myspace layouts

Jumat, 02 April 2010

10 TAHUN PERNIKAHAN KAMI

Pernikahan adalah suatu pertemuan dua insan yang memiliki karakter dan kebiasaan sehari-hari yang berbeda satu sama lain. Namun perbedaan itulah yang telah memberi warna pada pernikahan. Banyak kejadian lucu, menyedihkan, menggembirakan, mengharukan atau bahkan menjengkelkan yang kami alami yang membuat pernikahan kami terasa hidup, segar dan tidak menjemukan.

Sayankoe….
Tidak terasa, biduk rumah tangga kita telah berlayar demikian panjang
Suka dan duka telah kita arungi bersama....
Namun harapan indah ke depan masih terus kita kibarkan
Agar perjalanan menjadi lebih indah dan menyenangkan






Sayankoe….
Sepertinya perkembangan waktu menjadikan kita lebih dewasa....
Memahami dua insan yang berbeda,
Memang terkadang sulit tapi menyenangkan
Membawa hati menjadi lebih sabar dan tenang,
Meski masih harus banyak belajar...
Namun...itu laksana tanaman yang tumbuh,
Perlu buaian dari yang menaruh harapan
Yang memerlukan sentuhan lembut, kasih sayang dan perlindungan...

Sayankoe….
Dalam perjalanan ini tentu saja banyak khilaf karena keterbatasan kita
Oleh karenanya....mari kita bersihkan dengan ikhlas
Segala noda yang mengotori
Lubuk hati kita yang paling dalam
Kita pupuk kembali bahtera rumah tangga kita,
 

Agar tumbuh subur dan bermanfaat bagi orang banyak...
Sehingga biduk itu berlayar dalam sakinnah, mawaddah, wa rahmah....
Yang di dalamnya di perkaya dengan anak-anak yang sholeh dan sholehah yang
senantiasa mendoakan kedua orang tuanya......

Sayankoe….
Rasanya sudah sulit merangkai kata-kata yang lebih indah lagi....
Hanya ucapan terima kasih atas kesetiaan mendampingi hingga saat ini...
Selamat melewati 10 tahun usia pernikahan kita..
Semoga abadi. Amiin.

Yang selalu mencintaimoe
Dinda Maniez


Renungan Sepuluh Tahun

Tanpa terasa sang waktu terus berjalan menyusuri relung-relung kehidupan, banyak yang sudah berubah dalam waktu sepuluh tahun. Ibarat umur manusia usia sepuluh tahun adalah masa kanak-kanak yang berhiaskan canda dan tawa dalam kehidupannya sekaligus masih memerlukan perlindungan orang tuanya.

Begitu pun usia perkawinan Kami sudah atau baru genap sepuluh tahun, masih anak bawang yang perlu banyak belajar terus untuk tetap tegar mengarungi bahtera rumah tangga, banyak cerita yang sudah Kami lalui berdua, banyak kebahagian, ada juga hiasan kesedihan dan nestapa.


Di usia sepuluh tahun ini banyak pelajaran yang bisa kami petik, baik dari pengalaman pribadi Kami sendiri maupun orang-orang di sekitar Kami. Menjadi pasangan suami istri sampai sekarang tidak ada mata kuliahnya sehingga Kita dituntut untuk belajar sendiri dari lingkungan dan tentunya dari risalah para nabi.

Di usia sepuluh tahun ini Saya merenungi beberapa hikmah yang bisa diambil dari perjalanan rumah tangga Kami yang Alhamdulillah sampai sejauh ini bisa berjalan dengan baik walaupun ada terpaan ujian, semua bisa dilalui walau terkadang dengan uraian air mata.

Pelajaran pertama yang Saya dapat bahwa ketika kita memutuskan untuk menikah, maka yang utama adalah luruskan niat kita untuk semata-mata mencari keridhoan Allah. Hal ini akan membingkai proses pernikahan Kita dari mulai memilih pasangan, menetapkan cara mendapatkan pasangan sampai dengan mengisi pernikahan tersebut. Banyak yang salah kaprah dan melanggar syariat karena dari awal niatnya tidak suci.

