myspace layouts

Jumat, 24 April 2009

Mengeluh


Sebuah kata sederhana yang mungkin jarang kita gunakan dalam kehidupan sehari-hari, tetapi seringkali kita praktekkan langsung baik secara sadar maupun tidak sadar.
Beberapa waktu lalu saya berkumpul dengan teman-teman lama saya. Seperti biasanya kami membicarakan mengenai pekerjaan, pasangan hidup, masa lalu, dan berbagai macam hal lainnya.

Setelah pulang saya baru tersadar, bahwa kami satu sama lain saling berlomba untuk memamerkan keluhan kami masing-masing seolah-olah siapa yang paling banyak mengeluh dialah yang paling hebat

"Bos gue kelewatan masa udah jam 6 gue masih disuruh lembur, sekalian aja suruh gue nginep di kantor!" "Kerjaan gue ditambahin melulu tiap hari, padahal itu kan bukan "job-des" gue" "Anak buah gue memang tulalit, disuruh apa-apa salah melulu".

Kita semua melakukan hal tersebut setiap saat tanpa menyadarinya. Tahukah Anda semakin sering kita mengeluh, maka semakin sering pula kita mengalami hal tersebut. Sebagai contohnya, salah satu teman baik saya selalu mengeluh mengenai pekerjaan dia.
Sudah beberapa kali dia pindah kerja setiap kali dia bekerja di tempat yang baru, dia selalu mengeluhkan mengenai atasan atau rekan-rekan sekerjanya. Sebelum dia pindah ke pekerjaan berikutnya dia selalu ribut dengan atasan atau rekan sekerjanya. Seperti yang bisa kita lihat bahwa terbentuk suatu pola tertentu yang sudah dapat diprediksi, dia akan selalu pindah dari satu pekerjaan ke pekerjaan berikutnya sampai dia belajar untuk tidak mengeluh.

Mengeluh adalah hal yang sangat mudah dilakukan dan bagi beberapa orang hal ini menjadi suatu kebiasaan dan parahnya lagi mengeluh menjadi suatu kebanggaan. Bila Anda memiliki dua orang teman, yang pertama selalu berpikiran positif dan yang kedua selalu mengeluh, Anda akan lebih senang berhubungan dengan yang mana?
Menjadi seorang yang pengeluh mungkin bisa mendapatkan simpati dari teman kita, tetapi tidak akan membuat kita memiliki lebih banyak teman dan tidak akan menyelesaikan masalah kita,bahkan bisa membuat kita kehilangan teman-teman kita.



Yang menjadi pertanyaan adalah mengapa kita mengeluh? Kita mengeluh karena kita kecewa bahwa realitas yang terjadi tidak sesuai dengan harapan kita. Bagaimana kita mengatasi hal ini. Caranya sebenarnya gampang-gampang susah, kita hanya perlu bersyukur.

Saya percaya bahwa di balik semua hal yang kita keluhkan PASTI ADA hal yang dapat kita syukuri.

Sebagai ilustrasi, Anda mengeluh dengan pekerjaan Anda. Tahukah Anda berapa banyak jumlah pengangguran yang ada di Indonesia ? Sekarang ini hampir 60% orang pada usia kerja produktif tidak bekerja, jadi bersyukurlah Anda masih memiliki pekerjaan dan penghasilan. Atau Anda mengeluh karena disuruh lembur atau disuruh melakukan kerja ekstra.
Tahukah Anda bahwa sebenarnya atasan Anda percaya kepada kemampuan Anda? Kalau Anda tidak mampu tidak mungkin atasan Anda menyuruh Anda lembur atau memberikan pekerjaan tambahan. Bersyukurlah karena Anda telah diberikan kepercayaan oleh atasan Anda.



Bersyukurlah lebih banyak dan percayalah hidup Anda akan lebih mudah dan keberuntungan senantiasa selalu bersama Anda, karena Anda dapat melihat hal-hal yang selama ini mungkin luput dari pandangan Anda karena Anda terlalu sibuk mengeluh.

