Senin, 18 Oktober 2010

Pelajaran Dari Semut

Tentu sudah tak asing lagi membaca dan mendengar sebuah peribahasa yang menyebutkan ‘ada gula ada semut’. Nah, kali ini aku bukan hendak mengartikan peribahasa ini secara tersirat tetapi lebih kepada artinya yang tersurat. Memang sudah lazim kalo semut suka yang manis-manis. Jadi sudah tak heran lagi jika ada makanan manis yang langsung dirubung oleh semut.

Tapi semut jaman dulu rasanya berbeda dengan semut jaman sekarang. Apalagi semut-semut di daerah perkotaan seperti Jakarta. Kelihatannya semut-semut ini sangat kelaparan. Mereka selain suka yang manis-manis juga menyukai hampir semua jenis makanan yang kita makan. Terkadang kita dibuatnya kesal. Padahal hal yang dilakukan semut–semut itu adalah akibat dari terdesaknya lahan mereka yang banyak diserobot oleh manusia di kota. Salah siapa?



Aku jadi teringat sebuah kejadian di bulan Ramadhan yang baru saja kita lewati bersama. Selepas menunaikan sholat tarawih aku sering membawa makanan kecil yang belum sempat aku makan saat berbuka puasa ke dalam kamarku.

Kuletakkan makanan itu di atas meja karena aku berniat memakannya beberapa menit kemudian. “Rebahan dulu deh,” pikirku sejenak. Namun rasa kantuk yang merajalela membuat aku langsung terlelap dan melupakan makanan yang kutaruh di atas meja.

Saat waktu sahur tiba, kulirik piring makananku. Wah, semut-semut hitam sedang asyik berpesta pora melahap makanan yang belum sempat aku sentuh tadi malam. Yah, beginilah jadinya kalau ketiduran.

Rupanya kebiasaan membawa makanan ke kamar terus berlanjut keesokan harinya. Tapi kali ini tekadku lebih kuat untuk langsung menyantap kue-kue sebelum diserobot oleh para semut. Tapi apa daya, lagi-lagi kantukku mengalahkan nafsu makanku. Alhasil, pasrah sudah jika sahur tiba menemukan piring makananku penuh dirubung segerombolan semut yang sedang lapar. Yah, alamat dimakan semut lagi deh! Pikirku kemudian.

Ternyata prasangkaku keliru. Makananku tetap bersih, tak ada seekorpun semut yang datang menghampiri piringku. Lho, kenapa bisa begitu ya? Aku terheran-heran bercampur rasa gembira melihat makananku utuh dan bersih.

Aku berusaha mencari jawaban mengapa kali ini semut-semut tak bernafsu melahap makananku. Astagfirullohal’adziim!! Apa yang telah aku lakukan? Keherananku terjawab sudah. Rupanya, karena mengantuk aku telah lalai meletakkan piring makananku di atas sebuah kitab suci Al-Qur’anul Karim!

Aku jadi teringat dua buah kisah nyata di belahan bumi yang lain tentang kesucian Al-Qur’an yang memang telah dijamin oleh Yang Maha Kuasa.

Begini kisahnya, beberapa tahun silam di Pakistan ditemukan sebuah Al-Qur’an berusia sangat tua yang tidak dimakan oleh rayap. Bagian pinggir/tepi Al-Qur’an memang sudah terkikis habis oleh rayap, namun bagian kertas yang bertuliskan kalam Illahi tetap utuh tak tersentuh gigitan rayap. Sehingga jika dibuka lembar per lembarnya terlihat unik seperti sebuah karya seni bordir yang meliuk-liuk bertuliskan hurup arab. Rayap tak berani menyentuh ayat-ayat yang suci dari Sang Pencipta.

Lain lagi dengan sebuah peristiwa yang menakjubkan tentang terbakarnya sebuah mobil di tepi jalan raya di daerah Timur Tengah. Mobil yang telah berubah menjadi rongsokan itu tidak menyisakan apa-apa. Seluruh bagian mobil hangus terbakar berikut rangka besinya. Namun tak disangka tak diduga di dalamnya ditemukan sebuah Al-Qur’an yang masih tetap utuh tak tersentuh api padahal sekelilingnya sudah berubah menjadi abu. Subhanalloh! ALLOH Hafidz.

“Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan Al-Qur’an, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya.” (QS 15 : 9)
“Qaaf. Demi Al-Qur’an yang sangat mulia.” (QS 50 : 1)

Ah, malunya hati ini jika mengingat kejadian malam itu. Seharusnya aku lebih berhati-hati dalam bertindak. Semut-semut saja tidak berani menaiki Al-Qur’an yang mulia dan suci, sedangkan aku telah sembarangan meletakkan makanan di atas Al-Qur'an. Ampuni aku, yaa Rabb atas kelalaianku. Aku akan berusaha untuk tidak gegabah lagi dalam berindak. Dan satu hal yang ingin aku ucapkan untuk para semut di kamarku. “Terima kasih semut-semut hitam, hari itu kau telah memberiku pelajaran berharga”.

Wallohua’lam bishshowaab

Mira Kania Dewi

Jangan Jadi "Miss Komplain"

Pernahkah Anda menghitung berapa kali Anda mengeluh dalam satu hari, mulai dari bangun tidur sampai tidur lagi. Jika dibuat daftarnya, bisa jadi sepanjang hari itu kita lebih banyak mengeluh dari hal-hal yang sepele di rumah sampai hal-hal yang berat di tempat kerja atau di lingkungan tempat kita tinggal.

Suatu hal yang wajar jika sesekali kita mengeluh, karena sudah menjadi kodrat manusia suka berkelu kesah seperti disebutkan dalam Surat Al-Ma'arij ayat 19-21, "Sesungguhnya manusia itu diciptakan dengan sifat suka mengeluh. Apabila ditimpa musibah dia mengeluh dan apabila ditimpa kesenangan berupa harta ia jadi kikir." Tapi yang sering terjadi adalah, tidak ditimpa musibah pun kita kadang sering mengeluh. Jalanan macet kita mengeluh, padahal kita tahu bahwa kemacetan adalah pemandangan sehari-hari di kota Jakarta. Pekerjaan rumah tangga menumpuk karena tidak ada pembantu, kita mengeluh. Anak rewel, kita mengeluh. Tugas di kantor bertambah, kita mengeluh. Seolah semua hal jadi bahan keluhan.


Padahal kalau ditelaah, banyak hal-hal yang kita keluhkan hanyalah urusan dunia, karena ketidakpuasan kita terhadap hal-hal yang bersifat duniawi. Tapi manusia memang sudah terbiasa banyak mengeluh, hingga kadang lupa mensyukuri hal-hal yang kita anggap tidak penting padahal sangat penting. Sebut saja nikmat sehat. Pernahkah kita bersujud dan mengucap syukur dengan tulus karena Allah telah memberi nikmat sehat setiap hari sehingga kita bisa melakukan aktivitas dengan lancar. Jika pun ada hambatan, seharusnya tidak membuat kita jadi mengeluh tapi melihatnya sebagai ujian dan tantangan.

Sebagai makhluk yang lemah, setiap manusia tentu saja suatu waktu pernah mengeluh, sadar atau tidak sadar. Asalkan tidak menjadi kebiasaan dan akhirnya menjadi karakter yang bakal sulit dihapus dari kepribadian seseorang. Orang yang memiliki karakter suka mengeluh akan berdampak pada munculnya suasana yang tidak nyaman bagi lingkungan dan orang di sekitarnya. Pernahkah Anda berjumpa dengan orang yang tabiatnya suka mengeluh dan Anda merasakan sangat tidak nyaman bahkan jengkel berada di dekatnya.

Kita memang harus waspada dengan sifat suka mengeluh ini, jika tidak ingin sifat buruk ini menjelma menjadi bagian dari karakter. Untuk itu perlu latihan pengendalian diri agar tidak selalu melontarkan keluhan Bagaimana caranya?

1. Biasakan menyampaikan keluh kesah pada Allah semata
Ketika kita ditimpa kemalangan atau musibah, lebih baik kita menyampaikan keluh kesah dan kegundahan hati kita pada Allah Swt. Karena Dia-lah Yang Mahatahu segala persoalan dan kegundahan dalam jiwa kita. "Sesungguhnya hanyalah kepada Allah aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku, dan aku mengetahui dari Allah apa yang kamu tiada mengetahuinya," (QS Yusuf;86).

2. Kita bisa berkeluh kesah pada orang lain, hanya jika keluh kesah itu merupakan hal yang penting.
Ini mungkin berkaitan dengan upaya Anda untuk mendapatkan hak Anda, atau hak orang lain yang Anda kenal. Kadang memiliki keluhan dan menyampaikan keluhan pada orang lain itu penting, asalkan disampaikan dengan baik-baik dan tidak berlebihan.

3. Bicarakan solusi yang praktis
Daripada mengeluh tiada akhir, lebih baik memikirkan atau membicarakan solusi praktis atas permasalahan yang kita hadapi. Tidak ada masalah yang tidak bisa dicari solusinya. Jika menemui jalan buntu, mohonlah bantuan pada Allah Swt.

4. Jangan membesar-besarkan hal yang kecil
Anas bin Malik berkata, "Saya melayani Rasululullah Saw. selama dua puluh tahun dan beliau tidak pernah mengatakan 'ahh' pada saya. Dan beliau tidak pernah mengatakan apapun yang tidak saya lakukan, 'mengapa kamu tidak melakukannya?' atau apapun yang telah saya lakukan, 'mengapa engkau melakukan itu?'" (HR Muslim). Jadi biarkan saja hal-hal sepele yang tidak penting itu lenyap dan tidak lagi mengganggu pikiran kita.