Alhamdulillah Kami bisa mengawali langkah menuju gerbang pernikahan dengan niat baik dan ternyata Kami diberikan kemudahan untuk menempuh jalan yang terbaik. Ketika Saya memutuskan tidak mau mengawali pernikahan dengan pacaran banyak yang mencibir dan menganggap Saya sebagai makhluk orthodox yang sangat ketinggalan zaman, bahkan ada juga yang menganggap Saya frustasi karena belum dapat pacar juga.

Tidak mudah memang untuk tetap istiqomah tapi dengan memohon pertolongan Allah semua menjadi ringan dan Saya bisa menghadapi semua ujian dengan enteng. Ketika pernikahan digelar ada tetangga yang menangis dan minta maaf karena sempat mengolok-olok Saya, ada juga yang menangis karena ikut bahagia ternyata ibu ini diam-diam suka mendo’akan Saya agar segera mendapat jodoh lelaki yang baik.

Niat ikhlas ini juga menjadi modal utama dalam menghadapi ujian pernikahan, ketika ada kesulitan dan permasalahan Kita serahkan saja kepada Allah, toh yang Kita jalani semua untuk-Nya, insya Allah akan terasa mudah. Begitu juga ketika kita kecewa dengan pasangan Kita, kembalikan saja kepada Allah. Misalnya ketika suami sepertinya tidak menghargai pengorbanan kita, tidak perlu kecewa toh kita mengharapkan pahala dari Allah dan suami tidak bisa memberikan pahala apa-apa.

Banyak rumah tangga yang goncang berawal dari niat yang kurang ikhlas sehingga senantiasa merasa dikecewakan oleh pasangan, kalau begini terus sepertinya capek deh.

Pelajaran kedua yang bisa Saya salami adalah ketika Kita menikah maka bersiaplah menerima segala kekurangan dan kelebihan pasangan Kita. Jangan menuntut untuk dipahami karena Kita akan sering dikecewakan, yang lebih enak adalah memahami pasangan Kita sehingga menjadi legowo. Saya dan suami merupakan dua pribadi yang berbeda, Saya ekstrofet sedangkan suami introfet, Saya biasa kerja serba cepat dan tepat waktu sedangkan suami cenderung lelet dan suka tidak tepat waktu.

Diawal-awal pernikahan Saya sering menangis karena perbedaan ini, Saya merasa suami tidak peduli dengan Saya karena susah diajak bicara dan pelit memberikan perhatian. Dia jarang sekali berbagi cerita bahkan Saya sering dapat info kegiatannya dari temannya atau dari istri temannya. Duh sedih banget merasa tidak dijadikan tempat berbagi, padahal Saya orangnya terbuka senang berbagi cerita.

Tapi kemudian Saya merenung dan mencari penyebabnya. Saya coba mencari tahu latar belakang pendidikan keluarganya dan bidang studynya karena kedua hal tersebut akan mempengaruhi karakter seseorang. Betul saja keluarganya menerapkan pendidikan semi militer yang serba kaku dan bidang ilmunya menuntut kesabaran dan kehati-hatian. Lambat laun saya bisa memahami dan tidak lagi terlalu menuntut lebih darinya.

Pelajaran ketiga adalah komunikasi, hal ini sangat penting karena ternyata penyebab utama perceraian adalah miskom alias tidak lancarnya komunikasi antara pasangan suami istri. Banyak praduga yang tidak benar dan menyebabkan keretakan rumah tangga karena tidak terjalin komunikasi yang baik. Dalam hal ini salah satu harus berani memulai memecahkan kebekuan. Tidak mudah memang apalagi berhadapan dengan orang yang irit bicara. Dari bincang-bincang dengan teman dan pantauan ternyata para suami lebih nyaman ngobrol dengan temanya daripada dengan istrinya. Wah kenapa ya?

Nah ini harus dicari penyebabnya, mungkin tema perbincangan Kita tidak menarik hanya seputar masalah dan masalah, kalo tidak masalah kehabisan uang belanja yang diomongin masalah kenakalan anak-anak. Mungkin harus dicari tema yang pas dan menyenangkan suami, kalaupun ada masalah yang harus dibicarakan cari waktu dan momen yang tepat.