Try it now:
1. Bersyukurlah setiap hari setidaknya satu kali sehari. Bersyukurlah atas pekerjaan Anda, kesehatan Anda, keluarga Anda atau apapun yang dapat Anda syukuri. Ambilah waktu selama 10-30 detik saja untuk bersyukur kemudian lanjutkan kembali kegiatan Anda.
2. Jangan mengeluh bila Anda menghadapi kesulitan tetapi lakukanlah hal berikut ini. Tutuplah mata Anda, tarik nafas panjang, tahan sebentar dan kemudian hembuskan pelan-pelan dari mulut Anda, buka mata Anda, tersenyumlah dan pikirkanlah bahwa suatu saat nanti Anda akan
bersyukur atas semua yang terjadi pada saat ini.
3. Biasakan diri untuk tidak ikut-ikutan mengeluh bila Anda sedang bersama teman-teman yang sedang mengeluh dan beri tanggapan yang positif atau tidak sama sekali. Selalu berpikir positif dan lihatlah perubahan dalam hidup Anda.

4. "Semakin banyak Anda bersyukur kepada Tuhan atas apa yang Anda miliki, maka semakin banyak hal yang akan Anda miliki untuk disyukuri."

sherie iie

Kamis, 23 April 2009

Perlukah Mengungkap Rahasia kepada Pasangan?


Dalam suatu hubungan, seharusnya Anda tidak lagi menyimpan suatu rahasia dari pasangan Anda. Namun kita hidup di dunia nyata, dimana pasangan yang paling harmonis pun saling menyembunyikan sesuatu. Sebuah rahasia tak selalu harus berhubungan dengan urusan perselingkuhan, tetapi juga hal-hal lain menyangkut masa lalu atau masa kini.

Orang juga cenderung mencampuradukkan antara menyimpan rahasia dan menjaga privasi, demikian menurut Dr. Myrna Dartson, seorang psikolog di Dallas. "Menjaga privasi lebih berhubungan dengan kebutuhan seseorang akan ruang pribadi. Ketika sesuatu merupakan hal pribadi, Anda tak ingin berbagi dengan orang lain. Itu hanya merupakan pilihan pribadi mengenai gaya hidup atau kepribadian seseorang," jelasnya.

Penelitian menunjukkan bahwa ada tiga rahasia pribadi yang cenderung disimpan, yaitu yang berhubungan dengan masalah seksual, kesehatan mental, dan kegagalan. Namun bagi Anda yang telah menikah, suatu rahasia sebaiknya diungkapkan bila hal itu menyangkut masa depan hubungan Anda. Ada beberapa aturan mengenai rahasia yang harus diungkap, dan yang bisa Anda simpan sendiri.

Rahasia yang harus diungkap
Jika Anda menginginkan hubungan yang didasarkan atas kepercayaan, ada beberapa hal yang perlu disampaikan secara terbuka. "Jika ada sesuatu yang berpotensi mempengaruhi masa depan atau hidup pasangan bersama Anda, maka ia punya hak untuk mengetahuinya, " jelas Mira Kirshenbaum, seorang pakar hubungan, dan penulis Is He Mr। Right?.



Yang perlu Anda sampaikan adalah hal-hal di masa lalu yang masih Anda alami sekarang (seperti hutang, penyakit yang pernah diderita, atau penganiayaan secara emosional), serta segala sesuatu yang terjadi saat ini yang dapat mempengaruhi masa depan Anda berdua (seperti kemungkinan PHK di kantor, atau kondisi kesehatan yang kronis).









Seringkali pasangan terlalu lambat mendapati hal ini, ketika apa yang Anda rahasiakan mempengaruhi keluarga Anda, sehingga Anda menghadapi dua masalah sekaligus ketika rahasia tersebut terbongkar. Yang pertama adalah rasa terkejut yang dialami keluarga akibat kenyataan yang Anda tutupi, dan yang kedua adalah masalah kepercayaan atau perasaan dikhianati.

Ketika dikonfrontasi dengan suatu kenyataan yang pahit dan begitu besar, pastilah Anda akan bertanya, "Kenapa kamu tidak mengatakannya sejak dulu?" Alasan yang umum dikemukakan oleh pria, menurut para ahli, adalah untuk memberi kesan bahwa ia kuat dan penuh kontrol.