5. Bicaralah tentang nikmat Allah
Daripada memilih membicarakan segala sesuatu yang salah dalam hidup Anda, pilihlah topik pembicaraan tentang hal-hal yang menyenangkan dalam hidup Anda. Dengan bersikap seperti ini, bukan hanya membantu Anda menghindar dari keluhan, tapi juga mematuhi perintah Allah untuk selalu mensyukuri nikmat Allah, "Lalu nikmat Allah manakah yang engkau dustakan?".

6. Ingatlah mereka yang kurang beruntung
Salah satu cara untuk menyentak kita kembali untuk melihat realitas dan menghargai berkah yang Allah berikan pada kita adalah mengingat mereka yang kurang beruntung dari kita.. Bacalah berita-berita tentang orang lain yang menderita di Asia, Afrika, dan seluruh dunia. Bacalah tentang kehidupan anak yatim piatu di Palestina, tentang kehidupan para tunawisma di lingkungan kita sendiri. Sesekali berinteraksilah dengan mereka dan jangan menenggelamkan diri dalam rasa putus asa, tetapi menggunakan cerita mereka sebagai alat untuk bersyukur dan bersyukur kepada Allah atas apa yang kita miliki.

7. Kurangi stres dalam hidup Anda
Kita mungkin mengeluh karena kita mengalami stres yang cukup berat dalam kehidupan ini. Anda perlu tempat untuk menyendiri. Berhentilah sejenak, carilah tempat yang tenang untuk bersantai, duduk di ruang yang gelap, tarik napas dalam-dalam selama beberapa menit, berjalan-jalan di luar rumah, mendengarkan lagu-lagu nasheed dan membaca beberapa Al Qur'an akan memberikan ketenangan bagi hati dan pikiran yang sedang tertekan.

8. Bacalah kisah-kisah dalam Sirah, catatlah bagian-bagian yang penting dan pengalaman para nabi, sahabat nabi dan generasi-generasi muslim di masa lalu, belajarlah dari pengalaman, sikap dan cara mereka menghadapi masalah.

9. Bicarakan masalah-masalah lain yang lebih penting
Misalnya hal-hal baru yang mengundang minat Anda untuk belajar, proyek-proyek untuk pekerjaan Anda atau pengalaman jalan-jalan melihat keindahan alam yang membuat Anda merenungkan keindahan ciptaan Yang Mahakuasa.

10. Ceritakan pengalaman-pengalaman lucu yang pernah Anda alami, asal bukan cerita bohong.
Ketika berkumpul bersama teman atau keluarga, akan lebih ceria jika kita mendengar cerita-cerita lucu daripada mendengar keluhan, yang mereka sendiri tidak bisa membantu memberikan jalan keluar. Ceritakanlah hal-hal ringan yang lucu dan berkesan yang pernah Anda alami, ini akan membuat suasana dan orang di sekeliling Anda lebih menyenangkan.

11. Kenali sikap suka mengeluh yang jadi kebiasaan
Perhatikanlah selalu perkataan kita dari waktu ke waktu, apakah kita merasakan bahwa mengeluh lebih merupakan kebiasaan dari suatu usaha yang berguna? Mengakui hal itu sebagai kebiasaan adalah langkah pertama yang penting untuk mulai melawan sikap suka mengeluh.

12. Cari lingkungan yang lebih baik
Apakah kita merasakan lebih banyak mengeluh jika kita berada di sekitar orang-orang tertentu? Mungkin itu karena kita tidak memiliki banyak kesamaan minat dengan orang-orang tersebut, atau karena mereka tidak tertarik untuk bersikap positif dan berterima kasih. Jika itu terjadi, maka sudah saatnya kita mencari lingkungan teman yang lebih baik.

13. Sedikit Bicara
Umumnya, jika kita sudah mencoba segala sesuatu yang kita pikirkan dan masih menemukan diri kita terlalu banyak mengeluh, mungkin itu karena kita sudah terlalu banyak bicara. Jangan biarkan setan yang mengarahkan kita untuk bicara hal-hal yang tidak berguna atau berbahaya. Pertahankanlah kelembaban lidah dengan selalu mengingat Allah. Bertobatlah kepada-Nya dan bershalawatlah atas nama Rasulullah Saw. sesering mungkin.

Senin, 04 Oktober 2010

Tutup Mata, Telinga dan Mulutmu!

Di manapun kita berada sering kita bertemu dengan orang yang punya sipat temperamental, mudah tersinggung atau egois, maunya menang sendiri. Manusia yang satu ini kalau dalam kaca agama memang harus dikasihani, karena dia sendiri tak tahu apa kesalahannya. Nah, repotkan kalau orang hanya pandai menyalahkan orang, tanpa mengetahui kesalahan diri sendiri.

Terkadang dalam pergaulan sehari-hari, ada saja kita menemukan orang yang tak sependapat dengan kita dan dianya nyerocos seprti air dari slang mobil pemadam kebakaran yang begitu menyembur sukar dihentikan dan perlu dua tiga orang untuk menangainya. Dalam kaca mata orang seprti ini, kita atau orang lain di sekitarnya tak ada yang benar, salah melulu, karena memang yang dicari adalah kesalahan orang lain; orang seperti ini selalau merasa benar sendiri, semua orang salah, kecuali dirinya.



Untuk menghadapi orang yang seperti ini ada tiga cara. Karena orang yang seperti ini bukan hanya berada pada level tingkat bawah, menengah, tapi juga ada pada level atas, yaitu para pejabat negara atau para eksekutif di berbagai perusahaan, baik kecil maupun besar. Siapapun orangnya kalau punya tipe semacam ini, biasanya dalam pekerjaan ada rasa tidak nyaman, karena tiada hari tanpa omelan orang ini, tiada hari tanpa menyalahi orang lain, tiada hari tanpa keributan, loh kok bisa ? Loh iya, habis yang dicari kesalahan orang melulu, perkara kecilpun menjadi besar di mulut ceriwis seperti ini, ya boleh kita sebut "mulut nenek lampir."

Ibarat pepatah:" semut di seberang lautan nampak, gajah di pelupuk mata tidak kelihatan. " Itulah orang yang selalu memakai " kaca mata negatif " salah, salah dan salah untuk orang lain, benar hanya untuk dirinya sendiri. Orang seperti ini juga dalam diskusi selalu mencari kesalahan orang, tapi tak mau menyadari bahwa dirinya juga punya kesalahan, tidak selamanya benar. Bahkan sering kali orang seperti ini, tanpa tedeng aling-aling akan "menghantam" orang dengan kata-kata yang kasar di hadapan orang banyak, di depan umum, sehingga orang yang "dihantamnya"pun merasa malu! Dan anehnya orang seperti ini biasanya puas, kalau sudah sumpah serapahnya keluar, caci makinya berhamburan, tanpa merasa bersalah sedikitpun!

Nah menghadapi orang seperti ini kita pakai tiga cara:

Pertama, tutup mata. Anggap saja kita tak melihat apa yang dilakukan oleh orang yang berjiwa kerdil seperti ini; misalnya saja sudah menjadi pejabat negara dan sudah duduk di kursi terhormat, tapi kata-katanya kotor, kasar, keras dan galak! Sepertinya hanya dia yang bisa marah dan orang lain pantas dimarahi, kecuali dia sendiri. Kita tutup mata terhadap orang yang mempunyai sipat seperti ini, karena kalau kita melihatnya, kita menjadi jengkel, bahkan mungkin juga" tersulut " untuk ikut marah-marah dan mencaci maki orang!

Kedua, tutup telinga. Anggap saja kita tak mendengar apa yang dikatakan, kita "tulikan" telinga kita dari suara-suara keras, kotor, jorok dan lain sebagainya dari orang ini. Karena kalau kita menndengarkannya, orang ini akan semakin nyerocos mulutnya, mulutnya tak dapat disumbat oleh apapun. Nah biasanya kalau kita" tulikan " pendengaran kita, maka orang seperti ini, biasanya akan menjauh, karena suara yang keluar mulutnya, dicueki, dianggap angin lalu.

Ketiga, tutup mulut. Nah sekarang kita melakukan aksi tutup mulut, kita diamkan orang yang menyerocos bagai " nenek lampir " ini. Kita tak membalas, mulut kita diam, tak berkomentar apapun dan tak membalas kata-kata kasar, kotor dan jorok dari orang ini. Kita jadikan tontonan yang menarik, kita liatin aja ketika orang ini marah-marah, yang kadang-kadang tanpa sebab yang kita ketahui, tahu-tahu di depan kita dia marah-marah. Sebentar-sebentar marah dan marahnya tidak sebentar!

Jadi gerakan tutup mata, tutup telinga dan tutup mulut untuk menghadapi siapapun orang yang punya watak temperamental, insya Allah akan berhasil. Karena sekali lagi orang yang suka mencari kesalahan orang hidup tak mungkin bahagia, karena dihatinya penuh kotoran dan biasanya akan keluar melalui lisannya atau bahkan tulisannya. Orang yang" hobyinya " suka mencari kesalahan orang ibarat melihat seorang bapak dan anak dengan keledainya.

Bapak yang naik keledai, salah, " orang tua tak tahu diri, anaknya di suruh nuntun keledai, sedangkan dia enak-enakan duduk di atas keledainya! "

Anak yang naik keladai, salah, " ini anak kurang ajar, masa bapaknya yang sudah tua di suruh jalan kaki, sedangkan dia, enak-enakan duduk di atas keledai! "

Bapak dan anak, keduanya naik keledai, inipun salah, " anak beranak ini memang tak punya rasa kasihan, keledai kecil seperti itu dainaiki berdua, terlalu! "

Bapak dan anak kemudian menuntun keledai mereka, inipun masih salah, " ya, bapak dan anak sama bodohnya, punya keledai kok di tuntun saja, bukan dinaiki, kan lumayan, tidak jalan kaki!