Pelajaran ke empat, Saya pernah mendengar seorang ustad memberikan tausyiah yang pacaran dan tentunya dilaknat Allah sangat menikmati hubungannya tapi sebaliknya yang sudah menikah serba kaku dan tidak menikmati keberadaannya sebagai suami istri. Betul juga nasehat itu terkadang yang menikah dikungkung dengan berbagai permasalahan sehingga kurang menikmati hidup. Mungkin sekali-kali perlu ya Kita jalan berdua dengan suami berpegangan tangan, makan es krim berdua, jajan baso dan lain sebagainya. Toh yang Kita lakukan halal dan berbuah pahala, jadi jangan sungkan.

Masih banyak lagi pelajaran yang bisa Saya ambil dan tidak mungkin dituliskan disini semua, satu hal yang perlu Kita ingat syukuri apa saja pemberian Allah pada Kita termasuk pasangan Kita, jadikanlah dia lading untuk meraih tiket syurga.

Meti Herawati

Rabu, 02 Desember 2009

Apakah Hidup Anda Diliputi Oleh Keberuntungan?


Sudah sejak lama orang tua kita percaya bahwa kehidupan kita diliputi oleh keberuntungan. Itulah sebabnya, kita selalu mengatakan ’untung...,’ sekalipun kita baru saja mengalami sebuah musibah. Selama ini, kedalam diri kita sudah ditanamkan sebuah sikap untuk selalu melihat segala situasi dari sisi positifnya. Sehingga, dalam situasi apapun kita masih merasakan betapa beruntungnya diri kita. Jika demikian, apakah sumpah serapah atau rasa syukur yang lebih layak untuk diungkapkan?



Ketika saya masih kecil, rumah kediaman kami dilalap api, hingga seluruhnya berubah menjadi abu. Ayah dan Ibu saya bilang; ”Untung kita semua selamat,”. Sampai sekarang saya masih teringat dengan kobaran api itu. Dan setiap kali mengenangnya; saya juga teringat kata-kata Ayah-Ibu saya tentang keberuntungan itu.



Ketika sudah bisa berenang di sungai, saya tenggelam. Air deras menyeret tubuh saya hingga tersangkut disela-sela pintu penahan air di bendungan. Sampai sekarang saya masih ingat betapa beruntungnya saya karena ada rongga udara yang terbentuk antara lempengan pintu irigasi dengan titik jatuh air sehingga melalui rongga itu saya bisa bernafas sampai orang-orang berhasil menemukan saya.



Ketika beranjak remaja, gejolak muda mendorong saya untuk pergi ke Gunung Tangkuban Perahu dan membiarkan diri saya menginap disana. Bermalam di gunung sama sekali bukanlah masalah. Tetapi, melakukannya sendirian dialam liar tanpa perlengkapan apapun; kedengarannya bukan gagasan yang cerdas. Sampai saat ini saya masih mengenang betapa beruntungnya saya karena bisa selamat melalui malam yang mengerikan itu.



Kemarin malam, saya melakukan beberapa permainan kecil dengan anak-anak. Setelah melalui tahap tertawa dan melompat-lompat yang seru, saya berencana untuk melakukan sesuatu yang lain. Kali ini saya membutuhkan sebuah media yang harus dipotong-potong. Maka saya mengambil cutter kecil. Ketika memotong media itu, entah kenapa ujung cutter tergelincir dan patah hingga melukai pangkal jari tangan saya, persis dibagian yang banyak urat-urat kecilnya. Darah segar segera mengalir. Dan secara spontan saya berkata dalam hati;’Untung tidak sampai memutuskan urat-uratnya.” Saya kira masalah akan terhenti sampai disana. Ternyata saya keliru.



Sebelum sempat memberi tahu orang lain bahwa tangan saya terluka, anak lelaki kecil saya yang tengah berada dipuncak rasa senang berlari kearah saya. Lalu tanpa disadari dia merebut cutter itu dari genggaman saya. Maka secara spontan saya berteriak; ”Abang, ayah pegang pisau tajam, jangan merebutnya. BAHAYA!” tapi terlambat. Dia sudah terlanjur melakukannya. Ketika itu, saya merasakan segalanya seolah berjalan dalam gerak lambat. Semua kengerian itu seolah menancap dalam pikiran saya. Mulai dari ujung cutter yang tergelincir. Lalu dia patah merobek pangkal jari tangan saya. Urat-urat yang terlihat. Darah segar yang mengalir. Rasa perih yang menyayat. Dan..., tangan-tangan kecil polos yang merebut gagang cutter mengira mainan terbuat dari plastik.