Pria sebenarnya merasa takut Anda akan berhenti mencintai jika melihatnya dalam kondisi yang rapuh dan berbeda. Pria enggan menghadapi guncangan dalam hubungan dengan pasangan saat rahasia terkuak. Mereka juga cenderung berharap dapat menghindari pertengkaran dengan diam.

"Pria mengkhawatirkan reaksi emosional dari pasangannya, sehingga cenderung menjauh dari konflik," ujar Scott Haltzman, M.D., penulis The Secrets of Happily Married Men.
"Mereka akan melakukan apa saja untuk mencegah wanita menjadi naik pitam, meskipun hal itu hanya membuat kondisi semakin buruk."

Karena itu, meskipun Anda merasa hanya menyembunyikan "rahasia kecil", tetaplah terbuka dengan pasangan jika hal itu berkaitan dengan topik yang membangkitkan rasa ingin tahunya, atau memiliki opini yang kuat tentang hal tersebut. Sebelum Anda mulai serius dengan seseorang, sebaiknya Anda bertanya pada pasangan, adakah sesuatu yang ingin diketahuinya dari Anda.



Ini merupakan strategi antisipasi yang juga dapat digunakan pasangan yang sudah lama menikah. Semakin mungkin pasangan akan bereaksi kuat terhadap rahasia Anda, semakin penting Anda mengakuinya, demikian menurut Harville Hendrix, Ph.D., penulis Getting the Love Your Want. Sebab jika kebenaran dari topik yang sensitif tersebut terungkap belakangan, hal itu dapat menimbulkan masalah yang lebih serius.



Pasangan tidak saja membutuhkan informasi tersebut untuk membuat keputusan mengenai kehidupan Anda berdua, tetapi juga kebutuhan untuk mengetahui apakah Anda cukup mempercayainya. Hal itu juga berarti Anda menganggapnya tidak cukup bijaksana, atau cukup mencintai Anda untuk mengatasinya.

Rahasia yang boleh dipertimbangkan untuk diungkap
Jika Anda jujur dengan diri Anda sendiri, tentu tidak terlalu sulit untuk mengenali rahasia apa yang harus Anda ungkap kepada pasangan. Namun ada pula jenis rahasia dimana Anda perlu mempertimbangkan baik-baik sebelum menyampaikannya kepada pasangan. Di satu pihak, jika suatu pengalaman memalukan dari sejarah hidup Anda memang tidak akan mempengaruhi hidup Anda sekarang, Anda boleh mempertimbangkan untuk menguburnya saja.

Ada faktor penting lain yang perlu diketahui sebelum memutuskan akan menyampaikan rahasia atau tidak. Semakin enggan Anda membuka suatu rahasia, semakin mungkin hal tersebut mendadak terungkap tanpa Anda sengaja. Karena itu ingat-ingatlah, adakah foto-foto yang pernah Anda simpan di blog atau di situs photo sharing yang akan ditemukan oleh pasangan?



Adakah teman yang punya kebiasaan menceritakan kebiasaan-kebiasaan Anda pada orang lain? Bagaimana dengan mantan pacar yang berpotensi hadir kembali? Jika suatu ketika pasangan mengetahui rahasia Anda tanpa sengaja, lebih baik Anda menceritakannya lebih dulu.

Bersikap jujur mengenai hubungan cinta Anda di masa lalu boleh dibilang penting, namun Kirshenbaum memperingatkan Anda untuk berhati-hati. "Anda tak perlu mengatakan berapa jumlah mantan pacar Anda yang sebenarnya, atau detail mengenai apa yang pernah Anda lakukan di masa lalu," katanya.
"Tidak ada untungnya sama sekali jika mengisi benak pasangan Anda dengan gambar-gambar yang tak dapat dihapuskan."

Rahasia yang tidak "berbahaya"
Sebagai peraturan, kejujuran adalah kebijakan terbaik. Namun siapa pun yang pernah terlibat dalam hubungan jangka panjang tentu tahu ada baiknya Anda menyimpan suatu hal pribadi untuk Anda sendiri, asalkan rahasia tersebut tidak "berbahaya" dan tidak melibatkan suatu kebohongan.



