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Antara rumahku dengan mimbarku ada satu taman dari sekian banyak taman surga.” Untuk jama’ah wanita diberikan waktu-waktu tertentu untuk ke Raudhoh, yaitu pukul 07.00 - 11.00 terus dibuka kembali ba'da ashar - magrib. Raudah adalah salah satu tempat yang makbul untuk berdo’a. Di sana saya melakukan sholat 2 (dua) rakaat. Selanjutnya saya dan 2 orang teman tidak kembali ke hotel, melakukan I’tikaf di masjid Nabawi dengan memperbanyak ibadah sampai dengan waktu berbuka puasa.


Buka Puasa di Masjid Nabawi
Suasana ba’da sholat Ashar di Masjid Nabawi ramai sekali, karena para Askar akan mengelarkan plastik putih diantara 2 (dua) shaf, jama’ah duduk saling berhadapan. Sajian menu buka puasa adalah kurma, roti arab, yogurt, air minal, air zam-zam dan ada pula air yang di dalam teko atau termos yang berisi air yang rasanya seperti air jahe. Di sini tidak akan menemukan menu berbuka seperti di Indonesia, yaitu kolak, es buah, bakwan dan sejenisnya.

Saya dan teman saya mencoba makan menu tersebut dengan melihat dan mengikuti orang didepan saya, yaitu sang yoghurt dicampur dengan bubuk warna coklat yang berbau rempah, dan roti dimakan setelah dicolekkan pada yoghurt tsb. Tapi lidah Indonesia ini tidak bisa kompromi, ternyata tidak cocok dengan selera saya dan teman saya. Akhirnya yang di makan beberapa butir kurma didorong dengan air zamzam saja. Supaya tidak mubazir kami memberikan jatah roti dan yoghurt kepada sebelah kami, yang terlihat menyukai menu tsb. Kebalikannya kami dikasih kurma oleh mereka akhirnya menjadinya ajang tukar menu buka puasa.

Terasa sebuah persaudaraan yang indah sekali.Suasana yang menyenangkan dapat berbuka puasa bersama dengan saudara seimaan di Madinah ini. TIdak ada perbedaan apapun semua membaur menjadi satu dengan tujuan yang sama hanya mengharapkan keredhoan Allah SwT.

Hanya membutuhkan waktu 5-10 menit para askar sudah siap untuk bersih-bersih, qomat berbunyi maka para jama’ah bersiap untuk melakukan sholat magrib berjama’ah. Stelah itu kami pulang ke hotel, untuk mandi dan makan besar.

Sholat Tarawih
Ba'da sholat Isya, kami melakukan sholat tarawih sebanyak 23 rakaat. Jama'ah yang hadir cukup banyak sekali, dari kalangan tua dan muda, anak-anak dan dewasa untuk berlomba-lomba dalam memperoleh keberkahan dari Allah di bulan Ramadhan.

Awal sholat Tarawih di masjid Nabawi terasa berat karena harus melahan rasa ngantuk. Perbedaan jam dengan Indonesia sekitar 4 jam, pada saat sholat Tarawih di Indonesia sudah menunjukan pukul 12.00 WIB. Karena tekad dan niat yang kuat, akhirnya dapat dilalui walaupun ada beberapa rakaat saya melakukan sholat dengan posisi duduk. Pukul 12.30 kami selesai melakukan sholat tarawih dan kembali ke hotel untuk istirahat.

Kami tinggal di Madinah selama 3 (tiga) hari selain rutinitas tersebut, kami juga melakukan ziarah di kota Madinah, diantaranya:

Masjid Al Quba’
Masjid Quba adalah sebuah masjid yang terletak di daerah Quba. Quba itu sendiri terletak +/- 5 km sebelah barat daya Madinah. Pertama di bangun oleh Nabi Muhammad sebelum masjid Nabawi.

Disunnahkan bagi orang yang datang ke Madinah agar ziarah dan shalat di Masjid Quba’ demi mengikuti sunnah Rasulullah saw. Sebagaimana yang dijelaskan dalam riwayat berikut.