Karena sangat kesalnya, begini salah, begitu salah, akhirnya bapak dan anak ini mencari kayu, kemudian keledainya mereka ikat dan mereka pikul, " bapak dan anak sudah gila!, punya keledai kok tidak naiki, eh malah dipikul! "

Mungkin anda pernah mendengar cerita itu, siapapun tokohnya, tak penting, yang penting adalah hikmah dari cerita tersebut, dimana kalau kita mendengarkan, memperhatikan dan mencoba berdialog dengan orang yang "kacamata" negatif, apapun yang kita lakukan adalah salah, karena yang dicari memang kesalahannya, bukan kebenarnnya! Maka menghadapi orang semacam itu kita pakai kiat: tutup mata, tutup telinga dan tutup mulut kita!

Tapi kalau bertemu dengan yang punya" kaca mata " atau berpandangan positif, maka yang kita lakukan adalah membuka mata, membuka telinga dan membuka mulut untuk berdialog dan berbagi kebenaran, bukan kesalahan!

Dengan kaca mata positif atau kaca mata hikmah ( pernah saya tulis diruang ini juga ) kita tak mudah emosi, tak marah, tak mudah tersinggung dalam bergaul di masyarakat banyak, karena apapun berita yang kita terima akan disaring lebih dahulu dan bila berhadapan orang yang emosin tadipun, ita akan tetap tenang dan berpedoman pada tiga hal diatas, tutup mata, telinga dan mulutmu!

Syaripudin Zuhri

I Know What You Did On Millist?

Dalam kamus psikulogi, Dictionary of Beahavior Science menyebutkan ada enam pengertian dari komunikasi itu. Dan dari salah satu pengertiannya itu, adalah penyampaian atau penerimaan signal atau pesan oleh organisme. Karena itu dengan komunikasi kita membentuk saling pengertian dan menumbuhkan persahabatan, memelihara kasih sayang, menyebarkan pengetahuan dan melestarikan peradaban. Tetapi dengan komunikasi kita juga bisa menyuburkan perpecahan, menghidupkan permusuhan, menanam kebencian, mencintai kemajuan dan menghambat pemikiran.



Sehingga begitu sangat pentingnya, begitu meluas dan begitu akrab komunikasi dengan diri kita sehingga kita semua merasa pula lagi mempelajari komunikasi. Halnya pun dengan media yang bernama millist yang saat ini lagi marak di dunia maya ini. Millist menurut kacamata minus saya (maklum karena sampai saat ini saya masih berkacamata minus). Adalah sebuah wadah forum interaksi di dunia maya. Dimana kita saling berbagi, curhat (baca:curhatan hati) sesama user millist, dan saling berbagi informasi kepada khalayak pada umumnya pengguna millist. Sehingga akan terjadi saling interaksi sesama pengguna media tersebut. Lalu bagaimana jika terjadi hal yang tidak diinginkan bahkan sampai mengharukan hingga hal pencemaran nama baik dalam wadah media interaksi dunia maya itu—yang sering kita sebut millist itu bila terjadi? Hmm…menurut saya hal ini mengingatkan saya pada seorang ibu rumah tangga beranak dua anak itu. Prita Mulyasari, begitu nama ibu muda dua anak itu—yang namanya sempat membuat heboh diberbagai media massa. Entah, di media massa, surat kabar maupun di televisi.

Bukan! Bukan! Bukan itu yang menghebohkan namanya. Bukan karena kecantikannya, bukan karena prestasinya apalagi bukan karena ia seorang pejabat yang tersangkut korupsi. Bukan itu yang menyebabkan kehebohan seorang Prita Mulyasari diberbagai media massa.

Hanya karena sebuah keluhannya ketika ia dirawat di salah satu Rumah Sakit berkapasitas International. Surat atau tulisan yang semula hanya ditujukan ke beberapa temannya itu ternyata beredar ke pelbagai millist dan di dunia maya, internet dan—diketahui oleh pihak manajemen Rumah Sakit itu. Sehingga sempat ditahan di Lembaga Pemasyarakatan Wanita Tangerang sebagai tersangka kasus pencemaran nama baik Rumah Sakit berskala Internasional itu. OMG (baca: o-em-ji!) hingga membuat jantung saya sampai lompat.

Sebegitunyakah? Hanya karena sebuah keluhan atau sebuah uneg-uneg seorang ibu muda beranak dua ketika ia di rawat di sebuah Rumah Sakit. Sehingga ia divonis terbukti melanggar Pasal 27 ayat 3 Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik, yang isinya, “Setiap orang dengan sengaja dan tanpa hak mendistribusikan dan/atau mentransmisikan dan/atau membuat dapat diaksesnya informasi elektronik dan/atau dokumen elektronik yang memiliki muatan penghinaan dan/atau pencemaran nama baik.” Sungguh saya yang melihat membaca dan melihat diberbagai media tentang berita itu saya sempat terharu. Bahkan mata saya sempat berkaca-kaca.

Terus terang saya ketika melihat dan membaca berita itu merasa prihatin dan bersimpati. Saya rasa hal itu tak pernah terjadi dan tak layak terkena saksi hukuman seberat itu, hingga sampai masuk penjara.

Tapi dengan ada hal itu mungkin kita sebagai yang bergelut di dunia maya. Entah, baik yang menggunakan jejaringan sosial Facebook (baca: FB), berbagai blogg (Multiply, Bloggspot, Word Press, My Space dll) maupun media millist terutama. Kita sebagai pengguna media tersebut seharusnya perlu mengontrol diri, intropeksi diri dan menjadikan hikmah untuk kita semua, khususnya saya pribadi. Janganlah peristiwa yang dialami seorang Prita Prita Mulyasari bisa menimpa siapa saja, kita, Anda semua maupun saya khususnya yang suka sekali berselancar di dunia maya. Entah, FB, berbagai blogg maupun millits. Karena saya adalah seorang penulis dan mahasiswa yang kapan saja membutuhkan berita dan informasi di dunia maya itu. Mungkin kita juga mesti semakin hati-hati. Apalagi ketika menggunakan media dunia maya itu. Entah, Facebook (baca: FB), berbagai blogg (Multiply, Bloggspot, Word Press, My Space dll) maupun media millist terutama Karena musuh di luar sana semakin pintar. Kita juga harus semakin cerdik.

Ya, saya jadi ingat apa kata almarhum bapak saya ketika masih menginjak bangku SD. Suatu hari saat saya sedang menonton televisi di ruang tamu bersama-sama dengan beliau. Bapak saya itu bilang,” Ingat kamu, Yan, dalam hidup tidak semua orang menyukai diri kita. Mungkin suatu hari nanti kita akan mengalaminya. Entah, itu dikhianati rekan kerja, rekan bisinis maupun sahabat sendiri. Untuk itu jadilah orang yang pintar bergaul dalam memilih kawan. Biar dikata kuper yang penting asal kita selamat dan tidak merugikan orang lain itu lebih baik.” Begitu katanya kepada saya. Dan perkataan itu pun sekarang masih hinggap di benak saya hingga sekarang.

Pun pula pepatah bijak mengatakanjuga. Dalamnya laut bisa diukur. Namun dalamnya hati (manusia) siapa yang tahu. Rambut boleh sama hitam tetapi hati belum tentu sama. Begitu pun pendapat tentang kita saling berbagi, curhat (baca:curhatan hati) sesama user millist, dan saling berbagi informasi kepada khalayak pada umumnya pengguna millist. Kita juga harus mempunyai tata etika ber-informasi dan transaksi elektronik. Alih-alih jika kita tidak mempunyai atau tidak mentaati hal untuk menyampaikan informasi dan saling berbagi kita sepatutnya harus mawas diri dan berhati-hati ketika curhat, berkeluh kesah, menyampaikan informasi dan juga memberi saran atau balasan di setiap e-mail yang bertaburan di berbagai millist.

Saling menghargai dan menghormati itulah yang harus kita pegang selaku pengguna millist khususnya. Apalagi hal ini pernah saya alami kita saya bernaung dan berdiam di sebuah salah satu millits yang saya sendiri menjadi anggota aktif di millist itu. Dimana saya bias saling berbagi, curhat (baca:curhatan hati) sesama user millist, dan saling berbagi informasi kepada khalayak pada umumnya pengguna millist itu.

Hingga suatu hari ada salah satu dari anggota millits yang saya diami itu terjadi suatu konfilk yang membuat semua pengguna millist tersebut merasa tidak nyaman. Konflik itu terjadi ketika salah oknum anggota millist tersebut menyinggung dan menyindir salah satu anggota millist lainnya dalam satu media tersebut. Dan bukan itu saja ternyata itu sudah menyangkut mencemarkan nama baik seorang dan juga keyakinan sesorang untuk berekspresi. Saya yang memebaca dan melihatnya itu hanya mampu bersimpati dan menyayangkan hal itu terjadi. Karena, noda setitik susu rusak sebelang. Seperti itulah akhirnya terjadi. Saling jadi ajang perang argumentasi dan alasan. Mencari siapa yang benar dan siapa yang salah. Benar-benar sungguh disesalkan.

