Jumat, 22 Mei 2009

Belajar dari Alphabet

A: Accept
Terimalah diri anda sebagaimana adanya.
B : Believe

Percayalah terhadap kemampuan anda untuk meraih apa yang anda inginkan dalam hidup.
C : Care

Pedulilah pada kemampuan anda meraih apa yang anda inginkan dalam hidup.
D : Direct

Arahkan pikiran pada hal-hal positif yang meningkatkan kepercayaan diri.
E : Earn

Terimalah penghargaan yang diberi orang lain dengan tetap berusaha menjadi yang terbaik.
F : Face

Hadapi masalah dengan benar dan yakin.
G : Go

Berangkatlah dari kebenaran.


H : Homework
Pekerjaan rumah adalah langkah penting untuk pengumpulan informasi.
I : Ignore
Abaikan celaan orang yang menghalangi jalan anda mencapai tujuan.
J : Jealously
Rasa iri dapat membuat anda tidak menghargai kelebihan anda sendiri.
K : Keep
Terus berusaha walaupun beberapa kali gagal.
L : Learn
Belajar dari kesalahan dan berusaha untuk tidak mengulanginya.
M : Mind
Perhatikan urusan sendiri dan tidak menyebar gosip tentang orang lain.
N : Never
Jangan terlibat skandal seks, obat terlarang, dan alkohol.
O : Observe
Amatilah segala hal di sekeliling anda. Perhatikan, dengarkan, dan belajar dari orang lain.
P : Patience
Sabar adalah kekuatan tak ternilai yang membuat anda terus berusaha.
Q : Question
Pertanyaan perlu untuk mencari jawaban yang benar dan menambah ilmu.
R : Respect
Hargai diri sendiri dan juga orang lain.
S : Self confidence, self esteem, self respect
Percaya diri, harga diri, citra diri, penghormatan diri akan membebaskan kita dari saat-saat tegang.
T : Take
Bertanggung jawab pada setiap tindakan anda.
U : Understand
Pahami bahwa hidup itu naik turun, namun tak ada yang dapat mengalahkan anda.
V : Value
Nilai diri sendiri dan orang lain, berusahalah melakukan yang terbaik.
W : Work
Bekerja dengan giat, jangan lupa berdoa.
X : X'tra
Usaha lebih keras membawa keberhasilan.
Y : You
Anda dapat membuat suatu yang berbeda.
Z : Zero
Usaha nol membawa hasil nol pula.

Bernafas di Ruang Hampa


Suatu hari sekitar jam dua siang, tiba-tiba datang seorang perempuan muda sekitar usia 30 tahun, datang ke rumah Amalia. Dari email yang saya terima awalnya dirinya mengaku seorang mahasiswi. Setelah berkenalan akhirnya dia mengaku bukan mahasiswi namun seorang ibu rumah tangga.
Setelah ditanyakan apa maksud kedatangannya, dengan terbata-bata dan berlinangan air mata ia mengatakan bahwa hampir saja ia bunuh diri. 'saya bagai bernapas diruang hampa..mas' tuturnya.


Menurut penuturannya, pagi itu dirinya sedang kusut fikiran dan saking kalutnya ia bermaksud bunuh दीरी. Pada saat itu aliran listrik di lingkungan tempat tinggalnya sedang mati, dan ketika baygon sudah dituang ke gelas, ketika sedang dipegang untuk diminum, tiba-tiba listrik menyala dan televisi langsung berbunyi. Seperti diatur sutradara, suara di ternyata berisi siaran pengajian dari seorang ustadz dalam ceramahnya menyebutkan dosanya orang bunuh diri.

Katanya, dirinya menjadi tersentak kaget dan langsung timbul kengerian serta takut melihat gelas yang sudah dituangi baygon. Secara reflek dirinya itu kemudian lari keluar rumah tanpa ingat mengunci pintu dan langsung naik metro mini yang kebetulan sedang berhenti, juga tanpa mengetahui entah mau ke mana. Tanpa disadarinya kendaraan itu menuju ke arah ciledug. Maka diniatkan untuk mampir ke Rumah Amalia.


Dari penuturannya dapat disimpulkan bahwa problem kejiwaan sang ibu merupakan problem perkawinan, problem hubungan interpersonal suami dan isteri. Mereka telah menempuh bahtera rumah tangga selama delapan tahun, belum dikaruniai keturunan.
Ekonomi rumah tangga mereka relatif tercukupi, terbukti bahwa mereka telah memiliki rumah yang layak huni, suaminya bekerja di perusahaan swasta dengan gaji yang mencukupi. Isterinya, meskipun pernah mengecap pendidikan tinggi sampai sarjana muda tetapi tidak bekerja. Praktis setiap hari kerja, isterinya hanya tinggal sendirian, sementara suami pulang kerja sekitar jam enam-tujuh sore.


Barangkali pasangan suami isteri itu sudah sangat merindukan keturunan, tetapi diantara mereka tak pernah secara serius membicarakan problem itu. Sang isteri adalah tipe perempuan yang sangat setia dan percaya kepada suami. Menurut ceriteranya selama delapan tahun hidup sebagai suami isteri tidak pernah cekcok.
Sang isteri meski harus selalu sendirian di rumah setiap hari pada jam-jam kerja suaminya, tetapi kepercayaan dan kesetiaannya kepada suami membuatnya tetap tenang. Rasa percaya diri dan ketenangan isteri antara lain diperkuat oleh sejarah masa lalu, ialah bahwa sang suami adalah mahasiswa yang dahulu kost di rumah orang tuanya, dan ketika kiriman biaya kuliah terputus dari kampungnya di luar Jawa, orang tua sang ibu itu kemudian menolong membiayai kuliahnya sampai selesai dan akhirnya diambil menantu.


Tanpa ada tanda-tanda mencurigakan, tiba-tiba suaminya menjadi acuh, dan sering tidak menyentuh kopi dan makanan yang disediakan oleh isteri yang setia itu. Ia berusaha mencari tahu problem apa yang sedang mengganggu suaminya, samar-samar terdengar berita bahwa suaminya pacaran dengan perempuan lain sekerja di kantor.
Tetapi setiap ditanyakan, suaminya diam membisu, semakin ditanya semakin membisu. Sang isteri sebagai orang yang selalu berfikir positif tentang suaminya, masih belum percaya bahwa suaminya ada main dengan perempuan lain, tapi didiamkan oleh suami selama seminggu merupakan beban yang sangat berat, apa lagi di rumahnya yang cukup besar itu memang tidak ada orang lain yang bisa diajak bicara.