Pikiran saya secepat kilat membayangkan luka macam apa yang bisa dialami oleh anak saya. Namun, ajaib sekali; tangannya tidak apa-apa. Lalu saya melihat gagang pisau cutter kecil itu. Ternyata, memang semua bagian pisaunya sudah patah tadi ketika saya memotong media permainan itu. Sekarang, saya merasa sangat beruntung karena pisau tajamnya sudah patah. Jika tadi pisau itu tidak patah, dan tanpa bisa dihindari anak lelaki kecil saya yang antusias itu merebutnya dari tangan saya; maka boleh jadi tangannya akan terluka parah. Sekarang saya tahu, betapa beruntungnya kami.....



Jika anda merasa saya sedang memamerkan keberuntungan- keberuntungan yang pernah saya alami dalam hidup, semoga anda berkenan mengubah prasangka itu. Sebab, kalaupun saya berniat untuk pamer, maka tidaklah mungkin saya bisa menceritakan satu demi satu keberuntungan itu. Sebab, kita semua tanpa henti-hentinya mendapatkan keberuntungan hidup yang sedemikian banyaknya sehingga kita tidak mungkin mampu bahkan untuk sekedar menyebutkannya satu persatu. Seperti firman Tuhan yang pernah diajarkan oleh guru ngaji saya, bahwa;”Jika engkau menghitung nikmat yang Tuhan berikan kepadamu, niscaya kamu tidak akan bisa menghitungnya. ...”



Tapi, jika benar nikmat Tuhan itu sedemikian banyaknya; mengapa kehidupan kita sering tidak beranjak ke tingkat yang kita impikan? Mungkin karena kita selalu mengimpikan kehidupan materialis. Kita terlampau sering mengukur kenikmatan dari jumlah uang yang kita dapatkan. Dari kekayaan yang kita kumpulkan. Dari kedudukan yang bisa kita banggakan. Dan dari jubah nama besar yang kita kenakan. Padahal, ternyata keberuntungan kita bisa menjelma dalam bentuk lain yang sering kita abaikan. Kesehatan kita. Kesempurnaan penciptaan tubuh kita. Terbebasnya kita dari perasaan tertekan. Rasa tenang kita. Tidur nyenyak kita. Pekerjaan dan gaji rutin yang kita terima. Dan semua hal lain yang jumlahnya tiada terhingga. Namun, karena kita kurang mensyukurinya; maka kita sering lupa bahwa semua itu adalah wujud keberuntungan hidup yang Tuhan anugerahkan kepada kita.



Memang benar bahwa ’sudut pandang’ kita menentukan apakah kita bisa menemukan hikmah dibalik setiap kejadian atau tidak. Namun, saya meyakini bahwa keberuntungan sama sekali bukan soal sudut pandang; melainkan soal kesadaran. Kita perlu lebih sadar bahwa Tuhan menginginkan kehidupan kita baik. Bahkan Tuhan tetap ingin agar hidup kita baik sekalipun kita sering mengambil langkah dan keputusan-keputusan yang bodoh. Hanya saja, kita sering tidak menyadari semua kebaikan Tuhan selama ini. Sehingga, kita sering berburuk sangka kepada-Nya. Kita mengira bahwa Dia memberi orang lain lebih banyak nikmat, daripada yang diberikan-Nya kepada kita. Padahal, boleh jadi kenikmatan yang sesungguhnya terletak pada hati nurani kita. Bukan pada benda atau atribut-atribut yang kita lekatkan pada tubuh kita. Jika kita berhasil menemukan tak berhingga kenikmatan didalam hati kita; mungkin kita bisa lebih sadar akan betapa beruntungnya diri kita. Karena ternyata. Kehidupan kita. Diliputi. Oleh keberuntungan.


Dadang Kadarusman