Kamis, 28 Agustus 2008

Ketika Keju Tak Lagi Gurih


Banyak yang bertanya mengapa saya mengundurkan diri sebagai pemimpin redaksi Metro TV. Memang sulit bagi saya untuk meyakinkan setiap orang yang bertanya bahwa saya keluar bukan karena sedang marah atau bukan dalam situasi yang tidak menyenangkan. Mungkin terasa aneh pada posisi yang tinggi, dengan power yang luar biasa sebagai pimpinan sebuah stasiun televisi berita, tiba-tiba saya mengundurkan diri.

Dalam perjalanan hidup dan karir, dua kali saya mengambil keputusan sulit. Pertama, ketika saya tamat STM. Saya tidak mengambil peluang beasiswa ke IKIP Padang. Saya lebih memilih untuk melanjutkan ke Sekolah Tinggi Publisistik di Jakarta walau harus menanggung sendiri beban uang kuliah. Kedua, ya itu tadi, ketika saya memutuskan untuk mengundurkan diri dari Metro TV.


Dalam satu seminar, Rhenald Khasali, penulis buku Change yang saya kagumi, sembari bergurau di depan ratusan hadirin mencoba menganalisa mengapa saya keluar dari Metro TV. Andy ibarat ikan di dalam kolam. Ikannya terus membesar sehingga kolamnya menjadi kekecilan. Ikan tersebut terpaksa harus mencari kolam yang lebih besar.

Saya tidak tahu apakah pandangan Rhenald benar. Tapi, jujur saja, sejak lama saya memang sudah ingin mengundurkan diri dari Metro TV. Persisnya ketika saya membaca sebuah buku kecil berjudul Who Move My Cheese. Bagi Anda yang belum baca, buku ini bercerita tentang dua kurcaci. Mereka hidup dalam sebuah labirin yang sarat dengan keju. Kurcaci yang satu selalu berpikiran suatu hari kelak keju di tempat mereka tinggal akan habis. Karena itu, dia selalu menjaga stamina dan kesadarannya agar jika keju di situ habis, dia dalam kondisi siap mencari keju di tempat lain. Sebaliknya, kurcaci yang kedua, begitu yakin sampai kiamat pun persediaan keju tidak akan pernah habis.

Singkat cerita, suatu hari keju habis. Kurcaci pertama mengajak sahabatnya untuk meninggalkan tempat itu guna mencari keju di tempat lain. Sang sahabat menolak. Dia yakin keju itu hanya dipindahkan oleh seseorang dan nanti suatu hari pasti akan dikembalikan. Karena itu tidak perlu mencari keju di tempat lain. Dia sudah merasa nyaman. Maka dia memutuskan menunggu terus di tempat itu sampai suatu hari keju yang hilang akan kembali. Apa yang terjadi, kurcaci itu menunggu dan menunggu sampai kemudian mati kelaparan. Sedangkan kurcaci yang selalu siap tadi sudah menemukan labirin lain yang penuh keju. Bahkan jauh lebih banyak dibandingkan di tempat lama.

Pesan moral buku sederhana itu jelas: jangan sekali-kali kita merasa nyaman di suatu tempat sehingga lupa mengembangkan diri guna menghadapi perubahan dan tantangan yang lebih besar. Mereka yang tidak mau berubah, dan merasa sudah nyaman di suatu posisi, biasanya akan mati digilas waktu.

Setelah membaca buku itu, entah mengapa ada dorongan luar biasa yang menghentak-hentak di dalam dada. Ada gairah yang luar biasa yang mendorong saya untuk keluar dari Metro TV. Keluar dari labirin yang selama ini membuat saya sangat nyaman karena setiap hari keju itu sudah tersedia di depan mata. Saya juga ingin mengikuti lentera jiwa saya. Memilih arah sesuai panggilan hati. Saya ingin berdiri sendiri.

Maka ketika mendengar sebuah lagu berjudul Lentera Hati yang dinyanyikan Nugie, hati saya melonjak-lonjak. Selain syair dan pesan yang ingin disampaikan Nugie dalam lagunya itu sesuai dengan kata hati saya, sudah sejak lama saya ingin membagi kerisauan saya kepada banyak orang.

Dalam perjalanan hidup saya, banyak saya jumpai orang-orang yang merasa tidak bahagia dengan pekerjaan mereka. Bahkan seorang kenalan saya, yang sudah menduduki posisi puncak di suatu perusahaan asuransi asing, mengaku tidak bahagia dengan pekerjaannya. Uang dan jabatan ternyata tidak membuatnya bahagia. Dia merasa lentera jiwanya ada di ajang pertunjukkan musik. Tetapi dia takut untuk melompat. Takut untuk memulai dari bawah. Dia merasa tidak siap jika kehidupan ekonominya yang sudah mapan berantakan. Maka dia menjalani sisa hidupnya dalam dilema itu. Dia tidak bahagia.

Ketika diminta untuk menjadi pembicara di kampus-kampus, saya juga menemukan banyak mahasiswa yang tidak happy dengan jurusan yang mereka tekuni sekarang. Ada yang mengaku waktu itu belum tahu ingin menjadi apa, ada yang jujur bilang ikut-ikutan pacar (yang belakangan ternyata putus juga) atau ada yang karena solider pada teman. Tetapi yang paling banyak mengaku jurusan yang mereka tekuni sekarang -- dan membuat mereka tidak bahagia -- adalah karena mengikuti keinginan orangtua.

Dalam episode Lentera Jiwa (tayang Jumat 29 dan Minggu 31 Agustus 2008), kita dapat melihat orang-orang yang berani mengambil keputusan besar dalam hidup mereka. Ada Bara Patirajawane, anak diplomat dan lulusan Hubungan Internasional, yang pada satu titik mengambil keputusan drastis untuk berbelok arah dan menekuni dunia masak memasak. Dia memilih menjadi koki. Pekerjaan yang sangat dia sukai dan menghantarkannya sebagai salah satu pemandu acara masak-memasak di televisi dan kini memiliki restoran sendiri. Saya sangat bahagia dengan apa yang saya kerjakan saat ini, ujarnya. Padahal, orangtuanya menghendaki Bara mengikuti jejak sang ayah sebagai diplomat.

Juga ada Wahyu Aditya yang sangat bahagia dengan pilihan hatinya untuk menggeluti bidang animasi. Bidang yang menghantarkannya mendapat beasiswa dari British Council. Kini Adit bahkan membuka sekolah animasi. Padahal, ayah dan ibunya lebih menghendaki anak tercinta mereka mengikuti jejak sang ayah sebagai dokter. Simak juga bagaimana Gde Prama memutuskan meninggalkan posisi puncak sebuah perusahaan jamu dan jabatan komisaris di beberapa perusahaan. Konsultan manajemen dan penulis buku ini memilih tinggal di Bali dan bekerja untuk dirinya sendiri sebagai public speaker.

Pertanyaan yang paling hakiki adalah apa yang kita cari dalam kehidupan yang singkat ini? Semua orang ingin bahagia. Tetapi banyak yang tidak tahu bagaimana cara mencapainya.