Ketika kebisuan suami mencapai hari yang ke lima belas, kekalutan fikiran itu tak tertanggungkan. Ia tidak tahu harus apa, karena selama ini hatinya tertumpah seluruhnya untuk suaminya. Di diamkan suami adalah kiamat baginya. Kekalutan fikiran dan perasaannya membuatnya lupa siapa dirinya dan untuk apa ia hidup. Dunia terasa gelap, dan kaki tak bisa lagi menginjak bumi.
Pada hari ke lima belas itulah, ketika jiwanya tak mampu lagi menanggung derita didiamkan, ia mengambil keputusan untuk menyudahi problemnya dengan meminum baygon. Untunglah suara televisi yang tiba-tiba terdengar setelah listrik di rumah menyala mengembalikan kesadarannya, dan menyelamatkannya dari mati sia-sia.


Dari penuturan yang disampaikannya itu sambil terisak-isak menangis tetapi lancar, nampak jelas bahwa penyebab kekalutan fikiran itu lebih banyak disebabkan oleh kapasitas jiwanya yang sempit untuk menampung derita. Ia termasuk tipe perempuan yang lugu, halus perasaannya dan tak pernah berfikir negatif pada suaminya.
Baginya suami adalah segalanya yang tak mungkin melakukan sesuatu yang menyakiti hatinya. Jika samar-samar mendengar issu minor tentang suaminya, ia lebih dahulu menepis dengan berkata dalam hati bahwa issu itu pasti tak benar. Baginya kepulangan suami, teguran sapa suami sudah merupakan bukti bahwa issu dari luar itu tidak benar.
Ia lebih percaya kepada suami dibanding kepada orang lain. Ia hanya mendengar kata-kata suami dan menutup rapat kedua telinganya dari kata-kata orang lain. Hal itulah yang menyebabkan bahtera rumah tangga berjalan aman selama delapan tahun meski belum dikaruniai seorang anak.


Oleh karena itu ketika suaminya mulai cuek kepadanya, ia merasa tertekan karena ia tidak memiliki jendela lain untuk berkomunikasi. Pusat perhatiannya dalam menghadapi kecuekan suaminya hanya satu, yaitu menunggu kapan kekakuan itu mencair. Ketika kecuekan suaminya meningkat menjadi membisu, perasaan tertekan itu menjadi semakin dalam, seperti balon yang selalu ditiup, menunggu meledak.
Pada hari ke lima belas dari membisunya suami itulah "balon" jiwanya meledak, mencari penyelesaian dengan cara bunuh diri. Ia tidak menemukan jalan lain selain bunuh diri, karena jiwanya tidak mempunyai jendela, tidak mempunyai ventilasi, karena salurannya hanya satu yaitu kepada suami tercinta.


Jika saluran satu-satunya itu rapat, maka hanya ada satu jalan keluar, yaitu meledak. Untunglah suara televisi yang tiba-tiba berbunyi 'menyelamatkannya. ' Melihat tipologi kejiwaan wanita itu maka saya menanyakan kembali sudah berapa lama suami mendiamkannya.
Dengan sangat antusias ia menyebut angka lima belas, seakan angka lima belas itu adalah jumlah yang sangat besar. Mengapa angka lima belas itu dipandang sebagai jumlah yang sangat besar adalah karena dirinya itu tidak memiliki bandingan angka lain.


Saya berusaha untuk mengubah cara pandangnya itu tentang ukuran besar dan kecil. Saya mengatakan bahwa lima belas hari itu waktu yang sangat pendek, sebab ada orang lain yang didiamkan suaminya sampai tiga bulan, dan setelah dilewati dengan sabar akhirnya keadaan pulih kembali seperti sedia kala. Saya mengatakan padanya agar sabar menanggung perasaan itu sampai tiga bulan, Insya Alloh nanti jalan ke luar akan datang dengan sendirinya.

Rupanya, angka tiga bulan itu kemudian menjadi angin yang meniupkan harapan baginya, sehingga setelah pertemuan hari itu, ia sering melaporkan perkembangan hubungannya dengan suaminya kepada saya melalui surat. Ia selalu menghitung hari-hari yang dilewatinya, dan dengan cemas menunggu habisnya waktu tiga bulan itu.
Saya tahu bahwa tidak ada jaminan setelah tiga bulan itu kebisuan suaminya akan mencair, tetapi kurun waktu itu sekurang-kurangnya memberikan peluang kepada perempuan itu untuk melihat dunia lain, bahwa dalam hidup itu banyak kemungkinan, ada pertemuan, ada perpisahan, ada pertemuan kembali, ada juga pertemuan dengan yang baru dan sebagainya, dan bahwa kesemuanya itu mengandung hikmah asal bisa memetiknya. Ia harus bisa melihat bahwa hidup itu bukan hitam putih, tetapi berwarna-warni.
Rumah tangga pasangan itu akhirnya tidak dapat diselamatkan, tetapi diri sang ibu itu dapat menerima kenyataan.
Setelah ia berpindah kota dan telah berkeluarga kembali. 'alhamdulillah, sekarang saya menjadi lebih baik. Saya lebih bisa mendekatkan diri saya kepada Alloh SWT dan akhirnya saya menemukan laki-laki yang sholeh.' tuturnya dalam email. 'Dan saya telah memiliki satu putri yang cantik. Kami keluarga bahagia.

Thanks Agus syafii'



Senin, 18 Mei 2009

Keledai


Seorang petani yang tinggal di daerah Sumatra Selatan memiliki keledai satu-satunya sebagai alat angkutan sehari-hari. Suatu hari keledai milik seorang petani jatuh kedalam sumur.
Hewan itu menangis sangat memilukan selama berjam-jam sementara si petani tidak tahu apa yang harus dia lakukan untuk menyelamatkan keledai tersebut. Segala upaya telah dicoba untuk mengangkat keledai itu dari dalam sumur, tetapi tidak membuahkan hasil.