Memang hal ini tak seheboh kasus seorang Prita Mulyasari yang sempat ditahan di Lembaga Pemasyarakatan Wanita Tangerang sebagai tersangka kasus pencemaran nama baik disalah satu Rumah Sakit berskala Internasional. Hmm…benar-benar membuat saya harus berpikir ulang beribu kali jika saya sudah berselancar atau berinteraksi dunia maya khususnya di media maya bernama millist. Apalagi ketika saya sedang curhat, berkeluh kesah, menyampaikan informasi dan juga memberi saran atau balasan di setiap e-mail yang bertaburan di berbagai millist yang saya ikuti sekarang ini. Atau, mungkin yang harus saya lakukan hanya berdiam diri saja? Atau, saya harus membaca lebih dahulu sebelum membaca setiap e-mail yang masuk di inbox pribadi saya? Mencermati lebih dahulu lalu memberi pesan dan kesan yang baik agar tidak terjadi hal yang dinginkan? Entahlah, tetapi kita sebagai seorang yang makhluk sosial tentunya sudah mengetahui hal ini. Kita hidup di negeri tercinta ini bukan hanya kita sendiri yang berpijak dan hidup tetapi jutaan jiwa manusia di bumi Indionesia ini. Baik dari suku, agama sampai adat istidat. Tentunya saling menghargai dan menghormati itu perlu dilakukan. Apalagi bagi selaku pengguna millist khususnya. Tentu hal itu harus dipraktekan dan diperhatikan!

Lalu, bagaimana dengan Anda sendiri saat ketika menggunakan media dunia maya itu. Entah, Facebook (baca: FB), berbagai blogg (Multiply, Bloggspot, Word Press, My Space dll) maupun media millist terutama. Apakah Anda sudah melakukan hal itu semua seperti apa yang saya ungkapkan di atas? I Know What You Did On Millist!


Fiyan Arjun

Senin, 30 Agustus 2010

Rahasia Berbuka Puasa dengan Kurma

Kurma adalah buah yang berkah yang telah diwasiatkan kepada kita dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam untuk memulai buka puasa kita pada bulan Ramadhan dengannya. Dari Salman bin ‘Amir radhiyallahu 'anhu, bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:
" إذا أفطر أحدكم فليفطر على تمر ، فإنه بركة ، فإن لم يجد تمرا فالماء ، فإنه طهور " رواه أبو داود والترمذي .

”Apabila salah seorang di antara kalian berbuka, hendaklah berbuka dengan kurma, karena dia adalah berkah, apabila tidak mendapatkan kurma maka berbukalah dengan air karena dia adalah bersih.” (HR. at-Tirmidzi dan Abu Dawud rahimahumallah)




وعن أنس رضي الله عنه أن النبي صلى الله عليه وسلم كان يفطر قبل أن يصلي على رطبات ، فإن لم تكن رطبات فتميرات ، فإن لم تكن تميرات حسا حسوات من الماء " رواه أبو داود والترمذي .

Dan dari Anas radhiyallahu 'anhu, sesungguhnya Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam berbuka sebelum shalat (maghrib) dengan memakan beberapa ruthab (kurma segar/basah), apabila tidak mendapatkan mendapatkannya maka beliau berbuka dengan tamr (kurma kering). Dan apablia tidak mendapatkannya maka beliau berbuka dengan beberapa teguk air.”

Dan tidak diragukan lagi bahwa di balik sunah Nabi ini ada petunjuk medis, faidah kesehatan, dan hikmah yang besar. Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam telah memilih makanan-makanan di atas di antara sekian makanan yang ada, dikarenakan faidah yang bnyak yang berkaitan dengan kesehatan, dan bukanlah dikarenakan banyaknya ha-hal tersebut di lingkungan beliau shallallahu 'alaihi wasallam.

Maka ketika seorang yang berpuasa memulai berbuka, aktiflah jaringan-jaringan dalam tubuh, dan mulailah jairngan pencernaan bekerja, khususnya lambung yang harus diperlakukan dengan pelan dan dibangunkan dengan lembut. Dan orang yang berpuasa pada kodisi itu membutuhkan sumber zat gula dengan cepat, yang bisa menghilangkan lapar, seperti ketika membutuhkab air.

Dan unsur makanan yang paling cepat untuk dicerna dan paling cepat masuk ke dalam darah adalah zat gula, khususnya yang terkandung di dalamnya monosakarida (sukrosa ) dan duosakarida (glukosa) karena badan kita dapat dengan mudah dan cepat menyerapnya dalam waktu beberapa detik saja. Lebih-lebih apabila lambung dan usus-usus dalam keadaan kososng sebagaimana hal itu adalah kondisinya yang berpuasa.

Seandainya engkau mencari makanan yang lebih baik yang bisa mewujudkan tujuan ini bersamaan (menghilangkan lapar dan haus), maka engkau tidak akan mendapatkan yang lebih baik dari sunnah Nabi yang menganjurkan orang yang berpuasa untuk memulai berbuka dengan makanan yang mengandung glukosa yang manis yang kaya dengan air seperti ruthab (kurma segar/basah) atau tamr (kurma kering) yang dicelupkan kedalam air.

Telah muncul sebuah penelitian kimiawi dan biologi bahwa sepotong dari kurma yang dimakan setara dengan 85-87% dari beratnya. Dan itu mengandung 20-24% air, 70-75%zat gula, 2-3% protein, 8,5% serat dan kadar lemak yang rendah.

Sebagaimana juga penelitian menetapkan bahwa ruthab mengandung 65-70% air, dari berat bersihnya, 24-58 % zat gula, 2-2,1 % protein, 5,2 % serat dan kadar lemak yang sedikit.

Dan hasil yang terpenting dari penelitian kimiawi ini, sebagaimana disebutkan oleh Dr. ‘Abdurrouf Hisyam dan Dr. ‘Ali Ahmad asy-Syahat adalah sebagai berikut:

1. Mengkonsumsi ruthab atau tamr ketika memulai berbuka puasam, memberikan suplai kadar zat gula yang besar bagi tubuh dan menghilangkan gejala kekurangan zat gula (hipoglikemia) danmemebrikan semanagat bagi tubuh.

2. Kosongnya lambung dan usus dari makanan membuat keduannya (usus dan lambung) mampu untuk menyerap zat gula sederhana ini dengan sangat cepat.

3. Kandungan unsur gula dalam bentuk kimiawi yang sederhana yang terkadung di dalam ruthab dan tamr membuatnya mudah untuk dicerna, karena 2/3 dari unsur gula (glukosa) terdapat dalam kurma dalam bentuk susunan kimiawi yang sederhana. Dan demikianlah naiklah kadar gula dalam darah dalam waktu singkat.

4. Adanya kurma yang direndam dengan air, dan ruthab yang mengandung prosentasi air yang tinggi 65-70 % (65-70%) yang menyediakan air bagi tubuh dengan prosentase yang baik, maka tidak perlu minum air dalam jumlah besar pada saat berbuka.

(Sumber: diterjemahkan dari أسرار الإفطار على تمر oleh Abu Yusuf sujono)

Selasa, 10 Agustus 2010

Puisi Jelang Ramadhan

Marhaban ya ramadhan
Selamat datang bulan suci
Namamu senantiasa di hati
Kedatanganmu selalu dinanti
Fadhilah dan ganjaranmu ramai dicari
Ibadahmu diberkati
dan kepergianmu pun ditangisi
Selamat menggapai ridha ilahi

Segagah apapun diri,
bukanlah pahlawan jika nafsu tak dapat dilawan.

Setinggi apapun derajat,
bukanlah mulia jika tak ada iman di dada.

Setinggi langitpun ilmu,
bukanlah bijaksana jika tak diamal dan diguna.

Sealim apapun akhlak,
bukanlah ulama jika takabur dan riyak.




Moga Allah jadikan subuhmu ceria,
Dhuhurmu bahagia,
Asarmu terpelihara,
Maghribmu bermakna
dan Isyakmu memberi keberkahan selamanya.
 

Moga doamu tidak ditolak, rezekimu diluaskan
dan dibuka pintu syurga yang tiada tandingan.

Kamis, 05 Agustus 2010

Mohon Maaf Lahir & Bathin



Menuju Pintu Gerbang RAMADHAN 1431 H, 
Kami sekeluarga mohon dibukakan pintu maaf atas segala salah dan khilaf yang kami lakukan selama ini.

Semoga kita bisa memaksimalkan ibadah di bulan berkah, mensucikan hati di bulan suci, dapat meraih ridho illahi dengan pribadi Fitri.


Minggu, 01 Agustus 2010

Ramadhan : Sang Tamu Agung


Allah telah memilih bulan Ramadhan bagi ummat Islam
sebagai satu bulan yang penuh berkah dan mulia
(Dr. Yusuf al-Qaradhawi)

Kedatangan seorang tamu bagi seseorang, apalagi tamu yang membawa segala yang diharapkan pastilah orang itu akan merasa riang dan gembira. Kenapa? Setidaknya, sang tamu dapat memenuhi harapan kita sebagai tuan rumah. Bagi orang yang sudah memiliki keluarga dan anak-anak, kehadiran tamu merupakan hal yang sangat menyenangkan, apalagi sang tamu sudah lama dinanti dan diidam-idamkan dalam waktu yang begitu lama. Belum lagi bila sang tamu tergolong the have. Bukan tidak mustahil sang tamu dapat membantu meringankan beban materil tuan rumah. Begitu pula kiranya -hemat penulis-dengan bulan Ramadhan. Bulan yang mulia, penuh berkah, bertabur pahala dan lipatan ganjaran kebaikan merupakan Sang Tamu Agung yang harus kita sambut dengan senang dan gembira.