Karena itu, beruntunglah mereka yang saat ini bekerja di bidang yang dicintainya. Bidang yang membuat mereka begitu bersemangat, begitu gembira dalam menikmati hidup. Bagi saya, bekerja itu seperti rekreasi. Gembira terus. Nggak ada capeknya, ujar Yon Koeswoyo, salah satu personal Koes Plus, saat bertemu saya di kantor majalah Rolling Stone. Dalam usianya menjelang 68 tahun, Yon tampak penuh enerji. Dinamis. Tak heran jika malam itu, saat pementasan Earthfest2008, Yon mampu melantunkan sepuluh lagu tanpa henti. Sungguh luar biasa. Semua karena saya mencintai pekerjaan saya. Musik adalah dunia saya. Cinta saya. Hidup saya, katanya.

Berbahagialah mereka yang menikmati pekerjaannya. Berbahagialah mereka yang sudah mencapai taraf bekerja adalah berekreasi. Sebab mereka sudah menemukan lentera jiwa mereka.

Thanks Eman Mulyatman

Persiapan Bulan Ramadhan (I)

Ramadhan telah diambang pintu, tanpa kita rasakan waktu bergulir begitu cepat,kita telah berada dibulan Sya'ban, bulan yang menjadi bulan ibadah istimewa untuk Rasulullah selain bulan Ramadan, Usamah bin Zaid berkata kepada Rasulullah SAW " Ya Rasulullah saya tidak pernah melihatmu berpuasa dalam satu bulan dari bulan-bulan yang ada seperti puasamu dibulan Sya'ban? Rasul Bersabda "itulah bulan yang manusia lalai darinya antara Rajab dan Ramadhan.Dan merupakan bulan yang didalamnya diangkat semua amal kepada Rabul alamin. Dan saya suka diangkat amalan sedangkan saya dalam keadaan berpuasa". (HR. Imam Nasai).


Apa yang harus kita persiapkan dalam rangka menyongsong kedatangan tamu agung ini?. Ada beberapa hal yang harus kita persiapkan agar kita mampu untuk mengisi bulan yang penuh berkah ini dengan kegiatan yang dapat menambah bobot umur kita ketika kita menghadap Allah SWT.


Kenapa kita melakukan persiapan ini ?
Setiap Waktu-waktu yang kita lewati masing-masing mempunyai kelebihan dan keutamaan yang berbeda, maka kita harus bisa memperlakukannya secara proposional dan cerdas. Termasuk dalam menyiapkan kedatangan bulan suci Ramadhan yang banyak mempunyai keutamaan. Karena didalam Ramadhan adalah bulan diwajibkannya puasa, dianjurkan memperbanyak amalan sunnah, dianjurkannya memperbanyak memberikan santunan, serta memperbanyak membaca Al-Quran. Disamping itu bulan Ramadan adalah bulan pengendalian diri dari syahwat perut, dari hawa nafsu serta pengendalian anggota tubuh dari hal-hal yang dapat mengurangi nilai puasa.


A. Persiapan Pribadi
Secara pribadi kita harus mempersiapkan kedatangan bulan ini secara optimal, karena persiapan ini akan mempengaruhi baik tidaknya kita mengisi amaliah Ramadhan. Diantara persiapan pribadi yang harus kita lakukan adalah sbb:

Persiapan Secara Ruhi.
Ini adalah persiapan yang paling utama karena kekuatan ruh inilah yang akan menjadi motor penggerak segala bentuk ibadah kita sebelum, ketika dan pasca ramadhan. Maka itu apabila kita membaca sirah Rasul SAW, betapa persiapan beliau dari sisi ini sangat luar biasa, yaitu dengan melaksanakan puasa sya'ban.

Hal tersebut beliau lakukan dalam rangka mempersiapkan dan menyongsong kedatangan bulan Ramadhan. Disamping itu kita dianjurkan untuk banyak istighfar dan memohon serta memberi maaf agar kedatangan bulan suci kita sambut dengan hati bersih dari segala bentuk dosa dan perselisihan, rasa dengki dan penyakit-penyakit hati yang lainnya.

Dan hal lain yang harus dilakukan dalam persiapan ruhi adalah banyak berdoa kepada Allah agar DIA menyampaikan kita kepada bulan Ramadhan. Ma'la ibn Fadl berkata "Para salafus shaleh berdoa selama 6 bulan agar mereka disampaikan hingga bulan ramadhan dan kemudian berdoa(pasca Ramadhan-pent) selama 6 bulan agar ibadah mereka diterima".

Yahya Ibn Katsir berkata " diantara doa yang dibaca oleh para salaf adalah Ya Allah selamatkan aku hingga bulan ramadhan dan karuniakan aku ramadhan dan terimalah ibadah-ibadahku pada bulan ramadhan"

Persiapan Secara Fikri
Ramadhan adalah bulan didalamnya diwajibkan bagi kita untuk beribadah puasa yang mana dalam setiap ibadah kita harus mengerti ilmunya agar ibadah yang kita lakukan dapat sesuai dengan aturan yang telah ditentukan oleh Allah dan dicontohkan oleh Rasul-NYA. Maka persiapan ini pun tidak kalah pentingnya, untuk itu kita harus kembali membaca dan menelaah buku-buku yang berbicara tentang puasa agar kita dapat mengetahui syarat dan rukun puasa serta hal-hal yang dapat membatalkan serta menghilang nilai puasa.

Disamping itu dengan cara mengirim ucapan Selamat kepada saudara atau teman dalam rangka memberikan image dan kabar gembira dengan akan datangnya bulan yang mulia ini. Hal tersebut telah dicontohkan oleh Rasulullah SAW, sebagaimana dalam sebuah hadits Rasulullah SAW bersabda " telah datang kepada kalian bulan Ramadhan, bulan yang penuh berkah yang telah didalamnya diwajibkan bagi kalian berpuasa, disitu Allah membuka pintu-pintu syurga dan menutup pintu-pintu neraka serta para syaitan diikat, didalamnya ada sebuah malam yan lebih mulia dari seribu malam barang siapa yang diharam/dihalangi untuk mendapatkan kebaikan malam itu sesungguhnya ia telah diharamkan dari segala kebaikan" (HR.Nasai dan Baihaqi ). Imam Ibnu Rajab Al-Hambali ketika mengomentari hadits ini berkata " Hadits ini merupakan landasan agar kaum muslimin saling memberikan selamat dengan datangnya bulan Ramadhan".

Persiapan Secara Jasadi
Badan kita adalah salah satu komponen yang penting yang juga harus kita persiapkan dalam menyongsong bulan ramadhan, karena tanpa badan yang sehat kita tidak akan mampu melaksanakan kegiatan termasuk dalam masalah ibadah puasa, dalam hal ini Rasul SAW bersabda " Seorang mu'min yang kuat lebih baik dan lebih dicintai dari mu'min dhaif dan didalam kedua ada kebaikan".

Dari hadits ini rasul mendorong kita untuk menjaga kesehatan dan kebugaran tubuh karena ini sangat dicintai oelh Allah, sebab ini merupakan salah satu modal penting dalam melaksanakan segala perintah Allah dan Rasul-NYA. Maka cara yang paling tepat adalah dengan cara mengadakan latihan puasa sunnah menjelang datangnya bulan ramadhan, sebagaimana yang telah dicontohkan oleh Rasul SAW.