Adalah Rasulullah saw. bersabda, “Barangsiapa bersuci di rumahnya, kemudian dating ke Masjid Quba’, lalu shalat di sana, maka baginya padahal seperti pahala umrah.” (Shahih: Shahih Ibnu Majah no:1160, dan Ibnu Majah I:453 no:1412).

Jabal Uhud
adalah nama sebuah bukit terbesar di Madinah. Letaknya +/- 5 km dari pusat kota Madinah, berada di pinggir jalan lama Madinah-Makkah. Mulai tahun 1984 perjalanan haji dari Makkah ke Madinah atau dari Madinah ke Jeddah tidak melalui jalan lama tersebut, melainkan melalui jalan baru yang tidak melewati pinggir Jabal Uhud. Di lembah bukit ini pernah terjadi perang dahsyat antara kaum muslimin sebanyak 700 orang melawan kaum musyrikin Makkah sebanyak 3000 orang. Dalam pertempuran tersebut yang gugur sampai 70 orang syuhada, antara lain Hamzah bin Abdul Muthalib, paman Nabi Muhammad SAW.

Masjid Qiblatain
Masjid tersebut mula-mula dikenal dengan nama masjid Bani Salamah, karena masjid ini dibangun di atas bekas rumah Bani Salamah. Letaknya di tepi jalan menuju kampus Universitas Madinah di dekat Istana Raja ke jurusan Wadi Aqiq. Pada permulaan Islam, orang melakukan shalat dengan menghadap kiblat ke arah Baitul Maqdis di Yerussalem/Palestina. Pada tahun ke 2 Hijriyah hari Senin bulan Rajab waktu dhuhur di masjid Salamah ini, tiba-tiba turunlah wahyu surat Al Baqarah ayat 144. Dalam shalat tersebut mula-mula Rasulullah SAW menghadap ke arah masjidil Aqsa tetapi setelah turun ayat tersebut di atas, beliau menghentikan sementara, kemudian meneruskan shalat dengan memindahkan arah kiblat menghadap ke Masjidil Haram. Dengan terjadinya peristiwa tersebut maka akhirnya masjid ini diberi nama Masjid Qiblatain yang berarti masjid berkiblat dua.
Khandak/Masjid Khamsah
Khandak dari segi bahasa berarti parit. Dalam sejarah Islam yang dimaksud Khandak adalah peristiwa penggalian parit pertahanan sehubungan dengan peristiwa pengepungan kota Madinah oleh kafir Quraisy bersama dengan sekutu-sekutunya dari Yahudi Nadir, Bani Ghathfan dan lain-lainnya. Di saat itulah Rasulullah SAW mendengar kafir Quraisy bersama sekutu-sekutunya akan menggempur kota Madinah, maka Rasulullah SAW bermusyawarah dengan para sahabat-sahabatnya, bagaimana cara menanggulangi penyerangan tersebut. Pada waktu itu sahabat Nabi, Salman Al Farisi memberikan saran supaya Rasulullah SAW membuat benteng pertahanan berupa parit. Usul tersebut diterima Rasulullah SAW sendiri. Maka digalilah parit pertahanan tersebut di bawah pimpinan Rasulullah SAW sendiri. Peristiwa pengepungan kota Madinah ini terjadi pada bulan Syawal tahun ke lima Hijriyah. Peninggalan perang Khandak yang ada sampai sekarang hanyalah berupa lima buah pos yang dulunya berjumlah tujuh, yang menurut sebagian riwayat tempat tersebut adalah bekas pos penjagaan pada peristiwa Khandak dan sekarang dikenal dengan nama Masjid Sab’ah atau Masjid Khamsah.

Pasar Kurma
terletak di Kota Madinah, dibangun pada tahun 1982 dan terletak 600 meter sebelah selatan Masjid Nabawi. Pasar ini khusus menjual macam-macam Kurma diantaranya Kurma kesayangan Nabi yaitu Kurma Ajwa.


