Jumat, 29 Juni 2007

Renungan Diri


Mengingatkan saudara kita, akan kesalahan yang telah diperbuat memang suruhan Allah. Namun Semuanya punya cara dan waktu yang tepat. Tulisan ini hanya sekedar untuk mengingatkan (Khususnya diri ini) tanpa … maksud tertentu.
Mulanya aku anggap mudah perjalanan ini, dengan idealisme khas seorang remaja, kusambut hangat uluran tangan mereka yang ramah menyapa.

Pada awalnya aku belum memahami sepenuhnya arti perjalanan ini. Begitupun arti perjumpaan Yang Maha Agung, konon merupakan puncak kebahagiaan manusia. Agaknya kekurang fahamanku ini menyebabkan banyaknya rekan seperjuangan yang mengurungkan niat atau mereka segera letih atau memilih jalan lain yang nampaknya menjanjikan kemudahan. Namun … aku tiada terganggu …. Sementara jalan dihadapanku semakin menanjak terseret, hampir …… aku jatuh. Kini setelah melewati lebih dari seperempat abad usiaku. Kian ku fahami tabiat jalan yang telah ku pilih ini.

Saat ini dihadapanku berdiri angkuh tebing terjal. Tanahnya coklat basah. Ada jalan setapak dipinggirannya, ada semak-semak liar, yang menatapku dengan masam, sementara dari sudut mataku dapat kutangkap adanya jalan lain yang jauh lebih mudah. Tak ada tanah licin yang menantiku. Tak ada semak yang akan mengejek, jalannya pun lapang dan teduh, tapi .. aku tak mau menatap jalan itu. Ku pertajam tatapanku kearah tebing angkuh tadi. Samar-samar kulihat jejak-jejak kaki orang sebelumku. Namun terkadang tak kulihat adanya jejak kaki sama sekali.

Entah untuk yang keberapa kali lutut ini bergetar. Nafasku pun mulai tersenggal. Kadang kujumpai seorang berdiri di tengah jalan. Ia nampak tidak menyukai kehadiranku. Tapi, aku harus melewati jalan itu. Dengan segenap kemampuan kuhadapi ia, terkadang saudaraku tak tinggal diam, membiarkanku berkelahi sendirian.

Entah berapa kali pula sudah aku tersungkur, orang bilang aku terlalu ringkih untuk menuntaskan perjalanan, tapi aku tak perduli. Masih pekat kepercayaanku, Ia yang kujumpai disana akan senantiasa memberikan kekuatan ghaib-Nya kepadaku.

Disetiap jalur yang kutempuh, ada tempat-tempat peristirahatan sejenak. Tempatku melepaskan segala keluh kesah dan keletihan. Biasanya, Ia akan turun dan menurunkan bantuan-Nya, untuk menghiburku dan orang-orang yang mendambakan perjumpaan dengan-Nya. Disini aku bisa menangis sejadinya, menghimpun keberanian untuk melanjutkan perjalanan.

Rabbi ….
Aku berusaha memenuhi panggilan-Mu, membawa tubuh ringkih ini melewati jalan yang Kau kehendaki. Telah ku coba melepas segenap yang aku mampu untuk mengatasi beratnya medan yang menghalang. Telah coba ku atasi, sedapatnya panas hari-hari yang kulewati.

Namun….. ampuni aku ya Rabbi …
Betapa seringnya hamba terteguh ragu, untuk melanjutkan perjalanan yang panjang ini . Semuanya memang dikarenakan hati ini masih mengharap mencicipi kenikmatan duniawi.

Kinipun hati yang peragu ini masih diguncang, gundah … akankah Kau gabai tangan lemah ini? Akankah Kau hargai … apabila saat ini hatiku masih juga mengharapkan wajah lain selain wajah-Mu? Jika masih juga kunanti senyum lain selain senyum-Mu? Jika masih kudamba pujian lain selain pujian-Mu? Betapa berat …. Semakin berat persangkaanku akan kesia-siaan amalanku, jika kuingat Engkau Maha Pencemburu.

Rabbi ….
Kadang kudengar jalan lain yang jauh sulit dari yang kini ku tempuh. Orang-orang yang melewatinya adalah orang-orang perkasa, dengan nyali melebihi singa. Mereka mempertaruhkan segalanya, harta nyawa sekalipun! Mereka meyakini dan merasakan merenggangnya nyawa dari jasad justru mempercepat perjumpaan mereka dengan sang Kekasih.

Ada terpikir olehku untuk melewati jalan itu. Namun … aku cukup arif untuk menyadari betapa diri ini tidak layak disejajarkan dengan mereka. Siapakah kau ini, dibandingkan mereka yang senantiasa bersimbah peluh dan debu. Untuk membuktikan kecintaan kepada-Nya? Betapa lancangnya aku, mengukur diri dengan mereka, yang menghabiskan malam-malamnya dengan sujud syukur, mengharapkan ampunan dan cinta-Nya. Dan akupun … harus bersabar.

Rabbi …..
Seorang saudaraku jatuh tergelincir, tepat didepanku. Kuulurkan tangan menahan lajunya, tapi … terlalu berat. Dengan pasti aku turut terseret, namun …. ia tak berusaha untuk naik. Sementara pijakanku semakin tidak pasti. Dengan berat kuputuskan pegangannku. Ia mengerti bahwa Kau faham bila keberaniannya telah luruh, ia ingin segera menuju jembatan yang memisahkan jalanku dengan jalan lebih ramah walau … entah menuju kemana ……

Dan babak baru perjalananku pun mulai, setiap langkah harus diperhitungkan dengan cermat. Salah pijak sedikit hampir pasti akan tegelincir. Terpaksa ku akui kalau nyali ini agak ciut. Namun kututupi sedapatnya. Akupun harus melangkah naik.

Rabbi…..
Aku harus segera berlari, kembali kerombonganku. Aku harus bergabung bersama mereka, kembali melintasi semak berduri, seraya terus menetapkan agan akan suatu peristirahatan abadi. Akan suatu taman yang rindang, yang kaya akan aneka buah yang dibawahnya mengalir sungai – sungai …….

Do'a Cinta Sang Pengantin

Ya Allah..
Andai Kau berkenan, limpahkanlah kami cinta
Yang Kau jadikan pengikat rindu Rasulullah & Khadijah Al Qubro
Yang Kau jadikan mata air kasih sayang Ali & Fatimah Az-Zahra
Yang Kau jadikan perhiasan nabi-Mu yang suci

Ya Allah…
Andai semua itu tidak layak bagi kami, maka cukuplah permohonan kami dengan Ridho-Mu.
Jadikan kami sebagai suami istri yang saling mencintai dikala dekat, saling menjaga kehormatan dikala jauh, saling menghibur dikala duka, saling mengingatkan dikala bahagia, saling mendoa’akan dikala kebaikan & ketakutan, saling menyempurnakan dikala peribadatan.

Ya Allah…
Sempurnakanlah kebahagiaan kami dengan menjadikan perkawinan ini sebagai ibadah kepada-Mu, dan bukti kepengikutan dan cinta kami kepada sunnah keluarga Rasul-Mu. Amin