Persiapan secara Akhlaqi
Imam Ghazali dalam bukunya Ihya - Ulumuddin berkata "Ketahuilah bahwa puasa terbag dalam 3 tingkatan, Puasa umum, puasa khusus, dan puasa khususil khusus" (Ihya-jld 1/277). Imam Ibnu Rajab Al-Hambali berkata " Tingkatan kedua orang puasa adalah yang puasa di Dunia ini karena karena Allah, maka ia menjaga kepala dan apa yang dibawahnya, menjaga perut dan apa yang di sekelilingnya dan mengingat mati serta pasca kematian, orientasi hidupnya akherat maka hari Iednya adalah hari bertemu dengan Rabnya dan hari kebahagiannya adalah hari ketika ia melihat Rabnya".

Dari perkataan dua ulama ini menunjukan bahwa ada diantara orang yang berpuasa hanya mendapatkan keletihan tanpa ada keistemewaan yang ia dapatkan dan ada juga jenis orang yang berpuasa dan mendapatkan keistimewaan yaitu orang yang dapat mempersiapkan diri dari sisi ahklaq, karena tanpa persiapan sisi ini puasa hanya akan menahan lapar dan haus saja tanpa mampu menjaga akhlaq sehingga puasa kita menjadi nihil dari sisi pahala.

Hal itu sebagaimana yang dikatakan oleh Raulullah SAW "Berapa banyak orang yangg puasa namun mereka tdk mendapatkan dari puasa mereka kecuali lapar dan haus" (HR.Thabrani, Ahmad dan Baihaqi). Diantara akhlaq atau sikap yang harus dijaga dari saat ini sbb:

1. Menjaga penglihatan dan menghindarinya dari obyek yang tdk baik.
Rasulullah SAW bersabda " Penglihatan adalah panah dari panah beracun iblis" (HR…………….). Nabi Isa as berkata" penglihatan akan menimbulkan di dalam hati syahwat dan cukuplah itu sebagai sebuah kesalahan"

2. Menjaga lisan dari perkataan yang bathil dan tdk bermanfaat
Rasulullah SAW bersabda "Apabila kalian sedang berpuasa janganlah berkata dengan perkataan kotor (keji) dan janganlah melakukan perbuatan bodoh (berteriak,mencela) apabila ada orang yang menghina katakan kepadanya bahwa saya sedang puasa" (HR.Muttafaq 'alaihi). Maka ketika mampu menjaga lisan maka insya Allah kita akan terhindar dari puasa yang sia-sia namun ketika kita tidak mampu untuk itu maka puasa kita akan sia-sia, sebagaimana yang disinyalir oleh Rasulullah SAW "Barangsiapa yang tidak meninggalkan perkataan dan perbuatan bohong maka Allah tidak menperdulikan ibadah puasanya" (HR. Ibnu Majah).

3. Menjaga pendengaran dari hal-hal yang bathil.
Tidak memperbanyak mengkonsumsi makanan ketika berbuka. Memperbanyak makanan ketika berbuka adalah hal yang kurang baik karena akan menyebabkan.

Persiapan Secara Materi
Dari Abi Hurairah ra bahwasanya Rasulullah SAW bersabda "Rasulullah SAW bersumpah tidak ada bulan yang paling baik bagi orang beriman kecuali bulan Ramadhan, dan tidak ada bulan yang paling buruk bagi orang munafik kecuali bulan Ramadhan, dikarenakan pada bulan itu orang beriman telah menyiapkan diri untuk berkonsentrasi dalam beribadah dan sebaliknya orang munafik sudah bersiap diri untuk menggoda dan melalaikan orang beriman dari beribadah" (HR.Imam Ahmad).

Sabda Rasul SAW yang berbunyi " dikarenakan orang beriman telah menyiapkan diri untk berkonsentrasi dalam beribadah" diterangkan oleh para ulama sbb " Hal itu dikarenakan orang beriman telah menyiapkan diri dari sisi materi untuk memberikan nafkah kepada keluarganya karena mereka ingin konsentrasi beribadah, sebab memperbanyak Qiyam lail menyebakan mereka harus banyak tidur diwaktu siang dan memperbanyak I'tikaf menyebabkan mereka tidak bisa untuk beraktifitas diluar masjid, hal ini semua menyebabkan mereka tidak bisa untuk melakukan aktifitas mencari ma'isyah, maka itu mereka mempersiapkan diri jauh-jauh hari sebelum datang bulan Ramadhan agar mereka dapat konsern dalam beribadah serta mendapatkan keutamaan bulan yang mulia ini".

Disamping hal tersebut diatas persiapan dari sisi materi penting juga kita laksanakan agar kita dapat mencontoh Rasulullah dari kedermawanan yang beliau contohkan ketika datang bulan Ramadhan sebagaimana yang riwayatkan dari banyak hadits. Dari kitab Shahihain Ibnu 'Abbas ra berkata " Rasulullah adalah manusia yang paling dermawan, dan beliau semakin dermawan pada bulan Ramadhan ketika berjumpa dengan Jibril untuk bertadarus Al-Quran, kedermawanan Rasulullah ketika itu bagaikan angin yang berhembus, " dari Riwayat Imam Ahmad disebutkan " Ia tdak diminta sesuatu kecuali diberinya". Maka tanpa persiapan dari sisi materi kita tdk akan mampu mencontoh dan mengikuti kedermawanan Rasulullah SAW.
Bersambung....

Persiapan Bulan Ramadhan (II)


Persiapan dari sisi lingkungan.
Lingkungan adalah faktor yang tidak dapat kita abaikan dalam menyiapkan diri menyambut kedatangan bulan suci Ramadhan, sebab lingkungan mempunyai peranan yang sangat penting dalam mendukung proses pelaksanaan ibadah dibulan Ramadhan.

1. Rumah
Rumah adalah lingkungan yang paling utama dalam kehidupan seorang manusia, karena disitulah sebagian besar kehidupannya ia habiskan. Rumah merupakan nikmat yang harus disyukuri maka ketika Allah SWT mengazab orang yahudi bani Nadzhir mereka di azdab dengan mengeluarkan mereka dari rumah-rumah mereka (QS.59:2).



Maka kita sebagai seorang muslim harus mengkondisikan tempat tinggal kita agar dapat menunjang kekhusuan amaliah ibadah kita selama bulan Ramadhan. Diantara hal yang paling harus kita perhatikan dalam mengkondisikan rumah adalah masalah Media, terutama TV karena media ini adalah media yang sangat tinggi pengaruhnya dalam mengganggu kekhusuaan ibadah kita. Maka kita harus bisa meminimalisir dalam menggunakan media ini.

2. Tetangga
Disamping rumah yang harus kita kondisikan juga para tetangga, yaitu dengan cara memberikan keterangan dan anjuran untuk menyiapkan kedatangan bulan Ramadhan, dalam hal ini dapat kita lakukan dengan berkoordinasi dengan para tokoh apakah Pak RT / RW dan juga para kyai yang ada dilingkungan sekitar kita.