Ramadhan adalah tamu yang banyak membawa keberkahan, nikmat, curahan pahala dan berbagai kebaikan. Sangat naïf sekali jika seorang Muslim tidak sadar akan kehadiran Sang Tamu Agung ini. Apalagi kalau sampai lalai dan baru sadar ketika sang tamu sudah akan pergi meninggalkan sang tuan rumah. Bukankah nabi saw. mengatakan bahwa jika seorang tamu datang berkunjung, ia membawa seribu berkah?



Ramadhan : Tamu yang penuh berkah

Allâh telah mewajibkan ibadah puasa kepada kita pada bulan Ramadhan. Tidak mungkin Allâh mewajibkannya pada bulan tersebut, kecuali mengandung rahasia-rahasia yang luar biasa, hikmah yang tinggi, ada yang sudah kita ketahui dan ada yang belum kita ketahui yang sebagian dari hikmah dan rahasia tersebut telah diketahui oleh para ilmuwan sejalan dengan kemajuan zaman (Dr. Yusuf al-Qaradhawi, 1995: 288).
Ada sebagian orang yang merasa berat menjalankan perintah ibadah puasa. Padahal, sesungguhnya, perintah ibadah puasa -yang dari dimensi lahiriah adalah latihan dari menahan diri dari makan, minum dan berhubungan biologis-sama sekali bukanlah sebuah paksaan yang bertujuan untuk menyakiti atau menyengsarakan manusia. Di balik perintah puasa itu justru ada sebuah target, yakni proses penyehatan secara ruhaniah. Dan yang demikian itu sangat penting bagi kelangsungan manusia itu sendiri (Dr. Nurcholish Madjid, 2001: 58).

Diantara hikmah dari perintah menahan lapar, dahaga adalah untuk membersihkan (mensucikan) lambung dan mengolah (melatih) diri (al-nafs). Pembersihan lambung berdasrkan pada sebuah hadîts nabi saw.; Perut yang terlalu penuh dengan makanan adalah sumber penyakit, dan menolak makanan (puasa) adalah awal dari proses pengobatan. Jadi, puasa Ramadhân dapat membersihkan lambung dari sisa-sisa makanan yang dimasukkan ke dalamnya selama setahun
Hujjatul Islam, Imam al-Gazhali berkata bahwa sesuatu yang paling berbahaya bagi anak Adam adalah syahwat perut. Karena syawat tersebut Adam dan Hawa' dikeluarkan dari sorga ke dalam alam yang penuh kehinaan dan kefakiran (dunia). Dan ternyata, perut merupakan gudang segala bentuk syahwat dan tempat bersemayamnya penyakit dan keburukan (bencana) (Muhammad 'Athiyah al-Abrasy, 2002: 102-103).

Menurut al-Qaradhawi juga, ternyata jenis penyakit memang banyak datang dari perut manusia yang mereka penuhi dengan berbagai jenis makanan apa saja yang mereka senangi yang tidak pernah mereka beda-bedakan; apakah makanan tersebut baik atau tidak, halal atau haram; Tidak ada satu tempat pun yang dipenuhi oleh anak Adam yang lebih jelek dari perutnya....(HR. Al-Tirmidzi, dihasankan oleh Ibnu Mâjah dan Ibnu Hibban di dalam Shahihnya) [al-Qaradhâwi, Op.Cit., 290].

Oleh karenanya Nabi saw. menganjurkan umatnya agar memanage perutnya sedemikian rupa, agar tidak dipenuhi oleh makanan dan minuman saja. Namun, perutnya harus dibagi menjadi tiga segmen; satu bagian untuk makanan, satu bagian untuk minuman dan satu bagian lagi untuk dirinya (bekerja, bernafas, berkativitas dan beribadah kepada Allah Swt.).

Sebuah majalah menyebutkan bahwa tiga ratus orang telah terhindar dari penyakit diabetes alias kencing manis karena menjalani proses pengobatan dengan berpuasa. Maka, benarlah apa yang telah diproklamirkan oleh Rasulullâh saw. bahwa berpuasa dapat menyehatkan badan (Shumu Tashihhu; Puasalah niscaya kamu akan sehat (HR. al-Thabrani, Sanad para perawinya adalah tsiqat sebagaimana yang disebutkan di dalam kitab "al-Targhib, karya al-Mundzirî)) [al-Qaradhawi, Ibid., 290].
Di samping itu, puasa juga merupakan sarana untuk memperindah dan menghidupkan hati alias qolbu kita. Karena hati, kata Rasulullah laksana tanaman, akan mati jika terlalu banyak disiram air. Maka jangan kalian hilangkan cahaya hati kalian dengan banyak makan, ujar beliau. Makanya, paramedic kontemporer mengobati penyakit lepra dengan menganjurkan berpuasa kepada pasien sebelum proses operasi dilaksanakan. Ternyata puasa itu merupakan olah-raga spiritual (spiritual sport) yang sangat efektif dan mudah untuk dikerjakan.

Selain dari segi medis, puasa sendiri mengandung banyak keutamaan-keutamaan (al-Fadha'il) yang Allah berikan dan tawarkan bagi siapa yang ingin meraihnya, diantaranya; Tadarrus al-Qur'an, Shalat Tarawih, Sedekah, I'tikaf dan sebagainya. Dan yang paling menggiurkan bahwa Ramadhan memiliki satu malam yang dirahasiakan oleh Allah kehadirannya, yaitu malam Lailatu-l-Qadr; malam seribu bulan.

Adalah hikmah Allah dalam setiap hitungan waktu memiliki nilai dan keistimewaan tersendiri. Dalam satu hari, ada jam istimewa yang diberikan oleh Allah, yaitu jam seperti tiga malam terakhir bagi siapa yang ingin mengerjakan shalat malam. Dalam satu minggu Allah memberikan satu hari istimewa, yaitu hari Jum'at. Dalam satu tahun Allah memberikan satu bulan istimewa -bagi umat Islam, yaitu bulan Ramadhan. Dan di dalam bulan tersebut Allah merahasiakan satu malam yang disebut dengan Lailatu-l-Qadr. Secara Matematis, seribu bulan diperkirakan sekitar 83 tahun.

Subhanallah, bayangkan saudaraku, umur kita saja jarang mencapai angka itu, tapi Allah memberikan nilai pahala sekitar 83 tahun bagi siapa yang menemui atau memperoleh malam yang penuh berkah tersebut. Malam tersebut adalah malam interaksi Allah dengan bumi, turunnya al-Qur'an ke dalam hati nabi-Nya, (QS. 97: 1-5) (Abdur Rahim Thalbah Ahmad: 150).

Ternyata Allah menganjurkan pada malam tersebut dan waktu-waktu istimewa lainnya, agar kita bersungguh-sungguh dalam mencapainya. Dalam bulan ini juga, segala bentuk kebaikan dilipatgandakan dari tujuh puluh kali lipat hingga tujuh ratus kali lipat. Pahala amalan yang sunnah dinilai oleh Allah dengan penilaian ibadah wajib. Allahu Akbar!

Puasa dan Takwa

Target akhir dari ibadah puasa adalah mencapai derajat takwa (QS. 2: 183). Takwa adalah kesejajaran "iman" dan "tali hubungan dengan Allah -dengan kata lain merupakan dimensi vertikal hidup yang benar (Dr. Nurcholish Madjid, Op. Cit., 7).

Ayat 183 dari surat al-Baqarah menjelaskan kepada kita bahwa "takwa kepada Allah" merupakan langkah preventive untuk menghadapi segala macam ketimpangan dan ketidakbenaran langkah manusia dalam lingkungan yang kita sendiri adalah bagian dari lingkuangan tersebut. Bertakwallah kamu kepada Allah di mana pun kamu berada, dan ikutilah kejahatan itu dengan kebaikan niscaya akan menghapuskannya. Dan pergaulilah manusia dengan akhlak yang mulia (HR. Tirmidzi). Hadits tersebut menjelaskan lebih tegas bahwa takwa dan rasa takut kepada Allah merupakan the instrument of self control bagi setiap pribadi Muslim.

Ketika kita menjalankan puasa, di saat berwudhu sebenarnya kita bisa saja korupsi air wudhu; kita telan sedikit ketika kumur-kumur. Rasanya, orang yang berada di samping kita pun tidak akan tahu bahwa kita sedang "korupsi". Tapi kenapa tidak pernah kita lakukan? Karena kita merasa bahwa ada yang mengontrol kita; Allah yang Maha Tahu. Inilah sala satu value dari puasa tadi yang sangat urgen untuk dimiliki dan tidak kita dapatkan di dalam ritual ibadah lainnya. Karena ibadah puasa merupakan ibadah yang bersifat private; yang tidak dapat orang lain mengetahui dan menilainya. Puasa adalah urusan antara Allah dan si pelaku dan Allah sendiri yang bakal menilainya (HR. Ibnu Khuzaimah).

Sungguh Ramadhan merupakan tamu agung yang datang menemui kita umat Islâm. Tamu yang datang membawa limpahan pahala, penggandaan ganjaran, keutamaan-keutamaan ibadah dan sebagainya. Marilah kita sambut kehadirannya dengan hati yang bersih dan dada yang suci. Mudah-mudahan segala yang dibawanya kepada untuk kita benar-benar milik kita yang berguna dan memang kita butuhkan.

Oleh : Qosim Nursheha Dzulhadi

Kamis, 29 Juli 2010

MARHABAN YA RAMADHAN

MarhabanYa Ramadhan...  
Syahrul Mubaarok...
Syahrul Quran, 
Syahrul ukhuwah Islamiyah, 
Syahrul Jihad, 
Syahrut Taubah, 
Syahrut Tarbiyyah dan 
Syahrud Da’wah..