Akhirnya , setelah berdiskusi dengan saudaranya diperoleh kesimpulan untuk membiarkan saja keledai itu didalam sumur untuk selanjutnya ditimbun. Alasannya , hewan tersebut sudah tua dan tidak terlalu berguna lagi jika ditolong. Di pihak lain , sumur itu sendiri juga sebenarnya kurang produktif. Dengan demikian menutup sumur dengan keledainya merupakan keputusan yang tepat.

Lalu dia mengajak tetangga-tetanggany a untuk datang membantu। Mereka datang dengan membawa sekop, cangkul, dan peralatan lainnya lalu mulai menimbun tanah kedalam sumur।Pada mulanya , ketika si keledai menyadari apa yang terjadi, dia menangis penuh kengerian. Namun lama kelamaan semua orang jadi takjub ketika si keledai menjadi diam dan tidak berteriak lagi.

Setelah beberapa sekop tanah mulai dituangkan lagi kedalam sumur, si petani melihat kedalam sumur dan tercengang melihat apa yang dilakukan sang keledai. Sekalipun punggungnya terus menerus ditimpa oleh bersekop-sekop tanah dan kotoran, si keledai melakukan sesuatu yang menakjubkan.
Ia mengguncang- guncangkan badannya agar tanah yang menimpa punggungnya turun kebawah, lalu menaiki tanah itu. Begitu seterusnya, tetangga-tetangga si petani terus menuangkan tanah kotor keatas punggung hewan itu, sedangkan si keledai juga terus mengguncangkan badannya dan melangkah naik hingga mendekati mulut sumur. Tak pelak lagi, semua orang terpesona ketika melihat si keledai melompati tepi sumur dan melarikan diri.




Terkadang hidup ini terasa begitu tertekan dengan permasalahan yang bertubi-tubi, baik itu masalah keluarga maupun pekerjaan. Setiap hari timbunan masalah itu semakin berat saja.
Belajar dari ilustrasi diatas , bukankah setiap masalah yang ada dapat dijadikan batu pijakan untuk berbuat sesuatu yang lebih baik lagi?

Kita juga tidak bisa terus-menerus menyesali apa yang terjadi, sekalipun rasanya sudah tidak mungkin untuk keluar dari masalah yang ada. Namun dengan mengubah cara pandang terhadap suatu masalah, akan ditemukan solusi-solusi baru yang mungkin tidak dapat ditemukan sebelumnya.
Pendek kata ketika menghadapi masalah sesungguhnya kita sedang menikmati pengalaman hidup yang mungkin tidak terulang kembali. Pengalaman bukanlah apa yang dialami seseorang, melainkan apa yang dilakukan seseorang terhadap apa yang terjadi pada dirinya.

Persepsi orang lain akan berubah ketika kita bisa mengatasi permasalahan yang dihadapi dengan tegar dan tabah. Cara pandang dan penilaian orang justru akan berbalik arah ketika kita bisa memandang permasalahan yang kita hadapi secara positif. Kebesaran jiwa seseorang memang diuji pada saat ia menghadapi permasalahan hidup.

Seseorang memiliki mental dan perkembangan emosi yang optimal bukan dilihat dari kekayaan atau jabatannya yang tinggi, bukan pula dari pernyataan -pernyataannya yang muluk, dan bukan pula dari palu kekuasaan yang dimilikinya untuk menekan orang lain, melainkan dari dapur api pengujian hidup.

'Aslinya' seseorang akan tampak ketika seluruh aksesoris kehidupan yang dimilikinya lepas.
Emas akan betul tampak betul-betul emas setelah melalui pengujian api , bukan ketika dia dilekatkan sebagai perhiasan baru.

Selama manusia hidup, pasti banyak permasalahan yang terus menekannya. Disisi lain , dalam menjalani kehidupan juga kita akan berhadapan dengan pilihan-pilihan yang harus segera diputuskan. Keledai dalam cerita diatas telah memutuskan untuk bangkit dan mencari jalan keluar. Dia telah menjadi bagian dari pemecahan masalah bukan bagian dari permasalahan itu.

Semakin individu tersebut terbang tinggi , semakin kuat pula tarikan untuk menghambatnya. Semakin gemilang seseorang dalam prestasi dan implementasi kompetensi yang dimilikinya, semakin deras pula arus untuk menekannya.
Berkenaan dengan hal itu , maka pilihan tetap ada di pundak masing- masing. Mau tetap terbang tinggi bersama kompetensi yang dimiliki sambil mengucapkan selamat tinggal kepada pecundang, atau mengambil keputusan untuk turun lalu hidup bersama para pecundang

Thanks Elvi Zuhailina

Selasa, 12 Mei 2009

Uang untuk Ibu


Aku mengenal ibu sebagai orang yang rajin membuat anggaran keuangan dan mencatat harga-harga barang yang dibelinya setelah berbelanja di pasar.
Meskipun itu hanya segenggam jeruk nipis ataupun sebuah pepaya. Catatan belanja ibu hanya sebuah buku tulis bekas kami di SD. Menurut ibu, catatan belanja yang rapi akan membuat keadaan keuangan kita mudah dikontrol.

Jika harga barang yang dibeli terlalu mahal, mungkin ada beberapa barang lain yang tidak perlu dibeli dulu sehingga pengeluaran tidak melebihi anggaran. Kita bisa berhemat dan selalu mengecek pengeluaran jika dicatat. Jika ada kelebihan uang yang ditabung, nanti bisa digunakan untuk berbagai keperluan penting.

Ibu juga rajin berusaha mendapatkan uang tambahan. Sebagai ibu rumah tangga yang selalu sibuk melaksanakan pekerjaan rumah dan anak-anak, beliau termasuk cermat mengatur waktu untuk menerima pesanan jahitan dari teman-temannya. Disamping itu dengan keahlian memasaknya, beliau sering juga menerima orderan membuat makanan kecil untuk arisan.

Kelebihan uang belanja tadi dijadikan ibu sebagai modal untuk membeli kain-kain yang akan dijahit sesuai pesanan. Selisih pembelian kain dan modal awal menjadi tambahan tabungan untuk ibu. Sikap giat mencari uang dan rajin berhemat itu selalu kukenang hingga kini dan menjadi pelajaran berharga bagiku.