3. Tempat Ibadah (Masjid/Mushalla)
Tempat ibadah juga harus kita siapkan dalam menyambut bulan suci Ramadhan, dengan 2 cara, pertama secara material yaitu dengan mengadakan pembersihan umum dan perbaikan. Kedua secara Immaterial yaitu dengan mengadakan acara Tau'iyah (Penyuluhan) tentang puasa dan pentingnya mengisi ramadhan dg amalaiah secara optimal.

4. Tempat Kerja dan Pasar
Biasanya Sebelum memasuki syahrul awakhir kita masih tetap mengadakan kegiatan dan aktifitas di kantor atau tempat-tempat kerja kita, maka kita juga harus mengadakan persiapan dengan melakukan penyadaran yang menyeluruh apakah dengan mengadakan pemasangan famplet, pengajian atau dengan mengirim email ke teman-teman yang sekantor tentang Ramadhan dan amaliah ibadah Ramadhan.

Dari Berbagai sumber

Kamis, 21 Agustus 2008

Mohon Maaf Lahir Bathin

Semoga Allah SWT mencurahkan rahmat-Nya kepada kita semua.
Tiada yang sempurna, kecuali Allah Yang Maha Kuasa
Tiada yang kekal makhluk di dunia Salah dan dosa pasti ada diantara kita

Pintu maaf adalah jalan ke surga
Allah Maha Pengampun terhadap makhluknya
Ungkapan yang tulus dari lubuk hatiku yang terdalam


Ramadhan hampir datang, jika Allah berkehendak insya Allah kita akan menemui Ramadhan penuh barokah. Semoga gelar taqwa insya Allah akan menjadi milik kita yang berharga sebagai modal langkah kita selanjutnya. Salah paham, kesedihan, ego, sakit hati, adalah proses dari kehidupan kita.


Rabu, 20 Agustus 2008

Mesra Sepanjang Usia


Pernikahan adalah momen sangat menentukan dalam kehidupan manusia. Saat-saat menjelang pernikahan merupakan saat yang mendebarkan dan malam pertama adalah saat paling indah sepanjang hidup. Namun, seiring dengan berjalannya waktu, saat-saat indah dalam pernikahan pun mulai pudar dan rasa bosan terkadang menghantui kehidupan rumah tangga,

Apakah kebosanan harus berujung pada perceraian? Apakah ada solusi jitu untuk mempertahankan pernikahan, meski dihantam problematika rumah tangga yang pelik? Apakah suami harus mencari "suasana baru" dengan menikah lagi - dengan atau tanpa sepengetahuan istri?

Perbaharuilah pernikahan dengan memperbaiki kekurangan kehidupan rumah tangga, sehingga terlihat dalam bentuk yang baru dan indah. Isilah kehidupan rumah tangga dengan kebahagiaan dan ketenangan, dan jauhkan rasa cemas di dalam hati, karena hal tersebut dapat membunuh kehidupan rumah tangga, bahkan seluruh hidup ini.

Untuk melanggengkan romantisme rumah tangga tidak perlu mencari "angin segar" diluar rumah, karena di dalam rumah tangga dapat tercipta kesegaran tiada tara layaknya taman surga.
Indahnya kemesraan hingga ujung usia.

Dikutip dari buku: Mesra Sepanjang Masa (Syaikh Muhammad Mahmud)

Selasa, 19 Agustus 2008

Keberkahan dan Profesionalisme


Saya pernah berkesempatan mempresentasikan sistem informasi rumah sakit di kawasan Ungaran dan Ambarawa. Banyak pengalaman menarik. Namun, bagi saya, yang paling meninggalkan kesan adalah salah satu obrolan kami dengan direktur salah satu rumah sakit tersebut.

Pak direktur yang dokter tersebut terlihat sangat perhatian terhadap pengembangan sumber daya manusia. Salah satu buktinya adalah upaya beliau ‘menyekolahkan’ seorang anak buahnya untuk mendalami ilmu rakit merakit komputer.

Singkat cerita, anak buah tadi usai mengikuti training yang biayanya beliau sebutkan jutaan rupiah tersebut. Apa yang terjadi kemudian?

Ternyata, setelah itu, komputer-komputer yang jumlahnya tidak banyak di rumah sakit tersebut jadi lebih sering bermasalah. Ada saja komponen yang harus diganti. Di sisi lain, anak buah tadi juga membuka bisnis jual beli komputer, dengan segmen dokter-dokter dan karyawan lain di rumah sakit itu. Namun selalu saja ada masalah dengan komputer yang mereka beli. Ada saja komponen yang harus diganti.

Pak direktur, pada mulanya, tidak langsung curiga. Namun akhirnya beliau melakukan cross check. Ketika suatu saat terjadi lagi masalah dengan komputer, beliau mengundang ahli komputer dari pemda. Ternyata disimpulkan bahwa komputer yang dikatakan rusak tersebut baik-baik saja.

Selanjutnya bisa ditebak. Pak direktur segera mengambil langkah-langkah pencegahan, anak buah yang berkhianat tadi dimutasi ke bagian lain. Aksesnya ke ruang komputer dihalangi. Sebab, setiap kali anak buah tadi keluar dari ruang komputer, selalu ada saja komputer yang rusak. Tamatlah karir si anak buah tadi. Para langganannya juga menjadi tidak percaya lagi.

Ada kenyataan mendasar yang sederhana dari cerita di atas. Kemampuan teknis semata tidak cukup sebagai syarat sukses. Moralitas, seperti amanah dan kejujuran, merupakan syarat mutlak lainnya.

Jujur, amanah, tepat janji, merupakan ciri mukmin sejati. Hal ini berlaku untuk seluruh disiplin kehidupan. Saya menyebutnya sebagai bagian mutlak profesionalisme, yang berlaku dalam kehidupan keluarga, rumah tangga, pekerjaan, da’wah, politik, aktifitas sosial kemasyarakatan dan lain sebagainya.

Hal ini terwujud misalnya dalam soal ketepatan waktu. Jam karet dan janji yang meleset adalah cacat serius dalam profesionalisme. Dampaknya adalah memudarnya kepercayaan orang lain terhadap kita.

Orang lain itu mungkin anak kita, yang diam-diam sering kecewa dengan sering mangkirnya si orang tua dari janjinya. Atau mungkin klien, yang meragukan profesionalitas kita karena terlambatnya kita menyerahkan hasil pekerjaan. Atau atasan kita, yang sering mendapati kita gagal menyelesaikan pekerjaan tepat waktu. Atau mungkin bawahan kita, yang menilai kita cedera janji, karena gaji yang sering terlambat, atau janji dan harapan perusahaan yang terlalu mudah diucapkan namun tak kunjung terwujud.

Namun ketidakjujuran, ketidakmampuan menepati janji, terkadang bukanlah karena itikad buruk. Maksudnya, bisa jadi kita tidak mampu menepati janji karena kelemahan kita dalam mengukur diri, dan bukan bermaksud untuk bersikap curang.

Misalnya, kita mungkin begitu saja berjanji kepada anak kita untuk pulang sore, hanya sekedar untuk menyenangkan hatinya. Kita tidak merasa perlu menengok ke agenda kerja untuk mengukur volume kerja pada hari itu.