Gunung Magnet
terletak di sebelah utara kota Madinah, dengan suhu lebih dingin yg berbeda dengan pegunungan lainnya di daerah arab gunung ini dapat mendorong sebuah kendaraan dengan kecepatan maksimal 180 km/jam sejauh 12 km dengan posisi peersnelling normal. konon katanya ada seorang peneliti dari singapura yang ingin mencari pusat magnet tapi tidak diketemukan dan gunung ini juga tidak merusak alat-alat elektronik.


Tak terasa 3 (tiga) hari akan berlalu. Berat rasanya harus meninggalkan kota Madinah dengan masyarakat yang ramah-ramah penduduknya. Terlihat pada para pedagang yang melayani pembeli dengan santun. Mereka bisa juga berkomunikasi dengan menggunakan bahasa Indonesia. Harga barang yang dijual masih bisa ditawar dan pembayaran menggunakan rupiah dilayani juga. Konon mereka seperti itu karena jama'ah haji atau umroh yang senang berbelanja adalah rombongan jama'ah dari Indonesia selain itu karena jumlah jama'ah dari Indonesia jumlahnya cukup besar.

Kehidupan mereka bergeliat pada malam hari, Siang harinya mereka jarang yang berada di luat, sehingga jalanan sepi sekalai dari aktivitas. Waktu berpuas di Madinah lebih lama dari waktu Indonesia. Alhamdulillah kami tidak merasakan kesulitan berpuasdengan jam tersebut. Kendal yang dihadapi adlah jam tidur biologis kamis. Perbedaan waktu membuat mata harus terjaga sesuai dengan jam Madinah.

Pada saat Ramadhan ini para perduduk jua berlomba-lomba untuk memberikan suplai makanan ke masjib Nabawi pada saat menjelang adzan magrib. Ribuan jama’ah yang hadir untuk berbuka semuanya mendapatkan jatah buka puasa.

Umroh Plus Palestina 1430 H

Pergi ke Baitullah merupakan keinginan setiap muslim, khususnya untuk menyempurnakan rukun Islam ke lima। Begitu pula dengan saya. Tapi kali ini kepergian saya tidak ada rencana sebelumnya. Satu bulan sebelum pemberangkatan saya fokus pada kesehatan bapak mertua yang tiba-tiba sakit struk dikarenakan gula darahnya meningkat. Dalam waktu 1 (satu) bulan 2 kali beliau masuk rumah sakit.

Dengan kondisi demikian nyaris selama 1 (satu) bulan tersebut saya dan suami sering ke Bumiayu hampir setiap pekan. Kami mengistilahkannya dengan PJKA (Pergi Jumat Kembali Ahad), terkadang hari senin saya izin atau ambil cuti dari kantor karena kelelahan. Tapi semua itu dilakukan dengan penuh keikhlasan semata hanya mengharapkan redho Allah.


Dan pada akhirnya Allah lebih sayang kepadanya sehingga tepat tanggal 30 Juli 2009 beliau meninggal dunia. Kami sekeluarga mengikhlaskannya, karena hal tersebut lebih baik menurut Allah dan baginya. Istri dan anak-anaknya sudah memberikan yang terbaik, merawat beliau karena menjelang akhir hayatnya beliau tidak bisa melakukan aktifitas apapun dikarenakan tubuh sebelah kanannya sudah tidak dapat berfungsi seperti semula.


Awal Agustus setelah saya kembali dari Bumiayu, saya kembali bekerja seperti biasa. Pada saat saya sedang bekerja, Pimpinan saya memanggil saya menanyakan apakah saya ingin melaksanakan ibadah Umroh. Subhanallah sebuah penawaran yang tidak saya duga sama sekali, saya tidak mempunyai firasat apapun sebelumnya. Setelah mendengar penawaran tersebut, saya menghubungi suami untuk meminta izin.

Alhamdullillah suami meredhoi untuk saya melaksanakan ibadah Umroh di bulan Ramadhan. Sujud syukur tidak lupa saya lakukan. Saya mempunyai waktu untuk pesiapan administrasi hanya beberapa hari saja, sehingga harus segera di selesaikan. Bismillah dengan tekad yang bulat saya coba.