Uang dalam tabungan ibu kemudian berubah menjadi perhiasan emas, cincin emas favoritku yang selalu kupakai hingga kini, cicilan seprai baru, karpet, pajangan di ruang tamu, lemari buku, gorden baru dan sebagainya.
Walaupun ibu banyak memperoleh kelebihan uang dari sikap hemat dan kepintarannya mencari uang, tetapi tabungan itu selalu nyaris kosong. Karena saat itu aku sudah semakin besar dan punya banyak keinginan, sehingga aku sering meminta uang pada ibu. Suatu kali aku memerlukan uang untuk biaya les, setelah kutunggu-tunggu, ternyata Bapak belum bersedia membayarkan. Lalu ibu dengan sabar menghibur, katanya uang jahitan dari Tante Ani bisa dipakai untuk biaya les. Alhamdulillah, betapa baiknya ibuku...




Ketika tabungan ibu yang kuhabiskan belum dapat kuganti, secara bergantian adik-adikku turut menikmati tabungan ibu. Mereka membeli baju baru, perlengkapan sekolah bahkan menggunakan uang ibu untuk keperluan yang paling tidak masuk akal sekalipun seperti pulsa telpon sampai berjuta-juta rupiah. Ibu kadang kesal, tetapi demi anak-anaknya, ibu tetap memberikan apa yang dimilikinya. Satu persatu gelang emas ibu jadi kembali ke toko tempat membeli dahulu.
Ada karena biaya yang dikeluarkan untuk adikku, atau biaya pernikahanku, biaya wisuda adikku yang lain. Aku sedih melihat gelang-gelang itu terpajang kembali di toko. “Tak apa, toh ibu juga takut dirampok orang kalau pakai gelang mahal-mahal,” kata ibu dengan nada datar. Aku tau ibu sedih, tapi bagaimana lagi... Dalam hati aku berjanji, jika aku telah punya uang banyak, akan kuganti gelang ibu tersebut.

Saat kami mulai bekerja, suatu hari kulihat ibu diam termenung saja. Ternyata ibu butuh uang untuk tambahan belanja dapur. Uang beliau telah habis dipakai adik yang tidak dapat menganggarkan kebutuhannya. Aku langsung teringat bahwa aku punya uang di dompet sebesar seratus ribu rupiah. Uang itu kuberikan pada ibu, yang kemudian langsung memeluk dan menciumku.

Jadilah, tiap aku mendapat bonus, aku memberikan sepertiganya pada ibu dan bapak. Kata ibu, beliau selalu menyimpan uangku untuk membeli benda-benda yang disukainya atau bersedekah. Aku turut bahagia bisa mengembalikan ‘tabungan’ ibu dulu yang sering kugunakan untuk berbagai keperluan walaupun dalam jumlah kecil.

Memberikan uang kepada orang tua, walaupun kecil jumlahnya ternyata mengandung keberkahan yang besar. Rasanya walau gajiku kecil dan terbatas, Alhamdulillah aku tidak merasa kekurangan. Jika aku ingin membeli sesuatu, Insha Allah dengan jalan yang tak terduga, ternyata ada uang untuk itu.

Aku pernah membaca sebuah kisah dalam majalah muslimah Malaysia tentang seseorang dari kampung yang bekerja sebagai SPG di kota. Saat wanita itu telah mendapat gaji, abangnya mengingatkan untuk mengirimkan ibu mereka sedikit uang.
Walaupun hanya sedikit yang bisa ia berikan, tetapi wajah bahagia ibu dan doa syukur ternyata menambah kebahagiaan hidupnya. Ia lalu membandingkan dirinya yang selalu merasa cukup dengan teman sesama SPG yang selalu merasa kekurangan uang. Ternyata temannya itu tidak pernah mau memberi uang kepada orang tuanya dengan alasan gajinya kecil.

Mudah-mudahan apa yang telah kusampaikan pada ibu walaupun jumlahnya juga sedikit, bisa membuat ibuku bahagia. Ternyata, teman, kadang bukan jumlah rupiahnya yang penting. Memberi uang kepada orang tua, walau sedikit, bermakna besar karena menunjukkan rasa cinta kasih kita kepada mereka.

Seperti dulu juga saat mereka memberi kita uang untuk jajan, mungkin rasa bahagia itu sama besarnya. Jika memang ingin memberi orang tua dengan ikhlas, insya Allah akan dibalas Allah lebih banyak. Hidup kita tidak kekurangan dan selalu dalam ketenangan soal uang karena doa orang tua agar rezeki kita dimudahkan dan dilancarkan Allah. Amin.

Untuk mamaku tersayang... I
love you.

Thanks Meutia Wibisono

Aku, Istri yang Kecanduan Internet

Demam Facebook di seluruh dunia, para peselancar di dunia maya pun tak mau ketinggalan turut berjungkir balik melawan ombak informasi dan arus deras privacy yang bertubi-tubi menerjang tiap facebook pribadi yang rata-rata menggunakan nama lengkap aslinya.

Tentu saja bagi yang jujur, berniat semata-mata untuk menyambung tali silaturrahim dengan kawan-kawan lama di masa sekolah dulu, dari jaman SD, SMP, SMU (dulu SMA) dan kuliah (Akademi maupun Perguruan Tinggi, dst.) akan menggunakan nama aslinya.

Namun tidak sedikit yang menggunakan nama samaran, dan ia bebas berekspresi di facebook dengan sesuka hatinya. Bahkan ada yang pura-pura menjadi artis, kemudian ia melayani berbagai pertanyaan penggemarnya seolah-olah ia adalah sang tokoh pujaan yang dimaksud. Sungguh, ini yang disebut sebagai pembunuhan karakter.

Banyak juga yang menampilkan foto di headshoot dengan wajah yang ganteng atau cantik namun bukan dirinya sendiri, diambil dari image artis-artis mancanegara sehingga banyak mengundang para facebooker yang ingin dikonfirmasi menjadi temannya. Fenomena seperti ini bisa dibilang memprihatinkan, karena bagi orang-orang yang "sakit jiwa" atau "penjahat" pun bisa bebas beraksi.

Perjalanan Aku Mengenal Internet

Sejak sepuluh tahun yang lalu mengenal internet di tempat bekerja, hidupku memang sudah tidak bisa jauh-jauh dari dunia virtual yang begitu mengagumkan bagiku. Dalam satu waktu yang singkat, aku bisa "kontak" dengan beberapa teman lama yang jaraknya jauh bahkan ada yang di Amerika atau negara lain, tanpa mengeluarkan ongkos banyak dan tidak usah pakai tenaga untuk berjalan atau mengeluarkan suara.