Pada episode lain, kita mungkin mudah saja menyanggupi permintaan klien, dengan harapan mendapatkan proyek, tanpa benar-benar mengukur kemampuan diri dalam menyelesaikan proyek tersebut. Atau bisa jadi kita mengiyakan saja tenggat waktu yang ditetapkan atasan, tanpa benar-benar mengetahui kesanggupan kita untuk memenuhi tenggat waktu tersebut. Dalam kasus-kasus seperti ini, mungkin kita tidak berniat ingkar janji, namun hasil akhirnya adalah sama.

Kenyataan lainnya yang sering kita temui adalah mudahnya kita berlindung di balik kata Insya Allah. Kita mengucapkan hal itu bukan dengan keyakinan untuk memenuhi janji, namun justru sebaliknya, sebagai taktik untuk berkelit, karena kita pada dasarnya kurang yakin mampu memenuhi janji tersebut.

Akibatnya, sering kita temui di masyarakat, jika berjanji diiringi dengan ucapan Insya Allah, akan langsung dicurigai akan tidak mampu memenuhi janji tersebut. Padahal, biarlah saya ulangi sekali lagi, Insya Allah hanya diucapkan dengan keyakinan kesanggupan untuk memenuhi janji tersebut, seraya menyadari bahwa ada hal-hal di luar kuasa kita, yang kita serahkan kepada Allah untuk memberikan jalan keluar. Seharusnya, tak perlu berjanji jika memang tak yakin sanggup memenuhi. Cukup katakan bahwa kita tak berani menjanjikan, dan jangan berlindung di balik kata Insya Allah.

Kembali ke awal tulisan tentang anak buah yang tidak amanah tadi, karirnya yang kini terhenti merupakan akibat dari ketidakprofesionalannya sendiri. Caranya menjalani profesi tidak membawa keberkahan dalam hidupnya.

Ketidakberkahan adalah isyarat ketidakbahagiaan. Begitulah yang akan terjadi pada setiap individu yang tidak amanah.

Namun, selalu ada pintu tobat. Bukankah Allah Maha Penerima Tobat hambaNya yang serius dalam bertobat?

Thanks Sabrul Jamil



Kapan Jadi WAHM?

WAHM adalah Work at Home Mom





Kamis, 14 Agustus 2008

Apakah Harus Bercerai???


Hati saya merasa sangat sedih ketika mendengar ada rekan kerja yang akan bercerai dalam waktu dekat. Mereka suami dan isteri bekerja dalam satu kantor. Beberapa tahun setelah pernikahan mereka, ternyata belum membuahkan hasil berupa anak. Siapapun pasangan yang normal pasti menginginkan hadirnya seorang anak yang bisa menyejukkan hati orang tuanya. Tapi saya tidak habis pikir, bagaimana mungkin seorang suami tega menceraikan isterinya hanya karena isterinya tidak kunjung hamil. Padahal kehamilan itu sendiri bukan ditentukan oleh isterinya tetapi ditentukan oleh Allah SWT.

Dengan wajah sendu dan menahan tangis, rekan kerja tersebut menceritakan kalau sekarang sudah tidak tinggal di rumah lagi tetapi menumpang di rumah rekan kerja yang lain. Dia bercerita kalau suaminya tidak mengajak berbicara selama berhari-hari, kalau ditanya sang suami diam seribu bahasa. Beberapa rekan kerja yang jabatannya lebih tinggi mencoba membantu memecah kebuntuan hubungan suami isteri tersebut tetapi tidak membuahkan hasil. Kemudian pihak keluarga juga mencoba turun tangan tetapi sang suami tetap teguh pada pendiriannya, ingin menceraikan isterinya yang tidak bisa memberinya keturunan.


Saya masih merasa sedih dengan persoalan teman kerja saya tersebut. Kemudian Saya mengingat beberapa teman yang juga tidak dikarunia anak. Ada teman kerja yang dua kali melahirkan ternyata anaknya hanya bertahan beberapa jam saja dan langsung meninggal. Ternyata anaknya yang pertama dan kedua menderita kelainan bawaan. Akhirnya dokter menyarankan teman saya untuk tidak memiliki anak lagi karena kalaupun ada anak lagi dimungkinkan akan menderita kelainan yang sama. Teman tersebut akhirnya mengasuh anak dari kakak iparnya. Mereka terlihat bahagia dengan anak asuhnya tersebut.

Kemudian ada tetangga dekat rumah saya yang sudah puluhan tahun menikah ternyata juga belum dikaruniai anak. Dokter menyatakan keduanya sehat dan tidak mempunyai penyakit ataupun kelainan tetapi toh ternyata Allah SWT punya kehendak lain dengan tidak memberinya keturunan. Tetangga saya terlihat bahagia dan sabar walaupun tidak terdengar derai tawa anak dari rumah mereka.

Saya mencoba merenungkan, apakah pernikahan hanya untuk mendapatkan keturunan? tentu saja tidak. Tujuan pernikahan haruslah didasarkan pada keimanan kepada Allah SWT, berniat mendapatkan ridho Allah SWT, niat untuk beribadah kepadaNya dan mengikuti sunah RasulNya. Saya yakin bahwa orang yang bertakwa akan diberikan kemudahan termasuk kemudahan menerima takdir Allah SWT baik hal-hal yang terlihat baik dan menyenangkan untuk kita ataupun hal-hal yang terlihat tidak baik dan tidak menyenangkan. Allah SWT pasti menyediakan pahala dan ampunan yang besar bagi orang-orang yang bersabar dan bertakwa kepadaNya. Wallahu’alam.

Thanks Nur Aeni Semarang


Selasa, 12 Agustus 2008

Titik kemuliaan ibu rumah tangga


"Rasa kasih sayang dalam rumah tangga memerlukan satu poros utama, dan ia adalah wanita yang menjadi ibu rumah tangga. Tanpa kehadiran ibu rumah tangga, maka rumah tangga akan kering tanpa makna." (Ayatullah Uzma Sayid Ali Khamenei)

SESAAT menjelang bunuh diri, aktris kenamaan Hollywood , Marilyn Monroe, menulis sepucuk surat untuk kaum wanita seluruh dunia. Bintang iklan yang juga supermodel paling populer itu menyampaikan sebuah penyesalannya menjalani kehidupan di dunia ini. Salah satu kutipan dalam suratnya tersebut sebagai berikut:


"Waspadailah popularitas wahai wanita. Waspadailah setiap kegemerlapan yang menipumu. Saya adalah wanita termalang di muka bumi ini, sebab saya tidak bisa menjadi seorang ibu. Sesungguhnya wanita itu seharusnya menjadi penghuni rumah utama. Kehidupan berumah tangga dan berkeluarga secara mulia di atas segalanya. Sesungguhnya kebahagiaan wanita yang hakiki adalah dalam kehidupan rumah tangga yang mulia dan suci, bahkan kehidupan berumah tangga adalah simbol kebahagiaan wanita dan manusiawi."

Marilyn Monroe tak sendirian. Kini, banyak kaum perempuan barat mengikuti penyesalan Marilyn Monroe. Penyesalan ini lahir dari banyak hal yang telah mereka lakukan di luar fitrah mereka. Mereka menyesal atas kesibukannya di luar rumah. Karena kesibukan mereka di luar rumah, keluarga mereka menjadi rentan dihinggapi berbagai masalah.

