Kamis, 30 Agustus 2007

Qs Ali Imron : 286

Katakanlah, "Wahai Robb yang mempunyai kerajaan (kekuasaan).

Engkau berikan kekuasaan kepada orang yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut kekuasaan dari orang yang Engkau kehendaki.

Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan orang yang Engkau kehendaki.

Ditangan Engkaulah segala sesuatu (keputusan). Sesungguhnya Engkau segala sesuatu (keputusan).

Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu."

Rabu, 29 Agustus 2007

Ibu


Ribuan kilo, jalan yang kau tempuh

Lewati rintangan untuk aku anakmu

Ibuku sayang masih terus berjalan
Walau tapak kaki.
Penuh darah, penuh nanah

Seperti udara kasih yang engkau berikan
Tak mampu ku membalas
Ibu...

Ingin ku dekat dan menangis di pangkuanmu
Sampai aku tertidur bagai masa kecil dulu

Lalu doa-doa
Baluri sekujur tubuhku
Dengan apa ku membalas
Ibu...

(Iwan Fals)

Kamis, 23 Agustus 2007

Persiapan Menjelang Ramadhan

  • I'dad Ruhi Imani (Persiapan Ruh Keimanan)

Orang- orang yang saleh biasa melakukan persiapan ini seawal mungkin sebelum datang Ramadhan. Bahkan mereka sudah merindukan kedatangannya sejak bulan Rajab dan Sya'ban. Biasanya mereka berdoa : "*Ya Allah, berikanlah kepada kami keberkatan pada bulan Rajab dan Sya'ban, serta sampaikanlah kami kepada Ramadhan*."Dalam rangka persiapan ruh keimanan itu, dalam surah At-Taubah Allah melarang kita melakukan berbagai maksiat dan kedzhaliman sejak bulan Rajab. Tapi bukan berarti di bulan lain dibolehkan. Hal ini dimaksudkan agar sejak bulan Rajab kadar keimanan kita sudah meningkat. Boleh dikiaskan,bulan Rajab danSya'ban adalah masa pemanasan *(warming up),*sehingga ketika memasukiRamadhan kita sudah bisa bisa menjalani ibadah shaum dan sebagainya itu baksudah terbiasa.

  • I'dad Jasadi (Persiapan Fisik)

Untuk memasuki Ramadhan kita memerlukan fisik yang lebih prima dari biasanya. Sebab, jika fisik lemah, bisa-bisa kemuliaan yang dilimpahkan Allah pada bulan Ramadhan tidak dapat kita raih secara optimal. Maka, sejak bulan Rajab Rasulullah dan para sahabat membiasakan diri melatih fisik dan mental dengan melakukan puasa sunnah, banyak berinteraksi dengan al-Qur'an, biasa bangun malam (qiyamul-lail), dan meningkatkan aktivitas saat berkecimpung dalam gerak dinamika masyarakat.

  • I'dad Maliyah (Persiapan Harta)

Jangan salah faham, persiapan harta bukan untuk membeli keperluan buka puasa atau hidangan lebaran sebagaimana tradisi kita selama ini. Mempersiapkan harta adalah untuk melipat gandakan sedekah, karena Ramadhanpun merupakan bulan memperbanyak sedekah. Pahala bersedekah pada bulan ini berlipat ganda dibandingkan bulan-bulan biasa.

  • I'dad Fikri wa Ilmi (Persiapan Intelektual dan Keilmuan)

Agar ibadah Ramadhan bisa optimal, diperlukan bekal wawasan dan tashawur (persepsi)yang benar tentang Ramadhan. Caranya dengan membaca berbagai bahan rujukan dan menghadiri majelis ilmu tentang Ramadhan. Kegiatan ini berguna untuk mengarahkan kita agar beribadah sesuai tuntunan Rasulullah SAW, selama Ramadhan. Menghafal ayat-ayat dan doa-doa yang berkait dengan berbagai jenis ibadah, atau menguasai berbagai masalah dalam fiqh puasa, juga penting untuk dipersiapkan.

Semoga persiapan kita mengantarkan ibadah shaum dan berbagai ibadah lainnya, sebagai yang terbaik dalam sejarah Ramadhan yang pernah kita lalui. Amiin.
.

Rabu, 01 Agustus 2007

Ujian


Iman seorang mukmin akan tampak di saat ia menghadapi ujian.

Di saat ia totalitas dalam berdoa, tapi ia belum melihat pengaruh apapun dari doanya.

Ketika, ia tetap tidak merubah keinginan dan harapannya, meski sebab-sebab putus asa semakin kuat.

Itu semua dilakukan seseorang karena keyakinannya bahwa hanya Allah saja yang paling tahu apa yang lebih maslahat bagi dirinya.

Ia yakin bahwa dengan ujian itu, Allah ingin melihat tingkatan kesabaran dan keimanannya.

Ia yakin bahwa dengan keadaan itu, Allah menghendaki hatinya menjadi luruh dan pasrah kepada-Nya.

Atau, boleh jadi melalui ujian itu, Allah menghendaki dirinya untuk lebih banyak lagi berdoa sehingga ia lebih dekat lagi dengan-Nya melalui doa-doanya. "

(Shaidul Khatir, 375).
Begitulah nasihat dari Ibnul Jauzi.