Hanya jemariku yang menari-nari di tuts keyboard komputerku saja, tanpa harus berbicara dan mengatur mimik atau bahasa tubuh. Sangat cocok bagi diriku yang malas keluar rumah, bergaul dengan Ibu-ibu tetangga yang rajin berkumpul tiap sore di sekitar rumah atau pagi harinya ketika berkerumun mengelilingi gerobak sayur.

Aku memang tipe orang yang malas keluar rumah kalau belum mandi, atau belum berpakaian rapi, jadi dalam bersosialisasi sungguh kurang optimal. Banyak yang bertanya kenapa aku jarang keluar rumah, hanya kujawab aku lebih suka di dalam rumah membaca buku, majalah, tabloid atau koran dan "komputeran". Mereka tidak bisa bertanya lebih jauh lagi karena sebenarnya tidak mengerti apa maksudku, apa yang aku lakukan dengan komputer sebagai Ibu Rumah Tangga?




Aku telah begitu familiar dengan yang namanya e-mail, mailing list (biasa disebut milis), blog, situs, search engine dan lain sebagainya. Aku pernah jadi ratu chatting di kantorku dulu waktu bekerja sebagai pustakawati, sampai ditegur oleh atasan, maklum baru kenal internet waktu itu dan status masih single jadi apa salahnya bergaul sebanyak-banyaknya di dunia virtual? Sudah puas chatting, aku rajin membuka situs-situs Islami yang memberikan siraman rohani positif bagi diriku.

Karena aku juga merupakan anggota Youth Islamic Study Club di Masjid Al-Azhar Kebayoran Baru Jakarta, aku pun bergabung ke milis komunitas remaja masjid tersebut dan memperoleh banyak ilmu tentang Agama Islam yang sungguh variatif pandangan dan alirannya, namun lucunya sampai saat ini aku masih menganggap diri ini sangat awam dan ilmu Agamaku masih dangkal. Dengan bantuan internet juga aku bertemu jodoh, dengan suamiku aku hanya berkenalan kurang-lebih tiga bulan dan langsung menikah.

Waktu itu kami dicomblangi oleh seorang ikhwan, namun karena kami merasa bukan sebagai "ikhwan" dan "akhwat" akhirnya kami bergerilya sendiri untuk mempercepat proses ta'aruf yang ternyata ditangguhkan oleh sang ikhwan yang adik kelas di almamater suami itu. Untung saja, kami "nakal" dengan cara menjalin komunikasi sendiri melalui e-mail, sempat "gombal-gombalan" sedikit dan akhirnya menikahlah kami hingga saat ini sudah memiliki dua orang gadis kecil berusia lima dan dua setengah tahun. Insya Allah kami bahagia dengan pernikahan ini.

Setelah Menjadi Istri, tetap Kecanduan Internet

Karena aku kesepian di rumah, suami tiap hari berangkat pagi dan pulang malam, internet adalah hiburan yang menemani hidupku. Aku selalu berusaha mencari sumber-sumber yang positif bagiku untuk menambah ilmu. Pada awal pernikahan, mungkin tidak ada masalah soal pengaturan waktu karena kami belum dikaruniai anak. Aku sempat kosong selama enam bulan sebelum hamil anak pertama. Setelah punya bayi, aku sempat meninggalkan internet, namun setelah anak pertama sudah agak besar aku kembali maniak internet.

Aku juga menjadi Ibu rumah tangga yang nge-blog alias blogger yang tiap hari mengelola blog dengan mem-posting artikel atau curahan hati atau melihat-lihat foto teman sesama blogger dan membaca-baca atau me-reply posting mereka. Kami sahut-sahutan di dunia virtual yang tak terbatas ruang dan waktu. Aku sering meng-upload foto-fotoku sekeluarga terutama anak-anakku yang lucu, berbagi kebahagiaan dengan orang lain.

Aku mulai punya blog pertama kali di Multiply, tapi entah kenapa malas membuka akun di situs lain termasuk Friendster. Ketika memutuskan untuk membuka akun di Facebook itu pun hanya ikut-ikutan teman-teman di milis penggemar salah satu pengarang wanita yang eksis di dunia perindustrian buku yang sangat aku cintai, dan aku pun terjun bergabung di gateway pertemanan yang arusnya cukup deras.

Aku terpesona dengan keajaiban teknologi yang membuatku bertemu dengan teman-teman lamaku dari masa kecil, remaja sampai menjelang dewasa. Facebook melepas rinduku pada mereka semua. Kami saling memberikan deretan kalimat berita terbaru tentang diri masing-masing, sharing foto-foto lama dan baru.

Berkomentar yang aneh-aneh, lucu, menghibur dan kadang menasehati. Waktuku banyak tersita untuk Facebook, seringkali aku malas masak karena keasyikan di depan komputer. Setiap pagi, putri sulungku berangkat sekolah hampir berbarengan dengan suamiku dan putri ke-duaku masih tidur, nah langsung saja aku buka internet dan berjam-jam terlena sampai putri sulungku pulang sekolah jam sebelas siang dan adiknya bangun tidur (yang kecil ini memang bangunnya siang, karena tidurnya larut malam).

Sementara Ibu-ibu lain memasak, aku malah "internetan". Jam makan siang, aku cuma menggoreng bahan olahan yang sebenarnya kalau keseringan tidak baik untuk anak-anak apalagi orang dewasa. Jarang masak sayur, akhirnya aku menggantinya dengan banyak buah-buahan atau camilan snack-snack, keju, sosis, nugget dan lain-lain yang lumayan mahal harganya. Aku pun jadi boros dalam pengeluaran untuk bahan makanan, karena sering juga membeli makanan matang dari warteg atau restoran fastfood yang ada di pinggir jalan dan mall kecil di depan perumahan tempat tinggalku.

Kadang juga, karena sedang asyik, aku mengusir putri-putriku yang menghampiriku ke meja komputer. Begitu ingat, aku sering menyesal dan memeluk mereka. Namun kalau sudah tenggelam dengan internet, aku agak cuek dengan mereka. Sudah pasti, inilah godaan syaithan yang terkutuk!