Penyelewengan, perselingkuhan suami istri, adalah masalah dominan yang kerap mengunjungi mereka. Karenanya, kegoncangan kehidupan rumah tangga, penyelewengan pendidikan anak yang menyebabkan mereka terlantar dan sengsara menjadi pelengkap penyesalan mereka. Tentu, secara fitrah, tak ada seorang wanita (ibu) yang tak menangis hatinya saat melihat anak-anaknya memiliki moral yang rusak, bebas berzina, hamil di luar nikah, aborsi, dan lain-lain. Tapi, inilah yang terjadi di barat sana .

Kaum wanita yang hidup dalam liberalisme barat mulai menyadari bahwa persamaan, kesetaraan, dan kebebasan yang didengungkan banyak kaumnya di negeri mereka, sebetulnya telah merampas kebahagiaan dan fitrah mereka sendiri. Mahmud Mahdi Al Istambuli menyampaikan kabar kesadaran mereka itu sebagai berikut: "Mereka baru-baru ini mulai mengajukan persamaan dengan wanita Muslimah, sesudah mereka tahu apa tujuan di balik semboyan-semboyan dan slogan-slogan bohong itu. Wanita-wanita barat rindu mendapatkan kehidupan sebagaimana dialami wanita di negeri Islam. Mereka menuntut persamaan dengan kehidupan para Muslimah itu."

MONROE berharap menjadi seorang ibu yang baik. Bahkan, ia menyatakan sendiri bahwa kebahagiaan hakiki seorang wanita adalah ketika ia mampu menjadi ibu, yang berkiprah total dalam kehidupan rumah tangga dan keluarganya. Berkhidmat dan taat sepenuhnya kepada suami, melahirkan anak, mendidiknya, membesarkannya, menjadikan mereka generasi yang taat kepada orangtua, dan generasi penerus perjuangan yang akan mampu mewujudkan peradaban mulia.

Tentu, Monroe dan banyak kaum wanita yang kemudian menyadari kekeliruannya selama ini, melihat sebuah kemuliaan dalam status itu. Dan, secara tidak langsung, ia menyanggah bahwa kebahagiaan hakiki seorang wanita ada dalam gemerlapnya harta, tingginya kedudukan, pesatnya karier, dan lain-lain.

Sesungguhnya, yang Monroe lihat adalah sebuah kebenaran. Kebenaran yang selama ini diajarkan Islam. Ajaran yang menempatkan wanita, terutama ibu, dalam posisi yang sangat mulia.

Sebuah puisi dari Chages, Challenges and Choices: Women in Develompent in Papua New Guinea , mungkin menjadi daftar lanjutan layaknya posisi ibu rumah tangga mendapat tempat terhormat dan mulia. Berikut bait-bait puisi yang dimaksud:

Istriku Yang Tidak Bekerja
Suatu ketika
Siapa yang mengerik sagu?
Siapa merawat ternak itu?
Menjadi tumbuh dan menjual makanannya
Hingga keluarga bertahan
Siapa menimba air di sumur?
Merawat dan menyayang anak-anak itu?
Merawat yang sakit?
Yang pekerjaannya menghabiskan waktu
Yang bagi lelaki untuk minum kopi, merokok, berpolitik dengan temannya?
Siapa hatinya tercurah bagi anak-anak?
Yang perjuangannya
Tak terlihat
Tak terdengar
Tak dihargai
Tak terbantu
Membantu pembangunan?
Siapa peduli untuk bilang
Benarkah Istriku tidak bekerja?

Keterhormatan profesi ibu rumah tangga tentu tidak berhenti di titik itu. Keterhormatan itu akan semakin lengkap manakala seorang ibu rumah tangga mampu mewujudkan tiga struktur rumah tangga, seperti yang diungkapkan Syeikh Muhammad Al-Ghazali, yaitu sakinah, mawaddah dan rahmah.

Menurut Al Ghazali, yang dimaksud sakinah adalah hendaknya seorang ibu rumah tangga harus berpuas hati dengan pasangannya, demikian juga sebaliknya. Mereka harus menanamkan kesetiaan dalam kehidupannya. Seorang ibu rumah tangga sepatutnya tahu kesenangan suami. Menyediakan segala keperluan yang disukainya terlebih dahulu, sebelum meminta sesuatu darinya. Sementara mawaddah, berarti seorang ibu rumah tangga harus berupaya menumbuhkan rasa suka dan duka bersama keluarganya. Dan rahmah, berarti seorang ibu rumah tangga harus senantiasa mendasarkan setiap perilaku dan aktivitasnya di dalam rumah kepada akhlak yang mulia, serta tahu bersyukur atas nikmat yang diperoleh.

Namun demikian, menjadi ibu rumah tangga yang mendapat kehormatan dan kemuliaan memerlukan kelayakan yang cukup.

Wanita yang berhati batu, tidak pandai menaati suami, sering menuntut hak dan mengada-adakan masalah, tetapi gagal menunaikan tanggungjawab, tidak layak mendapat tempat terhormat dan mulia itu. Apalagi ia tidak mampu mewujudkan kehormatan anak-anaknya yang bakal menyambung kehidupan rumah tangga dan mewujudkan peradaban mulia. Kini, dengan catatan daftar kehormatan ibu rumah tangga, masih adakah yang menyebut bahwa ibu rumah tangga sebagai profesi terhina? Wallahua'lam.
Thanks Syam/MQ







Senin, 11 Agustus 2008

Untuk Yang Mau Resign


Alkisah ada seorang engineer bernama Prayitno, ST yg bekerja di pabrik manufaktur elektronik Jepang, ini orang baru aja lolos tes perusahaan BUMN yg mengelola gas alam (jelas gede duitnya) dan mau resign, berikut ini perdebatannya dengan manajernya kita singkat aja ya, Manajer = M, dan Prayitno = P

M = edan kowe yo prayitno, lagi S-2 dah mau resign, dimana morality kamu?
P = morality saya ikut berlari bersama morality perusahaan, yang nyuruh karyawannya lembur-lembur melebihi aturan pemerintah ampe sakit tapi tunjangan kesehatan gak full

M = sebenernya mau kamu apa? dimana-mana kerja itu sama. Saya udah menjalani 2 company sebelum ini .
P = karena kerja dimana-man itu sama, makanya saya gak ragu resign pak, wong sama aja kok, cuma rewardnya yang beda tho.... yang saya pilih yang rewardnya lebih.

M = kenapa kamu gak mencoba profesional disini aja, kalo alasannya reward, kan nanti karir serta salary kamu juga bakal naik kalo kamu bertahan.
P = kenapa saya harus nunggu, kalo ada company yg nawarin itu sekarang?

M = tapi sayang sekali, saya pandang kamu yang paling berpotensi diantara yang lain.
P = bapak udah ngomong gitu ke semua engineer yg resign sebelum saya.

M = tidak, ini serius, kamu memiliki potensi besar, disini kamu bisa sukses! dari pada kamu memulai lagi dari bawah di company lain yang belum ketauan 'ntar disana kamu bakal sukses atau gak.
P = di sini juga sama aja saya belum tahu bakal sukses apa gak, wong namanya masa depan kok. Sama-sama gak ketauan, tapi yang satu awalannya lebih baik, ya pilih yang lebih baik dunk......