Proses pertama adalah pembuatan passport. Karena keterbatasan waktu, Saya nego dengan teman saya yang mempunyai channel di imigrasi untuk dapat membantu pembuatan passport dalam waktu secepat mungkin.

Pada saat pembuatan passport ini saya diuji kesabarannya. Waktu penyelesaian pembuatan passport yang disepakatin meleset disebabkan system komputerisasi di imigrasi pusat sedang ada problem, karena pada saat itu berbarengan dengan saya ada kebijakan baru dari pemerintah, para calon jama’ah haji menggunakan passport 48 halaman.

Pihak travel sudah berkali-kali mendesak saya menanyakan kapan passport tersebut, karena akan dibuatkan Visa. Saya hanya bisa meminta pihak travel sabar, karena saya sudah ikhtiar tinggal tawakal, problem yang ada bukan keinginan kita semua. Sehari dua hari sampai batas akhir pihak travel mendesak terus karena Umroh kali ini plus ke Al Aqsha jadi membutuhkan waktu pembuatan Visa tsb.

Dengan kondisi seperti itu, saya sempat berfikir kalau memang menjadi kendala passport ini sudahlah tidak apa-apa kalau saya tidak jadi Umroh. Saya sudah pasrahkan kepada Allah, kalau memang Allah berkehedak saya menjadi tamu Allah, insya Allah akan dimudahkan urusan saya ini. Alhamdulillah walaupun mengalami mundur beberapa hari akhirnya selesai juga passport tsb, langsung saya kirimkan ke pihak travel. Selanjutnya saya tinggal menuggu kabar hasil pembuatan Visa.

Saat ini diuji kembali, saya menanyakan beberapa kali kepada pihak travel tentang proses Visa sudah selesai belum. Mereka memberikan jawaban belum, karena pada saat bulan Ramadhan banyak sekali yang ingin melaksanaakn Umroh dan karena kami akan ke Al Aqsha, maka pembuatan Visa tidak dapat dilakukan di Indonesia, karena ke Indonesia tidak memiliki hubungan diplomatik dengan Negara tersebut.

Sambil menunggu kabar selanjutnya, saya mempersiapakan diri dengan mempelajari ibadah Umroh dan menyelesaikan pekerjaan-pekerjaan saya dikantor, agar memudahkan teman saya yang menangani pekerjaan saya selama saya tidak ada.

Akhirnya sepekan sebelum pemberangkatan saya di informasikan pihak KBIH Al Fatah bahwa pemberangkatn tetap tanggal 31 Agustus 2009, dan akan dilaksanakan manasik sebanyak 2 hari, yaitu H-2 dari pemberangkatan. Setelah ada informasi tersebut, saya langsung mempersiapkan segala sesuatunya. Karena berpacu dengan waktu, saya tidak banyak melakukan persiapan sekedar yang wajiba di bawa untu ibdah Umroh,

H-2 saya melakukan manasik. Rombongan yang berangkat bersama saya sebanyak 20 orang. Mereka bersadal dari berbagai daerah, Jambi, Lampung, Pekanbaru, Surabaya, bandung, Cilacap. Mereka sangat bersemangat sekali kali Umroh kali ini plus Al Aqsha. Jarang Tarvel yang seperti itu, karena g\faktor situasi dan kondisi maka sulit bias ke masjid Al Aqsha.

Hari pertama manasik kami di ceritakan tentang situasi Negara Palestina, dengan pengetahuan tersebut, kami akan siap secara fisik dan mental untuk masuk ke Palestina, dengan situasi saat ini.

Hari Kedua manasik, kami diberikapan pembekalan tentang pelaksaaan ibdah Umroh. Memang pelaksaan Umroh rukunnya lebih sedikit dibandingkan dengan ibadah haji, tapi tetap harus dilaksanakan dengan sebaik mungkin. Apabila bulan Ramadhan banyak sekali yang melakukan ibadah Umroh dari berbagai Negara.


Lanjut...