Klimaks dalam Berinternet

Akibat sering upload maupun download foto-foto di Facebook, tagihan pemakaian internet di rumahku membengkak hingga लीमा ratus ribuan rupiah! Aku kaget, tentu saja suami menegurku. Aku juga sempat membaca kekisruhan para pasutri yang hubungannya makin memburuk akibat Facebook, ada yang bercerai melalui Facebook, ada yang tidak mau mencantumkan status "menikah" di Facebook membuat mangkel pasangannya karena terbukti tidak adanya keterbukaan atau kejujuran antar pasangan.

Sebenarnya apa masalahnya yang paling mendasar? Facebook adalah parameter kejujuran! Jika kita tidak jujur, masalah akan menumpuk. Kemudian suami mengingatkan, ada kasus anak kecil yang meninggal dunia karena ditinggal "internetan" oleh Ibunya! Astaghfirullaah ... separah itukah? Lalu sahabatku semasa SMA lewat sms-nya bercerita bahwa ia takut pasang internet karena khawatir akan menimbulkan masalah seperti tetangganya yang sering ribut karena sang istri kecanduan internet.

Lalu bagaimana dengan aku sendiri? Kuingat-ingat lagi kelalaian apa saja yang sudah kuperbuat karena sudah kecanduan internet akut, dan berapa banyak manfaatnya dibanding mudharat-nya. Mengutip dari harian KOMPAS, Minggu 15 Maret 2009, "Orang yang kecanduan membangun pertemanan lewat internet tanpa disertai pertemuan fisik dengan orang tersebut akan kehilangan pijakan dengan dunia nyata. Ia masuk dalam dunia simulasi yang seolah-olah punya banyak teman, padahal tidak.

" Benar juga, ya? Apakah semua teman-teman yang bisa saling menyapa dan bertukar kabar berita serta aktivitas itu care dengan kita? Apakah mereka bisa memberikan solusi bila kita memiliki masalah dalam rumah tangga secara nyata? Mungkin hanya sekedar kata-kata, yang meskipun tulus namun kita butuh sesuatu yang lebih nyata seperti materi bilamana kita bermasalah dalam hal keuangan dan uluran tangan secara fisik bila kita sakit atau mengalami kecelakaan.

Kita harus tetap menjaga hubungan dengan orang-orang yang berada di dekat kita, seperti tetangga dan guru di sekolah anak (aku seringkali malas menjemput anak, karena terus duduk di depan meja komputer). Menjaga silaturrahim dengan sanak-saudara lebih diutamakan dari acara-acara reuni dengan teman-teman sekolah yang saat ini sedang trend.

Yang terakhir masalah yang cukup pelik meski sederhana adalah berat badanku secara konstan menjadi lebih mudah naik, mungkin karena kurang bergerak dan terlalu banyak duduk akibat "internetan", belum lagi ditambah mengemil dan terutama karena pola makan menjadi kacau dari segi ketidakteraturan dan jenis makanan yang dikonsumsi.
Suami pun complain dengan tubuhku yang terus melar tetapi susah kurusnya. Ini adalah peringatan bagiku, karena menyenangkan hati suami adalah kewajibanku sebagai istri, seperti juga menjaga dan mendidik anak-anak kami dengan baik. Ya Allah, ampuni aku yang telah melakukan banyak kelalaian, yang mungkin aku termasuk istri yang mendzolimi anak-anak dan suami, namun tidak aku sadari!

Solusi, demi Kewajiban sebagai Istri yang Bertanggung Jawab

Akhirnya kusadari bahwa semua ini tergantung kesadaran diri untuk memanfaatkan internet dengan bijaksana. Aku tidak bisa secara drastis meninggalkan internet, namun sedikit demi sedikit mungkin aku akan mengatur lagi porsi untuk berinternet dengan sebijak mungkin, hingga segala aspek kehidupan akan kembali menjadi seimbang.
Memang aku mengakui di balik segala kelebihan yang diperoleh dari "gudang dari segala gudang ilmu di dunia" yang bernama World Wide Web ini, terdapat bahaya yang mengancam bagi setiap individu, baik dari segi psikologis, ekonomis, bahkan keharmonisan rumah tangga pun dapat terganggu oleh kehadiran internet.

Dari segi keimanan, tentunya internet adalah suatu godaan yang hebat bagi yang tidak kuat menjaga hati dan kata-katanya di dunia maya yang jelas semu ini karena pemakai internet masih tersembunyi di "balik layar" yang semarak dengan fasilitas menjalin hubungan antar manusia yang beraneka karakter.
Memang jika tanpa internet, siapa pun bisa menjadi orang yang tidak jujur, tidak setia, penipu dan sebagainya. Namun tidak dapat dipungkiri bahwa internet adalah sebuah sarana yang sangat berkompeten untuk menunjang perilaku negatif bagi semua insan.

Sebagai Ibu Rumah Tangga, Alhamdulillaah segala informasi yang kuserap dan kubagikan pada teman di dunia maya adalah hal yang positif. Bahkan ketika belum menjadi seorang Istri dan Ibu, aku tidak hobby mengakses pornografi dari internet, dan ketika aku sedang gandrung chatting aku hanya berani "cuap-cuap" di layar mengumbar kata tetapi tidak hobby untuk bertemu alias "kopi darat" dengan orang yang belum dikenal, kecuali seseorang yang sudah benar-benar serius akan menjalin hubungan ke arah pernikahan dan Alhamdulillaah hanya bisa dihitung dengan tiga jari tangan (itu pun atas restu Ibundaku tercinta).

Akhirnya aku dan suami pun mengakui bahwa internet tpernah berjasa terhadap "pertemuan" kami yang indah dan atas niat ibadah kami melakukan pernikahan, sehingga sampai detik ini aku masih bisa menggunakan internet di rumah atas ijin suami yang sudah pasti mengerti bahwa istrinya tidak bisa dijauhkan dari internet.
Kini, tinggal aku sebagai Istri yang baik (begitu kan, harapan semua istri?) yang harus pandai-pandai mengelola waktu di segala bidang agar semuanya menjadi selaras, harmonis dan diridhoi oleh suami dan terutama Allah SWT, sehingga "kecanduan internet" akan berubah lebih baik lagi menjadi sekedar "kebutuhan internet" yang memadai dan dalam batas wajar. Semoga aku bisa menjalankannya, amiiin! Insya Allah ...