M = maksud kamu lebih baik itu apa? money? uang itu bukan segala-segalanya.
P = kalau emang begitu 'ngapain company costdown gaji saya, apa artinya uang segitu untuk mempertahankan eksistensi engineer.

M = Kita kan tidak hanya mengejar uang. Kallu orientasi kamu hanya uang, kamu hanya mengejar "live". No difference with kambing, Bekerja hanya untuk bertahan hidup, Kamu itu engineer!!!! harus berorientasi pada yang lebih mulia, bekerja untuk berkarya, untuk mengembangkan diri

P = saya pengennya seperti itu, makanya saya resign. Gimana saya mau lepas dari orientasi "live" klo tiap bulan saya harus pusing mikir bayaran kos, pulsa, makan, ngirim ortu, 'nabung buat merit. Naaaa sekarang ada company yang nawarin itu, salary yang membuat saya tenang, tak berpikir lagi tentang "live exixtency". So, boleh dunk saya ambil untuk menaikkan derajat pekerjaan saya

M = Prayitno.... kalau kamu ngejar yang lebih baik, 'gak akan abis2.... selalu ada yang lebih baik. saya sudah mengalaminya di 2 company terdahulu.
P = memang gak bakal abis pak.... karena itu, ngapain saya abisin disini? mending saya terus-terusan dapet yg lebih baik ampe brenti karena cape. lagian Bapak juga nyatanya bisa brenti kan ?

M = inilah yg membuat bangsa kita gak maju-maju. Oportunis. Orang jepang maju karena loyal .
P = loyalitas 'tu kata-kata pembenaran buat 'ngegaji orang dibawah level pendidikannya pak. Betul Jepang itu maju. Tapi lihatlah, terjadi ketimpangan karir antara lelaki dan wanita. karena lelakinya gila kerja semua, mereka jarang menemui anaknya, akibatnya istri-istri mereka harus mengimbanginya, 'ngalah keluar dari kerja buat nambal waktu bapak yang hilang untuk anak-ana karena bokapnya lebih cinta kerja dari pada mereka. Tanya deh cewek Jepang, lelaki Jepang tu paling gak romantis. Ceweq bawa tas berat aja dicuekin

M = tapi dimana responsibility kqmu?
P = responsibility 'tu apa pak? perasaan dulu saya pernah punya, pas awal-awal masuk disini, tapi kata-kata itulah yang dijadikan pembenaran untuk menindas saya. Atas nama responsibility, saya mengorbankan kesehatan untuk ketepatan schedule launching produk yang jelas-jelas merupakan percepatan uang masuk ke kantong pemilik saham. Betul, manusia harus punya responsibility. Apa responsibility paling utama? keluarga. Anak dan istri adalah amanah dari Yang Diatas.

M = kamu kurang bersyukur, masih banyak orang yg susah dapet kerjaan.
P = saya 'dah diterima Pak, itu rejeki dari Yang Diatas, Kalau gak saya ambil, itu yang namanya 'gak bersyukur. Yg Diatas itu tau kebutuhan kita. Makanya Dia memberi saya kerjaan baru, mungkin karena kebutuhan saya meningkat. Selain itu, Yg Diatas juga memberi pekerjaan pada satu orang pengangguran yg akan menggantikan posisi saya disini setelah resign

M = EDAN KOWE PRAYITNOOOOO! !!!! kalo gitu aku ikut kamu resign...... ....
P = Ngga bisa pak.... kowe wis tuwo.Cuma bisa ngelamar ke yg sesuai background. ...

Thanks Illia Muliawati

Jumat, 08 Agustus 2008

Keajaiban Sebuah Harapan


Ketika satu pintu tertutup maka pintu lain terbuka.
Namun, kita sering kali terpaku menyesali pintu yang tertutup itu,
hingga tak bisa melihat pintu lain yang terbuka bagi kita
~Alexander Graham Bell~
(Ilmuwan dan Penemu).


Saya dapat oleh-oleh dari acara kajian semalam. Bukan makanan yang enak, tapi kisah tentang keajaiban sebuah harapan. Awalnya saya pendam saja sebagai masukan tersendiri bagi jiwa saya. Tapi kemudian saya pikir akan punya kemanfaatan yang lebih jika saya mau berbagi. Yah, karena untuk berbagi harta saya belum cukup mampu, maka izinkan saya berbagi cerita ini untuk Anda. Syukur-syukur bisa membuka cakrawala dan wawasan yang berbeda dalam meneropong sisi kehidupan yang penuh liku ini.

Mentor spiritual saya yang menjadi pembicara semalam tidak membawakan materi yang berat dan spesifik, hanya menceritakan kehidupan salah satu tetangganya. Sebut saja Pak Sholeh (bukan nama sebenarnya), awalnya dia dan keluarganya hidup makmur berkecukupan. Mempunyai banyak usaha, anaknya juga begitu. Salah stunya punya usaha warnet yang rame di Jogjakarta. Namun, layaknya roda, kehidupan ini berputar, tak selamanya orang merasakan hidup senang dengan harta yang melimpah.

Pada suatu waktu, usahanya bangkrut. Keluarganya menyalahkannya sebagai biang dari kebangkrutan. Walaupun masih berkumpul dengan keluarganya, tapi dia merasa ada sesuatu yang berbeda, harga dirinya sebagai kepala keluarga dipandang sebelah mata oleh isteri dan anak-anaknya. Dia memang merasa bersalah, tapi perubahan sikap keluarganya yang drastis tersebut telah mengusik hatinya, membuatnya sedikit terluka. Dalam kondisi demikian, si bapak ini lebih banyak merenung sambil berpikir untuk memulai usaha lagi dari nol karena memang hartanya telah habis, telah bangkrut.

Dan..Si bapak mulai merintis kerja menjadi tukang rombeng. Pekerjaan sebagai tukang rombeng (mencari barang-barang bekas) memang tak pernah terbayangkan sebelumnya. Awalnya dengan terpaksa melakukan pekerjaan itu. Tapi pelan-pelan menjadi biasa. Begitulah hari-hari melelahkan dijalaninya sambil tetap terus merenungkan diri tentang keadaan yang menimpanya. Dia lantas lebih banyak berpikir tentang eksistensi dirinya dan kekadiran akan Tuhan. Ya, dia mulai sadar bahwa selama ini jarang menghadirkan Tuhan dalam hatinya, lebih banyak lalai, lebih banyak lupa.