Misalnya, Anda baru saja mendapat bonus, lalu membeli sepatu yang cukup mahal tanpa memberitahu suami Anda. "Meskipun kita menikah, kita masih punya diri pribadi kita," ujar Kirshenbaum. Dalam kenyataannya, menyimpan suatu rahasia kecil dari hidup Anda dapat menambah "bumbu" dalam hubungan.

Namun pastikan Anda dan pasangan punya komitmen yang sama mengenai hal ini. Jika pasangan menyampaikan keinginan untuk mencari jalan keluar dari sesuatu hal, sementara Anda masih merahasiakan sesuatu darinya, maka Anda tidak sepakat lagi dengannya.

Cara menyampaikan rahasia
1. Buat janji dengan pasangan, dan bukannya langsung "menembaknya" dengan suatu rahasia besar. Sebab, pasangan bisa saja sulit menerima kenyataan yang Anda sampaikan. Lebih baik katakan, "Aku punya sesuatu untuk dibicarakan denganmu. Bisa nggak kita bicarakan malam ini?"

2. Pilih tempat yang nyaman. Hindari ruang publik yang berisik seperti restoran. Cari tempat netral yang aman, seperti di kamar saat tidak ada anak-anak.

3. Bersiaplah untuk meminta maaf. Kesalahan utama adalah mencoba menyampaikan suatu rahasia seolah hal tersebut bukan sesuatu yang penting. Katakan, "Maaf, ada sesuatu yang ingin aku katakan sejak lama, tapi aku malu. Maafin aku, ya?"


ThanksFidelis Saskia

Selasa, 07 April 2009

Jangan Menikah....!


1. Jangan Menikah karena HARTA.
TIDAK ADA GUNANYA HIDUP BERGELIMANGAN HARTA TANPA CINTA. Harta Dapat DATANG dan PERGI Setiap Saat. CINTA yang SESAT dan SESAAT DAPAT DIPEROLEH Setiap SAAT, Tapi CINTA YANG SEJATI TIDAK DAPAT DIBELI DENGAN HARTA.

2. Jangan Menikah karena PERASAAN ASMARA.
Rasa TERTARIK, SIMPATI, NAKSIR, yang merupakan Asmara yang Sering DISALAHARTIKAN sebagai CINTA. ASMARA ITU BUKAN CINTA. Asmara Dapat CEPAT BERUBAH Oleh RUPA, HARTA, TEMPAT dan KEADAAN. Asmara ITU BUTA, TIDAK TAHAN LAMA dan TIDAK TAHAN UJI. CINTA PERLU DI UJI Dalam SUKA dan DUKA Dengan MATA TERBUKA.

3. Jangan Menikah karena RUPA SAJA.
KECANTIKAN yang di LUAR Memang Indah, Tapi DAPAT LUNTUR TERMAKAN UMUR. Utamakanlah KECANTIKAN yang Di DALAM.

4. Jangan Menikah karena IBA.
lba (RASA KASIHAN) Memang Baik dan Harus Ada Dalam Hidup Kita, Tapi TIDAK BOLEH MENJADI DASAR PERNIKAHAN. KASIHAN DAPAT HABIS, Tapi KASIH TIDAK BERKESUDAHAN. Dasar PERNIKAHAN adalah KASIH, BUKAN KASIHAN


5. Jangan Menikah untuk KEPUASAN SEX Saja.
Memang SEX Suci dan Penting dalam Hubungan Suami-Istri, namun TIDAK BOLEH Menjadi TUJUAN UTAMA Dari Pemikahan. Sex Hanyalah Salah Satu BAGIAN dari PERNIKAHAN. Orang yang HANYA MENGEJAR KENIKMATAN SEX Akan KECEWA dan TERJERAT oleh KESUSAHAN yang DICIPTAKANNYA SENDIRI.

6. Jangan Menikah karena PAKSAAN KELUARGA.
Seorang Anak Harus Berbakti kepada Keluarga, Namun TIDAK BOLEH MENYERAH Dalam Hal Nikah, kalau Mereka Memang Salah dan Anda Benar. BERDOALAH dan Berikanlah Penjelasan kepada mereka, Jangan Dengan Kekerasan.