Thanks Ida M. Robit

Jumat, 08 Mei 2009

PEREMPUAN


Jangankan lelaki biasa, Nabi pun terasa sunyi tanpa perempuan Tanpa mereka , hati, pikiran, perasaan lelaki akan resah Masih mencari walaupun sudah ada segala-galanya Apalagi yang tidak ada di surga, namun Nabi Adam a.s tetap merindukan Siti Hawa

Kepada perempuanlah lelaki memanggil ibu, istri, atau puteri Dijadikan mereka dari tulang rusuk yang bengkok untuk diluruskan oleh lelaki, tetapi kalau sendiri yang tidak lurus, tidak mungkin मम्पू hendak meluruskan mereka.

Tak logis kayu yang bengkok menghasilkan bayang-bayang yang lurus Luruskanlah mereka dengan petunjuk Allah, karena mereka diciptakan begitu rupa oleh-Nya Didiklah mereka dengan panduan dari-Nya:

Jangan coba jinakkan mereka dengan harta, nanti mereka semakin liar... Jangan hibur mereka dengan kecantikan, nanti mereka semakin menderita... Yang sementara itu tidak akan menyelesaikan mesalah... Kenalkan mereka kepada Allah, Dzat yang kekal, di situlah kuncinya

Akal setipis rambutnya, tebalkan ia dengan ilmu.... Hati yang serapuh kaca, tebalkan ia dengan iman.... Perasaan yang selembut sutera, hiasilah ia dengan akhlak....

Suburkanlah, karena dari situlah nanti mereka akan nampak penilaian dan keadilan Tuhan. Akan terhibur dan berbahagialah mereka, walaupun tidak jadi ratu cantik dunia, presiden ataupun perdana menteri ataupun women gladiator.
Bisikkan ke telinga mereka bahwa kelembutan bukan suatu kelemahan.Itu bukan diskriminasi Tuhan Sebaliknya di situlah kasih sayang Tuhan, karena rahim perempuan yang lembut itulah yang mengandungkan lelaki2 wajah: negarawan, karyawan,jutawan dan wan-wan lain Tidak akan lahir superman tanpa superwoman.



Perempuan yang lupa hakikat kejadiannya, pasti tidak terhibur dan tidak menghiburkan Tanpa ilmu, iman dan akhlak, mereka bukan saja tidak bisa diluruskan,bahkan mereka pula membengkokkan. Lebih banyak lelaki yang dirusakkan oleh kaum perempuan... daripada perempuan yang dirusak oleh laki-laki...Sebodoh-bodoh perempuanpun bisa menundukkan sepandai-pandainya lelaki

Itulah akibat apabila perempuan tidak kenal Tuhan. Mereka tidak akan kenal diri mereka sendiri, apalagi mengenal lelaki. Kini bukan saja banyak boss telah kehilangan secretary, bahkan anakpun akan kehilangan ibu, suami kehilangan istri dan bapak akan kehilangan puteri. Bila perempuan durhaka dunia akan huru-hara. Bila tulang rusuk patah, rusaklah jantung, hati dan limpa

Para lelaki pula jangan hanya mengharap ketaatan tetapi binalah kepemimpinan. Pastikan sebelum memimpin perempuan menuju Allah, pimpinlah diri sendiri dahulu kepada-Nya. Jinakkan diri dengan Allah, niscaya jinaklah segala-galanya dibawah pimpinan kita. Jangan mengharap istri seperti Siti Fatimah Kalau pribadi belum lagi seperti Sayidina Ali

Thanks sherie iie

Jumat, 01 Mei 2009

RAHASIA Kecil KEBAHAGIAAN


Rahasia Kebahagiaan adalah MEMUSATKAN PERHATIAN PADA KEBAIKAN DALAM DIRI ORANG LAIN। Sebab, HIDUP BAGAIKAN LUKISAN : Untuk Melihat KEINDAHAN Lukisan yang TERBAIK Sekalipun, Lihatlah Di Bawah SINAR yang TERANG, BUKAN di Tempat yang TERTUTUP dan GELAP Sama Halnya Sebuah GUDANG.

Rahasia Kebahagiaan adalah TIDAK MENGHINDARI KESULITAN. Dengan Memanjat Bukit, bukan Meluncurinya, Kaki Seseorang Tumbuh Menjadi Kuat.

Rahasia Kebahagiaan adalah MELAKUKAN SEGALA SESUATU BAGI ORANG LAIN. Air yang Tak Mengalir Tidak Berkembang. Namun, Air yang Mengalir dengan Bebas Selalu Segar dan Jernih.

Rahasia Kebahagiaan adalah BELAJAR DARI ORANG LAIN dan BUKAN MENCOBA MENGGURUI MEREKA. Semakin Anda Menunjukkan Seberapa Banyak Anda Tahu, Semakin Orang Lain akan Mencoba Menemukan Kekurangan dalam Pengetahuan Anda. Mengapa bebek disebut "bodoh"? Karena Terlalu Banyak berCUAP-CUAP.

Rahasia Kebahagiaan adalah KEBAIKAN HATI : MEMANDANG ORANG LAIN. Sebab, Setiap Ciptaan adalah Milik Anda. KITA SEMUA adalah CIPTAAN TUHAN yang SATU.

Rahasia Kebahagiaan adalah TERTAWA BERSAMA ORANG LAIN, sebagai SAHABAT dan BUKAN MENERTAWAKAN, sebagai Hakim.

Rahasia Kebahagiaan adalah TIDAK SOMBONG. Bila Anda Menganggap Mereka Penting, Anda akan Memiliki Sahabat ke Manapun Anda pergi. Ingatlah bahwa musang yang paling besar akan
mengeluarkan bau yang paling menyengat.



Kebahagiaan Datang kepada Mereka yang MEMBERIKAN CINTANYA SECARA BEBAS dan MELEPASKAN, yang TIDAK MEMINTA ORANG LAIN MENCINTAI MEREKA TERLEBIH DAHULU. BERMURAH HATILAH seperti MENTARI yang MEMANCARKAN SINARNYA Tanpa Terlebih Dahulu Bertanya "Apakah Orang-orang Patut Menerima Kehangatannya" .

Kebahagiaan Berarti MENERIMA APAPUN yang DATANG dan Selalu mengatakan Kepada DIRI SENDIRI "AKU BEBAS DALAM DIRIKU".