Nah, pada suatu waktu, si bapak ini mendaptkan uang enambelas ribu limaratus (Rp 16. 500) seharinya. “Lumayan”, gumamnya sambil mengusap peluh di keningnya. Karena siang begitu terik dan diri terasa lelah, mampir ke sebuah warung untuk membeli minuman. Dalam warung tersebut, ada dua orang lelaki yang sedang asyik bermain catur. Entah apa yang ada dalam pikirannya, dia justru mentraktir keduanya minum teh botol bersama, ya, bapak tukang rombeng ini yang membayarnya.
Rupanya, salah satu lelaki itu terkesan. Berawal dari traktiran itu, salah satu bapak tersebut mengajak si tukang rombeng kerumahnya, ngobrol sana sini. Di sinilah kemudian terseritakan apa yang dialami tukang rombeng itu. Termasuk cerita tentang keluarganya yang tak lagi menghargai dirinya setelah jatuh ke jurang kemiskinan. Mendengar ceritanya, hatinya pun luluh dan trenyuh. Peristiwa tak terduga berjalan spontan. Kebetulan, ada sebuah rumah yang masih kosong yang masih menunggu pembeli. Dan tukang rombeng ini disuruh untuk menempati saja tanpa harus bayar.
Subhanallah, bersyukurlah dirinya. Tentu, semuanya bukan semata-mata karena sebotol teh, tetapi karena ketulusan dan kegigihan dalam hidupnya. Rela menjalani kehidupan dengan pekerjaan yang belum pernah terbayangkan sebelumnya untuk kembali mencapai kesuksesan seperti sediakala. Tak kenal putus asa, yang ada hanyalah harapan akan sebuah nasib yang lebih baik kelak kemudian. Cerita diakhiri ketika tukang rombeng sedang merintis usaha baru di sebuah rumah yang ditempatinya secara cuma-cuma.
Kawan, inilah kejaiban sebuah harapan… Kita, tentu pernah mengalami kondisi yang pelik, kondisi di mana kadang mustahil sebuah persoalan bisa terselesaikan. Namun, karena kekuatan sebuah harapan, kita pelan-pelan toh akan bisa menyelesaikan persoalan itu. Jika tak ada harapan, bisa jadi keterputusasaan yang muncul. Orang frustasi memikirkan guncangan masalah hebat menghantui dirinya, ujungnya bisa bunuh diri. Nah, bagi Anda yang kini sedang dihimpit masalah besar. Hidupkan kekuatan harapan, hilangkan rasa putus asa dan berkeluh kesah berkepanjangan. Dan, Anda akan menjadi orang hebat kelak ketika bisa melalui liku roda kehidupan yang kurang menyenangkan ini.
Thanks Yon's Revolta

Jumat, 01 Agustus 2008

Ayah Juga Lupa


Dengar, Nak: Ayah mengatakan ini pada saat kau terbaring tidur, sebelah tangan kecil merayap dibawah pipimu dan rambutmu yang keriting pirang lengket pada dahimu yang lembab. Ayah menyelinap masuk seorang diri ke kamarmu. Baru beberapa menit yang lalu, ketika Ayah sedang membaca koran di ruang perpustakaan, satu sapuan sesal yang amat dalam menerpa. Dengan perasaan bersalah Ayah datang masuk menghampiri pembaringanmu.

Ada hal-hal yang Ayah pikirkan, Nak: Ayah selama ini bersikap kasar kepadamu. Ayah membentakmu ketika kau sedang berpakaian hendak pergi ke sekolah karena kau cuma menyeka mukamu sekilas dengan handuk. Lalu Ayah lihat kau tidak membersihkan sepatumu. Ayah berteriak marah tatkala kau melempar beberapa barangmu ke lantai.

Saat makan pagi Ayah juga menemukan kesalahan. Kau meludahkan makananmu. Kau menelan terburu-buru makananmu. Kau meletakkan sikumu di atas meja. Kau mengoleskan mentega terlalu tebal di rotimu. Dan begitu kau baru mulai bermain dan Ayah berangkat mengejar kereta api, kau berpaling dan melambaikan tangan sambil berseru, "Selamat jalan Ayah!" dan Ayah mengerutkan dahi, lalu menjawab "Tegakkan bahumu!"

Kemudian semua itu berulang lagi pada sore hari. Begitu Ayah muncul dari jalan, Ayah segera mengamatimu dengan cermat, memandang hingga lutut, memandangmu yang sedang bermain kelereng. Ada lubang-lubang pada kaus kakimu. Ayah menghinamu di depan kawan-kawanmu, lalu menggiringmu untuk pulang ke rumah. Kaus kaki mahal -- dan kalau kau yang harus membelinya, kau akan lebih berhati-hati! Bayangkan itu, Nak, itu keluar dari pikiran seorang Ayah!

Apakah kau ingat, nantinya, ketika Ayah sedang membaca di ruang perpustakaan, bagaimana kau datang dengan perasaan takut, dengan rasa terluka dalam matamu? Ketika Ayah terus memandang koran, tidak sabar karena gangguanmu, kau jadi ragu-ragu di depan pintu. "Kau mau apa?" semprot Ayah.

Kau tidak berkata sepatah pun, melainkan berlari melintas melompat ke arah Ayah, kau melemparkan tanganmu melingkari leher dan mencium Ayah, tangan-tanganmu yang kecil semakin erat memeluk dengan hangat, kehangatan yang telah Tuhan tetapkan untuk mekar di hatimu dan yang bahkan pengabaian sekali pun tidak akan mampu melemahkannya. Dan kemudian kau pergi, bergegas menaiki tangga.

Nah, Nak, sesaat setelah itu koran jatuh dari tangan Ayah, dan satu rasa takut yang menyakitkan menerpa Ayah. Kebiasaan apa yang sudah Ayah lakukan? Kebiasaan dalam menemukan kesalahan, dalam mencerca -- ini adalah hadiah Ayah untukmu sebagai seorang anak lelaki. Bukan berarti Ayah tidak mencintaimu; Ayah lakukan ini karena Ayah berharap terlalu banyak dari masa muda. Ayah sedang mengukurmu dengan kayu pengukur dari tahun-tahun Ayah sendiri.

Dan sebenarnya begitu banyak hal yang baik dan benar dalam sifatmu. Hati mungil milikmu sama besarnya dengan fajar yang memayungi bukit-bukit luas. Semua ini kau tunjukkan dengan sikap spontanmu saat kau menghambur masuk dan mencium Ayah sambil mengucapkan selamat tidur. Tidak ada masalah lagi malam ini, Nak. Ayah sudah datang ke tepi pembaringanmu dalam kegelapan, dan Ayah sudah berlutut di sana , dengan rasa malu!

Ini adalah sebuah rasa tobat yang lemah; Ayah tahu kau tidak akan mengerti hal-hal seperti ini kalau Ayah sampaikan padamu saat kau terjaga. Tapi esok hari Ayah akan menjadi Ayah sejati! Ayah akan bersahabat karib denganmu, dan ikut menderita bila kau menderita, dan tertawa bila kau tertawa. Ayah akan menggigit lidah Ayah kalau kata-kata tidak sabar keluar dari mulut Ayah. Ayah akan terus mengucapkannya kata ini seolah-olah sebuah ritual: "Dia cuma seorang anak kecil -- anak lelaki kecil!"

Ayah khawatir sudah membayangkanmu sebagai seorang lelaki. Namun, saat Ayah memandangmu sekarang, Nak, meringkuk berbaring dan letih dalam tempat tidurmu, Ayah lihat bahwa kau masih seorang bayi. Kemarin kau masih dalam gendongan ibumu, kepalamu berada di bahu ibumu.. Ayah sudah meminta terlalu banyak, sungguh terlalu banyak.

Disadur dari artikel yang ditulis oleh W. livingstone Larned yang dimuat dalam Reader's Digest dan telah dicetak ulang dalam hampir semua bahasa yang ada di dunia (termasuk dlm buku "How To Win Friends and Influence People karya Dale Carnegie - 1981