7. Jangan Menikah karena DESAKAN USIA.
Bila Usia Sudah Menjelang Senja dan Rekan-rekan Sudah Berpasangan, Orang akan Mulai Gelisah (Terutama pada Wanita). Banyak Orang Akhimya "ASAL TABRAK dan SIKAT". HINDARILAH TINDAKAN TERSEBUT. SABARLAH dan YAKINILAH bahwa TUHAN Sudah MENYEDIAKAN Yang TERBAIK untuk Kita. JANGAN TAKUT KEHABISAN JATAH dan KADALUARSA.

8. Jangan Menikah untuk MEMBALAS JASA.
Orang yang Telah Berbuat Baik Perlu Dibalas, tapi JANGAN DENGAN PERNIKAHAN.

Salah satu Hal Lain Yang TIDAK BOLEH DILUPAKAN, dan Merupakan yang TERPENTING adalah JANGAN MENIKAH TANPA PENGERTIAN dan PERSIAPAN Dengan TINDAKAN yang NYATA.

MENIKAHLAH MENURUT POLA RENCANA TUHAN - DARIPADA SALAH dan MENGUNDANG DERITA, LEBIH BAIK TIDAK MENIKAH, JIKA TIDAK DITEGUHKAN oleh TUHAN.

KARENA TUHANLAH yang MENCIPTAKAN MANUSIA BERPASANG-PASANGAN. TANPA PERSETUJUAN TUHAN, TIDAK MUNGKIN MANUSIA DAPAT BERSATU

Ternyata yang bisa membuat kasih dan sayang, yang bisa menyatukan hati manusia adalah Allah, Tuhan PEMILIK hati-hati ini...


Allah berfirman:
"Dan di antara TANDA-TANDA KEKUASAAN-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari JENISMU SENDIRI, supaya kamu CENDERUNG dan merasa TENTRAM kepadanya, dan DIJADIKAN-Nya di antaramu RASA KASIH dan SAYANG.. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat TANDA-TANDA bagi KAUM yang BERFIKIR."
(QS 30:21)

Dan ini adalah salah satu TANDA-TANDA KEKUASAAN-Nya. ...,
sehingga yang bisa mengikat hati manusia, CENDERUNG, TENTERAM juga MENJADIKAN RASA KASIH DAN SAYANG adalah benar-benar atas KEKUASAAN-Nya. ..selain itu tidak bisa...

Bahkan bukan hanya menyatukan suami dan istri, tetapi menyatukan semua hati-hati manusia bisa bersatu, saling sayang menyayangi, saling tolong menolong dan senasib sepenanggungan ....hanyalah ALLAH swt..
hal ini dibuktikan dengan bersatunya kaum Muhajirin dan Anshor pada masa Rosulullah saw...

Rasulullah mempersaudarakan kaum Muhajirin dari Makkah yang berhijrah meninggalkan keluarga, rumah, ladang dan tokonya...dengan kaum Anshor dari Madinah, sebagai tuan rumah...


Diantarakaum Anshor ada yang membagi separoh hartanya untuk kaum Muhajirin, membagi ladangnya, tokonya...bahkan sahabat Anshor yang mempunyai istri dua pun mempersilahkan sauadaranya yang dari Makkah untuk memilih salah satu yang disukainya, dan akan diceraikannya. ..untuk dinikahkan dengan saudaranya.. ..

Mengenai hal ini Allah berfirman:
"... dan Yang mempersatukan hati mereka (orang-orang yang beriman). Walaupun kamu membelanjakan semua (kekayaan) yang berada di bumi, niscaya kamu tidak dapat mempersatukan hati mereka, akan tetapi Allah telah mempersatukan hati mereka. Sesungguhnya Dia Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana." (QS 8:63)

Sekarang semuanya kembali kepada kita...
Apakah kita termasuk menjadi KAUM yang DICINTAI-Nya. ..sehingga Allah memberikan CINTA, DAMAI dan KASIH SAYANG di antara kita... Atau sebaliknya, kita kaum yang TIDAK DISAYANGGI-Nya, Sehingga Allah berlepas diri untuk menyatukan hati-hati kita, sehingga terjadi PERMUSUHAN, DENDAM dan KEBENCIAN diantara kita...

Dan ALLAH MAHA KUASA atas SEGALA SESUATU...

Thanks Kamila Vyndarti