Kebahagiaan Berarti MEMBUAT ORANG LAIN BAHAGIA. Padang Rumput yang Penuh Bunga Membutuhkan Pohon-pohon di Sekelilingnya, Bukan Bangunan-bangunan Beton yang Kaku. KELILINGILAH PADANG HIDUP Anda dengan KEBAHAGIAAN.

Kebahagiaan Berasal dari MENERIMA ORANG LAIN SEBAGAIMANA ADANYA ; Nyatanya Menginginkan Mereka Bukan Sebagaimana Adanya. Betapa AKAN MEMBOSANKAN Hidup ini jika Setiap Orang Sama. Bukankah Taman pun Akan Tampak Janggal Bila Semua Bunganya Berwarna Ungu ?

Rahasia Kebahagiaan adalah MENJAGA agar HATI Anda TERBUKA Bagi Orang Lain dan BERBAGI Pengalaman-pengalam an Hidup. HATI LAKSANA PINTU SEBUAH RUMAH. CAHAYA MATAHARI Hanya Dapat Masuk Bilamana Pintu Rumah Itu Terbuka Lebar.

Rahasia Kebahagiaan adalah MEMAHAMI bahwa Persahabatan Jauh LEBIH BERHARGA Daripada Barang ; Lebih Berharga daripada MENGURUSI Urusan Sendiri ; Lebih Berharga daripada BERSIKUKUH pada Kebenaran Dalam Perkara-perkara yang Tidak Prinsipil.

"...RENUNGKAN SETIAP RAHASIA YANG ADA DI DALAMNYA. RASAKAN APA YANG DIKATAKANNYA. .."

Thanks Kamila Vyndarti

KEKUATAN vs KELEMBUTAN


Ada dua benda yang bersahabat karib yaitu BESI dan AIR. Besi seringkali BERBANGGA Akan DIRINYA SENDIRI. Ia sering Menyombong kepada Sahabatnya : "Lihat ini aku, Kuat dan Keras. Aku Tidak Seperti Kamu yang Lemah dan Lunak" Air hanya Diam Saja Mendengar Tingkah Sahabatnya.

Suatu hari Besi Menantang Air Berlomba untuk Menembus Suatu Gua dan Mengatasi Segala Rintangan yang ada di sana.

Aturannya :
"Barang siapa dapat melewati gua itu dengan selamat tanpa terluka maka ia dinyatakan menang."

Besi dan Air pun mulai berlomba :
Rintangan pertama mereka ialah mereka harus melalui Penjaga Gua itu yaitu Batu-batu yang Keras dan Tajam. Besi mulai Menunjukkan Kekuatannya, Ia Menabrakkan Dirinya ke batu-batuan itu. Tetapi karena Kekerasannya batu-batuan itu Mulai Runtuh Menyerangnya dan Besi pun Banyak Terluka di sana - sini karena Melawan Batu-batuan itu.

Air melakukan tugasnya ia menetes sedikit demi sedikit untuk melawan bebatuan itu, ia lembut Mengikis Bebatuan itu sehingga Bebatuan lainnya Tidak Terganggu dan Tidak Menyadarinya, ia Hanya Melubangi Seperlunya Saja untuk Lewat tetapi Tidak Merusak Lainnya. Score Air dan Besi 1 : 0 untuk rintangan ini.




Rintangan kedua mereka ialah mereka harus melalui berbagai celah sempit untuk tiba di dasar gua. Besi Merasakan Kekuatannya, ia Mengubah Dirinya menjadi Mata Bor yang Kuat dan ia Mulai Berputar untuk Menembus Celah-celah itu. Tetapi celah-celah itu ternyata Cukup Sulit untuk Ditembus, semakin Keras ia berputar memang celah itu Semakin Hancur tetapi ia pun juga semakin terluka.

Air dengan Santainya Merubah Dirinya Mengikuti Bentuk Celah-celah itu. Ia Mengalir Santai dan karena Bentuknya yang Bisa Berubah ia Bisa dengan Leluasa tanpa Terluka Mengalir Melalui Celah-celah itu dan tiba dengan Cepat Didasar Gua. Score air dan besi 2 : 0

Rintangan ketiga ialah mereka harus dapat melewati Suatu Lembah dan tiba di luar gua besi kesulitan mengatasi rintangan ini, ia tidak tahu harus berbuat apa, akhirnya ia berkata kepada air : "Score kita 2 : 0, Aku akan Mengakui Kehebatanmu jika engkau dapat melalui rintangan terakhir ini !"

Air pun Segera Menggenang sebenarnya ia pun Kesulitan Mengatasi Rintangan ini, tetapi kemudian ia Membiarkan Sang MATAHARI Membantunya untuk Menguap. Ia Terbang dengan Ringan Menjadi Awan, kemudian ia Meminta Bantuan ANGIN untuk Meniupnya ke Seberang dan Mengembunkannya. Maka Air Turun sebagai HUJAN. Air Menang Telak atas Besi dengan score 3 : 0.

JADIKANLAH HIDUPMU seperti AIR. Ia Dapat Memperoleh Sesuatu dengan Kelembutannya Tanpa Merusak dan Mengacaukan karena dengan Sedikit Demi Sedikit ia Bergerak tetapi ia Dapat Menembus Bebatuan yang Keras.

Ingat HATI SESEORANG Hanya Dapat Dibuka dengan Kelembutan dan Kasih Bukan dengan Paksaan dan Kekerasan. KEKERASAN Hanya Menimbulkan DENDAM dan PAKSAAN hanya Menimbulkan KEINGINAN Untuk Membela Diri.

Air Selalu Merubah Bentuknya Sesuai dengan Lingkungannya, ia FLEXIBEL dan Tidak Kaku karena itu ia Dapat Diterima oleh Lingkungannya dan Tidak Ada yang Bertentangan dengan Dia.

Air Tidak Putus Asa, Ia Tetap Mengalir Meskipun Melalui Celah Terkecil Sekalipun. Ia Tidak Putus Asa.

Dan Sekalipun Air Mengalami Suatu Kemustahilan untuk MENGATASI MASALAHNYA, Padanya Masih Dikaruniakan Kemampuan untuk MERUBAH DIRI MENJADI UAP.

Thanks Kamila Vyndarti