Si Sopak, Si Botak Dan Si Buta

Alkisah :
Pada suatu hari Allah memerintahkan malaikat bertemu dengan tiga orang Bani Israil. Ketiga-tiga mereka cacat; seorang botak, seorang sopak dan seorang lagi buta.

Malaikat yang menyamar seperti manusia itu bertanya pada si-sopak
"Jika Allah hendak kurniakan sesuatu untuk kamu, apakah yang kamu mahu?"
Si-sopak menjawab, "Saya mahu kulit saya sembuh seperti biasa dan diberi kekayaan yang banyak." Dengan takdir Allah, kulitnya kembali sembuh dan dikurniakan rezeki yang banyak.

Kemudian malaikat bertanya pada si-botak soalan yang sama.
Si-botak menjawab, "Saya mau kepala saya berambut dan diberikan harta yang banyak." Tiba-tiba, dengan kurnia Allah si-botak itu kembali berambut dan diberikan harta yang banyak.

Selepas itu malaikat bertanya pada si-buta dengan soal yang sama.
Si-buta menjawab, "Saya ingin bisa melihat dan diberikan harta yang banyak." Dengan takdir Allah, mata si-buta bisa melihat dan dikurniakan kekayaan yang melimpah.



Selang beberapa bulan, Allah memerintahkan kembali malaikat untuk berjumpa dengan ketiga-tiga orang cacat itu. Kali ini malaikat menyamar sebagai peminta sedekah.

Dia berjumpa dengan orang pertama yang dulunya sopak dan meminta sedikit uang. 'Si-sopak' itu tidak menghulurkan sebarang bantuan malah mengherdik malaikat. Malaikat berkata, "Saya rasa saya kenal kamu. Dulu kamu sopak..dan miskin. Allah telah menolong kamu." Si-sopak tidak mengaku. Dengan kuasa Allah, si-sopak yang sombong itu kembali menjadi sopak seperti semula dan kembali menjadi miskin.

Kemudian malaikat berjumpa dengan si-botak yang telah menjadi kaya dan berambut lebat. Kemudian malaikat meminta bantuan, si-botak juga enggan membantu, malahan dia tidak mengaku bahawa dia dulu botak. Oleh sebab sombong dan tidak sedar diri, Allah menjadikan kepalanya botak semula dan kembali menjadi miskin.

Malaikat berjumpa dengan orang buta yang telah diberikan penglihatan. Kemudian malaikat meminta bantuan, si-buta memberikan keseluruhan hartanya dan berkata, "Ini semua harta pemberiaan Allah. Ambillah kesemuanya. Mata saya yang kembali melihat ini adalah lebih berharga daripada kesemua harta ini." Malaikat tidak mengambil pemberian itu. Dia memberitahu bahawa dia adalah malaikat yang pernah datang dulu. Kedatangannya kali ini ialah untuk menguji siapa di antara mereka bertiga yang bersyukur.

''Si-buta yang bersyukur itu terus dapat menikmati kekayaan dan penglihatannya. Sedangkan si-sopak dan si-botak kekal dengan keadaannya yang asal."


Tanbih :
- Allah mengurniakan kesenangan dan keselesaan adalah sebagai ujian untuk melihat siapakah di antara mereka yang bersyukur.
- Manusia yang bersyukur Allah akan tambah kurniaan sebaliknya manusia yang kufur akan diazab oleh Allah.
- Manusia seringkali lupa daratan apabila diberikan kemewahan dan kesenangan.
- Sangat sedikit hamba Allah yang bersyukur.
- Siapa yang tidak bersyukur kepada manusia, dia tidak akan bersyukur kepada Allah.
- Allah memberi kurnia kepada sesiapa yang dikehendakiNya dan menarik nikmat daripada siapa sahaja yang dikehendakiNya.
- Sifat syukur adalah satu sifat yang terpuji, sebaliknya kufur (kufur nikmat) adalah sifat yang dicela oleh Allah.

Hikmah Pentingnya Tidur Siang

Tidur adalah salah satu dari bukti kebesaran Sang Pencipta Tabaraka Wata’ala. Namun, mengapakah Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam memerintahkan kita untuk tidur sebentar di siang hari? Adakah hikmah secara ilmiyah yang terkandung dalam hal tersebut?

Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam telah memerintahkan kita untuk tidur sebentar di siang hari. Beliau bersabda :

قيلوا فإن الشياطين لا تقيل

“Lakukanlah Qailulah (tidur siang), karena sesungguhnya syetan itu tidak melakukan qailulah” (HR. Ath-Thabrani)

Penelitian ilmiyah yang baru telah menunjukkan bahwa tidur siangnya seseorang waktu kerja bisa mengurangi resiko masalah jantung yang berbahaya, dan mungkin fatal. Para peneliti mengatakan bahwa tidur siang (qailulah) di tempat kerja bermanfaat bagi jantung, karena bisa mengurangi stress dan goncangan jiwa, dimana pekerjaan adalah merupakan sumber utama stres.



Pada penelitian yang lain, para ilmuwan menekankan bahwa tidur siang sangatlah penting, agar seseorang bisa mengganti yang kurang dari tidur malamnya. Tidur malam tidaklah cukup dan terkadang bisa berbahaya kalau waktunya terlalu lama.

Oleh karena itu para dokter menyarankan untuk bangun malam disertai dengan melakukan sedikit kegiatan dan agar tidak tidur dengan waktu yang lama, karena itu bisa membahayakan jantung.

Marilah kita renungkan hikmah Nabi yang indah dalam hal tidur siang ini dan renungkanlah ayat yang mulia berikut ini yang telah mengabarkan kepada kita tentang bukti kebesaran Allah pada tidur di malam dan siang hari. Allah Subhanahu Wata'ala berfirman :

وَمِنْ آَيَاتِهِ مَنَامُكُمْ بِاللَّيْلِ وَالنَّهَارِ وَابْتِغَاؤُكُمْ مِنْ فَضْلِهِ إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآَيَاتٍ لِقَوْمٍ يَسْمَعُونَ

“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah tidurmu di waktu malam dan siang hari dan usahamu mencari sebagian dari karunia-Nya.Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang mendengarkan” (Ar-Ruum :23)

Wallahu A’lam

Lilin Harapan

Ada 4 lilian yang menyala,
Sedikit demi sedikit habis meleleh

Suasana begitu sunyi sehingga terdengarlah percakapan mereka.

Yang Pertama berkata :
“Aku adalah Damai
Namun manusia tak mampu menjagaku, maka lebih baik aku memastikan diriku saja!”
Demikianlah sedikit demi sedikit sang lilin padam


Yang Kedua berkata :
“Aku adalah Iman
Sayang aku tak berguna lagi.
Manusia Tak mau mengenalku, untuk itulah tak ada gunanya aku tetap menyala.”
Begitu selesai bicara, tiupan angin memadamkannya.

Dengan sedih giliran Lilin Ketiga bicara :
“Aku adalah Cinta
Tak mampu lagi aku untuk tetap menyala.
Manusia tidak lagi memandang dan mengganggapku berguna.
Mereka saling membenci bahkan membenci mereka yang mencintainya, membenci keluarganya.”
Tanpa menunggu waktu lama, maka matilah lilin ketiga.

Tanpa terduga...

Seorang anak saat itu masuk ke dalam kamar, dan melihat ketiga lilin telah padam. Karena takut akan kegelapan itu, ia berkata :
“Ekh apa yang terjadi?! kalian harus tetap menyala, aku takut akan kegelapan!”

Lalu ia menangis tersebut-sedu. Lalu dengan terharu lilin ke-empat berkata :
“Jangan takut, Janganlah menangis, selama aku masih ada dan menyala, kita tetap dapat menyalakan ketiga lilin lainnya :
Akulah HARAPAN”

Dengan mata bersinar, sang anak mengambil lilin harapan, lalu menyalakan kembali ketiga lilin lainnya.
Apa yang tidak pernah mati hanyalah harapan yang ada dalam hati kita,

...dan masing-masing kita, semoga dapat menjadi alat seperti sang anak tersebut, yang dalam situasi apapun mampu menghidupkan kembali Iman, Damai, Cinta dengan HARAPAN-nya!!!

Jumat, 16 Juli 2010

Su'ul Khatimah - VS - Husnul Khatimah

Aku iri dengan fulan -dalam kisah di bawah ini- yang mati dengan melantunkan bacaan al-Qur'an sebelum menghembuskan nafas terakhirnya. Indah. Akhir hidup adalah potret perjalanan hidup seorang hamba. Adalah tidak mungkin kita berharap bisa demikian bila kita tidak membiasakan tilawah al-Qur'an, atau kita malah terbuai dengan 'suara-suara sampah' ? Nas'alullohal 'afiyah.

Tatkala masih di bangku sekolah, aku hidup bersama kedua orangtuaku dalam lingkungan yang balk. Aku selalu mendengar do’a ibuku saat pulang dari keluyuran dan begadang malam. Demikian pula ayahku, ia selalu dalam Shalatnya yang panjang. Aku heran, mengapa ayah shalat begitu lama, apalagi jika saat musim dingin yang menyengat tulang.

Aku sungguh heran. Bahkan hingga aku berkata kepada’ diri sendiri: “Alangkah sabarnya mereka…setiap hari begitu … benar-benar mengherankan!” Aku belum tahu bahwa di situlah kebahagiaan orang mukmin, dan itulah shalat orang-orang pilihan…Mereka bangkit dari tempat tidumya untuk bermunajat kepada Allah.

Setelah menjalani pendidikan militer, aku tumbuh sebagai pemuda yang matang. Tetapi diriku semakin jauh dari Allah. Padahal berbagai nasihat selalu kuterima dan kudengar dari waktu ke waktu. Setelah tamat dari pendidikan, aku ditugaskan ke kota yang jauh dari kotaku. Perkenalanku dengan teman-teman sekerja membuatku agak ringan menanggung beban sebagai orang terasing. Di sana, aku tak mendengar lagi suara bacaan Al-Qur’an. Tak ada lagi suara ibu yang membangunkan dan menyuruhku shalat. Aku benar-benar hidup sendirian, jauh dari lingkungan keluarga yang dulu kami nikmati. Aku ditugaskan mengatur lalu lintas di sebuah jalan tol. Di samping menjaga keamanan jalan, tugasku membantu orang-orang yang membutuhkan bantuan. Pekejaan baruku sungguh menyenangkan Aku lakukan tugas-tugasku dengan semangat dan dedikasi tinggi.

Tetapi, hidupku bagai selalu diombang-ambingkan ombak. Aku bingung dan sering melamun sendirian…banyak waktu luang…pengetahuanku terbatas. Aku mulai jenuh…tak ada yang menuntunku di bidang agama. Aku’sebatang kara. Hampir tiap’•hari yang kusaksikan hanya kecelakaan dan orang-orang yang mengadu kecopetan atau bentuk-bentult penganiayaan lain. Aku bosan dengan rutinitas. Sampai suatu hari terjadilah suatu peristiwa yang hingga kini tak pernah kulupakan.


Ketika kami dengan seorang kawan sedang bertugas di sebuah pos jalan.Kami asyik ngobrol…tiba-tiba kami dikagetkan oleh suara benturan yang amat keras. Kami mengalihkan pandangan. Teryata, sebuah mobil bertabrakan dengan mobil lain yang meluncur dari arah berlawanan. Kami segera berlari menuju tempat kejadian untuk menolong Korban. Kejadian yarng sungguh tragis. Kami lihat dua awak salah satu mobil daIam kondisi sangat kritis kedua nya segera kami keluarkan dari mobil lalu kami bujurkan di tanah.

Kami cepat-cepat menuju mobil satunya. Ternyata pengemudinya telah tewas dengan amat mengerikan. Kami kembali lagi kepada dua orang yang berada dalam kondisi koma. Temanku menuntun mereka mengucapkan kalimat syahadat Ucapkanlah “Laailaaha Illallaah…Laailaaha Illallaah…” perintah temanku. Tetapi sungguh mengherankan, dari mulutnya malah meluncur lagu-lagu. Keadaan itu membuatku merinding.

Temanku tampaknya sudah biasa menghadapi orang-orang yang sekarat…Kembali ia menuntun korban itu membaca syahadat. Aku diam membisu. Aku tak berkutik dengan pandangan nanar. Seumur hidupku, aku belum pernah menyaksikan orang yang sedang sekarat, apalagi dengan kondisi seperti ini. Temanku terus menuntun keduanya mengulang-ulang bacaan syahadat. Tetapi… keduanya tetap terus saja melantunkan lagu.

Tak ada gunanya… Suara lagunya semakin melemah… lemah dan lemah sekali. Orang pertama diam, tak bersuara lagi, disusul orang kedua. Tak ada gerak… keduanya telah meninggal dunia.

Kami segera membawa mereka ke dalam mobil. Temanku menunduk, ia tak berbicara sepatah pun. Selama pejalanan hanya ada kebisuan, hening. Kesunyian pecah ketika temanku memulai bicara. Ia berbicara tentang hakikat kematian dan su’ul khatimah (kesudahan yang buruk). Ia berkata: “Manusia akan mengakhiri hidupnya dengan baik atau buruk. Kesudahan hidup itu biasanya pertanda dari apa yang dilakukan olehnya selama di dunia”. Ia bercerita panjang lebar padaku tentang berbagai kisah yang diriwayatkan dalam buku-buku Islam. Ia juga berbicara bagaimana seseorang akan mengakhiri hidupnya sesuai dengan masa lalunya secara lahir batin.

Perjalanan ke rumah sakit terasa singkat oleh pembicaraan kami tentang kematian. Pembicaraan itu makin sempurna gambarannya tatkala ingat bahwa kami sedang membawa mayat.Tiba-tiba aku menjadi takut mati. Peristiwa ini benar-benar memberi pelajaran berharga bagiku. Hari itu, aku shalat kusyu’ sekali.Tetapi perlahan-lahan aku mulai melupakan peristiwa itu.

Aku kembali pada kebiasaanku semula…Aku seperti tak pemah menyaksikan apa yang menimpa dua orang yang tak kukenal beberapa waktu lalu. Tetapi sejak saat itu, aku memang benar-benar menjadi benci kepada yang namanya lagu-lagu. Aku tak mau tenggelam menikmatinya seperti sedia kala. Mungkin itu ada kaitannya dengan lagu yang pemah kudengar dari dua orang yang sedang sekarat dahulu.

Kejadian Yang Menakjubkan…

Selang enam bulan dari peristiwa mengerikan itu…sebuah kejadian menakjubkan kembali terjadi di depan mataku. Seseorang mengendarai mobilnya denganpelan, tetapi tiba-tiba mobilnya mogok di sebuah terowongan menuju kota. Ia turun dari mobilnya untuk mengganti ban yang kempes. Ketika ia berdiri di belakang mobil untuk menurunkan ban serep, tiba-tiba sebuah mobil dengan kecepatan tinggi menabraknya dari arah belakang. Lelaki itu pun langsung tersungkur seketika.

Aku dengan seorang kawan, -bukan yang menemani-ku pada peristiwa yang pertama- cepat-cepat menuju tempat kejadian. Dia kami bawa dengan mobil dan segera pula kami menghubungi rumah sakit agar langsung mendapatpenanganan. Dia masih muda, dari tampangnya, ia kelihatan seorang yang ta’at menjalankan perintah agama.

Ketika mengangkatnya ke mobil, kami berdua cukup panik, sehingga tak sempat memperhatikan kalau ia menggumamkan sesuatu. Ketika kami membujurkannya di dalam mobil, kami baru bisa membedakan suara yang keluar dari mulutnya. Ia melantunkan ayat-ayat suci Al-Qur’an…dengan suara amat lemah. Subhanallah!” dalam kondisi kritis seperti, ia masih sempat melantunkan ayat-ayat suci Al-quran? Darah mengguyur seluruh pakaiannya; tulang-tulangnya patah, bahkan:ia hampir mati.

Dalam kondisi seperti itu, ia terus melantunkan ayat-ayat Al-Qur’an dengan suaranya yang merdu. Selama hidup aku tak pernah mendengar suara bacaan’ al quran seindah itu. Dalam batin aku bergumam sendirian: “Aku akan menuntun membaca syahadat sebagaimana yang dilakukan oleh temanku terdahulu… apalagi aku Sudah punya pengalaman” aku Meyakinkan diriku sendiri. Aku dan kawanku seperti kena hipnotis mendengarkan suara bacaan Al-Qurlan yang merdu itu. Sekonyong-konyong tubuhku merinding menjalar dan menyelusup ke setiap rongga.

Tiba-tiba suara itu berhenti. Aku menoleh ke belakang. Kusaksikan dia mengacungkan jari telunjuknya lalu bersyahadat. Kepalanya terkulai, aku melompat ke belakang. Kupegang tangannya, detak jantungnya nafasnya, tidak ada yang terasa. Dia telah meninggal dunia. Aku lalu memandanginya lekat-lekat, air mataku menetes, kusembunyikan tangisku, takut diketahui kawanku. Kukabarkan kepada kawanku kalau pemuda itu telah wafat. Kawanku tak kuasa menahan tangisnya. Demikian pula halnya dengan diriku. Aku terus menangis, air mataku deras mengalir. Suasana dalam mobil betul-betul sangat mengharukan. Sampai di rumah sakit…

Selasa, 13 Juli 2010

SIKAP

Semakin lama saya hidup, semakin saya sadar
Akan pengaruh sikap dalam kehidupan

Sikap lebih penting daripada ilmu,
daripada uang, daripada kesempatan,
daripada kegagalan, daripada keberhasilan,
daripada apapun yang mungkin dikatakan
atau dilakukan seseorang.

Sikap lebih penting
daripada penampilan, karunia, atau keahlian.
Hal yang paling menakjubkan adalah
Kita memiliki pilihan untuk menghasilkan
sikap yang kita miliki pada hari itu.

Kita tidak dapat mengubah masa lalu
Kita tidak dapat mengubah tingkah laku orang
Kita tidak dapat mengubah apa yang pasti terjadi


Satu hal yang dapat kita ubah
adalah satu hal yang dapat kita kontrol,
dan itu adalah sikap kita.

Saya semakin yakin bahwa hidup adalah
10 persen dari apa yang sebenarnya terjadi pada diri kita,
dan 90 persen adalah bagaimana sikap kita menghadapinya.

Akhirnya: Seluruh pilihan terletak di tangan Anda, tidak ada JIKA atau TETAPI. Andalah pengemudinya. Andalah yang menentukan JALAN HIDUP ANDA…!

Selasa, 04 Mei 2010

Batman Dan Mbah Gendeng

“Huh, siyal, masa’ bocor lagi sih”, ujar Batman gemas sambil menendang pintu BatMobile-nya perlahan. Meskipun kesal, ia masih cukup sadar untuk tidak melampiaskannya kepada kendaraan tercintanya, yang cicilannya belum lunas itu. Dengan susah payah, ia mendorong mobilnya ke pinggir, ke sebuah tambal ban yang kebetulan berada tidak jauh dari situ.

“Mbah Gendeng – Nambal Ban Sejak 1911”

Begitu tulisan yang tertera di atas “bengkel” kecil yang didirikan seadanya di bawah sebuah pohon beringin besar.

“Bannya bocor ya, nak?”, tanya seorang kakek tua yang tiba-tiba muncul dari balik pohon.

“Iya, mbah”, jawab Batman lesu, “sudah kedua kalinya nih. Padahal baru sekitar 5km lalu bocor dan ditambal.”

“Hmmm…”, mbah Gendeng mengangguk-anggukan kepalanya dan mulai mempersiapkan peralatannya. Bak air sabun untuk memeriksa bagian ban yang bocor, dongkrak, pompa angin, dan sebagainya. “Silahkan duduk dulu aja di kursi kayu itu, nak. Biar mbah kerjakan dulu bannya.”

45 menit berlalu, Batman mulai gak sabar. Maklum, ia lagi semangat-semangatnya untuk bangkit kembali dari keterpurukannya dan ingin segera sampai ke WTC untuk membuka gerai HP. Ditambah lagi, seekor kura-kura berseragam “Bukan Express” yang tadi disalipnya kini sudah berjalan melewati tempat ia duduk. “Masa’ Batman kalah cepet ama kura-kura”, pikir Batman dalam hati. Penasaran, ia mendekati Mbah Gendeng dan mengintip kerjanya.

“Pantesan aja lama!”, sergah Batman kasar. “Lha wong kerjanya lambat banget gini! Apa gak bisa lebih cepet lagi, mbah?!”

Mbah Gendeng meletakkan ban dalam BatMobile yang sedang ia pegang dan menoleh ke arah Batman. Tatapannya yang tajam membuat Batman secara tidak sadar mundur selangkah ke belakang. Tanpa disangka, dengan tidak kalah kerasnya, Mbah Gendeng balik bertanya, “Memangnya kamu pikir pekerjaan ini tidak penting sehingga harus dikerjakan dengan terburu-buru?”

“Memang begitu, kan? Cuman nambal ban ini, apa pentingnya? Jauh lebih penting pekerjaanku yang ke sana kemari buat nyelamatin dunia dari orang jahat! Mbah tahu kan kalo aku ini Batman?!”

“Iye, terus so what gitu loh, mau situ Superman kek, Batman kek, Barack Obama kek, SBY kek, tetep aja, jangan pernah ngeremehin pekerjaan saya!”

Batman sudah akan membuka mulutnya lagi untuk menjawab, namun kakek tua itu tidak mau kalah cepat dan melanjutkan kata-katanya.

“Dengarkan baik-baik, anak muda. Coba pikir. Seandainya tadi kamu dalam perjalanan untuk menyelamatkan ribuan orang dan banmu bocor, apa bukan berarti yang saya kerjakan ini tidak sama pentingnya dengan pekerjaanmu? Dengan memperbaiki ban bocormu dengan baik dan teliti, secara tidak langsung saya suda membantu kamu menyelamatkan mereka — ribuan orang itu.”

“Tidak usah muluk-muluk. Setiap ban bocor yang saya perbaiki pasti berhasil membawa pengemudinya tiba dengan selamat sampai di rumah. Coba bayangkan apabila saya melakukannya dengan asal-asalan. Bisa terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, bukan?”

“Lihat ban dalammu ini”, Mbah Gendeng menyodorkan dua buah ban dalam BatMobile yang sedang ia kerjakan. “Perhatikan ini, bekas tambalan yang dilakukan oleh penambal ban sebelumnya. Kasar dan kurang kuat rekatannya. Itu sebabnya tadi ban mobilmu bocor lagi. Masih untung tidak terjadi apa-apa. Dan ini, yang ada di kanan, adalah hasil tambalan ban yang aku lakukan. Bandingkan!”

Batman tercenung. Ia memperhatikan ban dalam pada bagian yang ditunjukkan oleh Mbah Gendeng dan ternyata memang benar, pekerjaannya kurang baik. Bahkan jauh dibandingkan hasil pekerjaan Mbah Gendeng. Padahal tadi ia cukup senang dan memberi tips lebih kepada penambal ban sebelumnya karena kerjanya hanya butuh waktu 5 menit saja.

Dengan menunduk, Batman mohon maaf kepada Mbah Gendeng dan beringsut kembali ke kursi kayu untuk menunggu. Di satu sisi, ia malu terhadap apa yang telah ia lakukan, namun di sisi lain, ia gembira karena mendapat pelajaran baru tentang hidup dan juga tentang bisnis.

“Aku pasti tidak akan kalah oleh Peter Parker”, ujar Batman dalam hati sembari tersenyum.
Suka dongeng ini? Bantu sebarkan ke yang lain ya :)

Moral Cerita / Bahan Renungan:

"Setiap pekerjaan itu penting, jangan pernah meremehkan pekerjaan orang lain sekecil apapun itu."

Jika Anda Mudah Tersinggung

Salah satu hal yang sering membuat energi kita terkuras adalah timbulnya rasa ketersinggungan diri. Munculnya perasaan ini sering disebabkan oleh ketidaktahanan kita terhadap sikap orang lain.

Ketika tersinggung, minimal kita akan sibuk membela diri dan selanjutnya akan memikirkan kejelekan orang lain. Hal yang paling membahayakan dari ketersinggungan adalah habisnya waktu kita menjadi buah roh.
Efek yang biasa ditimbulkan oleh rasa tersinggung adalah kemarahan. Jika kita marah, kata-kata jadi tidak terkendali, stress meningkat, dan lainnya. Karena itu, kegigihan kita untuk tidak tersinggung menjadi suatu keharusan.

Apa yang menyebabkan orang tersinggung? Ketersinggungan seseorang timbul karena menilai dirinya lebih dari kenyataan, merasa pintar, berjasa, baik, tampan, dan merasa sukses.


Setiap kali kita menilai diri lebih dari kenyataan bila ada yang menilai kita kurang sedikit saja akan langsung tersinggung. Peluang tersinggung akan terbuka jika kita salah dalam menilai diri sendiri. Karena itu, ada sesuatu yang harus kita perbaiki, yaitu proporsional menilai diri.

Teknik pertama agar kita tidak mudah tersinggung adalah tidak menilai lebih kepada diri kita. Misalnya, jangan banyak mengingat-ingat bahwa saya telah berjasa, saya seorang guru, saya seorang pemimpin, saya ini orang yang sudah berbuat. Semakin banyak kita mengaku-ngaku tentang diri kita, akan membuat kita makin tersinggung.

Ada beberapa cara yang cukup efektif untuk meredam ketersinggungan
Pertama, belajar melupakan.

Jika kita seorang sarjana maka lupakanlah kesarjanaan kita. Jika kita seorang direktur lupakanlah jabatan itu. Jika kita pemuka agama lupakan kepemuka agamaan kita. Jika kita seorang pimpinan lupakanlah hal itu, dan seterusnya. Anggap semuanya ini berkat dari Allah agar kita tidak tamak terhadap penghargaan. Kita harus melatih diri untuk merasa sekadar hamba Allah yang tidak memiliki apa-apa kecuali berkat ilmu yang dipercikkan oleh Allah sedikit. Kita lebih banyak tidak tahu. Kita tidak mempunyai harta sedikit pun kecuali sepercik titipan berkat dari Allah. Kita tidak mempunyai jabatan ataupun kedudukan sedikit pun kecuali sepercik yang Allah telah berikan dan dipertanggung jawabkan. Dengan sikap seperti ini hidup kita akan lebih ringan. Semakin kita ingin dihargai, dipuji, dan dihormati, akan kian sering kita sakit hati.

Kedua, kita harus melihat bahwa apa pun yang dilakukan orang kepada kita akan bermanfaat jika kita dapat menyikapinya dengan tepat.

Kita tidak akan pernah rugi dengan perilaku orang kepada kita, jika bisa menyikapinya dengan tepat. Kita akan merugi apabila salah menyikapi kejadian dan sebenarnya kita tidak bisa memaksa orang lain berbuat sesuai dengan keinginan kita. Yang bisa kita lakukan adalah memaksa diri sendiri menyikapi orang lain dengan sikap terbaik kita. Apa pun perkataan orang lain kepada kita, tentu itu terjadi dengan izin Allah. Anggap saja ini episode atau ujian yang harus kita alami untuk menguji keimanan kita. Ketiga, kita harus berempati.

Yaitu, mulai melihat sesuatu tidak dari sisi kita. Perhatikan kisah seseorang yang tengah menu ntun gajah dari depan dan seorang lagi mengikutinya di belakang Gajah tersebut.

Yang di depan berkata, "Oh indah nian pemandangan sepanjang hari". Kontan ia didorong dan dilempar dari belakang karena dianggap menyindir. Sebab, sepanjang perjalanan, orang yang di belakang hanya melihat pantat gajah.

Karena itu, kita harus belajar berempati. Jika tidak ingin mudah tersinggung cari seribu satu alasan untuk bisa memaklumi orang lain. Namun yang harus diingat, berbagai alasan yang kita buat semata-mata untuk memaklumi, bukan untuk membenarkan kesalahan, sehingga kita dapat mengendalikan diri.

Keempat, jadikan penghinaan orang lain kepada kita sebagai ladang peningkatan kwalitas diri dan kesempatan untuk mempraktekkan buah - buah roh Yaitu, dengan memaafkan orang yang menyakiti dan membalasnya dengan kebaikan

www.dudung.net